AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)

AMARAH CINTA (Bukan Salah Tuhan)
Bab 84 P.. pergi...


__ADS_3

Apa yang dikatakan Panji terbukti, jeritan yang begitu memilukan terdengar nyaring di sebuah ruangan.


Bau amis begitu meruak membuat siapa saja akan muntah menghirupnya, lantai yang begitu putih berganti jadi merah pekat lengket.


Dua tangan yang sudah terputus dari tubuhnya tergeletak begitu saja seakan melambai kepiluan.


Sungguh kesakitan itu tidak bisa di gambarkan oleh Daichi, terlalu sakit dan perih untuk sekedar di jelaskan. Bahkan Kamal tampa rasa iba memotong tangan Daichi tampa memberi obat bius membuat Daichi merasakan rasa sakit yang begitu besar bahkan nafasnya tersedat-sedat menahan rasa sakit itu.


Rasanya Daichi ingin mati saja sekalian dari pada mendapat siksaan seperti itu, sungguh Daichi tidak membayangkan bagaimana kejamnya Kamal.


Tapi apalah daya Daichi tidak bisa berbuat apa-apa hanya bisa mengeram dan mengeram menahan sakit dan perih.


Belum reda rasa sakit yang berdenyut mencengkram jantung Daichi, Daichi harus di buat sakit lagi saat mendengar berita dimana sang Ayah gagal dalam pencalonan pejabat negara dan tentunya karna bukti-bukti kejahatan yang dilakukan Daichi yang berdampak besar bagi sang Ayah, dimana sang Ayah orang yang begitu terpandang bahkan seorang Pablik pigur dan seorang seniman. Namanya dalam sekejap tercoreng karna kejahatan sang putra yang membuat reputasi sang Ayah langsung hancur.


Daichi hanya bisa mengupat dan memaki dalam hati, bersumpah akan membalas perbuatan Panji akan lebih sakit dari pada yang dia rasakan.


"Stt...awwsss... "


Ringis Daichi sambil menggeram dimana Kamal menyuntikan sebuah cairan pada pahanya. Tidak lama kesadaran Daichi pun menghilang.


"Bereskan semuanya, dan buang sampah ini kelaut."


Ucap Kamal dingin sambil mengelap tangannya yang merlumuran darah. Lalu Kamal melangkah meninggalkan ruang Eksekusi.


...----...


Rumah sakit NTT Medical Center Tokyo.....


Tidak henti-hentinya Panji memandang wajah pucat sang adik, membuat hati Panji tercubit.


Apalagi Panji baru mengetahui dari Dokter kalau badan dan punggung sang Adik terdapat beberapa luka cambuk yang masih membiru.


Terekam jelas di memori Panji ketika dokter mengatakan kalau sang adik mengalami kekerasan dan pelecehan bahkan sang adik mengalami Trauma akan kejadian itu.


Tangan Panji mengepal erat mengingat penjelasan Dokter rasanya Panji ingin menguliti bajingan itu dengan tangannya sendiri, tetapi Panji mengurungkan niatnya ketika mengingat ucapan seseorang.


Biarkan hukum dunia yang menghukum kesalahan mereka, kamu tidak adak hak untuk menghukum mereka seperti apa yang kamu mau.


Jangan jadikan dirimu menjadi pembunuh seperti mereka, ingat! hukum Allah itu maha adil, jika kamu menghukum mereka Saya takut hatimu tidak akan adil, karna saya tau jauh dalam lubuk hatimu ada rasa yang tidak bisa kamu ungkapkan...


Serahkan semuanya pada Allah dia hakim yang paling adil Saya tau kamu pasti Faham apa yang Saya ucapkan, Saya rasa kamu bukan orang Bodoh untuk mengerti semuanya..

__ADS_1


Huh...


Panji membuang nafas kasar dan dalam mengingat kata-kata itu kembali terngiang di kepalanya membuat Panji menyerahkan semuanya pada Kamal. Panji yakin kaki tangannya tidak akan pernah mengecewakan dirinya.


Mengingat kata-kata itu membuat Panji teringat akan gadis yang Panji tinggalkan.


Sudah tiga hari Panji meninggalkan gadis itu tampa memberi kabar sama sekali, bagaimana mau memberi kabar, bahkan nomor ponselnya pun Panji tidak punya.


Panji tersenyum menertawakan dirinya sendiri, hidup macam apa yang aku jalani ini, pikir Panji.


