
Semenjak Laila memutuskan menerima lamaran Akbar, sikap Panji entah kenapa menjadi berubah.
Bahkan Panji lebih mementingkan urusan Laila dari pada Sky, membuat Sky sedikit aneh dengan sikap sang suami. Bahkan sang suami kembali cuek seperti awal pernikahan mereka. Tetapi Sky selalu bersikap positif dengan sikap sang suami, mungkin Panji terlalu bersemangat menyiapkan pernikahan sang adik tanpa kedua orang tuanya yang rencananya satu bulan lagi.
Melihat sang kakak begitu semangat justru malah membuat Laila sedikit tidak enak dengan kakak ifarnya karena sang kakak lebih membanyakan waktu dengan dirinya dari pada kakak ifarnya.
Hati Laila semakin tidak enak ketika melihat wajah murung kakak ifarnya, yang menatap sang kakak sedang sibuk dengan teleponnya, entah siapa yang Panji telepon sampai mengabaikan Sky.
"Mas, mau kemana? makan malamnya sudah siap,"
Laila menghentikan langkahnya ketika akan menghampiri kakak ifar. Dimana Sky baru selesai menyiapkan makan malam.
"Maaf sayang, Mas ada urusan mendadak. Kamu makan sama Laila duluan saja,"
Cup...
Panji langsung melangkah pergi dengan tatapan sendu Sky, padahal Sky sudah menyaipkan makan malam kenapa suaminya malah pergi, entah urusan apa yang membuat Panji pergi tanpa memikirkan perasaannya.
Bahkan Panji berangkat pagi-pagi tanpa sarapan dan pulang juga tidak menghiraukan dirinya dan sekarang sang suami pergi lagi tanpa menyicipi sedikit masakannya.
Melihat itu membuat Laila kasihan tidak seperti biasanya sang kakak seperti itu.
"Kamu kenapa, Mas. Kamu seakan menghindar lagi, apa kamu kecewa karena Sky datang bulan tiba-tiba, "
Gumam Sky menatap nanar punggung sang suami yang sudah menghilang di balik pintu, hingga Sky terlarih pada meja makan dengan tatapan nanar.
Rasanya Sky sudah tidak nafsu makan melihatnya, hingga Sky berniat ingin kembali kekamar.
Sebelum kekamar Sky tidak lupa menutup makanan yang sudah dia masak supaya tetap terjaga.
Dret...
Sky mengalihkan tatapannya pada ponsel yang menyala, menandakan panggilan masuk.
Seketika bibir Sky tersenyum tetkala melihat siapa yang meneleponnya, melihat itu membuat Laila lagi-lagi menghentikan langkahnya melihat perubahan raut wajah kakak ifarnya.
"Assalamualaikum, Ma..., "
Prang...
Sky menjatuhkan ponselnya dengan tangan bergetar, lalu berlari tanpa menghiraukan panggilan dari Laila.
"Astagfirullah..., sebenarnya ada apa?"
Ucap Laila bingung melihat kakak iafrnya sudah pergi membawa mobil, dengan cepat Laila menyusul.
Bibir Sky bergetar dengan cairan bening yang terus keluar dari pelupuk matanya membuat pandangan Sky mengabur tetapi Sky berusaha pokus.
"M...Mas, kenapa bisa terjadi, "
Lilir Sky sakit ketika mendapat kabar kalau sang suami kecelakaan, Sky kira sang suami yang menelepon ternyata orang lain yang bersua menggunakan ponsel sang suami kalau Panji mengalami kecelakaan.
Brak...
__ADS_1
Sky menutup pintu mobil dengan kencang lalu berlari dimana sudah banyak orang yang berkerumun.
Seketika Sky menghentikan langkahnya ketika sekelebat bayangan menghampirinya, membuat seluruh tubuh Sky gemetar.
"Bagaimana, apa keluarganya akan kesini? "
"Tidak tahu, tapi tadi sempat di angkat, cuma langsung mati, "
"Terus bagaimana ini, apa kita langsung bawa saja,"
"Mau bawa pakai apa? kita tidak punya kendaraan terus siapa yang akan menjaga grobak kita! "
"Terus bagaimana, jika tidak cepat di bawa kerumah sakit saya takut orang ini tidak selamat!"
Desak desuk kepanikan orang-orang terdengan di telinga Sky yang masih menguasai kesadarannya.
Sky kamu pasti bisa, ayo lawan... hiks.. su.. suamimu dalam bahaya... lawan Sky.. lawan...
Sky terus saja bergelut dengan ketakutannya, membuat tatapannya mengabur tapi Sky berusaha mempertahankan kesadarannya.
