AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 54 Isakan Laila..


__ADS_3

Panji terus saja mengupat kesal dan marah dengan apa yang terjadi tadi sore.


Sumpah serapan dan umpatan terus saja Panji layangkan pada pembantu barunya, baru genap dua hari tapi pembantu itu sudah membuatnya sial dihari pertama.


Sekarang seluruh badannya terasa sakit dan pegal akibat ulah pembantu sialan itu.


Sudah kepala terbentur, baju basah kuyup dan di injak pula membuat badan Panji rasanya mau patah apalagi denyut di kepanya belum hilang .


"Pembantu sialan.... makhluk jadi-jadian... ah.. dasar pembawa sial.... "


Rancu Panji terus menggerutu dan memaki-maki sedangkan orang yang dimaki dari tadi terus memegang dadanya yang terus bergemuruh entah.


Antara kesal, malu dan marah bercampur jadi aduk, kenapa mempunyai Tuan begitu sangat menjengkelkan.


Ternyata dibalik sikap dinginnya ada sikap menjengkelkan membuat Santi kesal setengah mati apalagi Panji langsung menghukumnya membereskan kamarnya.


Tidak boleh sedikitpun ada yang salah menyimpannya harus benar dan harus ditempat semula.


"Hey makhluk aneh... simpannya disitu.. eh.. bukan.. itu disitu.. iya.. iya... eh... salah... jangan.. bagus... "


Begitulah kiranya Panji menyuruh Santi membereskan kamarnya, Santi hanya bisa menahan kesal dengan bibir yang mengerucut.


Rasanya badan Santi pegal semua membuat Santi langsung terlelap dalam tidur panjangnya.


Berbeda dengan Panji, jiwanya kembali lemah di heningan malam, seakan jiwanya entah kemana.


Bulir bening memaksa keluar ketika Panji sudah lelah mengupat pembantunya, pikirannya kembali menerawang dimana kesakitan itu tercipta.


Hanya tangisan kembali menyapa dengan kesesakan yang entah sampai kapan perginya, bayang-bayang kedua orang tua Panji menyapa seakan ingin menyampaikan sesuatu tapi sulit bagi Panji untuk menggapai.


"Ma.. mah... "


Lilir Panji terisak memecah keheningan malam, seperti itulah Panji disetiap malam selalu terjaga dari tidurnya meratapi nasib yang menyakitkan.


Seolah manakah Panji yang asli, ketika siang Panji menjelma menjadi manusia dingin tapi lihatlah dikesunyian malam Panji hanya bisa menangis dan menangis.


Tak cukupkan Panji menangis kenapa Panji menyiksa dirinya sendiri dengan kesakitan itu. Tidak maukah Panji bangkit untuk membalas apa yang orang-orang dzolim itu lakukan, setidaknya bangkit untuk adiknya yang membutuhkan pertolongan.

__ADS_1


Tapi lihatlah Panji hanya terus menangis dengan kesakitan yang dia rasakan tidakkah Panji tau bahwa sang adik jauh lebih sakit.


Sangat Sakit ! dirinya di injak-ijak dan di hina,bisakah Laila bertahan dengan apa yang dia alami.


Ya Laila sedang menangis dalam diam di sebuah kamar hotel dengan tubuh yang mengenaskan.


Bibir seksi itu kian bengkak akibat tamparan terbukti terdapat lima jari besar terlukis di pipi mulus Laila, tidak pernah membayangkan hidupnya akan seperti itu.


Kehormatan yang selama ini Laila jaga dirampas paksa oleh manusia kejam yang hanya acuh tak peduli dengan isakan pilu Laila.


Mata sipitnya menatap tajam Laila yang meringkuk memeluk selimut tebal menutupi tubuh polosnya.


Jika saja selimut itu terbuka maka siapa saja yang melihatnya akan merasa sesak dan perih.


Tubuh yang dulu indah ,putih mulus tak ada sedikitpun kecacatan tapi kini tubuh itu banyak luka cambukan dan pukulan yang membiru.


Ketika laki-laki sipit itu ingin melakukan hal bejatnya maka Laila terus memberontak hingga siksaan yang Laila dapatkan.


Ingin rasanya Laila mati saja jika harus menghadapi kehidupan yang menyakitkan.


Ingin marah tapi pada siapa, bahkan Laila juga tidak tau apakah kakak nya selamat atau tidak dari cengkraman manusia iblis itu.


