
Hoek...
Hoek...
Seorang gadis terus muntah-muntah, rasanya perutnya seperti di peras, dengan nafas memburu. Bahkan kepalanya pusing dengan badan yang terasa lemas.
Beberapa hari ini gadis itu sering merasa cape dan mual, bahkan hidungnya pun sangat sensitif mencium bau kopi, padahal gadis itu suka sekali dengan kopi.
"Ada apa denganku? "
Gumam gadis itu lilir sambil mengelap mulutnya lalu berjalan lemas kearah tempat tidur.
"Mungkin masuk angin,"
Lilir gadis itu lagi sambil membaringkan badanya, entah kenapa hati gadis itu sakit dengan cairan bening yang keluar dari pelupuk matanya.
"Kenapa akhir-akhir ini, aku merindukannya? hiks ..., "
"Kamu merindukanku! "
Deg ...
Gadis itu terlonjat kaget mendengar suara bass orang yang begitu dia kenal. Gadis itu bangun dari tidurnya dan melihat sekeliling kamar, tetapi tidak menemukan seseorang.
"Aku yakin mendengar suaranya! tapi kemana? "
"Sayang,"
"Hah..., "
Cup ...
Gadis itu membelalakan kedua matanya saat benda kenyal menempel di bibirnya, hanya menempel tidak bergerak sama sekali. Mata mereka saling tatap penuh kerinduan, dengan cepat gadis itu mundur.
Pletak...
"Kenapa kau mengagetkanku! "
Seru gadis itu memukul lengan laki-laki yang sudah duduk di sampingnya, dan pukulan itu sungguh tidak sakit sama sekali.
"Apa kau merindukanku? "
"Ma..mana ada!"
Elak gadis itu cemberut membuat sang pria terkekeh, gemas.
"Yasudah, aku.. "
"I.. iya, ak.. aku merindukanmu! "
Cicit gadis itu membuat sang pria mengulum senyum, merasa bahagia di rindukan oleh gadis juteknya.
Tetapi senyum itu luntur tetkala menyadari wajah gadisnya begitu pucat.
"Wajahmu pucat, apa kamu sakit? "
__ADS_1
"Tidak pa-pa, tadi cuma mual saja, "
"Kita kedokter? "
"Sayang, aku tidak pa-pa! "
"Pokoknya, kita kedokter, aku takut kamu kenapa-napa!"
"Sayang..., "
Lilir gadis itu memelas, memohon untuk tidak membawanya kedokter, gadis itu hanya ingin pelukan Prianya.
"Peluk..., "
Rengek gadis itu membuat sang pria menghela nafas kasar lalu tersenyum dan memeluk gadisnya.
Gadis itu menyandarkan kepalanya ke dada bidang sang pria, yang menyenderkan punggungnya di senderan ranjang.
"Akhir-akhir ini, aku perhatikan, kamu begitu manja?"
"Kenapa, gak suka? "
Ucap gadis itu meninggi, entah kenapa gadis itu gak suka mendengar ucapan sang pria yang mengatainya manja, sedangkan sang pria jadi gelagapan dan terkejut melihat perubahan raut wajah gadisnya.
"Tidak, sayang. Bukan maksudku begitu, maaf? "
Gadis itu hanya diam dengan pikirannya sendiri, dia juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri kenapa akhir-akhir ini hatinya begitu sensitif.
"Harusnya aku yang minta maaf, aku sudah membentakmu! "
Tetapi sang pria karena tidak mau membuat gadisnya berubah lagi, langsung menarik sang gadis ke dalam pelukannya kembali.
"Sayang, kapan kita memberi tahu pernikahan kita? "
Deg...
Gadis itu mendongkak guna melihat wajah sang pria yang menunduk menatapnya sendu.
"Aku belum siap, Bee. Aku masih malu pada tuan Panji!"
Pria itu menghela nafas kasar dan dalam, menatap kedalam bola mata sang istri yang tidak suka memanggil Panji dengan sebutan tuan.
"Stop memanggil Panji, tuan. Sekarang Panji adik sepupuh, kamu!"
"Ta ... "
"Sarah! "
"Farhan! "
Farhan menghela nafas pelan mengatur emosinya, ketiak sang istri berada dalam mode marah.
Farhan dan Sarah memang sudah menikah, dan pernikahannya di sembunyikan dari siapapun. Karena permintaan Sarah yang ingin menyembunyikan dulu pernikahannya, dengan alasan Sarah belum siap jadi bagian keluarga Al-fatih dimana ayah dan neneknya sudah menghancurkan keluarga Al-fatih.