"Di sana ada mobil, ayo cepat bawa kesana!"
Ucap salah satu penjual bakso menunjuk mobil Sky yang masih menyala, dengan cepat orang-orang menggotong tubuh tidak berdaya Panji dengan darah yang terus keluar di kening Panji.
Ketika orang-orang membawa Panji melewati Sky membuat tubuh Sky terus bergetar, dengan pikiran entah kemana.
Dasar pembunuh...
Kau tidak pantas jadi dokter... pembunuh...
"Bagaimana ini, siapa yang punya mobil ini?"
"Saya tidak tahu!"
"Itu ada kunci mobilnya, apa diantara kita ada yang bisa bawa mobil! "
Semua orang menggeleng, membuat tukang bakso itu semakin cemas hingga matanya menatap sosok wanita yang berdiri membuat tukang bakso itu langsung menghampiri Sky.
"Maaf mba, bisa bawa orang itu? "
"Mba, tolong ini keadaan darurat! "
"Hey..., mba kenapa diam, bisa tolong, orang itu harus segera cepat di bawa ke rumah sakit! "
"Iya mba, nanti nyawanya bisa tidak tertulung"
Sky menutup telinganya dengan nafas yang mulai tidak teratur, bayangan itu seakan menghampiri Sky.
Kau dokter tidak berguna..., pergi sana.
Dasar pembunuh, dokter tidak berguna..., untuk apa kau jadi dokter jika tidak bisa menyelamatkannya..,
Pembunuh...
__ADS_1
Di pandangan Sky orang-orang seakan orang sama yang ada di waktu kejadian itu membuat Sky mengepalkan kedua tangannya kuat sampai mencengkram kepalanya, cairan bening dari tadi terus membanjiri pipi Sky yang seolah tidak kuat.
Dek, kamu pasti bisa melewati ini semua..
Sayang,... hey.. semuanya baik-baik saja.
Ada aku di sini, suttt..., tenanglah...
"Ah..., aku bukan pembunuh..., mereka mati karena kesalahannya..., "
Ingat dek, kematian sudah di tetapkan...
Sky menatap tajam semua orang yang ada di sekitarnya, membuat mereka semua tercengang, padahal belum reda rasa shok mereka karena teriakan Sky.
Sorot mata Sky tertuju pada sang suami yang tergeletak tak berdaya dengan darah memenuhi baju, hidung dan pelipisnya.
Aku bisa, lihatlah Sky dia suamimu sedang butuh pertolongan, ayo kamu pasti bisa...,
Dasar pembunuh...
Kau tidak pantas jadi dokter...
Tidak! aku bukan pembunuh... aku dokter.. dokter ...
Sky sekan berperang dengan dirinya sendiri sambil terus mencengkaram dadanya kuat, berusaha mengendalikan ketakutan itu.
"M... Mas.., "
Lilir Sky mencoba mendekat walau kedua kakinya bergetar sakit.
Ayo Sky, selamtkan suamimu, jangan jadi pecundang..., jangan sampai suami sama seperti dia..
Sky terus bergelut dengan semua orang yang nampak panik, melihat keadaan Panji yang sudah tak sadarkan diri.
"Mas!!!"
Pekik Sky memeluk sang suami yang sudah tak sadarkan diri dengan tubuh gemetar.
"T.. tolong bantu angkat, masukan kedalam mobil..., "
Teriak Sky sambil terisak membuat semua orang yang ada di sana tersadar dari lamunannya.
Dengan cepat Panji di masukan ke dalam mobil, Sky langsung membawa sang suami menuju kediaman Mahmued karena kebetulan jalan ini dekat dengan kediaman sang baba dari pada rumah sakit.
Sky seakan orang kesyetanan menerobos masuk dengan para bodyguard mebelalakan matanya melihat keadaan suami nona mudanya yang mengenaskan.
Dengan cepat Sky mempersiapkan semuanya, Sky memejamkan kedua matanya dengan nafas memburu, lalu Sky membuka matanya dan perlahan
Srett...
Sky merobek baju sang suami yang penuh darah dan membersihkannya, semua orang tercengang melihat nona muda mereka kembali memegang alat kedokteran dimana sudah lima tahun nona muda mereka menjauh dari alat itu.
Sky berusaha pokus menggunakan alat-alat kedokteran sang baba yang memang sersedia khusus di kediaman Mahmued dimana ruangan itu dulu baba Aiman menangani ummah Ais dan sekarang ruangan itu Sky menangani suaminya sendiri.
__ADS_1
Bersambung....