
Prang....
"Astagfirullah.. "
Pekik Panji terkejut mendapati potho sang Papah terjatuh.
Dengan cepat Panji mengambil poto sang Papah dan membersihkan pecahan kacanya. Panji menatap lekat poto itu, entah kenapa tiba-tiba hatinya gelisah seakan ada sesuatu yang menyakitkan.
"Pah, apa Papah baik-baik saja! kenapa perasaan Sky tidak tenang, sebenarnya Papah dimana? "
Lilir Panji mendudukan bokongnya dikursi kerja sang Papah.
Hati Panji benar-benar sungguh gelisah, apalagi sampai sekarang Panji belum menemukan tanda-tanda keberadaan sang Papah.
Drett....
Panji terperanjat mendengar suara ponselnya membuat hati Panji kian sesak, entah apa yang membuat hatinya sesak rasa itu tiba-tiba muncul begitu saja.
Dengan malas Panji mengangkat telepon dari Rafli.
"Iya ada apa! "
Ucap Panji sedikit tidak bersemangat, tak lama kedua matanya melotot dengan dada yang bergemuruh.
"Apa! kamu yakin.. "
"Aku yakin, cepat kamu kesini. Aku akan kirim lokasinya.. ".
Dengan cepat Panji langsung berlari keluar dari ruangan sang Papah, Kayla yang melihat kakak nya terlihat panik menyerngit bingung.
"Ah.. sial. kenapa kakak larinya cepat banget.. "
Umpat Kayla karna tak bisa mengejar sang Kakak, sedangkan Panji sudah memacu mobilnya dengan kecepatan penuh, pikirannya begitu kacau takut terjadi apa-apa pada sang Papah.
Air matanya dari tadi sudah tidak bisa di bendung lagi, sesekali Panji menyekanya. Panji tak peduli dengan mobil lain yang mengklaksonnya karna Panji dari tadi menerobos dan menyelip mobil-mobil lain.
Hingga Panji membelokan mobilnya kearah jalan sepi, disepanjang jalan di hiasi pohon-pohon besar menandakan tempat masuk kedaerah pedesaan.
Panji menambah kecepatan mobilnya karna merasa jalan begitu sepi hingga Panji melihat didepan sana sudah ada mobil Rafli dan beberapa mobil anak buahnya.
"Apa yang kamu temukan Raf.. "
Ucap Panji dengan nafas memburu berlari menghampiri sang sahabat.
"Aku tidak menemukan apa-apa disana, hanya mobil Om Andre saja, semuanya kosong. "
"Tidak mungkin.. "
Pekik Panji memeriksa sendiri keadaan mobil sang Papah tapi Panji tidak menemukan sedikitpun petunjuk disana. Panji hanya menangis dalam diam didalam mobil sang Papah.
__ADS_1
Rafli hanya diam membiarkan sang sahabat menangis begitupun para anak buahnya langsung melangkah mundur.
Tak lama Panji keluar dengan raut wajah yang berbeda membuat Rafli tertegun, tapi Rafli tidak berani bersua.
Panji menatap tajam mobil sang Papah, hanya ada goresan dibagiaan belakang dan pinggir Mobil, Panji bisa menebak kalau mobil sang Papah di hempit dan di tubruk dari belakang.
"Aku yakin ada seseorang yang sedang bermain-main! "
"Dia sangat cerdik,membawa mobil Om kedaerah yang tidak ada sinyal! "
"Ya, dan aku yakin ini sudah direncanakan! bagai mana kamu bisa menemukan mobil Papah! "
"Anak buahku meretras semua CCTV dan menemukan kamera pengawas menangkap mobil Om dan yang terakhir CCTV yang ada ujung jalan lampu merah menangkap Mobil Om melaju ke arah sini. Dan ada tiga mobil hitam yang mengikuti mobil Om,aku sudah menyuruh anak buahku mencari siapa yang mempunyai plat mobil itu "
Panji memejamkan kedua matanya mendengar penuturan sahabatnya.
"Dia juga begitu cerdik membuang semua bukti itu, apa CCTV pas kejadiaan Mamah juga berhasil kamu dapatkan! "
Ucap dingin Panji membuat Rafli langsung mengangguk.
