AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 51 Apa Tuan mau makan !!


__ADS_3

Setelah kepergian Rafli, bi Marni menjelaskan apa saja yang harus dilakukan Santi mulai dari sapu, ngepel, beresin kamar, dan perkebunan belakang. Hanya satu yang bi Marni tidak perintahkan yaitu masak dan mengantar makan kekamar Panji. Karna itu sendiri tugas bi Marni.


Santi hanya memangut-mangut saja tanda mengerti, hingga bi Marni menunjukan kamar yang akan ditempati Santi nantinya.


"Apa kamu sudah mengerti Santi.. "


"Alhamdulillah sudah. "


Jawab Santi cempreng membuat bi Marni menahan senyum mendengar suara aneh Santi yang begitu menggelikan.


"Yasudah kamu sekarang boleh istirahat dan ingat besok harus bangun pagi sekali! "


"Siap, terimakasih Bi. "


Bi Marni langsung pergi membiarkan Santi membereskan pakaiannya.


"Den Rafli sungguh menemukan dimana mahluk itu.. "


Gumam bi Marni bergidik sambil masuk kedalam kamarnya.


Sedangkan Santi masih sibuk membereskan baju-bajunya dan menata secantik mungkin kamar yang akan ditempatinya itu.


"Bi Marni tidak memberi tahu aku dimana letak kamar Panji! mungkin diatas kali.. "


Monolog Santi sambil meletakan tas bekas baju diatas lemari jati. Santi berjalan kearah cermin, bibirnya tersenyum melihat pantulan dirinya sendiri.


"Pantas saja bi Marni terkejut wong orang kaya gini bentuknya he.. he.. "


Ucap Santi terkekeh sendiri melihat dirinya sendiri yang berubah wujud menjadi siburuk rupa.


Semangat..


Batin Santi sambil memejamkan kedua matanya karna kantuk tak lupa Santi membaca dulu doa sebelum tidur.


Tringggg....


Bunyi alarm mebangunkan tidur Santi, perlahan mata indah itu terbuka lalu mematikan alarm, Santi beranjak dari ranjang menuju kamar mandi mengambil air wudhu guna melaksanakan solat malam.


Sudah melakukan rutualnya berwirid dan membaca Al-qur'an Santi merilik jam tangannya.


"Masih jam 03:00 "


Gumam Santi sambil meletakan kembali jam tangannya, Santi beranjak dari sejadahnya keluar dari kamar.


Santi menatap tajam seluruh bangunan Mansion itu sambil menelusurinya hingga kelantai atas dimana ada dua kamar.


"Yang mana kamar Panji.. "


Gumam Santi sambil berjalan pelan menuju balkon, Santi melebarkan pandangannya kesetiap sudut halaman Mansion Panji dari atas hingga Santi bisa melihat betapa luasnya bangunan megah ini.


Santi menajamkan pendengarannya ketika mendengengar sayup-sayup orang menangis hingga Santi berbalik kearah kanan dimana ada jendela yang sengaja dibiarkan terbuka.

__ADS_1


"Sepertinya kamar itu.. "


Perlahan Santi mendekat kearah kamar dan menempelkan telinganya kedaun pintu.Hingga tangisan itu mulai jelas terdengar, Santi memejamkan matanya mendengar tangisan yang menyayat hati siapa saja yang mendengarnya.


"Sebegitu rapuhkah kamu,,, sampai kamu menyakiti jiwamu sendiri, apa dengan itu kamu pikir bisa menyelesaaikan masalah, rasanya tidak ! Selemah itukah dirimu hingga kamu membiarkan adikmu sendiri dalam kesulitan. Ck. sepertinya aku harus exrta.. "


Lilir Santi menatap sendu pintun kamar itu, lalu Santi kembali kekamarnya takut bi Marni mengetahui apa yang dia lakukan.


Tak lama Adzan subuh berkumandang, dengan khidmah Santi melaksanakan kewajibannya dan diakhiri dengan doa.


Santi mengganti pakainnya sambil melihat pantulannya dirinya di cermin.


"Hari baru ,Semangatt,, "


Ucap Santi tersenyum ngeri pada dirinya sendiri, Santi mulai melakukan tugasnya seperti apa yang dikatakan bi Marni kemaren mulai dari sapu-sapu hingga ngepel, keringat membanjiri pelipis Santi sesekali mengelapnya.


Sudah selesai Santi menyimpan kembali peralatan bersih-bersihnya ditempat semula, Santi berjalan menghampiri bi Marni yang sedang menyiapkan makanan.


" Itu buat Tuan Muda ya Bi.. "


"Iya, San. Kamu sarapan dulu gih,supaya tenaganya kuat nanti lanjut lagi nyiram tanaman. Bibi mau nganterin sarapan baut den Panji. "


"Siap bi.. "


Ucap Santi semangat karna memang perutnya sudah keroncongan minta diisi.


