
Hari-hari yang Sky lalui bukan hal yang mudah, bisa menerima keadaan yang membuat Sky sendiri tidak bisa berpikir dengan jernih.
Hati dan pikiran Sky begitu kacau, membuat Sky hanya bisa murung dan mengunci dirinya di kamar.
Sky keluar kamar hanya sebatas makan, dan mengobrol jika ada hal yang penting selebihnya Sky akan kembali masuk kamar.
Senyuman keterpaksaan selalu Sky berikan pada keluarganya terutama pada kedua orang tuanya, Sky tidak mau melihat kedua orang tuanya bersedih hanya karena memikirkan dirinya.
Otak Sky terus berputar kemana langkah awal yang harus Sky ambil, tujuh hari pergi tampa kabar membuat Sky mulai berpikir, pernikahan macam apa yang dia jalani.
Bahkan Sky tidak pernah sekalipun dalam tujuh hari keluar kediaman, walau bagaimanapun Sky tahu batasan. Seorang istri tidak boleh keluar rumah ketika tidak ada izin dari sang suami, Sky tau statusnya.
Tetapi Sky juga punya hati dan perasaan selayaknya istri-istri pada umumnya, yang akan merasakan sakit dan kecewa jika di tinggalkan tampa kepastian.
Pernikahan Sky seakan mengambang entah kemana harus membawanya berlayar. Sky tidak bisa berjalan sendiri jika Imamnya tidak ada.
Apa Sky harus terus seperti ini, berdiam dalam suatu ikatan yang hanya Sky saja menganggapnya.
Bagaimana mungkin sebuah pernikahan bisa kokoh jika Imam dan Makmunya berserbangan jalan.
Sky terdiam hanya menghargai suaminya, tapi bukan berarti Sky akan tinggal diam jika harus terus di gantung.
Bukankah seorang perempuan selalu butuh kepastian dalam sebuah hubungan apalagi ini dalam pernikahan yang di saksikan langsung oleh para malaikat.
Begitupun Sky, hanya butuh kepastian kemana dia harus melangkah.
"Apa aku harus memutuskan ikatan yang baru terikat! "
Monolog Sky menatap dirinya sendiri di depan cermin.
"Sebuah ikatan tidak bisa kuat jika salah satunya berusaha di lepas, aku tau perceraian adalah sebuah kalimat yang sangat di benci Allah.Tetapi bagaimana dengan pernikahan ini yang tidak pasti!"
__ADS_1
Monolog Sky seakan tercubit di setiap kata yang keluar dari bibirnya sendiri.
"Setiap pagi dan malam aku menunggunya berharap dia datang, he.. he...seperti orang bodoh! tapi sampai sekarang dia tidak kunjung datang, sadar Sky dia juga tidak menginginkan pernikahan ini. Aku berusaha menerima kenyataan yang ada, tetapi apa dia sama atau hatinya masih terikat bersama kepergian kak Amira.. "
Lilir Sky seakan tercabik-cabik hatinya mengetahui kenyataan yang ada, Sky terkekeh menertawakan dirinya yang bersikap bodoh.
Selalu menunggu orang yang entah dia pulang atau tidak. Walau Sky selalu menyakinkan hatinya, suatu hari nanti Panji akan pulang dan memutuskan kemana arah pernikahan ini berlanjut.
Bolehkah Sky berharap, walau hanya sedikit! ha.. ha..
Bagaimana mungkin Panji akan kembali memberi kabar pun tidak.
"Apa kata perceraian adalah jalan yang terbaik untuk hubungan ini! bagaimana dengan Ummah dan Baba, apa mereka akan kecewa jika aku melakukannya.. "
Huh...
Lilir Sky sambil membuang nafas kasar lalu mulai menyisir rambut panjang kecoklat-coklatan yang sama persis seperti sang Baba.
Tetapi harapan hanya harapan, semuanya tidak sesuai dengan alur pikirannya. Ternyata skenario Allah melangkah jauh di depan dari pada yang Sky pikirkan.
Huh...
