
Rafli berlari tergopoh-gopoh memasuki Mansion Mahmued.
Pagi-pagi Farhan menelepon dan memberi tahunya, kalau Panji semalam mengalami kecelakaan. Tentu kabar itu membuat Rafli shok, semalam Rafli terus mengupat Panji dan nyatanya yang di umpat mengalami kecelakaan.
Sekarang Rafli mengerti kenapa Panji tidak datang-dantang ternyata kecelakaan. Sungguh kabar yang membuat Rafli benar-benar terkejut.
"Assalamualaikum...,"
Rafli mengucapkan salam dengan nafas memburu membuat semua orang langsung melirik kearah pintu.
"Waalaikumsalam.., "
Jawab semua orang lalu ummah Ais menyuruh Rafli masuk. Di ruang tamu berkumpul, sudah ada Laila, Farhan keluarga Mahardika dan Qolayuby.
"Ba.. Bagaimana keadaan Panji? "
Tanya Rafli cepat setelah duduk berkumpul dengan yang lain.
"Alhamdulillah kak Panji sudah melewati masa keritisnya."
"Alhamdulillah, boleh saya melihatnya?"
"Jangan dulu, Nak. Istrinya sedang mengelap tubuh Panji, mungkin sebentar lagi selesai, "
Ucap baba Aiman membuat Rafli langsung mengangguk, hatinya merasa lega mendengar Panji baik-baik saja. Jika tidak maka Rafli akan kembali di buat pusing, ketidak hadiran Panji di kantor sungguh membuat Rafli pusing, jika ada Panji setidaknya otak cerdas Panji selalu cepat menyelesaikan masalah.
Sedangkan di kamar Khusus, dengan telaten Sky mengelap tubuh sang suami supaya tidak lengket.
Walau keadaan Sky masih lemas tetap saja Sky memaksakan diri mengurus suaminya dengan hati-hati.
Hati Sky sakit melihat keadaan sang suami yang tidak berdaya, sesekali bibir Sky meringis ketika tangannya mengelap sudut luka yang ada di bagian pundak dan tangan sang suami.
Panji hanya diam saja dengan apa yang sang istri lakukan, karena Panji benar-benar lemas, tubuhnya seakan sulit di gerakan. Apa lagi kepala terasa berat dan berdenyut, hati Panji mencelos melihat sang istri yang sendari tadi nampak bungkam, bibirnya terus rapat seakan enggan bicara.
"Ah..., "
"Ada apa, Mas? "
Panik Sky mendengar ringisan sang suami, Panji tersenyum tipis mendengar suara sang istri. Sky yang menyadari suaminya berbohong, menatap tajam sang suami yang malah semakin melebarkan senyumnya.
__ADS_1
"Menyebalkan hiks..,"
Kesal Sky sambil menghentikan pekerjaannya dan membuang muka.
Cairan bening lolos begitu saja dari pelupuk mata Sky yang sendari tadi Sky tahan, sungguh Sky tidak akan memaafkan dirinya sendiri jika malam tadi dirinya tidak bisa menyelamatkan sang suami.
Bukannya panik, justru Panji tersenyum mendengar isakan sang istri, yang berarti rencannanya berhasil membuat sang istri bisa melawan rasa traumanya. Buktinya sang istri sudah tidak takut lagi melihat keadaannya dan tidak gemetar lagi memegang alat-alat kedokteran.
Apa pun akan Panji lakukan untuk bisa menarik sang istri dari rasa traumanya, walau dirinya harus Panji korbankan yang terpenting sang istri bisa kembali lagi.
Panji masih ingat apa yang dokter Vina katakan, Selama ini Sky bisa mengendalikan traumanya karena bantuan abang Fatih, dan itu di takutkan memicu ketergantungan bukan melepas Sky dari rasa trauma dan jalan satu-satunya Sky harus bisa keluar sendiri dari Traumanya tanpa bantuan siapapun dan korbanya harus orang yang Sky sayangi. Dokter Vina yakin Sky tidak akan pernah membiarkan orang yang di sayanginya pergi di hadapannya dirinya sendiri.
Tentunya Panji sudah berpikir matang-matang untuk mengambil resiko besar itu, untuk itu Panji meminta bantuan Farhan untuk melakukan semuanya, karena Panji bisa melihat sampai berapa menit sang istri butuh mengendalikannya dan tentunya membuat Panji harus bisa menahan dan pasti banyak keluar darah, jika sampai itu terjadi maka Farhan sudah siap di tempat untuk mendonorkannya.
Pada akhirnya rencananya berhasil walau Panji harus sempat keritis tetapi Farhan datang tepat waktu untuk menyelamatkannya.
Rencana besar yang Panji lakukan memang tanpa memberi tahu keluarga mertua dan yang lainnya, karena Panji ingin semuanya terlihat normal.
