
...Senyuman indah...
...Pelukan hangat...
...Aku merasakan!...
...Ta.. tapi itu sebuah mimpi...
...Mereka telah pergi....
...(Panji Sky Al-fatih)...
...----------------...
Dunia Panji berubah, kenyataan pahit tidak bisa Panji terima. Mengapa harus Panji! bukan orang lain. Hidup Panji rasanya hancur sehancur-hancurnya, suara tangisan begitu nyaring ditelinga Panji membuat Panji benci.
Mamah dan Amira masih hidup, itu bukan mereka. Semuanya bohong ! kenapa mereka menangis halnya anak kecil bukankah Mamah dan Amira masih hidup, mereka tidak pergi!. Jerit batin Panji memberontak.
Rasanya jiwa Panji entah kemana, dengan tatapan kosong Panji terus saja berusaha menelepon sang Papah. Tetapi nyatanya ponsel sang Papah tidak aktif.
Kemana papah Panji? kenapa ponselnya sulot di hubungai.
Prang...
Panji menjerit sambil membanting ponselnya hingga hancur.
"Astagfirullah.. Panji apa yang kamu lakukan, Istigfar dan Ikhlaskan "
Bugg...
Satu bogeman melayang di pipi Rafli, Panji menatap tajam Rafli yang berani menasehatinya, Ikhlas ! Rasanya Panji tidak terima jika mereka semua menganggap sang Mamah dan Amira sudah tidak ada.
"Mamah dan Amira masih hidup! "
"Tap.. "
"Diam brengsek. Ma.. mamah masih ada dan Amira juga, me.. mereka sedang istirahat bukan hiks.. hiks... "
Ucap Panji melemah sambil menjatuhkan tubuhnya. Tangisan Panji pecah, Panji sudah tak peduli apa anggapan orang lain tentangnya. Rasanya Panji tak sanggup jika menelan kenyataan pahit ini. Tuhan yakinkan aku bahwa ini hanya mimpi, batin Panji.
Puk...
Tepukan tangan di pundak Panji membuat Panji mendongkak menatap wanita paruh baya yang berusaha tersenyum padanya walau Panji tahu wanita itu menahan luka.
Brukk...
Panji memeluk erat tante Ani, Panji menumpahkan segala sesak dalam pelukan hangatnya, tante Ani hanya diam dengan tangan yang terus mengelus punggung Panji.
__ADS_1
"Ka.. katakan Tan, kalau se.. semuanya bohong ! "
"Ikhlaskan, Nak. "
"Tidak! tante Ani percaya kalau Mamah dan Amira sudah pergi! Tidak , mereka masih ada. Jangan katakan itu! "
"Cukup Panji ikhlaskan kepergiaan mereka. "
"Tidak! Me.. mereka masih hid.. "
Plak...
Satu tamparan melayang di pipi Panji, entah kenapa Panji tidak merasa sakit, mungkin rasa ini terlalu perih dan sesak dari pada tamparan yang tante Ani berikan. Panji hanya menatap tante Ani dengan permohonan.
"Mamah mohon ikhlaskan Amira jangan buat anak Mamah tersiksa oleh cambukan ketidak ikhlasan hatimu.Nak. hiks...hiks..."
Jderr....
Rasanya ucapan itu begitu menyesakan dada Panji. Sesak, tenggorokan Panji tercekat sulit untuk sekedar mengucap. Duania Panji hancur, mampuhkah Panji bisa menopong hidupku sendiri.
Panji menggeleng sambil terus memukul-mukul kepalanya, berharap ini hanya mimpi buruk.
Grep...
Rafli memeluk Panji erat seakan dia juga merasakan apa yang Panji rasakan. Tidak henti-hentinya Panji menangis di pelukan Rafli. Hingga Panji teringat dengan apa yang pernah Mamah sama Papah katakan
Ingat !
Apa yang ada pada kita itu sebenarnya bukan milik kita, tapi milik sang pencipta termasuk jiwa kita sendiri.
Ucapan itu terus berputar di ingatan Panji hingga tampa kata Panji melepas pelukannya dari Rafli. Lalu Panji bangkit berjalan masuk kedalam ruangan dimana di situ ada Mamah dan Amira yang sedang berbaring ditutupi kain putih.
Panji menghentikan langkahnya tepat diantara brankar Mamah dan Amira. Dengan gemetar Panji membuka kain yang menutupi wajah sang Mamah.
Deg....
Cairan bening kembali lolos begitu saja di pelupuk mata Panji, dengan tubuh yang mulai terguncang.
