
Dikutip dari kata-kata mutiara istri Ustadz Agam Fachrul, Aisyah Al Muthiah, pernikahan adalah Ibadan yang paling lama seorang umat manusia jalani. Karenanya, temukanlah pasangan yang selalu mau untuk belajar, memperbaiki diri setiap saat, dan menjadikan jannah sebagai tujuan.
Alea sangat bersyukur dapat menemukan suami seperti Nathan. Partner hidup pilihan kedua orang tuan dan dirinya sendiri, setelah menolak puluhan, mungkin bahkan ratusan lelaki yang mengajukan diri sebagai calon pendamping hidup keturunan Radityan tersebut. Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam sendiri sudah memberikan pesan pada umat-Nya semenjak 1400-an tahun yang lalu.
Jangan sampai salah pilih suami. Hal itu dijelaskan dalam hadis yang diriwayatkan oleh HR. Tirmidzi no.1085. Al Albani berkata dalam Shahih At Tirmidzi bahwa hadits ini hasan lighairihi. “Jika datang kepada kalian seorang lelaki yang kalian ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah ia. Jika tidak, maka akan terjadi fitnah dan kerusakan di muka bumi.”
Tertuang pula dalam buku “kumpulan nasihat-nasihat Rasulullah untuk wanita” karya Ustadz Asrifin An Nakhrawie. Lelaki taat beragama dipastikan membawa hawa kebahagiaan bagi istri sekaligus anak-anak, ini jaminan pasti. Taat beragama beda dengan menguasai ilmu agama. Orang taat agama bukan saja mengenal syariat Islam dari sisi keilmuan dan kosong pengalaman. Namun, mereka adalah yang benar-benar taat dan penuh terhadap ajaran islam.
Sedangkan pesan untuk para lelaki, salah satu bunyinya, “wanita biasanya dinikahi karena empat hal, karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih karena agamanya (keislamannya), sebab kalau tidak demikian, niscaya kamu akan merugi.” Hadist riwayat Muslim.
Pada intinya, menikah adalah Ibadan seumur hidup yang perlu dipersiapkan dengan matang sebelum menjalaninya. Oleh karena itu, islam mengatur begitu detail mengani kriteria-kriteria yang baik untuk dijadikan pasangan. Agar kelak tidak terjadi perpisahan di tengah jalannya pernikahan.
“Wah, welcome back, man!”
Sambutan itu datang dari pria berseragam pilot yang baru saja memasuki ruangan. Joan Adams adalah nama yang tersemat pada papan nama akrilik di baju bagian dadanya. Mantan partner Nathan sebelum cuti pasca menikah.
“Long time no see,” lanjutnya.
Nathan menerima uluran tangan Joan. Mereka berjabat tangan dengan senyum yang mengembang di masing-masing bibir.
“Kita cuma tidak bertemu beberapa bulan, Capt Joan.”
“Don’ta call me that (jangan panggil aku begitu). Terdengar aneh jika kau yang memanggilnya.”
Nathan tersenyum tipis. Ia kemudian mempersilahkan Joan untuk duduk, kemudian meminta seorang office boy untuk membuatkan coffe.
Saat ini Nathan memang sudah kembali bekerja, baik di perusahaan maupun di penerbangan. Kondisi kehamilan simpatik yang ia alami juga sudah jauh lebih baik. Istrinya juga sudah setuju, bahkan wanita yang sedang mengandung 3 bayi itu juga sudah minta izin untuk masuk kerja seperti semula. Walaupun sudah kembali bekerja secara produktif, khusus untuk jam terbang, Nathan tetap meminta batasan. Mengingat istrinya sedang hamil 3 bayi kembar.
“Boleh aku mengatakan sesuatu,” ujar Joan tiba-tiba.
“Hm?”
__ADS_1
“Aura pria yang sudah menikah memangnya begini, ya?”
“Bagaimana?” respon Nathan. Saking tidak mengerti dengan maksud dari ucapan Joan. Begini yang dimaksud itu loh, bagaimana?