"Ma.. Maaf, "
"Harusnya Sky yang minta maaf, hampir saja Sky membiarkan nyawa Mas melayang! jika i.. itu sampai terjadi S.. Sky tidak akan memaafkan diri Sky sendiri hiks.., "
Ucap Panji lemah sambil berusaha meraih tangan sang istri, dengan cepat Sky meraih tangan sang suami duluan.
"Apa Mas butuh sesuatu? "
"Tolong panggil semuanya masuk, ada yang mau Mas bicarakan? "
Sky berusaha tersenyum dan mengangguk, lalu Sky berjalan keluar menuju ruang tamu dimana semuanya berkumpul, Sky sedikit terkejut karena begitu banyak orang, bahkan keluarga Mahardika dan Qolayuby ada.
"Bagaimana, sayang apa suami kamu sudah lebih baik? "
Tanya ummah Ais dimana membuat Sky sedikit tersentak dari lamunannya.
"Alhamdulillah, Ummah. Mas Panji ingin kalian masuk semuanya, katanya ada yang mau di bicarakan! "
Ucap Sky membuat semua orang nampak bingung, apa jangan-jangan Panji akan memberi wasiat sebelum mati!
Semua sibuk dengan pikirannya masing-masing, menerka apa yang akan di katakan Panji dalam kondisi seperti itu. Begitupun Rafli yang nampak terkejut mendengar permintaan Panji, terus barang ini harus di apakan, pikir Rafli menerka-nerka.
__ADS_1
Semua orang sudah berkumpul dengan Laila duduk di sebelah kiri sang kakak karena itu permintaan Panji. Sedangkan Sky duduk di sisi kanan sang suami dimana dari tadi Panji tidak sedikitpun melemas genggamannya dari tangan sang istri.
Panji berusaha bangkit, dengan cepat Sky membantu sang suami duduk, walau Sky melarang tetapi sang suami memaksa.
"Mas, tidak apa-apa,"
Hanya itu yang Panji ucapkan, meyakinkan sang istri kalau dirinya baik-baik saja. Panji menatap satu persatu orang yang ada di kamar khusus yang cukup luas itu, hingga tatapannya berhenti melihat Rafli.
Seketika Rafli faham akan tatapan sahabatnya, dengan cepat Rafli berjalan mendekat sambil memberikan paper bag berukuran sedang kepada Panji.
"Terimakasih kalian sudah ada di sini, terutama tante Ani dan om Andi yang sudah Panji anggap kedua orang tua Panji sendiri."
Huh...
Panji sengaja menjeda ucapannya sambil menarik nafas dalam dan mengeluarkannya perlahan membuat suasana tampak tegang.
"Mas, kalau tidak kuat jangan di paksa? "
Tegor Sky memperingati cukup takut dengan keadaan sang suami yang lemah, bahkan nafasnya begitu berat. Takut terjadi apa-apa jika di paksakan, begitupun Laila.
"Sa.. Sayang..., "
Ucap Panji lembut menatap sang istri lemah, begitupun Sky menatap sang suami sendu seakan menyuruh berhenti bicara tetapi Panji malah tersenyum.
"Terimakasih atas semua kebaikan yang kamu berikan padaku, entah dengan cara apa aku harus membalasnya. Kamu benar! pertemuan kita tanpa sengaja dan menarikmu dalam masalah keluargaku begitupun dengan pernikahan kita yang memaksa kamu masuk kedalam hatiku, tapi kamu tahu siapa orang yang sudah ada di hatiku, yaitu Amira Mahardika. Dia pergi membawa cinta itu, tetapi kamu tahu, hadirnya kamu berhasil membuat hatiku ketakutan. Takut dalam satu hal, yaitu kehilangan."
Dada Sky seakan di remas oleh kenyataan mendengar ungkapan sang suami yang tanpa sengaja mengatakan bahwa dirinya tidak mencintai Sky. Tetapi sekuat tenaga Sky menahan gejolak di hatinya dengan bungkam tidak mau menyela apa yang akan di katakan sang suami selanjutnya. Walau pada akhirnya Sky harus terima kalau dirinya memang tidak di inginkan.
"Di dalam pernikahan kita tidak ada hal yang istimewa kecuali rasa sakit dan kecewa yang sudah aku tolerkan, tidak ada lamaran dan tidak ada sebuah cincin atau pernikahan mewah seperti pada umumnya yang selalu di impikan setiap orang jadi malam ini aku ingin kalian menjadi saksi! "
Panji menarik nafas dalam dan memegang dagu sang istri supaya melihat dirinya, tetapi Sky terus menunduk seakan tidak sanggup jika sang suami harus mengakhiri semuanya.
Tak...
"Bana eşlik etmeye, bir mahligai aşka Allah katında bir saray inşa etmeye devam edecek misin? (Maukah kamu tetap mendampingiku, membangun mahligai cinta sebuah istana di sisi Allah?)"
"Seni seviyorum ve bu duygunun ne zaman geleceğini bilmiyorum! (Aku mencintaimu, dan tidak tahu kapan rasa itu datang!)"
Deg....
__ADS_1
Bersambung....