Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
BDJ 112 : SKENARIO DUA HATI


__ADS_3

“Oh, misi mereka berubah.”


Laki-laki tampan yang menggunakan outfit mamba—serba hitam—itu bergumam lirih seraya kembali menyuapkan satu sendok ice cream Baskin Robbins (BR) varian very berry strawberry and pistachio almond.



“Bukan lagi mengawasi dan membawa target kembali, melainkan mengawasi, serta menjaga target secara diam-diam.”


Sembari membaca informasi yang masuk lewat surel, ia mencoba mencerna dan mengamati situasi. Ia datang ke tempat ini bukan sendirian, melainkan bertiga. Lebih tepatnya bersama “target” yang dimaksud dalam informasi yang didapatkan. Sekarang “target” sedang berada di dalam poli kandungan bersama guardian angel setianya. Siapa lagi jikan bukan si Raja Hutan, alias Leon.


“Bang!”


“Uhuk, uhuk.” Satu sendok ice cream Baskin Robbins terakhirnya jadi boomerang karena panggilan tiba-tiba tersebut. Davian jadi tersedak dan batuk hebat. “Bisa nggak sih kalau manggil intro dulu? Salam kek. Atau apaan gitu,” ketusnya saat melihat si pelaku dari panggilan tiba-tiba barusan.


“Sorry, Bang. Keselek ya?”


“Kagak, nelen biji kelerang!” sewot Davian seraya membuang bekas ice cream Baskin Robbins nya ke dalam tong sampah. “Kenapa sih excited banget? Tadi dokter nya bilang apaan emang?”


Sebenarnya jika bukan karena janjinya untuk memberi bantuan, Davian tidak akan repot-repot ikut ke rumah sakit menemani Leon mengantarkan Lea untuk periksa kandungan. Namun, mau bagaimana lagi, ia adalah laki-laki sejati. Jika sudah berjanji, ia pasti akan menepati dengan segenap hati. Jadilah ia terdampar di sini, menunggu mereka berdua yang sedang masuk ke dalam poli kandungan.


“Kata dokter semuanya baik. Usianya mulai memasuki minggu ke tiga belas. Sekarang ukurannya juga sudah semakin besar, sebesar buah jeruk dengan berat sekitar 15 gram dan panjang badan dari kepala sampai kaki sekitar 5 sentimeter. Dia juga sudah bisa melakukan banyak hal, contohnya menekuk jari tangannya yang mungil, Bang. Keren nggak tuh?”


Davian manggut-manggut mendengar ucapan Leon yang dilontarkan dengan sangat antusias. Di dalam hati ia bergumam, ‘itu bukan bayimu, Bung. Jangan terlalu excited, takutnya penyesalan datang terlalu cepat.’


“Lalu di mana perempuan itu?”


Leon menoleh ke belakang. “Tadi Lea sempat bicara dengan Bunda nya Arion. Pasti sebentar lagi mereka datang.”


“Jangan ditinggalkan sendirian, lebih baik lo temenin.”


“Memangnya kenapa, Bang? apa orang-orang suruhan itu masih ada di sini?” tanya Leon was-was.


Davian tidak menjawab. Namun, ia memutar bola mata seraya bersidakep dada. “Perempuan itu angel model, Bambang. Dia model internasional yang punya pamor, masuk akal nggak sih dibiarkan keluyuran sendirian tanpa keamanan? Kalau ada fans nya gimana? Bukannya dia lagi sembunyi dari fublik?” cecar Davian pada akhirnya.


Leon mengangguk. Ia kemudian langsung sadar akan tindakannya yang terlalu excited. Toh, tadi Lea juga memintanya untuk pergi menyusul Davian terlebih dahulu, karena perempuan itu masih mengobrol dengan Aurra.


“Jangan lengah kalau lo masih mau jaga dia. Tapi, satu pesan gue.”


“Apa, Bang?”


