
Papah Andre begitu terkejut mendengar kabar dari sang putra kalau Farhan sudah ditemukan oleh anak buah Sandi .Begitupun dengan Laila, walau bagai manapun Smit atau Farhan laki-laki yang dulu telah memberinya kasih sayang seorang kakak, hingga rasa benci bersarang ketika Farhan ingin melecehkan Laila.
"Sky utus semua anak buah kamu, dapatkan Farhan kembali. Papah yakin sekarang Farhan dalam bahaya. "
Ucap papah Andre tegas, rasa cemas dan kewatir tak bisa disembunyikan lagi dari wajah papah Andre.
"Baik Pah "
Ucap Panji langsung pamit pergi untuk menemui anak buahnya.
Panji mengurungkan niatnya ketika akan menelepon Rafli. Baru ingat kalau Rafli sedang kebandara mengantar kepergian gadis itu.
Tak lama Panji sampai di sebuah bangunan yang Panji sebut gudang, tepatnya Markas tempat Panji menyekap atau menyiksa siapa saja penghianat.
Semua orang membungkuk hormat ketika Panji melewati mereka dan langsung duduk diatas kursi kebesarannya.
"Apa ada yang terluka! "
Ucap Panji tegas dengan aura yang begitu dingin membuat anak buahnya sedikit menciut.
"Lima orang yang tertembak, dan sepuluh orang luka-luka "
Jawab Heri tangan kanan Panji didunia bawah. Panji menghela nafas kasar dengan tangan mengepal erat menahan amarah.
"Kenapa kalian kecolongan, apa saja yang kalian lakukan hah.. "
Bentak Panji menggema membuat anak buahnya menunduk.
"Maaf Tuan, sebagian orang kita tiba-tiba sakit perut dan mengantri di depan Kamar mandi hingga kami tidak tau kalau ada yang menyerang! "
"Siapa yang masak makanan hari ini "
Deg...
Heri langsung tercekat mengetahui bahwa ada salah satu anak buahnya yang tidak ada.
"U.. u.. udin Tuan! "
"Cepat cari Udin bawa kehadapanku! "
Bentak Panji mengema membuat anak buahnya bergidik ngeri melihat kemarahan Tuannya yang sudah belasan tahun tak terlihat, kini mereka melihatnya kembali.
Sebagian anak buah Panji mencari keberadaan Udin disetiap ruangan.
"Ternyata ada penghianat disini.. "
Ucap Panji menyeringai menatap tajam Heri yang menunduk, takut.
Panji mengetuk-ngetukan jari telunjuknya pada meja dihadapannya dengan tatapan menghunus anak buahnya yang masih berdiri didalam ruangan itu.
"Maaf Tuan kami tidak menemukan Udin. "
"Di ruangan bawah tanah juga tidak ada. "
"Sama Tuan di ruang belakang juga tidak ada. "
Brak...
Panji menggebrak menja membuat para anak buahnya terlonjat kaget, tapi mereka tidak berani untuk bersua.
Panji berjalan dengan angkuhnya mendekati Heri membuat Heri gemetar, merasakan aura dingin yang akan siap menerkamnya.
__ADS_1
Puk...
Panji menepuk pundak Heri sambil menekannya membuat Heri meringis tapi sekuat tenaga Heri menahannya.
Anak buah yang lain yang melihat amarah Tuannya hanya bisa menunduk walau leher mereka sudah kebas.
"Heri kamu tahu apa yang harus kamu lakukan pada penghianat! "
Gumam Panji menyeringai tepat ditelinga Heri membuat Heri mengangguk.
Puk.. puk...
"Aku percaya padamu ! "
Ucap Panji lagi sambil menepuk pipi Heri kemudian berlalu meninggalkan ruangan khusus itu.
Huh...
Semua orang yang ada diruangan itu menghela nafas lega melihat Taunnya pergi, begitupun Heri.
"Kucing anggora berubah jadi Macan! "
"Aura Tuan begitu mengerikan! "
"Iya, sudah lama kita tak melihatnya semenjak thobat! "
Desak desuk anak buah membuat Heri hanya tersenyum tipis dan duduk di atas shopa sambil menatap satu persatu anak buahnya .
Sedangkan Panji melajukan mobilnya kembali kerumah sakit, karna takut terjadi apa-apa pada sang Papah dan sang adik.
Panji yakin adiknya sedang dalam bahaya, tapi sampai kapanpun Panji tifak akan membiarkan sang adik dalam bahaya untuk kedua kalinya.
