Buah Dari Rasa Sabar

Buah Dari Rasa Sabar
132


__ADS_3

rasya kembali ke apartemen nya sudah larut malam, ia membuka pintu dan masuk ke dalam, " udah puas mainnya, " ucap mamanya yang tengah duduk sambil bersedekap dada di atas sofa,


"mama, " ucap rasya sedikit terkejut dengan kehadiran mamanya,


"sekarang kita harus pulang ke mansion karena ada yang mama akan bicarakan disana, " kini mamanya sudah bangkit dan mengambil tasnya,


"bicara di sini aja ma, " ucap rasya tak ingin mengikuti mamanya,


"jangan membantah, " mamanya sampai menarik tangan rasya hingga mau tak mau ia harus mengikutinya,


kini mobil rasya kembali melaju membelah jalan rasya yang sudah sepi pengendara, hening rasya hanya terdiam.


"Habis dari mana kamu, " tanya mamanya memecah keheningan,


"main, " singkat jawaban rasya.

__ADS_1


"kamu itu seharusnya udah ada pendamping nak, ingat umur kamu udah berapa sekarang, " ucap mamanya sedangkan rasya ia hanya mendengus,


"ma, bagaimana rasya mau ada pendamping sedangkan wanitaku kini sudah di miliki orang lain, " Batin rasya merintih


pupus sudah harapannya, gugur sudah bunga mawar yang selama ini ia jaga bersamaan itu juga hatinya saat ini sudah patah entah berapa kepingan patahan hatinya itu,


hingga mobil rasya kini berhenti di halaman mansion dan jay langsung membukakan pintu untuk nyonya dan tuan mudanya itu,


sebenarnya rasya sangat malas untuk pulang ke mansion pasalnya yang di bahas hanya masalah pasangan dan ia selalu di ingatkan pasal umurnya, "ah, rasya selalu menjerit di dalam hati kala kakinya mulai melangkah memasuki mansion.


rasya hanya patuh dan mulai duduk di sofa, tuan Agung atmajaya sudah duduk manis menunggu kepulangan anak semata wayang nya itu,


"kamu ingatkan ucapan mama yang tadi, " ucap nyonya Laura mama rasya,


rasya menautkan alisnya, " yang mana, " ucapnya sambil menatap wajah mama yang telah melahirkannya ke dunia,

__ADS_1


"tentang pendamping kamu sayang, " ucap nyonya Lau sambil menggenggam tangan putranya.


rasya menghembuskan nafasnya merasa sesak dengan ucapan mamanya, " Ma, " shutt , belum sempat rasya menjawab bibirnya sudah di bungkam oleh jari sang mama.


"mama akan menjodohkan kamu dengan anak teman mama, jika dalam minggu minggu ini kamu tak kunjung membawa calon pendamping ke hadapan mama dan papa, iya kan pa, " ucap nyonya Lau sambil menatap suaminya.


"iya sayang, papa ini kan sudah semakin berumur sya, apa kamu tidak kasihan di umur papa yang segini kamu belum juga memberikan papa seorang cucu, " ucap Tuan agung sambil menatap wajah putranya dengan serius,


"pa, bukannya, shutt, " lagi lagi mulut rasya di bungkam mamanya,


"papa kamu benar nak, mama dan papa sudah semakin berumur, dan mama tidak mau mendengar semua protes dari kamu sayang, jadi selamat berjuang ya dan jika kamu tidak kunjung membawa pendamping maka bersiaplah untuk mama nikahkan dengan anak teman mama, yuk pa kita tidur, dan untuk malam ini kamu harus tidur di sini sayang, " ucap nyonya Lau sambil menggandeng lengan suaminya untuk naik ke dalam kamarnya.


rasya merasa feustasi ia memegang kepalanya, " ah, apa apaan semua ini " Batin rasya kembali menjerit, ia paling tak suka dengan semua ini,


"ma, apa rencana kamu akan berhasil, " ucap tuan Agung saat sudah memasuki kamarnya. Nyonya Lau tersenyum.

__ADS_1


"kita lihat aja pa, " kini nyonya Lau menghempaskan tubuhnya di atas ranjang empuk miliknya.


__ADS_2