
Panji termenung merasa bersalah karna sudah membentak sahabatnya.
Semuanya tak mengubah apapun karna Rafli sudah pergi, Panji hanya menatap nanar berkas yang tergeletak di depannya.
Kenapa semua terjadi padaku, kenapa !
Jerit batin Panji sesak bertanya pada dirinya sendiri sambil terus memukul-mukul dadanya sesak.
Ah....
Panji menjambak rambutnya meluapkan amarah yang menyesakan, bulir bening dari tadi terus berjatuhan membasahi pipi Panji, kepalanya mulai berdenyut membuat Panji terus dihantui bayang-bayang sang Mamah dan Papah.
Sakit... kenapa Papah Mamah pergi.. sakit...
Jerit Panji sambil memukul-mukul kepalanya terus.Seperti orang kesetanan Panji mengobrak-ngabrik laci mencari obat. Sudah menemukannya dengan gemetar Panji meminun beberapa obat berharap rasa sakit dikepalanya menghilang.
Keringat dingin membanjiri pelipisnya sesekali berjatuhan, Panji meringsut kearah ranjang dan menyandarkan punggungnya di sisi ranjang. Nafasnya memburu dengan tatapan kabur,sudut bibir Panji tertarik kesamping membentuk senyuman dengan mata berkaca-kaca,tangan Panji telulur seakan mau menggapai sesuatu.
Ma.. mamah.. Pa.. papah.. Am..
Lilir Panji hingga kesadarannyapun menghilang.
Panji tergeletak tak berdaya dengan nafas yang tersekat-sekat seakan mimpi itu begitu menyakitkan, bibirnya gemetar entah apa yang terjadi pada Panji seolah berkata sesuatu tapi tidak ada yang tau hanya keheningan yang menyelimuti kamar Panji kembali.
Sedangkan Rafli menangis sejadi-jadinya didalam mobil meluapkan kesedihan dan amarah.
Ah.... bug.. bug...
Jerit Rafli sambil memukul-mukul setir mobil, entah apa yang harus Rafli lakukan supaya sahabatnya kembali lagi, Rafli tidak bisa membantu lebih karna tak tega jika terus meninggalkan sang istri dan anaknya.
Sudah tenang Rafli menyalakan mesin mobilnya dan melesat meninggalkan pekarang rumah Panji.
Entah apa yang ada didalam pikiran Rafli matanya menatap tajam kearah depan hingga Rafli berbelok menuju rumah.
Rafli sudah tak peduli lagi sama mobil yang terus mengikutinya kemanapun dia pergi, yang ada didalam pikiran Rafli saat ini hanya sang istri.Rafli berlari cepat ketika sudah memarkirkan mobilnya di depan sebuah rumah yang cukup besar walau tak sebesar mansion Panji.
"Assalamualaikum sayang.. "
Ucap Rafli masuk kedalam tapi tak ada sahutan sama sekali membuat Rafli menyerngit bingung. Rafli langsung berlari menuju kamarnya mencari sang istri tapi Rafli tetap tak menemukannya.
"Sayang... sayang.. "
Panggil Rafli tetap saja tak ada sahutan hingga pikiran Rafli mulai kacau, tujuannya hanya satu kamar sang putra. Dengan cepat Rafli menuju kamar sang putra yang ada di sebelah kamarnya.
Hati Rafli menghangat melihat pemandangan didepan matanya, sang istri nyatanya ketiduran sambil memeluk mesra sang putra. Rasa lelah dan marah seketika menghilang begitu saja melihat bidadari didepannya.
Cup.. cup...
Rafli mencium puncak kepala sang putra lalu beralih mencium pipi sang istri.
"Sayang... "
Bisik Rafli ditelinga sang istri sambil terus mengecup pipi dan pundak sang istri.
__ADS_1
"Emmmz.. "
Rara bergumam karna merasa geli dalam tidurnya, perlahan mata sakura itu terbuka hingga bibirnya tersenyum melihat siapa yang sudah berani menggangu tidurnya.
"Hubby... "
Cicit Rara terkejut karna sang suami menggendongnya seolah mencuri dirinya dari sang putra yang nampak tenang dalam tidurnya tidak terusik sama sekali.
"Kapan pulang, maaf Rara tak menyambut. Apa hubby sudah makan? "
Ucap Rara merasa bersalah karna ketiduran sampai tak menyambut kedatangan sang suami.
Rara mempererat kalungannya pada leher sang suami, tapi mata Rara menatap obyek lain yang membuat hatinya ngilu.
"Tidak apa-apa sayang, Hubby belum makan ! "
Ucap Rafli lembut sambil mendudukan sang istri di sisi ranjang kamar mereka.
