
Semua orang begitu sibuk mempersiapkan ruang eksekusi, dimana Bimo akan di hukum mati dengan apa yang sudah Bimo tanam belasan tahun.
Sarah memohon pada Panji supaya bisa bertemu dengan sang ayah untuk terakhir kalinya dan tentu Panji mewujudkan itu, walau bagaimanapun Sarah sudah banyak membantunya.
Kini antara anak dan ayah itu sedang berhadapan dengan tatapan berbeda. Sarah menunduk tidak berani menatap sang ayah terlalu lama, maka rasa sakit itu akan semakin mencabik-cabik hati Sarah.
Sarah meremas tali tas nya, dengan mata mulai memerah, walau bagaimanapun Bimo ayahnya, baik buruknya kelakuan Bimo tidak pernah mengurangi rasa sayang dan hormat Sarah pada Bimo karena terlalu kuat sebuah ikatan untuk bisa di lepas.
Sarah memang kecewa dan marah, tetapi Sarah juga tidak kuat jika harus berada di posisi seperti itu.
Hati Bimo tercubit melihat putri nya yang sendari tadi menunduk, Sarah adalah putrinya yang begitu Bimo sayangi dan cintai, tapi karena rasa dendam membuat Bimo gelap mata dan menghancurkan segalanya.
Tetapi semuanya sudah terlambat untuk di ulang kembali, hukum seudah menjeratnya dan Bimo sudah tidak bisa melawan lagi.
Entah sejak kapan Bimo sudah duduk di sisi sang putri, perlahan Bimo mengangkat dagu sang putri demi melihat wajah sang putri yang mirip dengan mendiang istrinya.
Hati Bimo terasa di remas meliahat wajah sang putri yang sudah tidak bisa membendung air matanya lagi. Bimo mungkin orang jahat, kejam dan bengis tetapi bagi Sarah Bimo adalah pahlawannya.
"Jangan menangis, hm, "
Grep...
Sarah sudah tidak bisa lagi menahan untuk tidak memeluk sang ayah, Bimo yang mendapatkan pelukan dari sang putri begitu terharu dengan erat Bimo membalas pelukan hangat sang putri dan mungkin ini untuk yang terakhir kalinya.
Sarah menumpahkan tangisnya di pelukan sang ayah membuat hati Bimo benar-benar sakit dan perih.
Bahkan penyesalan pun sekarang tidak ada gunanya lagi, hanya Allah yang maha tahu urusan selanjutnya.
Maafkan ayah, Nak. Maaf..., kamu masih mau memeluk ayahmu yang begitu kejam ini..., terbuat dari mana hati kamu, Nak. Kamu memang sama seperti mamah mu, berhati lembut bak malaikat, maafkan ayah yang tidak bisa mencintaimu mamah mu, tetapi ayah baru sadar ternyata cintah ayah terlalu besar ayah berikan padamu hingga ayah lupa bagaimana memperlakukan mamah mu.
Maafkan ayah yang belum bisa jadi ayah yang baik untuk kamu selama ini, maaf ayah tidak pernah sekalipun mendengar nasihat-nasehat darimu, semoga di kehidupan nanti ada laki-laki yang bisa menjaga kamu ketika ayah tidak bisa lagi melindungimu. Maafkan ayah, Nak. Maaf...,
Batin Bimo memeluk erat tubuh lemah sang putri sesekali mengecup puncak kepalanya, apa yang Bimo lakukan semakin membuat Sarah terisak.
"A... Ayah, Sarah sayang ayah, "
Sangat.... sangat sayang ayah hiks..., Sarah memang benci, benci kelakuaan ayah, tetapi ayah tetap ayah Sarah. Siapa yang akan melindungi Sarah ketika ayah pergi, siapa yang memeluk Sarah ketika Sarah rapuh, ayah akan tetap jadi ayah Sarah sampai kapanpun, walau dunia membenci tetapi Sarah tidak sedalam itu, Sarah sayang ayah.
T... Tolong sampaikan salam maaf Sarah pada mamah, Sarah belum bisa jadi mewujudkan keinginan mamah hiks...
__ADS_1
Jerit batin Sarah sakit, sangatlah sakit, membuat Sarah tidak bisa berkata banyak, lidahnya kelu seakan sulit untuk berucap.
Anak dan ayah itu hanya bisa mengungkapkan perasaan masing-masing lewat hatinya yang rapuh, lidahnya terasa kelu hanya sekedar mengungkap.
