
Deg...
Senyum indah mereka di bibir Sky tetkala matanya tajamnya bertemu dengan mata teduh yang sudah dua minggu meninggalkannya.
Sky berlari layaknya anak kecil dengan senyum yang tetap mengembang, kedua tangannya Sky rentangkan.
Pemilik mata teduh itu buru-buru menghapus cairan bening yang lolos begitu saja dari pelupuk matanya.
Grep...
Sky memeluk erat tubuh gagah yang menyambut kedatangannya lembut, Sky menenggelamkan kepalanya di dada bidang pemilik mata teduh itu.
Membuat netra elang menghunus tajam kearah Sky, yang nampak bahagia berada dalam pelukan laki-laki gagah bermata teduh.
"Abang, Sky rindu..., "
Lilir Sky mengeratkan pelukannya pada sang abang yang tersenyum melihat tingkah sang adik yang selalu manja padanya.
Fatih terus menghadiahi sang adik dengan kecupan di puncak kepalanya dengan penuh kasih.
"Apa adek, baik-baik saja? "
Sky hanya bisa mengangguk dan kembali memeluk erat tubuh sang abang.
Serra menatap rumit tatapan netra elang yang sendari tadi menatap Sky dan Fatih tajam. Entah apa yang terjadi pada Panji, seakan Panji tidak rela miliknya memeluk dan tersenyum tanpa beban dengan orang lain walau itu abangnya sendiri.
Fatih tersenyum tipis melihat tatapan Panji yang menghunus dirinya, memang sejak tadi mata teduh Fatih tidak lepas dari Tatapan elang Panji yang seakan mengulitinya, tetapi Fatih masa bodo.
"Sudah jangan peluk abang terus, nanti ada yang marah, "
"Siapa yang marah! "
Ucap Sky polos sambil mengerutkan keningnya bingung, menatap sang Abang yang tersenyum.
Sky mengalihkan tatapannya pada Serra yang berdiri di samping Fatih, seketika senyum Sky mengembang kembali.
"Mba ...,"
"Aissttt ..., kau ini, "
Ucap Serra cemberut merasa geli dengan panggilan Sky sambil membalas pelukan adik ifarnya.
Sky langsung mengajak sang abang dan Serra masuk kedalam tanpa menyadari sendari tadi Panji menatapnya rumit.
Akbar yang melihat perubahan wajah Panji menautkan kedua alisnya bingung, tetapi Akbar tidak berani bertanya.
Panji kembali melangkah keruang tamu, dengan tatapan yang masih tertuju pada Sky yang tersenyum dan tertawa lepas.
Sungguh senyuman dan tawa itu membuat jantung Panji berdetak sangat kencang.
__ADS_1
Sedangkan Laila hanya diam saja melihat dua orang yang di bawa kakak ifarnya, hingga lamunan Laila buyar ketika Sky memperkenalkan sang abang dan Serra.
"Dek, perkenalkan, ini abang kakak, namanya Fatih dan ini istrinya namanya Serra, sekaligus kakak sepupuh kamu! "
"L.. Laila, "
Laila tersenyum canggung sambil menyebutkan namanya, walau Laila sedikit bingung dengan akhir kalimat yang Sky ucapkan.
"Smit adalah Farhan dan dia adiknya Farhan anak om dan tante Malati, "
Deg...
Seketika mata Laila membola mendengar apa yang Panji ucapkan, Laila menatap lekat wajah Serra yang memang begitu mirip dengan Farhan.
Rasanya dada Laila bergemuruh menahan sesuatu ketika mendengar nama Smit alias Farhan.
Panji yang melihat perubahan raut wajah sang adik langsung mendekat, membuat semua orang menjadi bingung begitupun Sky.
"Tidak apa-apa, semuanya sudah berlalu. Jangan takut, Ok. "
Ucap Panji lembut berusahan menenangkan, sembari megusap punggung sang adik lembut.
Laila hanya mengangguk saja, berusaha merendam ketakutannya. Hingga suasana yang tadinya nampak canggung menjadi hangat ketika Fatih membuka pembicaraan.
Apa lagi tingkah Panji yang menurut Sky aneh membuat semua orang yang ada disana tersenyum geli melihat pasangan yang mulai nampak hangat. Satu polos dan satu mulai posesif tetapi Panji dan Sky belum menyadari tingkah mereka sendiri yang menjadi pusat perhatian semua orang terutama tatapan Fatih yang memandangnya penuh arti.
Melihat, Fatih memutuskan untuk pulang, tadinya Fatih berniat menginap bersama sang istri tetapi melihat sesuatu yang baik Fatih mengurungkan niatnya.