Lagi-lagi Sky hanya bisa membuang nafas kasar dan dalam, tidak pernah sekalipun Sky kesulitan berpikir. Bahkan materi Hukum, Ekonomi dan Kedokteran sangat mudah Sky pelajari, tetapi masalah pernikahan sungguh membuat hati dan pikiran Sky bingbang, apa dia harus melangkah atau mundur.
Sekeras apapun Sky berpikir tetap saja pikirannya buntu.
"Ah... jika begini lebih baik aku mengurus masalah 1000 kasus dan Bisnis dari pada harus berada di situasi rumit ini."
Kesal Sky sambil mengacak-ngacak kembali rambut indah yang sudah di sisir, Sky seakan benar-benar prustasi memikirkannya.
"Bahkan baba sama ummah bukannya menenangkan dan memberi solusi malah memutuskan sesuatu yang membuatku hanya diam."
__ADS_1
Kecewa! ya tentu. Bagaimana tidak kecewa sang baba memutuskan Serra mengambil alih prusahaan dan menyuruh abang Fatih dan Serra kembali ke-Turkey. Dengan alasan Fatih banyak pekerjaan dan Serra harus menggantikan sementara posisi Sky dalam waktu Sky sudah bisa beradaptasi dan menerima satu sama lain dalam pernikahannya.
"Ya Allah apa yang harus Sky lakukan!"
Gumam Sky berusaha memejamkan kedua matanya, tetapi sungguh sulit bagi Sky. Membuat Sky terus melasak berguling kekiri dan kekanan tetap saja hati dan pikirannya tidak tenang.
Padahal sudah jam 2 dini hari tetapi mata Sky tetap tidak mau terpejam.
Sky beranjak menuju kamar mandi dan mengambil air wudhu, merentangkan sejadah dan memulai sholat malam.
Sky berdzikir memohon ampun dan petunjuk dari segala kegundahan hati dan jiwanya.
"Ya Allah engkau yang maha tau apa yang terjadi pada Sky, mana yang terbaik dan mana yang tidak baik untuk Sky. Sky mohon petunjuk-Mu, Engkau yang maha luas akan kasih sayang dan pertolongan. Tolonglah hati Sky yang lemah ini yang tidak bersabar dan bersyukur atas Takdir yang sudah engkau tetapkan. Lapangkan dan damaikanlah hati Sky, jika pernikahan ini adalah jalan terbaik yang harus Sky lalui, Sky mohon, berikan Sky kekuatan untuk menjalani dan mempertahankannya. Jika pernikahan ini bukan yang terbaik untuk Sky, berikan Sky petunjuk agar Sky tidak membuat Baba dan Ummah bersedih dan kecewa. Sky serahkan semuanya kepadamu... dan lindungillah dimanapun keberadaan suami Sky, walau bagaimanapun Panji suami Sky yang tetap harus Sky hormati. "
Lilir Sky dengan bibir gemetar menahan kalimatnya, seakan hati Sky terasa di cabik-cabik oleh kenyataan.
Sky masih mendoakan keselamatan Panji walau Sky tau Panji tidak membutuhkan doanya, siapa Sky! bukankah hanya istri yang di tinggal.
Sungguh Sky tidak bisa meneruskan doanya,hatinya sungguh diremas dengan bulir bening menerobos keluar dari pelupuk mata Sky.
Isak tangis mulai keluar memecah keheningan malam, sekuat apapun Sky menahan dengan menggigit bibir bawahnya tetap saja isakan itu terdengar.
Entah sekuat apa Sky menahan gejolak hati yang terus memberonta ingin di luapkan, Sky meremas dadanya kuat, sesekali memukulnya berharap rasa sesak ini menghilang.
Tetapi sekuat apapun Sky berusaha, rasa sesak itu malah semakin menggerogoti hati dan pikiran Sky.
Kak Amira kenapa harus S-sky...., bukan orang lain. Apa karena kakak tau hati Sky! To- tolong, izinkan Sky untuk menyerah. D.. dia tidak menginginkan Sky... apa yang harus Sky lakukan, Kak. Bahkan dia meninggalkan Sky di malam pernikahan kami, hati ini sakit kak sakit...
Jerit batin Sky memeluk erat kedua lututnya, seakan Sky sudah menyerah dengan sebuah harapan yang tidak kunjung pasti.
Bersambung....
__ADS_1