AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 100 Jiarah...


__ADS_3

Sky tersenyum tetkala mendapat izin dari sang suami, hal sederhana tetapi mampuh membuat Sky tersenyum, seakan Sky mulai bisa melupakan kesedihannya seiring berjalannya waktu.


Sekarang Sky berusaha bersikap acuh akan sikap Panji yang semakin menghindar, bukan Sky tidak peduli. Hanya saja Sky ingin membentengi hatinya supaya tidak terlalu dalam terjatuh dalam perasaan yang tidak sama.


Karena itu sangatlah menyakitkan.


Sky sudah bersiap memakai pakaian syar'inya tinggal menunggu Laila yang belum keluar dari kamarnya.


"Kita berangkat, kak, "


Ucap Laila sambil tersenyum memperlihatkan gigih putih rapihnya, Laila seakan kaku memanggil Sky dengan sebutan kakak, tetapi Laila berusaha membiasakannya walau bagaimanapun Sky sudah menjadi kakak ifarnya sekaligus idolanya.


Sungguh Laila tidak menyangka, bisa mendapatkan kakak ifar yang begitu sempurna. Laila masih ingat dimana pertama kali dirinya bertemu dengan Sky, ketika Laila berlibur ke Jepang bersama Akbar, waktu itu ketika ada pameran Seni.


Mengingat itu seketika membuat wajah Laila sendu, Sky yang mengemudi melirik sekilas Laila yang tampak diam.


"Kenapa? "


Tanya Sky, sambil memegang tangan Laila membuat Laila seketika menoleh kearah kakak ifarnya.


"Tidak apa-apa, kak, "


"Semua orang mempunyai masalalu yang rumit, jangan jadikan masalah itu mengurung diri dari kebahagiaan! "


Ucap Sky ambigu, membuat Laila berpikir keras.


"Ayo turun, kita sudah sampai. "


Seloroh Sky lagi, membuat Laila melirik keluar jendela, dan benar saja mereka sudah sampai di pemakaman.


Perlahan Laila membuka pintu, mengekor dari belakang. Laila mencengkram tali tasnya ketika langkahnya mulai mendekati makam kedua orang tuanya yang dulu Laila anggap musuhnya sendiri.


Sky melewati makam kedua mertuanya menuju makam kakek neneknya. Sedangkan Laila kedua kakinya tidak bisa berjalan lagi, seluruh tubuhnya bergetar dengan mata yang mulai mengembun melihat dua nama yang terukir indah di papan nisan dan di sebelahnya lagi ada makam Amira.


Mah Pah, maaf... maafkan Laila yang terlambat mengetahui kebenarannya ..., jika saja Laila tahu lebih awal, semuanya tidak akan seperti ini.


Jerit hati Laila sakit dengan tangan yang mencengkram dadanya kuat, isak tangis mulai keluar dengan bibir yang gemetar, lidahnya kelu seakan sulit untuk terucap.


Semua masalah karena dirinya, Laila mengutuk dirinya sendiri yang menjadi penyebab kehancuran keluarganya sendiri.


Seorang ibu dan ayah yang penuh kasih sayang dan cinta membesarkannya, tetapi Laila memilih berhianat dan membuat semuanya hancur.


Ma.. maafkan putrimu mah pah ...


Batin Laila sesak dan perih, hanya tangisan yang menjadi pelantara semuanya penyesalan Laila. Kini mata Laila melihat ke samping tangannya terulur kesamping dengan gemetar melihat satu nama yang seharusnya dia menjadi kakak ifarnya.


Ma.. maafkan Aku kak,

__ADS_1


Jerit Laila tertahan langsung berlari meninggalkan ketiga makam itu, rasanya Laila tidak sanggup memandang tiga makam, orang-orang yang begitu menyayanginya tetapi Laila malah membuat mereka pergi.


Laila tidak sadar kalau dia berlari keluar dari area pemakaman, dengan tubuh gemetar bersamaan air mata yang terus keluar.


Bruk...


Laila terjatuh di terotol jalan membuat telapak tangan dan lututnya berdarah, tetapi sekuat tenaga Laila bangkit berusaha berlari sejauh mungkin.


Laila terus membayang bagaimana mobil itu terguling dan langsung merenggut dua nyawa sekaligus, karena pada kecelakaan itu Laila tahu.


Sungguh Laila tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, dengan apa yang terjadi.


Ak.. aku pembunuh..


Bruk...


Laila terjatuh kembali dan kali ini Laila tidak bisa bangun, Laila meringsut menyenderkan punggungnya di sebuah pohon besar dengan air mata yang terus mengalir.