Kepulangan Akbar membuat Laila tenang karena tidak ada yang Akbar bicarakan, awalnya Laila takut Akbar mengatakan sesuatu yang pasti akan membebani pikiran Laila. Ternyata dugaannya salah, Akbar tidak mengatakan apa-apa selain langsung pulang.
Kini Sky menatap tidak rela kepergian sang abang dan Serra, se-merayu bagaimana pun sang abang tetap pulang.
Membuat Sky menatap sendu mobil sang abang yang sudah menghipang di balik gerbang tinggi menjulang yang sudah di dsain secanggih rupa, gerbang itu akan terbuka sendiri dan tertutup sendiri, itu kenapa Panji tidak memerlukan penjaga.
Tetapi tidak dengan Panji, entah kenapa Panji senang kakak ifar kecilnya tidak menginap di sini, usia Panji dan Fatih memang selisih 4 tahun di bawah Panji. Usia Panji sekarang memasuki dua puluh sembilan tahun sedangkan Fatih baru memasuki dua puluh lima tahun, sedangkan Serra dan Sky, mereka berdua se-usia, sama-sama baru menginjak dua puluh dua tahun tidak jauh berbeda dengan usia Akbar.
Sedangkan usia Laila hampir sama denga. Rara, baru menginjak dua puluh satu tahun.
Sesudah membantu Laila ke kamar, Panji menghela nafas melihat sang istri yang masih diam mematung di depan pintu utama.
Perlahan Panji mendekat dan berusaha membuat langkah kakinya tidak menimbulkan suara.
Sky menautkan kedua alisnya bingung membaca pesan sang abang, entah apa maksudnya. Kata itu sungguh begitu ambigu, tetapi sayang tidak masuk kedalam otak jenius Sky.
"Hati-hati ada kucing posesif, sebentar lagi berubah jadi macan! "
Sky membaca pesan sang abang dan terus berpikir apa maksudnya, tetapi sama sekali Sky tidak mengerti.
"Kucing! posesif! macan! "
__ADS_1
Sky menggabungkan tiga kata itu, tetapi Sky sungguh benar-benar tidak mengerti. Sedangkan Panji melotot mendengar apa yang sang istri ucapkan, dengan tangan yang mengepal erat.
Dasar kakak ifar laknat!!!!
Geram Panji membatin, faham betul maksud pesan itu.
"Ehemm..., "
Deg...
Sky terlonjat kaget mendengar suara yang memekik gendang telinganya, refleks Sky langsung berbalik. Matanya semakin membola melihat siapa yang sedang berdiri dengan wajah datarnya.
"M.. Mas.., "
"Kenapa masih disini! cepat masuk, "
Sky mengerutkan kening bingung mendengar nada ketus sang suami, apa lagi wajahnya mengeras seperti menahan amarah.
"Ma... "
"Ayo masuk! "
Kesal Panji langsung menarik tangan Sky, Sky berusaha mengimbangi langkah sang suami yang lebar dengan kebingungan melihat perubahan sikap sang suami yang terlihat kesal. Entah apa yang membuat perubahan mood sang suami, Sky tidak mengerti.
Sesudah sampai di kamar Panji langsung melepaskan genggamannya, lalu beranjak kekamar mandi.
Tidak lama Panji keluar dengan wajah basahnya, dengan pakaian yang sudah berganti memakai baju tidur.
Sky hanya mematung melihat tingkah sang suami yang menurut Sky aneh, dengan kening yang terus melipat dan memicingkan matanya.
"Ayo, tidur! "
Mulut Sky mengaga ketika Panji berbaring di ranjang sambil membelakanginya, tidak lama Sky berusaha menormalkan gemuruh di dadanya dan langsung mengganti pakaian yang biasa Sky pakai untuk tidur.
Dengan ragu Sky merangkak naik ke atas ranjang.
Aneh!!!
Bingung Sky membatin melihat Panji yang sudah memejamkan matanya. Sky berbaring di sisi ranjang dan menyimpan guling di antara dirinya dan sang suami.
Plung...
Panji membuang guling dan bantal yang Sky susun menjadi pembatas membuat Sky seketika melotot dengan jantung yang hampir meloncat dari tempatnya.
"Begini enak! kamu istri aku, jangan peluk-peluk laki-laki lain! "
"Hah..., S.. "
Pekik Sky tertahan ketika sang suami mengeratkan pelukannya membuat tubuh Sky benar-benar menempel dengan tubuh sang suami.
__ADS_1
Sungguh, jantung Sky berdegup kencang begetupun Panji, Sky bisa merasakannya.
Bersambung....