Grep...
Rara memegang lembut tangan sang suami yang akan membuka jas kerjanya.
Perlahan Rara berdiri mengambil alih apa yang akan suaminya lakukan, Rara menyimpan jas sang suami di sisi tempat tidur lalu membuka dasi membuat Rafli lebih leluasa.
Srettt...
Bruk...
Rara dengan sepontan mendorong lembut dada sang sumai hingga punggungnya merapat ke dingding.
Rafli hanya diam dengan apa yang sang istrinya lakukan, tangan lentik itu dengan cekatan membuka satu persatu kancing kemeja yang dipakai Rafli.
Nampaklah dada bidang yang sedikit ditumbuhi bulu-bulu halus, dengan perut kotak-kotak yang membuat Rara menghela nafas.
Rara melempar kemeja sang suami keatas ranjang, dua tangan lentik itu Rara simpan di pundak sang suami perlahan Rara menekannya membuat Rafli membungkuk tapi Rara terus menekan hingga Rafli sukses duduk dilantai dengan posisi punggung masih menyender.
Kedua kaki Rafli dibiarkan berselonjor dengan Rara yang sukses sudah duduk indah diatas paha sang suami.
Entah apa yang akan Rara lakukan membuat Rafli hanya menyerngit bingung tapi Rafli sama sekali tak perotes dengan apa yang sang istri lakukan.
Rara menunduk dengan kepala sukses menempel didada bidang sang suami, setetes cairan bening keluar dari pelupuk mata Rara .
Rafli terdiam dengan apa yang sang istri lakukan hingga perutnya merasa dingin membuat Rafli dengan cepat mengangkat kepala sang istri.
Deg...
Rafli tertegun melihat mata sakura sang istri yang sudah memerah dengan tetesan air mata yang terus keluar.
"Kenapa say... "
Cup...
"Ap.. apa ini sakit.. "
__ADS_1
Lilir Rara membuat Rafli membeku seketika mengerti apa yang membuat sang istri menangis.
Cup...
"Apa ini juga sakit.. "
Ulang Rara lagi sambil mengecup beberapa memar dan sobekan di ujung bibir sang suami.
"Kenapa selalu terluka...."
"Maaf... "
Ucap Rafli merasa bersalah sudah membuat sang istri menangis karna luka di sudut bibir dan pelipisnya.
"Apa kak Panji yang melakukan ini lagi.. "
Tangan Rara mengepal kuat melihat anggukan sang suami,istri mana yang tidak terluka jika hampir setiap hari melihat sang suami terluka walau itu hanya luka biasa.
"Hubby tidak apa-apa sayang, ini luka kecil.. "
"Tapi itu menyakiti Rara, by... "
Rafli terdiam mendengar apa yang sang istri ucapkan, Rafli selalu melanggar janjinya setiap pulang harus dengan keadaan baik-baik saja tapi nyatanya Rafli melanggarnya dan membuat sang istri sedih.
"Maaf.. "
"Berhentilah dan bekerja di perusahan Papah. "
Deg...
Rafli menggeleng kuat mendengar nada perintah sang istri membuat Rara langsung mengepal dengan tatapan tajam.
" Maafkan Hubby sayang, Hubby tidak mungkin meninggalkan Panji dalam keadaan tidak baik-baik saja. Sayang taukan kalau Panji segalanya bagi Hubby.. "
"Terus Rara apa ! apa Rara harus begini terus melihat Hubby selalu terluka. "
Ucap Rara mulai meninggi membuat Rafli menghela nafas.
"Rara istri Hubby, setiap hari menunggu kepulangan hubby dan berdoa semoga hubby terap baik-baik saja tapi nyatanya apa hubby selalu terluka setiap ikut campur urusan kak Panji. "
Bentak Rara membuat Rafli tercubit melihat luapan amarah sang istri.
Rara seorang istri yang selalu takut terjadi apa-apa pada sang suami, salahkah Rara egois menginginkan sang suami tetap baik-baik saja.
Grep...
Rafli menarik sang istri kedalam pelukannya, Rafli tau sang istri begitu mengkewatirkannya hingga amarahnya keluar, yang bisa Rafli lakukan hanya memeluk sang istri erat mencoba menenagkan sang istri.
Sebuah posisi yang membuat Rafli serba salah, di sisi lain Rafli tak mau membuat sang istri kewatir di sisi lain Rafli tak mungkin meninggalkan sahabatnya dalam keadaan terpuruk.
"Maafkan Hubby sayang.. Tolong.. jangan tempatkan hubby di posisi rumit... "
Ucap Rafli pelan sambil mengeratkan pelukannya pada tubuh sang istri yang bergetar.
__ADS_1
Bersambung....