AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 95 Kata Slogan


__ADS_3

Sky menghembuskan nafas pelan, ketika akan turun dari mobil sport milik Panji. Sky menatap bangunan tinggi di depannya dengan tatapan sulit di artikan, sudah beberapa minggu Sky meninggalkan Mansion Al-fatih.


Sky tidak pernah sekalipun ingin kembali ke Mansion di depannya, tetapi takdir berkata lain, dan sekarang Sky masih diam mematung melihat sekeliling.


Panji menghentikan langkahnya ketika merasa kalau tidak ada orang yang mengikutinya. Panji membalikan badannya dengan membuang nafas pelan melihat Sky hanya diam mematung dengan tatapan yang terus memutar.


Grep ....


Panji menarik tangan Sky, membuat Sky terkejut, dengan susah payah mengikuti langkah kaki Panji yang lebar.


Cklek...


"Kakak ....,"


Teriak Laila membuat Panji langsung menghentikan langkahnya karena terkejut.


Bruk...


"Awwsss ....,"


Sky menabrak punggung lebar Panji yang tiba-tiba berhenti, membuat Sky langsung meringis sambil mengusap keningnya.


"Maaf, kamu tidak apa-apa?"


" Ah ..., tidak apa-apa!"


"Ah ...., "


Pekik Laila membuat Panji dan Sky menutup kedua telinganya, Panji menatap tajam sang adik yang hanya acuh memandang Sky dengan mata membola.


Laila mengucek-ngucek kedua matanya seakan memastikan apa yang dia lihat itu nyata atau tidak.


Laila perlahan maju mendekati Sky yang hanya diam dengan kening yang mengerut heran. Laila memegang pipi Sky menusuk-nusuknya pelan, lalu mencubit lengannya sendiri.


"Awwsss ..., ini ... ini bukan mimpi,"


Gumam Laila berbinar merentangkan tangannya ingin memeluk Sky. Tetapi dengan cepat Panji menyelinap alhasil yang Laila peluk adalah kakaknya sendiri.


"Ah ... Emira Halime Sky Mahmued, rasanya Laila tidak percaya bisa bertemu dengan dokter jenius, Kakaku memang baik membawa di ..."


Laila menjeda ucapannya tetkala merasa orang yang dia peluk tersa berbeda, tubuhnya keras seperti batu.


" Hah..., "


Pekik Laila terperanjat sambil melepaskan pelukannya, menyadari kalau yang dia peluk bukan Sky.


" Kakak minggir, Laila ingin memeluk dokter jenius ...,"


Protes Laila mendorong tubuh Panji supaya menyingkir dari hadapannya. Panji menggeser tubuhnya dengan kening mengerut, mencerna ucapan sang adik.


Dokter jenius...

__ADS_1


Gumam Panji sambil melihat Laila begitu bahagia memeluk Sky erat, membuat Sky hanya bisa mematung dengan pikiran kosong. Begitu kebetulankah, kenapa dunia ini begitu sempit, pikir Sky.


"Dokter, kok bisa bareng kak Panji, dokter tahu! Laila sudah lama mencari-cari dokter di Jepang tapi tidak ada, kata om Adam Dokter sudah tidak tinggal di jepang lagi."


Cerocos Laila antusias sambil memeluk Sky semakin erat, membuat Sky mengingat-ngingat kapan pertemuan mereka.


"Kakak tau, kak Emira itu dokter yang sering aku ceritakan sama kakak ketika Laila liburan ke Jepang, kakak ingat gak?"


Ucap Laila pada Panji, dengan tangan yang masih memeluk tubuh Sky, seolah tidak mau terlepas dengan bibir yang terus tersenyum.


"Oh iya, Kak. katanya mau bawa istri kakak, mana istrinya! kenapa kakak bersama dokter jenius!"


Tanya Laila yang baru ingat, kalau sang kakak akan membawa istrinya malam ini. Karena Laila begitu semangat bertemu idolanya membuat Laila jadi lupa sama istri kakaknya.


Panji dan Sky saling tatap bingung, mendengar pertanyaan konyol Laila, ingin sekali Panji menjitak kepala sang adik kenapa bisa bertingkah konyol seperti itu. Sedangkan Laila hanya celingak-celinguk melihat kesekeliling mencari sosok kakak ifarnya, Sky yang melihat tingkah konyol Laila menyunggingkan senyum tipis sambil menggeleng karena baru ingat gadis di sampingnya memang gadis bar-bar yang Sky temui di Jepang.