“Jangan terlalu jauh sayang sama mereka. Nanti lo sendiri yang susah.” Mereka yang Davian maksud adalah Lea dan bayi dalam kandungannya. Dilihat dari segi mana pun Leon sangat menyayangi mereka.


Lea dan janin berumur dua belas minggu, jalan tiga belas minggu yang mulai bisa menekuk jari jemari tangan dan kakinya itu telah memiliki tempat tersendiri di hati Leon. Davian hanya ingin Leon tahu bahwa memulai hubungan dengan seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya itu sulit. Kedepannya pasti akan ada banyak problem yang muncul. Oleh karena itu, sebelum hubungan mereka terlalu jauh, Davian sebisa mungkin menyadarkan junior nya yang baru mengenal cinta tersebut.

__ADS_1


“Le.”


“Iya, Bang?” Leon yang baru saja menutup pintu mobil setelah Lea masuk itu langsung menoleh. Mereka hendak pulang, namun Davian memilih untuk berpisah dengan keduanya di parkiran.


“Lo udah bisa pulang ke Bandung.”


Leon tampak menatap Davian lama. “Memang udah aman, Bang?”


Davian tersenyum seraya mengangguk. “Lo ragu rasa gue?”


“Enggak gitu, Bang.” Leon dengan cepat melambaikan tangan di depan dada. Ia kemudian kembali berkata, “selama ini gue nggak bisa percaya sama siapa pun, kecuali dua orang. Pertama Kakak gue. Kedua, lo, Bang. Mana mungkin sekarang gue nggak percaya sama lo.”


Davian terkekeh seraya memasukkan satu tangan ke dalam saku celana. “Kalau lo percaya sama gue, bersikap seadanya, Le. Jangan terlalu sayang sama Lea. Dia kayaknya masih menyimpan harapan sama bapak dari bayinya.”


Leon menunduk seraya tertawa garing. Tawa itu tentu membuat Davian keheranan. Kok tiba-tiba Leon ketawa?


“Gue lucu ya, Bang?”


“Lucu apaan, Child? Lo malah nyeremin, tiba-tiba ketawa,” sahut Davian.


Leon mendongkrak, lantas berkata. “Lucu karena gue akhirnya jatuh cinta di usia segini. Tapi, perasaan itu singgah di tempat yang salah.”


Davian sekarang paham maksud dari ucapan Leon. Jika boleh berkata-kata, Davian akan berkata jika cinta tidak pernah salah. Terkadang mereka datang di waktu dan pada tempat yang tidak tepat. Namun, sebagai manusia kita tentu tidak bisa berbuat apa-apa, selain mengendalikan perasaan itu sebelum terlanjur berkembang lebih pesat.


“Jadikan ini sebagai pelajaran, Le. Setiap orang pasti punya cerita cintanya masing-masing.” Davian menepuk bahu juniornya, memberi support sistem yang ia bisa. “Percaya sama gue, Tuhan sudah mempersiapkan sekenario terbaik buat kisah cinta lo. Tapi, bukan sama dia yang belum selesai dengan masa lalu nya.”


✈️✈️


“Hm.”


Jack yang baru saja kembali dengan membawa beberapa merk tabir surya itu tampak menatap sang atasan dari ekor matanya. CEO Anderson Cooperation itu terlihat sedang bercermin. Suatu kejadian langka yang seharusnya patut diabadikan. Jack mengakui jika sang atasan tampak sangat berbeda hari ini.


“Eomma bilang kulitku belakangan ini semakin gelap. Kenapa bisa seperti ini?” tanya laki-laki yang menggunakan pakaian olahraga tersebut, bukan pakaian kantoran seperti biasa. “Apa kau sudah menghubungi dokter kulit terbaik di kota, Jack?”


“Sudah, Tuan.”


“Lalu bagaimana jawabannya?”


Jack mengangkat kepala. “Begini, Tuan. Menurut saya masalah kulit yang Tuan alami sama dengan kondisi yang Nona Lea alami.”


“Benarkah? Jadi wanitaku juga mengalami kondisi yang sama? Kulitnya menjadi gelap?”


