AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 29 Bibi keluarrr


__ADS_3

Panji kembali disibukan dengan pekerjaannya yang menumpuk, apalagi Panji harus memasok kerugian beberapa peruhaan yang bekerja sama dengan peruhaan sang Papah.


Salah satunya perusahaan calon mertuanya, A.A Grup yang dipingpin Andi Mahardika.


Kesibukan sedikit membuat Panji melupakan kemarahannya.


Rafli bernafas lega karna Panji masuk kerja, kalau tidak maka kepalanya bisa pecah.


Panji sejenak memejamkan kedua matanya dan menghentikan tangannya yang dari tadi terus bergerak lincah diatas keyboard.


Rasa lelah menyerang namun tak sedikitpun menurunkan konsentrasi Panji, Panji benar-benar menyibukan dirinya bahkan Panji meminta Rafli melarang siapa saja masuk keruangannya karna Panji sungguh tidak mau diganggu.


Para stafpun sibuk dengan pekerjaannya masing-masing, apalagi perusahaan S.A Compay mengeluarkan banyak dana untuk memertahankan perusahaan M.A Grup.


Jika semua orang diperusahan S.A Compay sibuk begitupun dengan perusahan M.A Grup yang Panji percayakan pada Sarah sahabatnya menggantikan pak Fadil.


Panji sengaja tidak menarik pak Fadil masuk ke kantor karna Panji tidak mau orang yang menculik sang Papah mengetahuinya kalau Panji sudah menemukan pak Fadil. Karna jika sampai itu terjadi Panji yakin orang itu pasti akan berusaha menyembunyikan sang Papah.


Sedangkan seseorang yang sedang sibuk dengan kesenangannya di clab malah tak menyadari ada bahaya besar mengincarnya.


Seseorang itu tertawa dengan dua wanita di sisi kanan-kirinya.


Bicaranya sudah melantur entah kemana karna terlalu banyak minum, hingga seseorang itu merasa mual .


Huek.. huekk...


Orang itu memuntahkan isi perutnya karna terlalu banyak minum entah sudah berapa botol yang orang itu minum, kadang tertawa, kadang menangis dan kadang marah seakan hidupnya hampa, ada kekosongan dalam dirinya.


Dengan sempoyongan orang itu keluar dari kamar mandi tapi sebuah tangan mencekal erat tangannya.


Belum selesai orang itu ingin perotes sebuah pukulan tepat dipundaknya membuat orang itu langsung pingsan.


Buk...


"Cepat bawa.. "


Ucap orang berpakain serba hitam, sang anak buah langsung membawa seseorang itu yang sudah tergeletak pingsan.


Dret.. dret...


Suara ponsel bergetar membuat Panji membuka kedua matanya kembali.


"Orang yang Bos inginkan sudah ada di gudang.. "


"Bagus, jaga ketat jangan sampai dia kabur.. "


Ucap Panji senyum seringai mendengar kabar dari anak buahnya.


Panji berusaha menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat, tidak sabar untuk mengintrogasi musuhnya.


Sudah selesai Panji langsung kelur dari ruangannya dengan tergesa-gesa tampa memberi tahu Rafli.


Ponsel Panji kembali bergetar membuat Panji terpaksa menepikan mobilnya lalu langsung mengangkat telepon.

__ADS_1


"Den, tolong .Non Kayla berusaha bunuh diri! "


Deg...


Bagai disambar petir disiang bolong Panji melebarkan matanya mendengar kabar dari bi Marni. Dadanya bergemuruh dengan rahang mengeras menahan amarah.


Tampa banyak bicara Panji memutar arah menuju Mesion Al-fatih dengan mata yang sudah memerah menahan amarah.


Panji berlari setelah memarkirkan mobil Sport miliknya, menuju gudang dibelakang rumahnya.


"Lepas bi... hiks.. lepas... biarkan Kayla mati dari pada harus begini hiks.. "


Ucap Kayla lemah karna sudah tak ada tenaga lagi, bi Marni terus saja mendekap erat Kayla yang terus memberontak dipelukannya. Untung saja bi Marni masih bisa menelepon den Panji walau susah payah karna tangannya satunya harus memegang tangan Kayla yang meronta ingin menggapai pecahan beling yang sempat bi Marni jauhkan dari jangkaun Kayla.


Panji yang mendengar itu amarahnya semakin meluap, tak akan ku biarkan kau mati sebelum kau merasakan sakit seperti apa yang aku rasakan, batin Panji.


