AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 23 Amarah


__ADS_3

Di sebuah ruangan seseorang sedang mengamuk sambil terus mengupat kesal.


"Kenapa semua jadi berantakan begini ah... siall... "


"Ternyata dengan kematiaan ibu dan calon istrinya tidak membuat Panji hancur. Aku harus cari cara lain supaya Panji hancur, dia harus hancur seperti apa yang aku alami.. "


"Baiklah nyatanya kau mau bermain-main denganku, akan kupastikan kamu akan menyesal.. ha.. ha... "


Amarah itu seketika menjadi tawa mengerikan, Smit tersenyum seringai dengan mata memerah menatap tajam pada selembar poto.


"Jika aku tidak bisa menguasai perusahaan itu akan ku pastika kau yang memberikannya pada ku secara suka rela ha.. ha... "


Smit kembali tertawa membuat semua anak buahnya merinding. Entah apa lagi yang akan Smit lakukan, yang pasti tujuaannya hanya satu! kehancuran keluarga Al-fatih.


Amarah Smit masih mengubun ditambah kejadiaan tadi, dimana Panji mengubah kontrak kerjanya membuat Smit sulit untuk menguasai M. A Grup. Apalagi lawan Smit ternyata tidak bisa diremehkan, pantas saja Panji merajai golongan pengusaha muda sukses se-Asia.


"Ternyata kau ingin bermain-main denganku, baiklah kamu sebentar lagi akan merasakan rasa sakit itu.. "


Gumam Smit tersenyum seringai lalu dia menghubungi seseorang.


"Bagaimana apa kau sudah menemukan tua bangka itu.. "


"......."


"Apa, pokonya saya tidak mau tau kalian harus segera menemukan tua bangka itu kalau tidak akan ku penggal kepala kalian... "


Glek....


Sang Bos pereman menelan ludahnya kasar mendengar kemaraha tuan Bos sambil menjauhkan ponsel dari telinganya.


"Bapak dan anak sama-sama iblis. "


Umpat bos pereman sangat kesal, ditambah lagi tua bangka itu sampai saat ini belum ketemu. Bos pereman itu menjadi bingung sendiri, sudah mencari kemanapun tetap saja tua bangka itu tidak ketemu seakan ditelan bumi.


"Hey kau berani mengupatku hah... "


Deg..


Bos pereman itu terkejut menyadari kalau sambungan teleponnya belum terputus.


"Ma. maf Tuan Bos saya tidak berani.. "


"Aku mendengarnya sialann.... cepat cari tua bangka itu sampai ketemu.. "


Tut.. tut...

__ADS_1


Sambungan telepon terputus membuat bos pereman Itu langsung menghela nafas kasar.


Ting...


Kemudian terdengar notipikasi pesan dengan malas bos pereman itu membukanya seketika kedua matanya melebar membaca pesan yang dikirim.


"Ah... sial belum juga tua bangka itu ketemu sekarang tugasku bertambah harus mencari tau kelemahan Panji.Siapa coba Panji.. "


Gerutu bos pereman membuat anak buahnya terdiam karna mereka juga pasti sebentar lagi kena imbasnya.


"Kau cari tau kelemahan laki-laki yang bernama Panji.Dan sisanya ikut aku mencari tua bangka itu.. "


Sang anak buah hanya mengangguk mendengan perintah sang Bos yang tak lain adalah Bimo.


Mereka berpencar mencari dua informasi yang berbeda, begitupun dengan anak buah Panji sudah bergerak cepat mencari Tuan besar dan sang asisten tuan besar yang ikut menghilang.


Semua kota, daerah sampai kepelosok kota semuanya sudah mereka ubrak-abrik hanya ingin mencari dua orang penting itu.


"Bagai mana, apa kalian menemukan sesuatu.. "


Tanya Heri pada anak buahnya ketika sudah berkumpul kembali di sebuah ruangan yang sangat luas.


"Sudah Bos, dari pencariaan saya pak Fadli bersembunyi di surabaya "


Jawab salah satu anak buah Heri sambil memberikan tabletnya, Heri dengan cepat langsung mengambilnya, seketika tersenyum tipis.


"Siap Bos.. "


Henri langsung berdiri berjalan kearah jendela dan mengeluarkan ponselnya.


Panji dan Rafli yang sedang menikmati makan siangnya dengan santai, apalagi Panji sedikit lega karna bisa memutus kontrak kerja perusahaan sang Papah dengan Smart Grup.