Bruk...
Ucap perawat yang tak sengaja menabrak Panji. Ketika Panji baru saja kelaur dari lif dan berbelok menuju ruang sang adik.
"Tidak apa-apa, oh iya apa anda ingin mengantar makan kedalam ruangan adik saya ! "
"Iy.. iya Tuan. "
Panji menyerngit heran melihat kegugupan perawat itu, tapi Panji tidak bisa memastikannya karna perawat itu memakai masker.
"Kalau begitu permisi Tuan "
"Hemmz.. "
Sang perawat langsung melanjutkan langkahnya kembali menuju ruang rawat Laila.
"Tunggu ! "
Ucap Panji membuat sang perawat langsung menghentikan langkahnya begitupun troli yang perawat itu durong ikut berhenti.
Panji perlahan mendekat dan berhenti tepat di samping sang perawat.
"Coba anda cicipi dulu makanan itu ! "
"Ta.. tapi Tuan ini makanan buat Pasien "
Jawab sang Perawat bingung kenapa dirinya harus mencoba dulu itukan tidak sopan.
"Cepat! "
__ADS_1
"Ta.. tapi...Tu... "
Bruk...
Panji terpental kebelakang akibat dorongan kuat sang perawat membuat Panji mengupat kesal.
"Hey jangan lariii,,,,, "
Teriak Panji mengejar perawat itu yang sudah melarikan diri.
"Sittt,,,, "
Umpat Panji ketika perawat itu sudah masuk lif, dengan cepat Panji berlari melewati tangga darurat.
Hingga dua anak tangga Panji lewati sekaligus sesekali Panji melompat,hingga sampai dilantai bawah.
Panji berlari sambil memutar badannya mencari perawat itu, hingga mata Panji menatap sosok yang mencurigakan berlari keluar dengan cepat Panji mengejarnya.
"Ah... sial dasar perawat gadungan,,, "
Teriak Panji sambil melempar mobil hitam yang melesat pergi dengan tong sampah.
Orang-orang memandang aneh dan heran kearah Panji,sedangkan Panji hanya acuh dan kembali masuk kedalam lif menuju lantai lima.
Nafas Panji masih naik turun dengan dada yang bergemuruh menahan amarah.
"Assalamualaikum.. "
Ucap Panji lembut berusaha menyembunyikan amarahnya.
"Waalaikumsalam.. kak "
"Papah kemana? "
Tanya Panji heran tak mendapati sang ayah di dalam ruangan sang adik. Membuat Panji menghela nafas kasar. Bagimana kalau perawat tadi masuk dalam keadaan sang adik sendiri,dan Panji pastikan sang adik tidak akan selamat.
Membayangkan itu semua membuat Panji naik darah kembali.
"Papah baru saja keluar beli obat, katanya obat yang harus ade minum sedang kosong! kakak kenapa seperti kesal! "
Berkali-kali Panji mengatur nafasnya mendengar penuturan sang adik, bagai mana mungkin rumah sakit sebesar ini kekurangan obat,pikir Panji kesal karna sang Papah bisa ceroboh.
"Kakak tidak apa-apa, nih makan Kakak tau pasti kamu belum makan obat! "
Ucap Panji lembut sambil memberikan bubur yang tadi sempat Panji beli di bawah sebelum masuk kembali.
"Ko kakak tau, Laila juga aneh kenapa sampai jam segini belum ada perawat yang mengantar makan siang buat Laila ! "
Ucap Laila sambil mengambil bubur yang dibelikan sang kakak.
"Mereka tidak akan mengantar dek, karna perawat gadungan itu yang mengambil alih"
Batin Panji masih kesal, tapi rasa kesal hilang begitu saja ketika melihat sang adik yang mulai lahat makan, bahkan sampai belepotan.
"Kamu masih Laila kecil kakak he.. he.. "
Ucap Panji terkekeh sambil membersihkan bubur yang belepotan sampai kedagu. Membuat Panji teringat adik kecilnya waktu makan Es krim sampai kebaju-baju dan Panji yang harus membersihkannya.
Ketika aku tau kak Panji adalah kakak kandungku, getaran ini masih sama. Apa memang selama ini aku salah mengartikan rasa ini, jika begitu berarti memang rasa ini hanya sebatas rasa cinta adik pada kakaknya tidak lebih.
Batin Laila sambil tersenyum mendapatkan perlakuan manis dari sang kakak.
__ADS_1
Bersambung....