"Bibi.. "


Deg...


Kayla terkejut ternyata sang kakak begitu cepat sampai rumah. Gagal sudah keinginan Kayla untuk bunuh diri,Kayla lebih baik mati daripada harus mendapat siksaan dari sang kakak orang yang Kayla cintai.


Sret...


Panji menarik kerah baju Kayla dan menatap tajam, membuat Kayla hanya bisa menunduk.


"Kau tidak boleh mati sebelum merasakan pedihnya kesakitan! "


Brukk...


Bi Marni yang melihat itu langsung menutup mulutnya dengan telapak tangannya karna terkejut melihat perlakuan kasar Panji.


"Bibi keluarr.. "


Bi Marni langsung keluar karna tidak mau membuat majikannya bertambah marah.


Kayla berusaha berdiri dengan sisa tenaganya, menatap sendu sang kakak, seakan ajalnya sudah datang.


Kayla ikhlas harus mati ditangan sang Kakak tercintanya jika itu dapat membuat Panji puas dan bisa memaafkannya.


Krek...


Panji mencengkram erat pipi Kayla membuat gigi Kayla berbunyi akibat kencangnya cengkraman Panji.


"Beraninya kau ingin bunuh diri hah.. "


"Kau harus tetap hidup dan merasakan apa itu kesakitan.Bunuh diri terlalu gampang menuju ajalmu.. "


"Sekarang katakan dimana kau menyekap Papahku.. "


Ucap Panji memburu terus mencengkaram pipi gadis yang dulu Panji sayangi namun sekarang hanya ada kebencian di mata Panji.


Kayla meringis menahan sakit akibat cengkraman Panji, tapi Kayla tak bisa melawan tubuhnya sudah sangat lelah.

__ADS_1


"Ka. kayla ti.. tidak tahu Kk ahh.. "


Jerit Kayla tertahan karna Panji menekan cengkramannya, pipi Kayla begitu sakit dan ngilu.


"Jangan kau coba memanggilku Kakak Aku BUKAN KAKAKMU. Ingat ! adikku sudah mati lima belas tahun lalu. "


Jderr...


Hati Kayla hancur mendengar nada ucapan Panji yang sudah tak menganggapnya lagi adiknya. Bulir bening meluncur begitu saja hingga membasahi tangan Panji yang masih mencengkaram pipi Kayla.


"Ma.. maaf, Tapi Kayla be.. be.. benar ti.. tidak tau! "


Lilir Kayla berusaha menyakinkan Panji tapi Panji seakan tak percaya dengan apa yang Kayla katakan.


Bruk...


Awss...


Panji dengan luapan amarah mendorong Kayla membuat kepala Kayla membentur ding-ding. Kayla hanya bisa meringis dengan apa yang Panji lakukan. Kepalanya begitu pusing hingga darah keluar dipelipis Kayla.


Tapi Panji buta seakan tidak peduli lagi dengan apa yang terjadi pada Kayla bahka Panji seakan menulikan telinganya mendengar rintihan pilu yang keluar dari bibir mungil Kayla.


"Sungguh Kayla tidak tau tentang itu! Kayla hanya tau rencana pembunuhan Mamah saja. Sungguh Kayla tak tau! "


Ucap Kayla tinggi dengan sisa tenaganya berusaha menatap Panji yang menatapnya tajam.


Kayla harus bagaimana lagi untuk meyakinkan Panji kalau dirinya mengang tidak tahu menahu tentang sang Papah. Karna Smit dan Ayahnya tidak memberi tahunya.


"Kau.. "


"Percayala.. "


Uhuk..


Kayla berbatuk saat Panji mencekiknya membuat Kayla sulit bernapas, tangan lemah Kayla berusaha memukul tangan besar Sky dengan sisa tenaganya memohon supaya Panji melepaskan cekikannya.


Uhuk.. uhuk...


Kayla semakin berbatuk ketika Panji malah mengencangkan cekikannya membuat kedua mata Kayla membola.


Deg...


Panji tertegun melihat bola mata keabuan Kayla yang terlihat jelas, mata itu sama persis seperti mata sang Mamah. Mata yang selalu memancarkan keteduhan jika memandang Panji.


"Ma.. mamah.. "


Lilir Panji gemetar tak sadar memanggil sang Mamah seakan Panji melihat sang Mamah didiri Kayla.


"Ma.. "


"Sky, apa yang kau lakukan ! "


Duarrr....

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2