Panji yang melihat senyum tipis Sky, terdiam dengan pikiran kosongnya. Baru pertama kali Panji melihat senyuman tanpa beban walau hanya tipis.


Cantik.


Satu kata yang Panji ucapkan dalam hati, hingga pikirannya kembali tetkala Laila menepuk lengannya.


Pletak...


" Kak, ko diam. Mana kakak ifar? "


Kesal Laila memukul lengan sang kakak yang bengong, padahal dari tadi Laila bertanya.


"Kakak tidak suka membawa wanita kerumah kerena ...,"


"Kakak bukan penculik. "


" Suatu hari nanti kakak akan membawa wanita kerumah jika wanita itu sudah ...,"


" Menjadi istri kakak."


"Jadi!"


"Laila faham selogan kakak, tetapi Laila tanya istri kakak mana? "


Kesal Laila kenapa sang kakak malah mengatakan selogan itu, tetapi tidak dengan Panji. Panji ingin sekali menjewer telinga adiknya kenapa tidak mengerti.


Sky lagi-lagi tersenyum melihat tingkah adik kakak di depannya yang sedang bertingkah konyol membuat Sky seketika teringat pada sang abang.


Pletak....


" Awwss ..., kakak kenapa menjitak Laila, Laila kan cuma nanya dimana is ...., ah ....,"


Teriak Laila di akhir kalimatnya dengan mata membulat menatap sang kakak lalu menatap Sky yang tersenyum.


Sungguh Laila baru enggeh dengan apa yang terjadi, jantung Laila berdetak sangat cepat saking terkejutnya dengan mulut menganga tidak percaya dengan apa yang dia fahami.

__ADS_1


"Ja.. jadi dok.. "


Bruk ....


"Ck. Menyusahkan,"


Kesal Panji langsung menangkap tubuh sang adik yang pingsan, justru membuat Sky terkejut kenapa Laila bisa pingsan.


"Ayo ...,"


Ucap Panji lembut sambil menggendong sang adik ringat dengan bibir tidak henti-hentinya mengupat sang adik.


Laila akan pingsan jika terlalu bahagia yang dimana memicu kerja jantungnya semakin cepat kerena terlalu antusias .


Sky mengekor kemana Panji membawa Laila, menuju salah satu ruangan keluarga, di mana disana ada dua pintu. Panji berjalan menuju pintu sebelah kiri, dengan cepat Sky membukanya karena takut Panji kesusahan.


Dengan pelan di baringkannya sang adik, Panji menyingkirkan helayan rambut yang menutupi wajah cantik sang adik dengan lembut.


"Terimakasih, lagi-lagi kamu membantuku, "


"Untuk!"


"Membuat Daichi berkerja sama dengan Mr. Haiko,"


"Aku tidak melakukan apa-apa, itu! asistennya saja yang bodoh."


Panji mengulum senyum mendengar nada dingin dan ketus, Sky memang tidak terlihat lembut dalam berbicara tetapi Sky bisa selembut sutra dimana memang mengharuskan Sky seperti itu.


Bodoh! dia selalu saja menyebut orang lain dengan kata itu. Apa itu sudah menjadi slogannya,


Pikir Panji, seakan ada kelucuan di balik kata itu.


Sky menyerngit heran melihat Panji tersenyum padahal tidak ada sesuatu yang lucu.


Kamu bukan lagi bodoh tapi gila. tetapi sekarang yang bodoh ini, suamiku....


Batin Sky sambil menarik nafas pelan dengan mata yang menelisik setiap sudut kamar Laila. Sky masih ingat ketika dia menyamar, bik Marni melarang dia masuk kesemua kamar.


"Mau kemana?"


Tanya Panji cepat ketika melihat Sky akan beranjak. Sky menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Panji.


"Aku mau duduk! kakiku pegal dari tadi terus berdiri ...,"


Seloroh Sky langsung berjalan kearah shopa, Panji terdiam mendengar jawaban Sky yang selalu dingin membuat Panji bingung harus berkata apa lagi.


"J.. jika kamu butuh istirahat, di kamarku saja. Pergilah, biar aku yang menjaga Laila."


Sky mengangguk setuju karena memang badanya terasa lemas apalagi matanya sudah mulai mengantuk.


"Terimakasih ...,"

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2