“Kau, man. Aura mu begitu terpancar. Kau terlihat sangat makmur dan sejahtera semenjak menikah.”
Nathan tiba-tiba tertawa kecil mendengar nya. Mungkin hanya Juan selain istri serta keluarganya yang dapat kesempatan melihat tawa seorang Nathaniel Allugard Hazka Dwiarga. Tawa yang sangat limited edition. Tidak diproduksi setiap hari, hanya diproduksi pada waktu-waktu tertentu.
Joan menaik turunkan satu alisnya. “Apa kau begitu sejahtera dan makmur setelah menikah? Sehingga aura mu luar biasa positif?”
“Menikah lah dan cari tahu sendiri,” ujar Nathan enteng. Jawaban paling tepat untuk pertanyaan Joan telah ia berikan.
“Kau ini pelit sekali berbagi cerita.” Gerutu pria berkulit putih dengan bintik-bintik semi coklat menyebar di wajah itu. “Ah, iya. Aku belum mengucapkan selamat atas kehamilan anak pertama kalian. Semoga anak kalian sehat dan selamat sampai lahir ke dunia. Kelak dia pasti akan mewarisi kemahiran dan kejeniusan orang tuanya.”
“Aamiin," sambut Nathan dengan suka cita. "Terima kasih banyak atas do’a nya.”
“You are welcome,” sahut Joan. “Jangan lupa sampaikan salam ku kepada istrimu. Katakan bahwa aku berterima kasih karena dia telah membuat hidup sahabat ku lebih berwarna.”
“Aku punya satu pertanyaan lagi.”
“Hm. Apakah itu?”
“Pertanyaan ini mungkin terbilang bodoh. Tapi, aku penasaran ingin mendengar jawabannya secara langsung dari mu.”
“Hm?”
Joan melipat kedua tangannya di atas meja, menegakkan badan, serta memusatkan pandangan. Hal itu tentu membuat Nathan malah mengernyitkan kening.
“Apa kau bahagia telah menikahi perempuan yang kau idamkan?”
“Tentu saja,” jawab Nathan tanpa banyak pikir. Dalam keadaan setengah sadar sekalian, jika disodorkan pertanyaan yang sama, Nathan akan menjawab sama. “Aku bahagia bersama dia, dia, dia, dan dia.”
__ADS_1
“Eh?”
“Karena dia (istriku), aku jadi merasakan kebahagiaan berlipat ganda.”
“Maksudnya?”
Nathan tersenyum sebelum melanjutkan. “Istriku sedang mengandung bayi kembar.”
“Twins?!” seru Joan, kaget. “Bukannya di keluarga mu tidak ada sejarah anak kembar?”
Nathan mengangguk. Di keluarganya memang tidak ada sejarah genetik kelahiran anak kembar. Sedangkan dalam keluarga Radityan bisa dibilang langganan. Katanya sudah dari zaman nenek buyut mereka, ada saja keturunan kembar yang lahir dalam setiap generasi Radityan.
“Tapi dari pihak keluarga istriku ada.”
“Oh, pantas saja,” sahut Joan. Ia pun tampak semakin tertarik untuk mendengarkan cerita tentang kebahagiaan partner nya di penerbangan tersebut. Padahal tujuannya ke sini ada unsur pekerjaan juga. “Jadi saat ini istrimu sedang hamil bayi kembar? Boy or girl? Atau sebaliknya?"
Nathan menggelengkan kepala seraya mempersilahkan seseorang yang berdiri di luar pintu untuk masuk. Ternyata office boy yang tadi diminta untuk membuat coffe.
“Tiga.”
“Three for what?” tanya Joan saat coffe untuknya sudah dihidangkan di atas meja. Aroma khas dari biji kopi bubuk langsung terhirup indra penciuman.
“Three almounts for my baby.”
✈️✈️
TBC
Terima kasih juga yang selalu setia menunggu ❤️
Jangan lupa rate 5 bintang 🌟 like, vote, komentar, follow Author, share tabur bunga sekebon 💐
__ADS_1
Tanggerang 26-12-22