
BDJ 96 : LOUIS
“Di mana wanitaku, Jack?!” geraman lirih terdengar cukup samar di antara hiruk pikuk para penumpang lain yang sedang mendengarkan penuturan seorang pemandu wisata.
Pemandu wisata tersebut sejak menceritakan sejarah dan cerita-cerita yang berkembang di kalangan masyarakat soal tempat-tempat yang mereka lewati.
“Kenapa kita tidak menggunakan kendaraan pribadi saja, sial*n!” umpatan di akhir kalimatnya terdengar kian samar, mengingat bukan cuma orang dewasa yang ada di sana, melainkan ada anak-anak pula. Bisa-bisa ia digeruduk masa jika kedapatan bicara sembarangan.
“Transportasi umum ini sangat efisien untuk mengunjungi tempat-tempat ikonik di kota ini, Tuan.”
“Tetapi apa kamu sadar transportasi ini sangat tidak kondusif?”
Jack yang kebetulan duduk di samping sang atasan hanya bisa mengangguk seraya tersenyum tipis. Padahal tadi sang atasan mengiyakan saja idenya untuk naik Bandros atau Bandung Tour On Bus yang merupakan salah satu wisata kota Bandung dengan berkeliling menggunakan bus klasik yang unik. Kocek yang dikeluarkan juga sangat terjangkau di kantong, sekitar 20.000 ribu untuk one trip dan 40.000 untuk multiple trip. Dengan uang sebesar itu, pengunjung sudah bisa berkeliling kota dan merasakan hiruk pikuk di dalamnya.
“Anda harus bersabar, Tuan. Sebentar lagi kita tiba di tempat tujuan.”
Louis kembali mengumpat untuk ke sekian kalinya. Ia benar-benar merasa menjadi pusat perhatian semenjak duduk di kursi yang sekarang ia duduki. Untung saja sebagian besar dari para penumpang tidak mengenali wajahnya.
Cih, jika bukan demi wanitanya, Louis mana rela mengikuti solusi yang ditawarkan Jack.
Tujuan mereka adalah salah satu tempat yang menjadi ikonik kota Bandung, yaitu Gedung Sate. Lebih tepatnya mereka akan menuju Gasibu. Gasibu sendiri adalah lapangan yang letaknya berada di garis lurus dari Gedung Sate yang tidak pernah sepi pengunjung.
Di Gasibu terdapat jogging track yang tidak pernah sepi pengunjung. Di sekitar jalan Japati dan Jalan Dipati Ukur yang berlokasi tidak jauh dari area jogging track juga terdapat pasar kaget yang menjual barang-barang murah. Barang-barang yang dijual biasanya mulai dari pakaian, makanan, furnitur, buku, aksesoris, hingga tanaman hias berukuran kecil serta sedang yang sedang diminati.
Di tempat tersebutlah Lea sempat tertangkap kamera oleh salah seorang fans. Jadi, sekarang Louis mendatangi tempat tersebut. Ia juga sudah mengerahkan beberapa anak buahnya untuk menyebar. Supaya pencarian cepat membuahkan hasil.
“Selain di tempat ini, di mana lagi wanitaku sempat terlihat?”
“Di sekitar museum, Tuan.”
“Museum?”
“Iya.” Jack mengangguk. Iya kemudian membuka buku panduan yang ia dapatkan entah dari mana. “Di sekitar sini ada beberapa museum yang popular di kalangan pengunjung, di antaranya museum Gedung Sate, museum Geologi Bandung, museum pos, dan museum perjuangan rakyat Jawa Barat atau disingkat menjadi museum Monju.”
__ADS_1
“Lalu di mana wanitaku terlihat di antara keempat museum tersebut?”
“Di museum perjuangan rakyat Jawa Barat dan museum Geologi Bandung.”
Louis menghela napas kecil seraya menatap ke arah keramaian orang-orang di depan sana. “Bagaimana pun caranya, aku ingin seluruh tempat di kota ini diselidiki sebelum aku pergi.”
“Dimengerti, Tuan.”
“Jangan sampai ada yang terlewat, Jack. Atau….”
“Atau apa, Tuan?” tanya Jack was-was.
“Aku potong salah satu jari mu, karena telah membuang-buang waktuku.”
✈️✈️
“Aku boleh buka hadiah yang ini, Mas?”
“Tentu saja boleh. Kenapa harus bertanya terlebih dahulu?”
Mendengar ucapan sang istri, rasanya ada rasa hangat yang tiba-tiba meresapi hati. Nathan tahu itu hadiah dari siapa, mungkin karena alasan itu Alea meminta izin terlebih dahulu untuk membukanya.
Dari informasi yang Davian berikan, salah satu dari tiga hadiah pernikahan yang dipisahkan adalah pemberian Louis. Jika dilihat-lihat, sepertinya hadiah dengan kotak berwarna hitam ini yang dimaksud oleh Davian. Hadiah dari Louis.