Kejadian dua bulan yang lalu di dalam hutan, dimana di situ Farhan dan Sarah saling mengungkap perasaannya satu sama lain di bawah air terjun yang terjatuh keras mengalirkan aliran air kesejukan yang menjadi saksi antara Farhan dan Sarah memadu cinta, tetapi waktu itu Sarah masih dalam kesadarannya dan menghentikan apa yang mereka lakukan kalau itu di larang oleh agama.
__ADS_1
Tetapi Farhan yang sudah terbawa suasana melanjutkan kegiatannya, tetapi lagi-lagi Sarah memohon untuk menghentikannya karena itu perbuatan dosa, dan tanpa sengaja Sarah mengucap kata pernikahan.
Nikahi aku jika kamu ingin melakukannya, aku tidak mau berbuat dosa, walau itu harus hari ini juga.
Sarah masih ingat dengan lantang dan sadar mengucap kata itu, hingga Farhan benar-benar melakukannya dan sekarang mereka sudah terikat dalam sebuah hubungan halal.
Walau waktu itu Sarah masih ragu, akan keputusannya menikah, tetapi melihat kabut gairah Farhan membuat Sarah meyakinkan kalau keputusannya benar, dari pada berbuat zina mengantarkan dosa lebih baik terikat dan mengantarkan pada pahala, pikir Sarah waktu itu.
Sekarang mereka berdua sudah resmi menjadi suami istri walau pernikahan itu dadakan dan cukup sederhana, tetapi Sarah bahagia karena Farhan benar-benar mencintai dan melindunginya, bahkan Farhan begitu lembut memperlakukannya dan selalu mengalah pada dirinya, halnya seperti perdebatan sekarang.
"Terimakasih, Bee. Sudah mengerti aku! "
Ucap Sarah tulus sambil mengelus rahang sang suami, entah kenapa akhir-akhir ini Sarah ingin sekali menerkam sang suami dan Sarah seakan takut kehilangan Farhan. Setiap hari Rasa rindunya begitu menggebu, membuat Sarah bingung pada dirinya sendiri.
Padahal awal mereka menikah, Farhan lah yang begitu menggebu menginginkan dirinya tetapi entah kenapa malah berbalik pada Sarah, seakan Sarah benar-benar takut kehilangan Farhan dan meninggalkannya.
"Apa pun untuk kamu, sayang. Serra pasti akan senang dengar kabar ini, dan Aku akan menunggu sampai kamu siap, dan disaat kamu siap kita harus mengadakan resepsi pernikahan kita. Bagaimana? "
"Bukankah itu berlebihan! "
"Tidak ada kata berlebihan, kamu berhak mendapatkannya, Nonya Nugraha! "
Sarah tersipu mendengar kata nyonya Nugraha, Sarah seakan mimpi bisa menjadi bagian keluarga Al-fatih.
Gadis jutek tidak tersentuh, harus di pertemukan dengan laki-laki yang menurut Sarah konyol, awal niat menolong yang di tolong malah mengambil ciuman pertamanya dan itu berhasil membuat Sarah tidak bisa tidur nyenyak sama sekali, bayang Farhan yang mengambil ciuman pertamanya masih membayang di ingatan Sarah.
Kini pencuri itu telah menjadi suaminya, bahkan Sarah menyimpan nomor suaminya dengan nama Pencuri licik dan ketika sudah menikah Sarah menggantinya menjadi Suami Pencuri.
Pencuri ciuman pertama, pencuri hati dan pencuri kehormatannya, walau nyuri yang terakhir adalah curian halal.
"Bee... "
Lilir Sarah menatap sang suami dengan tatapan lapar, tetapi ada kerutan di keningnya dengan wajah yang berubah merah menahan sesuatu yang bergejolak ingin keluar.
Farhan yang melihat perubahan wajah sang istri menyerngit bingung hingga
Hoek...
Hoek...
Sarah berlari ke dalam kamar madi, memuntahkan isi perutnya. Farhan yang melihat itu begitu terkejut dan panik langsung melompat mengejar sang istri.
"Bee, ke.. ke. Hoek.., "
"Sayang, kita kedokter aja, lihat kamu muntah-muntah dan ini wajah kamu pucat banget, "
"Gak mau, Bee. Mungkin cuma masuk angin, "
"Masuk angin! "
"Atau!"
Deg...
Bersambung....
__ADS_1