Jack menjawab tiga pertanyaan itu sekaligus dengan satu anggukan kepala. “Dari informasi yang saya dapatkan memang begitu, Tuan. Hari ini Nona Lea pergi ke dokter untuk periksa kandungan, sepertinya sekaligus konsultasi masalah kulit.”

__ADS_1


“Lalu?”


“Pada usia kandungan memasuki minggu ke dua belas atau akhir dari trisemester pertama, akan muncul gejala-gajala kehamilan seperti perubahan warna kulit atau biasa disebut kloasma atau melasma. Kondisi di mana munculnya bercak-bercak coklat di wajah. Selain itu, Nona Lea juga akan mengalami perubahan hormon yang signifikan, sehingga membuat otot perut menjadi kurang aktif. Sehingga akan sulit maaf, buang air besar dan akan sering mengeluarkan maaf, gas.”


Louis tampak manggut-manggut seraya menutupi rasa shock di wajahnya. Ternyata, banyak pula perubahan yang terjadi pada sorang perempuan ketika mengandung.


“Lalu bagaimana reaksi wanitaku? Apa di risau karena kulitnya dihiasi oleh bercak-bercak kecoklatan?”


Setahu Louis, Lea itu sangat perhatian pada kulitnya. Bagaimana pun juga itu adalah aset Lea dalam meraup pundi-pundi rupiah. Sekarang kulit wajah Lea pasti tidak seperti dulu lagi, salah satu alasannya karena mengandung bayi mereka berdua. Louis jadi merasa bersalah.


“Jika Anda menduga Nona Lea akan sedih atau sebal, maka jawabannya adalah tidak. Nona Lea tampak menjalani kehamilannya dengan senang hati. Oleh karena itu, Nona Lea terlihat menerima semua perubahan yang terjadi pada tubuhnya dengan sikap positif.”


Louis terdiam mendengar informasi tersebut. Ternyata banyak yang telah berubah pada wanitanya semenjak mengandung. Mungkin naluri sebagai sorang ibu lah yang telah mengalahkan kerisauan Lea soal bentuk tubuhnya yang akan berubah pasca mengandung.


“Ada lagi yang ingin kau sampaikan, Jack?”


Jack mengangguk. “Ini mengenai pemuda itu, Tuan.”


“Pemuda yang terus menempel pada wanitaku? Siapa namanya?”


“Leon, Tuan.” Jack menjawab. “Sejauh ini tidak ada yang perlu Anda cemaskan, karena pemuda itu cukup tahu batasan.”


“Ya, memang seharusnya begitu. Seenaknya saja dia menaruh hati pada wanitaku,” tukas Louis. “Tidak ada informasi yang lain lagi?”


Jack menggeleng. Baru saja ia hendak buka suara untuk pamit undur diri, tuannya kembali bersuara.


“Lalu di mana makanan yang aku minta? Kenapa sampai sekarang kalian belum menemukannya??”


Jack baru ingat jika sang tuan “menginginkan” satu jenis makanan yang tidak dijual di seluruh dataran New York. Lantas, Jack harus mencari kemana makanan berbahan dasar singkong tersebut.


“Maaf, Tuan. Tapi, tidak ada yang menjual makanan bernama colenak di kota ini.”


“Kalau begitu cari di luar kota,” ujar Louis, enteng. “Aku ingin makan makanan itu. cepat cari!”


Demi Tuhan, Jack tidak tahu dari mana sang tuan tahu makanan berbahan dasar tape singkong yang berasal dari Indonesia itu. Masalahnya, di New York tidak ada yang jualan makanan itu.


“Cari sampai ketemu, Jack. Maka aku akan melipat gandakan gaijihmu.”


Jack mengangguk patuh. Walaupun ia tidak yakin bisa menemukan makanan itu atau tidak.


✈️✈️


TBC

__ADS_1


MENUJU ENDING 🤗


Tanggerang 07-11-12


__ADS_2