Tidak ada wajah cantik yang selalu sang Mamah pancarkan. Yang ada hanya wajah pucat dengan beberapa goresan pecahan kaca yang menancap di bagian wajah dan leher sang mamah. Sampai Panji tak mengenali lagi wajah cantik sang mamah.
Duania Panji seakan hancur seketika, tak ada kata lagi yang terdengar, rasanya tenggorokan Panji tercekik. Panji menjatuhkan tubuhnya di sisi brankar sang Mamah dengan kepala menunduk.
Inikah kisahku harus kehilangan dua wanita yang aku cintai sekaligus! kenapa ? apa aku mempunyai kesalahan hingga Allah menghukumku dengan cara seperti ini. Apa ini hukuman buatku yang dulu nakal! hiks...
Kemana Papah! apa yang harus aku katakan jika Papah pulang. Papah pasti mencingcangku habis-habisan karna aku tak bisa melindungi mamah.
Jerit Panji sakit.
__ADS_1
Sampai selesai pemakaman pun sang Papah masih belum bisa dihubungi, kemana sebenarnya Papah Panji? disaat seperti ini kenapa Papahnya tidak ada! ingin rasanya marah tapi tenaga Panji cukup lelah. Apa sesibuk itu sang papah hingga ponselnya pun ikut sibuk!
"Kakak.... ma.. maafkan kayla baru datang.. hiks.. hiks.. "
Panji memeluk erat adik tersayang, menumpahkan segala sesak dan perih begitupun adiknya.
Harusnya ada papah disini, disisi aku dan Kayla, pikir Panji.
Kayla adalah anak yang Mamah Panji adopsi, Mamah Panji membawa Kayla karena hampir mamah Panji tabrak. Karena tidak tahu asal usul Kayla apalagi bajunya yang compang-camping membuat mamah Panji tidak tega dan membawanya pulang. lalu Mamah Panji dan sang Papah mengangkatnya sebagai bagiaan dari keluarga Al-fatih.
Waktu itu Panji baru lulus SMA dan Kayla sekitar usia sepuluh tahun, tapi Panji menyayangi Kayla seperti adiknya sendiri, walau bukan terlahir dirahim yang sama.
Mamah Panji menyekolahkan Kayla hingga sampai lulus SMA. Panji berpisah karena Kayla ingin melanjutkan studynya di Singapur.
Rasanya berat kaki Panji melangkah meninggalkan pemakaman, dua wanita yang Panji cintai tertidur dibalik gundukan tanah yang masih basah. Panki memandangi papan nisan yang terukir indah dua nama yang begitu berarti dalam hidup Panji.
Rasanya masih tadi pagi Panji melihat senyum sang Mamah dan Amira. Tetapi kini senyuman itu menghilang begitu saja. Ingin Panji mengejar, tapi tak mampuh. Seperti ada dinding besar yang menghalanginya. Panji berusaha untuk melepas tapi nyatanya tak bisa.
Tuhan kenapa kau menyakitiku! kenapa kau mengambil mereka dengan cara tragis, bisakah kau beri tahu aku dulu supaya aku bisa bersiap.
Bodoh! apa yang aku katakan, semuanya tidak mungkin! Kau menyakitiku, kau buat aku terluka, kau hempaskan aku kedalam jurang kesakitan. Aku membencimu, kau tidak ada! Jika kau ada, kenapa kau tak mencegahnya pergi! kau jahat... jahat...
Ah....ah...
Panji mengamuk menghancurkan semua yang ada dalam kamarnya. Hingga tangannya meraih sebuah bingkai potho dimana di dalamnya ada Panji dan Amira. Mereka saling tatap penuh cinta, saling melempar senyum dibawah pohon besar.
"Ke.. kenapa kau melakukan ini padaku! tak bisakah kau pamit, atau membawaku pergi bersamamu hiks... hiks...ak.. aku tak sanggup "
Panji memeluk erat potho itu sambil duduk di sisi pojok ranjang yang jauh dari pecahan kaca. Panji menenggelamkan kepalanya di kedua lututnya.
Harapan yang Panji bangun ternyata roboh sebelum tegak. Mampuhkah Panji bisa berjalan tampa penopangnya! sungguh itu sangat menyakitkan.
Tidak pernah Panji merasa sakit yang teramat seperti sekarang. Wajah bahagia sang Mamah dan Amira masih jelas di penglihatan Panji hingga wajah bahagia itu seketika terhempas dengan kenyataan pahit.
.
.
.
Bersambung....
Jangan lupa
Like, Hadiah, Komen, dan Vote ya..
Terimakasih...
__ADS_1
Jangan lupa juga masukin dalam paporit ya he.. he..