Dengan semangat 45 Santi melahap makanan yang dimasak bi Marni, sangat pas dilidah Santi.


Sudah selesai Santi lalu membereskannya kembali dan langsung mencuci piring kotornya.


"Bibi kenapa? ko mukanya muram! "


"Den Panji tidak mau membuka pintunya.."


Lili bi Marni sendu membuat Santi hanya diam bingung harus berbuat apa, karna dirinya dilarang ikut campur urusan Panji.


"Apa suka seperti itu Bi, emang kenapa dengan Tuan ,apa dia sedang putus cinta ! "


"Iya, hampir setiap hari den Panji jarang makan, paling minum doang. Wuss.. jangan sembarangan ! "


Ucap bi Marni memperingati membuat Santi tersenyum kikuk.


"Ya langsung masuk aja Bi.. "


"Yang ada Bibi malah diamuk.. "


"Kaya anak kecil.. "


"Sshttt jangan keras-keras nanti den Panji dengar bisa di pecat kamu.. "


Santi langsung menutup mulutnya ketakutan mendengar ucapan bi Marni, masa iya dipecat baru saja satu hari kerja, pikir Santi menggeleng.

__ADS_1


"Yasudah kamu lanjut saja pekerjaan kamu, Bibi mau belanja bahan makan. Jika den Panji meminta sesuatu kamu siapkan saja dan jangan lupa kasih obat ini. "


"Siap Bi.. "


Bi Marni langsung menyimpan kembali nampan yang tadi bi Marni bawa, lalu pergi kekamarnya bersiap berangkat kepasar.


Begitupun Santi melanjutkan pekerjaannya, menyiram tanaman dan mencabut rumput-rumput liar yang tumbuh di dekat beberapa tangkai bunga Mawar dan Melati.


"Maafkan aku yah mencabut kamu paksa habis kamu sih tumbuh di tempat salah, harusnya kamu itu tumbuh dihutan jangan disini, kalau begini kan jadi indah dipandang lagi he.. he.."


Celetuk Santi terkekeh sendiri sambil mencabut rumput-rumput liar yang masih ada, hingga trik matahari mulai naik membuat keringat bercucuran di pelipis Santi bahkan baju yang Santi pakai mulai basah keringat.


Tapi tak sedikitpun mengurangi semangat Santi walau harus melawan panas.


Santi istirahat karna tenggorokannya mulai haus, Santi duduk di dekan pohon mangga dengan menengadah keatas melihat dua jendela yang tertutup rapat.


"Kenapa pintu kamarnya ditutup bukankah tadi malam dibuka .."


Gumam Santi merasa heran, sambil terus menatap dua jendela yang tertutup rapat itu.


Sudah cukup istirahatnya Santi melanjutkan kembali pekerjaannya yang sedikit lagi selesai.


"Sepertinya ada lahan yang masih kosong, apa aku tanam buah-buahan saja. Nanti deh izin bi Marni dulu takut gak boleh.. "


Monolog Santi pada dirinya sendiri dengan bibir yang ditarik kesamping, melihat taman bunga yang cukup luas. Berbagai macam jenis bunga ada hanya saja pohon buah-buahan yang sedikit, membuat Santi semangat untuk menanam buah-buahan.


"Emmz... "


Gumaman kecil terdengar dibibir seksi Panji, perlahan mata teduh itu terbuka. Panji menyipitkan matanya menyesuaikan cahaya yang masuk kesela-sela jendela kamarnya.


Perlahan Panji menegakan tubuhnya tenggorokannya haus, Panji berjalan keatas naskah.


Huh...


Panji membuang nafas kasar melihat botol air yang kosong.


Begitulah Panji selalu bangun siang entah jam berapa Panji tidur dan akan terbangun jika matahari sudah keatas.


Panji terpaksa keluar kamar guna mengambil air minum, hal ketiga kalinya Panji keluar kamar semenjak kepergian sang Papah Panji selalu mengurung.


Biasanya bi Marni akan menggantikan botol kosong dengan yang berisi walau makanan jarang sekali Panji makan ,tapi hari ini Panji bangun kesiangan membuat bi Marni tak bisa masuk hanya sekedar mengganti air minum.


Rambut acak-acakan, mata sembab dan wajah bantalnya Panji menuruni anak tangga pelan karna kelapa yang berasa berdenyut.


Suasana nampak sunyi membuat Panji tak memperdulikannya, Panji berjalan kearah kulkas mengambil botol air dan meletakan botol kosong di atas kulkas.


"Apa Tuan mau makan !! "


Blurrrr....


Panji menyemburkan air minumnya dengan mata melotot melihat makhluk dihadapannya.Membuat Santi langsung memejamkan kedua matanya menahan bau air yang menyembur kewajahnya.

__ADS_1


Bagaimana tidak bau Panji baru bangun tidur dan belum menggosok gigi dari kemaren apalagi kemaren Panji sempat pingsan.


Bersambung....


__ADS_2