"Kecelakaan Tante memang disengaja,Mobil tante sengaja remnya bibuat Blong supaya itu memang kecelakaan padahal ada dua mobil Bos yang menghantam mobil tante dari arah belakang dan samping hingga mengakibatkan mobil tante langsung oleng, dan pas waktu kejadiaan itu semua rambu lalu lintas di retas mereka sengaja supaya tidak ada yang melintas kejalan yang tante lewati. "
Lagi-lagi Panji hanya memejamkan kedua matanya erat dengan tangan yang terkepal hingga urat-uratnya menonjol, dadanya naik turun menandakan amarah Panji berkoar.
Rafli hanya bisa menghela nafas melihat apa yang terjadi pada diri sahabatnya, Sebentar lagi kucing anggora akan berubah jadi macan, batin Rafli bergidik.
"Heriii... "
"Bawa mobil Tuan, dan perbaiki semua kerusakannya kalau sudah beres langsung bawa ke rumah utama. "
"Ba.. baik tuan muda. "
Panji langsung masuk kedalam mobil dan terdiam, Rafli menyuruh anak buahnya untuk pulang lebih dulu dan tak lupa juga Rafli menyuruh anak buahnya untuk membawa mobil dirinya sendiri.
Sudah memberi perintah Rafli masuk kedalam mobil Panji. Tak lama Panji menyalakan mobil dan membawa dengan kecepatan sedang, Panji tetap bungkam dengan mata yang terus menelisik kawasan mana yang Panji datangi.
"Ini daerah pelosok menuju Cianjur "
Ucap Rafli paham apa yang ada dipikiran Panji, membuat Panji berusaha menenangkan gejolak yang ada di dirinya supaya pikirannya tenang.
Panji menatap kedepan dengan tatapan tajam, pikirannya terus berputar menggabungkan semua kejadiaan yang dia alami hingga tiba-tiba Panji menghentika mobilnya dan menatap tajam pada Rafli.
"Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan! "
Tekan Panji dingin mengobarkan aura kelam dalam dirinya yang sudah lama dia sembunyikan.
Rafli terkejut mendengar suara Panji yang mulai kelam, dengan santai Rafli menatap balik sang sahabat dengan tatapan sulit diartikan.
"Apa kamu akan percaya dengan apa yang akan aku katakan! "
__ADS_1
Bukannya memberi jawaban Rafli malah bertanya balik dengan suara yang tak kalah dingin.
"Katakan! "
Tekan Panji sambil menatap lurus kedepan, bukannya menjawab Rafli malah memberika ponselnya pada Panji.
"Bukalah.. "
Dengan cepat Panji membuka ponsel Rafli, seketika matanya melotot tak percaya dengan apa yang dia lihat, sampai-sampai tampa sadar Panji meremas ponsel Rafli.
"Ti.. tidak mungkin.. "
...***...
"Apa! ah.. sial,kenapa kalian bisa kecolongan. Cepat cari sampai ketemu kalau tidak tubuh kalian akan saya cingcanggg... "
Prang...
Bentak seseorang langsung membanting ponselnya hingga pecah. Matanya memerah menahan amarah mendengar kabar kalau tawanannya kabur.
"Sial, kenapa semuanya kacau dan anak sialan itu belum bergerak sama sekali ah.. ah... "
Orang itu terus mengamuk menghancurkan barang-barang yang ada didalam apertemen itu.
Para pereman yang berjaga diluar terkejut mendengar amukan bosnya, membuat pereman itu saling tatap satu sama lain dengan temannya.
Membuat mereka merinding, pasti ada kesalahan besar hingga membuat Bos mengamuk, dan kita pasti akan kena imbasnya, batin para pereman yang berjaga diluar.
"Bimooo... "
Glekkk...
Teriak seseorang itu membuat orang yang dipanggil Bimo langsung menelan slavinanya kasar.
"Ad.. ada apa Bos.. "
Gugup ketua preman yang tak lain adalah Bimo.
"Bawa anak sialan itu kesini, jika tidak mau paksa saja.Cepattt..."
"Ba.. baik Bos.. "
Bimo langsung keluar terbirit-birit karna takut kena amarah sang Bos.
"Satu langkah lagi tujuanku tercapai dan preman bodoh itu mengacaukan semuanya,ah.....siallll.. "
.
**Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa Like, komen, hadiah, vote
Terimakasih**....