"Maaf waktu anda sudah habis,"
Bimo melepaskan pelukan sang putri tetapi Sarah seakan tidak mau melepaskannya, membuat Bimo hanya pasrah. Hingga Sarah secara paksa di tarik dan Bimo di bawa lagi ke sebuah ruangan.
"Ayah... ayah..., jangan tinggalin Sarah..., "
Tetiak Sarah menggema di telan kesunyian, Sarah terus memberontak tetapi cekalan Berimob begitu kuat, hingga tak lama Sarah melemah dengan tubuh merosot kebawah.
Harapannya seakan hancur tertelan kesunyain memandang hampa pintu kokoh dihadapannya, semuanya sudah usai, tidak ada lagi yang bisa Sarah lakukan.
Sarah berlari sekuat mungkin tidak menperdulikan orang-orang yang melihatnya berantakan.
"Mau kemana? "
"Tidak! biarkan dia pergi, "
Sky mengangguk pasrah dengan titah sang suami, dan melanjutkan lagi perjalanannya kedalam untuk mengurus berkas terakhir sebelum Bimo di bawa ketempat khusus eksekusi terakhir.
"Bukankah dia anak pembunuh.. "
"Dasar anak pembunuh, menjijikan sekali,"
"Hey..., ibu-ibu jangan sampai anak kita dekat dengan anak pembunuh, "
"Iya, apa lagi jatuh cinta pada nya.. "
"Cih. aku tidak sudi punya mantu pembunuh,"
"Kita harus hati-hati jangan-jangan anaknya juga sama,"
"Punya bapak, pembunuh, ih.. menjijikan. "
Hinaan cacian sudah Sarah tidak pedulikan, Sarah menutup telinganya ketika orang-orang mengolok-olek dirinya. Sarah hanya ingin lari sejauh mungkin mencari ketenangan dari bibir pencibir.
Bahkan Sarah tidak sadar bahwa dia sudah sangat jauh berlari bahkan, sepatunya sudah lepas entah kemana, telapak kakinya dari tadi mengeluarkan darah tetapi Sarah tidak peduli bahkan sama sekali tidak merasakannya.
__ADS_1
Sarah berlalari sudah sangat jauh masuk kedalam hutan, tidak memperdulikan lengan dan betisnya yang mengeluarkan darah akibat terkena goresan semak-semak dan ranting.
Hingga Sarah menghentikan langkahnya tepat di atas patu besar dimana ada sebuah air terjun di hadapannya.
"Ah.... ah... aku benci... benci... mamah hiks.. "
"Mamah..., "
Jerit Sarah tertelan suara gemuruh jatuhnya air terjun, jeritan Sarah begitu pilu dan menakutkan hingga burung-burung yang ada di sana berterbangan seakan pergi membiarkan Sarah sendiri meluapkan segala emosinya.
"Mamah.. ,"
Jerit Sarah pilu memejamkan kedua matanya seakan Sarah sudah lelah dengan semuanya.
Buat apa Sarah hidup jika dunia membencinya, buat apa! semuanya hancur, harapannya hancur, semuanya membenci.
"Mamah... mamah.. hiks... "
"Mah.., "
Lilir Sarah sesak dengan kedua tangan di rentangkan seakan Sarah ingin menceburkan dirinya kedalam air, Sarah ingin semua rasa sakit ini berhenti.
Jemput Sarah, Mah...
Tubuh Sarah melayang dengan kedua mata terpejam erat, seakan kehidupan Sarah sampai di sini.
Mamahnya pergi, ayahnya juga, dan neneknya di dalam bui. Buat apa Sarah hidup lagi sedang dunia membenci dan mengutuknya, lebih baik Sarah menyusul kedua orang tuanya.
Tetapi Sarah bingung, kenapa tidak merasakan apa-apa, tidak ada rasa sakit dan tidak ada dinginnya air yang memeluk dirinya. Satu yang Sarah rasakan, tubuhnya hanya melayang tinggi di udara bukan terjun ke dalam air.
Apa aku sudah mati terlebih dahulu sebelum merasa sesaknya di dalam air, jika benar! kenapa mamah tidak menjemputku.
Batin Sarah aneh, perlahan Sarah mencoba membuka matanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi dimana dia, kenapa melayang bukan terjatuh.
"Kau sudah gila, apa yang kau lakukan, hah. "
Deg...
Tubil Sarah melebat dengan jantung yang hampir mau loncat dari tempatnya.
__ADS_1
Bersambung....