“Buka saja, Zaujati (istriku).”
Alea mengangguk. Ia kemudian menarik lepas pita berwarna gold yang melilit kotak hadiah tersebut dengan begitu cantik. Ketika berhasil dibuka, ada partisi dari sejenis kain berwarna putih di dalamnya. Ketika disisihkan, ada sebuah kotak perhiasan di satu sisi. Alea bisa dengan mudah menebak jika itu kotak perhiasan, dikarenakan ada logo brand perhiasan ternama di atasnya. Sedangkan di bagian sisi yang lain, terdapat sebuah flashdisk, selembar foto, serta sepucuk surat.
Pandangan Alea langsung tertuju pada selembar foto yang mencetak gambar Lucas yang sedang duduk dengan Blossom, serta Nata yang juga ikut duduk di samping Lucas seraya tersenyum ke arah kamera. Pada ujung lembar foto tersebut, ada tulisan tangan yang tampak belum teratur, menuliskan sebuah kata ‘selamat’ dan ‘bahagia’ dalam bahasa Inggris.
Alea langsung teringat Lucas dan Nata. Walaupun mereka belum lama saling mengenal, rasanya Alea sudah terikat dengan mereka. Alea percaya jika Nata adalah orang baik, serta Lucas adalah anak polos yang tidak tahu apa-apa. Namun, efek kisah kelam di masa lalu, masih berimbas hingga masa kini.
“Kalau kamu rindu, aku akan mengatur waktu untuk berjumpa dengan mereka.”
Alea mendongkrak, menatap sang suami dengan kedua netra teduhnya. “Mas janji?”
__ADS_1
Nathan tersenyum seraya merunduk, menjangkau kening sang istri untuk ia kecup. “Aku janji.”
Alea tersenyum senang mendengarnya. Ia kemudian beralih pada sepucuk surat yang tersimpan di dalam sana. Ketika ia memutuskan untuk membaca surat tersebut, ada kata selamat yang diucapkan oleh si penulis. Penulis surat tersebut adalah Nata.
Bubuhan tinta hitam yang ditulis dengan rapih, menampilkan beberapa untai kalimat berisi pesan yang begitu bermakna. Pada ujung surat juga diterangkan bawa isi flashdisk yang ada di sana berisi video ucapan selamat yang diprakasai oleh Lucas.
“Jangan menangis, Zaujati (istriku).”
Dengan sigap Nathan menyentuh air mata sang istri yang baru saja turun dari batas kelopak mata.
Alea mengangguk. Ia kemudian beralih membuka kotak perhiasan yang ada di sana. Ternyata ada dua kotak perhiasan yang tersimpan di sana. Ketika dibuka, salah satunya berisi sebuah kalung bertahtakan berlian yang berkilauan. Model kalung tersebut cukup sederhana, dan rantainya terbuat dari platinum. Namun, dari brand yang mengeluarkannya, yaitu Cartier, harga yang dipatok cukup fantastis, yaitu sekitar USD 83,5 ribu atau jika dirupiahkan sekitar 1,2 M. Harga itu tentu sesuai dengan keunggulan perhiasan tersebut.
Sedangkan satu kotak perhiasan lagi berisi gelang dari Van Cleef & Arpels, yaitu Vintage Alhambra bracelet 5 motifs berwarna Carnelian yang sarat akan sejarah serta makna.
Perhiasan Alhambra pertama kali dibuat pada tahun 1968, dan dianggap memiliki keanggunan yang unik dan tak lekang dimakan oleh waktu. Gelang Vintage Alhambra bracelet 5 motifs terinspirasi dari daun semanggi atau clover leaf. Daun yang sudah dikenal luas sebagai simbol keberuntungan. Dibandingkan dengan kalung Cartier di atas, harga gelang Alhambra jauh lebih murah, yaitu sekitar 4600 euro atau sekitar 68 juta rupiah. Namun, gelang ini memiliki keunikan serta makna yang mendalam.
Jika kalung tadi adalah pemberian Nata, maka gelang Vintage Alhambra bracelet 5 motifs adalah pemberian Louis. Laki-laki yang berprofesi sebagai CEO itu juga menyematkan sepucuk surat yang terselip di atas gelang yang ia berikan.
...**Selamat atas pernikahan kalian....
...Maaf untuk segalanya**....
Tulis pesan yang ditinggalkan oleh Louis di atas sepucuk surat tersebut. Nathan maupun Alea sama-sama tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Namun, yang pasti mereka sedikit terkejut akan wedding gift yang Louis berikan.
“Mungkin Allah sudah mulai memperlihatkan jalan kepadanya,” ujar Nathan seraya memeluk bahu kecil sang istri. “Allah maha membolak-balikkan hati manusia. Kita sebagai mahluk yang begitu kecil, tidak tahu kapan Allah membolak-balik hati kita.”
✈️✈️
TBC
Tanggerang 26-10-22
__ADS_1