Sky yang baru selesai membaca doa untuk nenek dan kakeknya, terkejut melihat sekeliling pemakaman tidak mendapati Laila di makam kedua orang tuanya. Dengan cepat Sky menghubungi Laila tetapi sayang tidak di angkat sama sekali, membuat Sky kian panik.


Sky berlari kecil menuju dimana mobilnya terparkir, tanpa pikir panjang langsung meninggalkan area pemakaman, bahkan Sky tidak mendengar teriakan si penjaga makam.


"Kenapa buru-buru ini ponselnya terjatuh, "


Gumam si penjaga makam menatap nanar mobil yang Sky kendarai.


"Kenapa menangis!"


Deg...


Laila terlonjat kaget mendengar suara orang yang begitu Laila hindari dan rindukan.


"Pe.. pergi ...,"


"Kenapa kamu selalu menyuruhku pergi, kamu tahu! itu sangat menyakitkan, "


"Ak ...aku mohon ..., "


Lilir Laila gemetar tidak berani menatap wajahnya.


"Tangan dan lutut kamu berdarah, ini harus segera di obati, "


"Pergilah Eb, aku mohon pergi ..., biarkan aku sejenak merasakan sakit ini. "


Grep....


Akbar langsung menggendong Laila dengan wajah yang memerah menahan amarah, membawa Laila masuk kedalam mobilnya, tidak peduli akan makian, pukulan dan berontak Laila yang ingin di lepaskan.

__ADS_1


"Lepaskan Eb hiks ..., lepas sialan ..., lepas."


Berontak Laila memukul dada bidang akbar hingga darah yang ada di telapak tangan Laila menempel pada baju kemeja biru Akbar.


Eb adalah nama panggilan Laila untuk Akbar, Akbar berniat berjiarah kemakam sang kakak tetapi di jalan Akbar melihat Laila berlari sambil menangis membuat Akbar harus memutar balik dan mengikuti kemana Laila pergi, apalagi jalan yang Laila tuju jalan yang sepi.


"Diam ...,"


Bentak Akbar hilang kendali, sungguh Akbar sangat sakit ketika Laila terus menyuruhnya pergi. Laila gemetar mendengar bentakan Akbar yang baru pertama kali membentaknya.


"Eb, ka.. kamu berani membentakku,"


Lilir Laila sakit dan terkejut mendengar bentakan Akbar membuat dadanya sesak, Akbar yang menyadari hal itu langsung terkesiap melihat Laila memandangnya takut.


Grep...


"Maafkan aku, aku tidak bermaksud, maaf. Aku mohon jangan suruh aku pergi ..., itu menyakitiku. "


Ucap Akbar melembut sambil memeluk erat tubuh Laila, membuat Laila seketika diam.


Sedangkan Sky dari tadi terus menelusuri jalan tetapi tidak menemukan Laila sama sekali, membuat Sky bertambah panik.


Tangan Sky mencari ponselnya di dalam tas, dengan satu tangan lagi memegang stir mobil, tetapi Sky tidak menemukan ponselnya.


" Oh, ya Allah, kemana ponsel Sky ...,"


Gumam Sky panik, harus kemana lagi mencari Laila. Mata Sky terus saja menengok kekanan kekiri dan kembali pokus menatap kedepan.


Sudah satu jam Sky berkeliling tetapi tidak mendapati Laila, entah apa yang harus Sky katakan pada sang suami kalau Laila menghilang.


Brak...


"Cittt ...,"


Sky menginjak pedal remnya dengan mata membola melihat mobil truk dan mobil sedang tabrakan tepat di depan mobilnya. Dengan cepat Sky keluar walau ragu, dimana sudah banyak orang berlarian menghampiri dua mobil yang mengeluarkan asap itu.


Langkah Sky tertahan lalu maju, seakan ragu untyk mendekat. Sekelebat bayangan kecelakaan itu kembali melintas di pikiran Sky.


Deg...


Tubuh Sky membeku melihat korban yang di bawa melintas di hadapannya membuat Sky terhuyung kebelakang karena tersenggol orang yang membawa korban.


Darah segar keluar dari kepala, dan mulutnya. Jeritan kesakitan begitu memeking telinga Sky membuat Sky langsung mengepalkan tangan.


Keringat dingin mulai keluar dengan tubuh yang gemetar, Sky terus mundur dengan kepala yang mulai berdenyut. Jantung Sky mulai bergemuruh merasakan sesak yang teramat, bayang-bayang itu mulai muncul jelas di ingatan Sky.


Sa.. sakit...

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2