Ak.. akbar...


Nama itu bagai tasbih yang selalu terlintas dalam pikiran Laila.Nama yang Laila harapkan kehadirannya, entah sejak kapan nama itu sudah bersarang di hati Laila.


Perlakuan manis, lembut dan penuh kasih selalu Akbar berikan untuk Laila tapi lihatlah berbanding balik dengan laki-laki bermata sipit yang hanya acuh tidak sedikitpun mempunyai rasa kasih.


"Diammm,,,,,,"


Bentak laki-laki sipit itu menatap tajam Laila yang terus saja terisak, tangisan itu bagai radio rusak yang merusak gendang telinga laki-laki sipit itu.


Bukannya diam Laila malah semakin terisak sambil menutup kedua telinganya, Laila tidak pernah sekalipun mendapat bentakan dari kedua orang tuanya tapi laki-laki bajingan itu seenaknya membentak dan memperlakukan dirinya bak boneka.


Grep...


Laki-laki sipit itu mencengkram pipi Laila membuat Laila kesakitan apalagi sobekan bekas tamparan tadi mengeluarkan darah kembali.

__ADS_1


"Sa.. sakit... sa.. sakit... "


Hanya itu yang bisa Laila ucapkan dengan gemetar sungguh dirinya tak berdaya tidak bisa melawan manusia jahanam di depannya itu.


"Ha.. ha... Sakit ! dasar gadis lemah.. aku membelimu dengan harga tinggi jadi berhenti memberontak jika kau tak mau merasakan hal yang lebih menyakitkan dari pada ini paham.. "


Ucap laki-laki sipit itu penuh penekanan membuat Laila terdiam, mungkin air mata Laila sudah kering hingga mata itu hanya menatap lurus dengan kesedihan yang mendalam ,itu sangat menyakitkan.


Tuhan apa aku sehina itu ! apa aku sebuah barang yang dengan seenaknya di caci, di hina dan memperlakukanku bak beneka. Apa salahku Tuhan hingga aku harus mengalami hal yang menjijikan bahkan aku sendiri jiji pada diriku sendiri. Ya aku lemah seperti apa yang laki-laki iblis itu katakan, aku bodoh, lemah dan tidak berdaya. Rasanya aku ingin mati dari pada hidup dengan kotoran yang menempel ditubuhku. Aku lelah......sangat lelah.. bolehkah aku istirahat Tuhan! jangan kau buat aku membencimu..


Jerit batin Laila tertahan dadanya sesak sangat sesak membuat Laila sulit bernafas dengan hidung yang penuh.


Laila termenung dengan kerapuhannya menatap penuh kebencian pungung laki-laki yang menghilang dibalik pintu.


"Ka.. kakak... apa kakak masih hidup, jika iya Tolong bebaskan Laila dari kurungan neraka ini. Laila tidak sanggup kak ! apa ini balasan untuk Laila yang pernah menyakiti kalian, Ma.. m. mamah.. "


Lilir Laila tertahan dengan tangan yang mencengkram dadanya kuat.


"Ma.. mamah... pa.. papah... ma.. maafkan Laila.. ini sakit Mah.. sangat sakit Pah... apakah kalian melihat La.. laila.. Tolong jawab Mah, Pah..."


Bibir seksi itu bergetar dengan kalimat-kalimat menyayat yang terus keluar dengan tatapan kosongnya.


Mah, Pah kenapa gelap.. apa kematian akan menjemput Laila.. jika iya jemputlah La.. laila.. sungguh Laila tidak kuat..


Akbar Mahardika apa kabar ? jika malam ini adalah kematianku aku hanya mau bilang ma.... maafkan aku. Ak.. aku mencintaimu..


Jerit Laila sesak hingga kesadarannya pun menghilang.


Lihatlah gadis malang itu meringkuk di lantai yang dingin dengan keadaan yang begitu menyakitkan. Tak ada yang peduli untuk sekedar mengobati lukanya,Laila bagai manusia terdampar yang tak tau dimana dia berada.


...-----...


Jangan lupa baca Takdir Illahi & Takdir Illahi 2 ya..


Karna nama sebagian Tokohnya ada dalam cerita itu he.. he... biar teman-teman gak pada pusing..


Sampai jumpa di Bab selanjutnya dadah...

__ADS_1


__ADS_2