Panji senang ketika masih mengingat betapa murkanya Smit dengan keputusannya, tapi Panji tidak peduli. Ternyata benar apa yang dikatakan Rafli kalau orang-orang itu menginginkan kehancuran kelaurga Al-fatih dan target utamanya adalah Panji sendiri karna Panji adalah penghalang dari semuanya.


Tiba-tiba ponsel Rafli berdering membuat Rafli langsung berhenti sejenak dan menaruh sendok kembali keatas piring. Rafli merogoh ponsel yang ada di saku jasnya.


"Kerja bagus! Siapkan penerbangan, kita kesana sekarang !. "


Tut.. tut....


Sambungan telepon langsung terputus ,Rafli langsung menatap Panji yang memang dari tadi sudah memerhatikan interaksi Rafli dengan si penelepon.


" Ada apa? "


"Heri sudah menemukan dimana keberadaan pak Fadli.Dan aku juga sudah menyuruh Heri menyiapkan penerbangan.. "

__ADS_1


Panji tersenyum puas mendengar asisten papahnya sudah ditemukan, Panji sudah tidak sabar memborondong pertanyaan pada pak Fadli karna pak Fadli kunci utama dimana sang Papah berada.


Panji dan Rafli langsung meluncur kebandara, ingin sekali Panji cepat sampai. Sebentar lagi Panji akan mengetahui yang sebenarnya dan siapa dalang dibalik hilangnya sang Papah apa ada sangkut pautnya dengan kematiaan sang Mamah dan calon istrinya atau tidak ! jika iya maka Panji tidak akan pernah melepaskan siapapun orangnya.


Dret... dret....


Panggilan masuk kedalam ponsel Panji membuat Panji langsung merogoh ponselnya, tampa melihat Panji langsung mengangkatnya.


"Apa! itu tidak mungkinnn.. "


Pekik Panji terkejut membuat Rafli langsung menepikan mobilnya, nafas Panji naik turun dengan tangan mengepal erat menahan amarah.


"Apa yang terjadi? "


Tanya Rafli ketika Panji sudah mematikan sambungan teleponnya.


"Barusan Sarah memberi tau kalau data uang perusahaan di bobol.. "


"Sitt... Kalau begitu kamu balik ke-Kantor biar aku yang ke-Surabaya. "


Dengan cepat Panji melajukan mobilnya menuju kantor, Panji sudah tidak sabar siapa yang berani mencuri. Sedangkan Rafli berdiri di terotor jalan menunggu jemputan anak buah nya. Tak lama mobil jeef hitam berhenti di hadapannya, Rafli langsung masuk hingga mobil jeef itu membawa Rafli kebandara. Tak lupa Rafli mengabari sang istri kalau dirinya tidak akan pulang.


Rara yang sedang bermain dengan Andrian mendengar ponselnya bergetar langsung mengambilnya. Rara hanya bisa menghela nafas pelan, lagi-lagi sang suami tidak akan pulang.


Rara hanya bisa bersabar dan memahami pekerjaan sang suami walau pada kenyataannya Rara sangat merindukan sang suami dan rasa rindu itu sungguh membelenggu hatinya.


"Waalaikumsalam.. Mas hati-hati dijalan, iya Rara tidak apa-apa ko, cepat kembali dan jangan ada lecet sedikitpun."


Hanya itu balasan Rara sambil meletakan kembali ponselnya diatas menja dan kembali bermain dengan putranya, hanya dengan cara itu Rara bisa mengalihkan rasa kesal, sedih, rindu dan kesepiaannya.


Rafli menatap nanar balasan dari sang istri yang terlihat kecewa, tapi mau bagaimana lagi pekerjaan Rafli begitu menuntut dan Rafli juga tidak bisa meninggalkan sang sahabat dalam kesusahan begitu.


Sedangkan di kantor Panji menggeram marah melihat data keuangan yang menurun drastis.


"Maaf Taun ,Tapi semenjak buk Kayla memegang data keuangan perusahan semuanya jadi begini! "


Ucap Sarah gugup karna takut Tuannya marah, Panji lagi-lagi hanya bisa memejamkan kedua matanya menahan gejolak yang menyesakan.


"Cepat panggil Kaylaa.. "


Bentak Panji membuat Sarah ketakutan akan amarah bosnya, dengan cepat Sarah keluar guna mencari buk Kayla.


Apa yang kau lakukan Kayla...


Lilir Panji terduduk lemas.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2