Apa yang harus aku katakan ketika pulang, apa Sky akan bersikap biasa atau dia akan marah, Marah! rasanya tidak mungkin karna aku yakin Sky tidak akan peduli dengan kepergian ku, toh dia tidak menginginkan pernikahan ini. Tetapi aku sadar siapa diriku, aku sudah menjadi suami dadakannya begitupun dia, apa kami bisa menerima takdir ini! kenapa hidupku selalu runyam. Tidak henti-hentinya masalah silir berganti menghampiri, tidak cukup puaskah engaku Tuhan terus menjungkir balikan diriku di titik terumit.


Jerit batin Panji prustasi sambil mengusap wajahnya dengan kasar, dadanya naik turun berusaha mengontrol amarahnya.


"Emmhh... "


Panji menengok kesamping ketika mendengar gumaman kecil lemah. Mata Panji berkaca-kaca melihat sang adik sudah sadar, dengan cepat Panji menekan tombol darurat.


"Kamu sudah sadar,Dek. "


Lilir Panji terharu melihat sang adik sudah membuka kelopak matanya, tidak lama dokter masuk, membuat Panji perlahan bergeser memberi ruang bagi dokter memeriksa sang adik.


"Bagaimana keadaan adik saya,Dok?"


"Sukurlah, adik anda baik-baik saja. Hanya saja jangan dulu banyak bergerak karena dua luka tembak punggung dan lengannya masih belum kering."


"Terimakasih,Dok. Atas bantuannya, terimakasih.. "


"Sama-sama, itu sudah menjadi tanggung jawab kami. Justru saya berterimakasih karena sudah di ijinkan mengobati Adik anda,sebuah kehormatan bagi saya menangani keluarga Al-fatih. "


"Kalau begitu saya permisi, kalau ada apa-apa kabari saya. "


"Baik, Dok. Terimakasih.. "


Dokter yang menangani Laila langsung pergi tinggallah adik dan kakak dalam kesunyian.


"Ma.. maafkan kakak, Dek!"


"Jangan salahkan diri sendiri, semua bukan salah kakak tapi salah tua bangka itu!"


"Semua nya sudah usai, dan kamu pasti tidak akan percaya, siapa dalang di balik semuanya!"

__ADS_1


"Siapa,Kak!"


"Bik Marni!"


Deg...


Laila terdiam melihat mata sang kakak yang terlihat jelas terpancar kesedihan yang dalam. Mungkin Laila terkejut, tetapi Laila tidak sesedih itu karena memang Laila tidak terlalu dekat dengan bik Marni berbeda dengan sang kakak pasti jauh merasa terpukul dan kecewa dengan kenyataan yang sebenarnya.


"La.. laila ingin pulang,Kak!"


"Tidak, sayang. Kamu harus tetap dirawat dulu. Kakak tidak akan membawa kamu pulang jika kamu belum sembuh. "


"Ta.. tapi L-laila ta.. takut.. "


Deg...


Panji tersadar dengan apa yang terjadi, adiknya pasti akan ketakutan dengan apa yang terjadi pada dirinya.


"Jangan takut, bajingan itu tidak akan bisa menyakiti Adek lagi."


"Ma.. maafkan adek, Adek sudah ko.. kotor.. "


"Tidak, sayang. Kamu tetap adikku, kamu tidak kotor.. "


Laila terdiam dalam pelukan sang kakak dengan isak tangis yang mulai terdengar, mungkin dulu, Laila merasa hatinya bergetar jika Panji berkata manis apalagi berkata Sayang. Mendengar kalimat itu seperti kebahagian yang berbeda halnya kasih sayang seorang kakak pada adiknya begitupun Laila, faham akan perasaan itu.


Laila teringat bahwa dirinya melihat sosok sahabatnya yang berada di hotel sama waktu kejadian, ada rasa bahagia di hati Laila bisa melihat sahabatnya tetapi kebahagian itu redup kembali mengingat betapa kotor dan hinanya Laila sekarang.


Apa Laila akan sanggup bertemu dengan sahabatnya, dengan keadaan dirinya yang hina! apa sahabatnya akan merasa jijik pada dirinya, memikirkan itu membuat hati Laila sakit dan semakin terisak di pelukan sang Kakak.


Brak...


"Kayla... "


Deg...


Seketika tubuh Laila membeku mendengar suara yang begitu familiar di telinga Laila. Jantung Laila semakin berdetak kencang seiring langkah kaki yang mulai mendekat.


"Akbar!"


"P.. pergi... "

__ADS_1


Deg...


Bersambung...


__ADS_2