
“Sudahlah, jangan dibuat rumit. Pokoknya mau bagaimana pun, Nathan jangan disuruh kerja dulu sampai usia kandungan menantu kita memasuki trisemester kedua.”
Jadi perempuan satu-satunya adalah tahta tertinggi bagi Geasya Genandra Putri. Ia adalah putri tunggal, pun cucu tunggal. Dan dalam keluarga kecilnya bersama sang suami, ia hanya dikarunia dua orang putra. Oleh karena itu, posisi sebagai “Queen” di hati suami serta anak-anaknya tidak pernah terganti. Sekarang, permintaannya adalah titah mutlak bagi sang suami yang sangat ia cintai.
Semenjak memiliki menantu, Gea merasa punya teman untuk berbagi tahta sebagai perempuan yang diperlakukan layaknya “Queen” oleh para arjuna nya Dwiarga. Mendengar kabar jika sang putra hendak ditarik kembali ke maskapai untuk bekerja, Gea tentu saja langsung menyuarakan ketidaksukaannya. Lagipula dulu saat ia hamil Nathan, sauminya—Algafriel—juga diminta untuk off sementara waktu dari dunia penerbangan oleh mertuanya. Posisinya saat itu rekan Al juga mumpuni guna menggantikan posisi Al.
“Sayang, masalahnya begini.” Al buka suara. Dengan lembut ia menarik tangan sang istri agar perempuan yang dicintainya itu mendekat. “Nathan tidak punya pengganti untuk sementara waktu.”
“Gean ‘kan ada,” sahut Gea enteng.
“Lupa kalau kemarin putra bungsu kita mengajukan permintaan untuk mengurangi jam terbang?” Al tersenyum tipis seraya menaikkan satu alisnya. “Gean mau mempersiapkan pernikahannya.”
Gea menghela napas kecil seraya berdecak. “Nanti aku yang bicara sama Papa mertua. Kamu tenang saja, Mas.”
Al tertawa kecil melihat kegigihan sang istri. Jika sudah begitu, tidak akan ada yang bisa menghalangi keinginannya. Gea itu ibarat Queen mahal yang serba bisa menjungkirbalikkan keadaan.
“Oh, iya. Menantu kesayangan Mamah ada sesuatu yang ingin dimakan tidak?” Gea beralih, menatap sang menantu yang sejak tadi duduk di samping putranya. “Lepaskan tangan istri kamu itu, sayang. Lagipula Alea juga tidak akan hilang jika kamu melepaskan tangannya barang sejenak.”
Mendengar sindiran halus dari sang ibu, Nathan selaku si pelaku langsung berdeham singkat. “Lebih nyaman begini, Mah,” ujarnya.
Melihat respon sang putra, Al tersenyum tipis. Di dalam hati ia mengakui gen posesif plus budak cinta itu turun darinya. Dulu ia juga se-bucin itu pada istrinya yang sempat berpisah bertahun-tahun lamanya. Walaupun begitu, mereka suka berlindung dibalik sifat datar, dingin, dan acuh. Padahal sejatinya, mereka itu tipikal pasangan yang tidak bisa jauh sedetik pun dari belahan jiwanya.
“Alasan,” ucap Gea. “Ayo, Alea. Ikut Mamah sebentar, ada yang Mamah ingin berikan.”
Alea mengangguk. Baru saja hendak beranjak, gerakannya tertahan oleh tautan tangannya dan sang suami. “Mas, lepasin dulu.”
“Nanti saja. Kata dokter kamu tidak boleh terlalu banyak bergerak, nanti capek.”
Gea menatap horor ke arah sang putra yang sulit sekali jauh dari istrinya. “Ya Rabb, Nathan. Istri kamu cuma mau jalan ke kamar, bukan jalan ke Central Park.”
“Iya, Mah.” Nathan tetap menjawab, namun enggan melepaskan.
“Sudah, sudah.” Al ikut angkat bicara seraya mengambil cangkir keramik berisi teh Rooibos yang tidak mengandung kafein dari atas meja. “Biarkan istri kamu ikut sama Mamah dulu, Nath. Kita bicara sebentar mengenai pekerjaan.”
Nathan mau tidak mau mengangguk. Ia kemudian melepaskan sang istri agar pergi bersama ibunya. Jujur, semenjak istrinya diketahui sedang berbadan dua, Nathan jadi sangat protektif menjaga Alea. Sikap protektif tersebut bahkan hampir menyamai sikap Anzar yang jadi dua kali lebih protektif, semenjak tahu jika putri sematawayangnya tengah mengandung tiga calon cucunya. Intinya Alea benar-benar dijaga dengan baik, karena sekarang ada tiga kehidupan yang tengah bergantung pada dirinya.
“Papah dan Mamah rencananya ingin membagikan hampers untuk staf di perusahaan,” ungkap Al. Mengenai hampers, itu adalah murni ide dari Gea.
Para staf yang bekerja di perusahaan serta maskapai mereka di Indonesia juga sudah diberi hampers pernikahan atas nama Nathan dan Alea. Pemberian hampers itu sebagai tanda syukur serta kebahagiaan mereka atas pernikahan putra sulung Dwiarga. Rencana itu kemudian akan diterapkan juga pada staf di kantor cabang. Walaupun berita pernikahan Nathan dan Alea sudah menyebar, mereka ingin sekali lagi berbagi kebahagiaan dengan keluarga besar Arga’s Air.
Hampers atau bingkisan yang mulanya dirancang sebagai wedding gift itu kini beralih menjadi multi fungsi, yaitu sebagai hampers pernikahan dan hampers bayi. Oleh karena itu, Gea sengaja meminta sekretarisnya untuk menambahkan beberapa jenis barang sebagai bentuk rasa syukur atas kehadiran bayi-bayi yang kini menghuni rahim Alea. Semua hampers itu kemudian dibungkus kain terbaik berbahan lembut berwarna putih sedikit keemasan, lalu dipercantik dengan hiasan bunga peony yang mewakili romansa dan cinta, serta pertanda baik untuk pernikahan yang bahagia.
__ADS_1
Nathan merasa sungkan mendengarnya. “Padahal aku bisa mengurus semua itu sendiri, Pah.”
“Dari apa yang Papah lihat, kamu sepertinya tidak punya cukup waktu untuk mengurus pekerjaan kecil seperti itu.” Al tersenyum kecil setelah berkata demikian. “Fokus saja pada istri serta calon anak-anak kalian. Biar Papah dan Mamah yang membantu kamu menyelesaikan pekerjaan kecil seperti itu. Menemani istri yang sedang mengandung itu butuh banyak wawasan serta kesabaran. Ditambah lagi kamu juga mengalami kehamilan simpatik.”
Nathan mengangguk, membenarkan ucapan sang papah. Orang tuanya sudah tahu jika ia mengalami kehamilan simpatik atau Syndrom couvade. Oleh karena itu, Gea semakin tidak mengizinkan Nathan untuk kembali terbang.
“Sepertinya keturunan Radityan benar-benar tidak pernah gagal membuat para suami meraka jatuh cinta sejadi-jadinya.” Al terkekeh. Ia kemudian kembali berkata. “Katanya para suami di keluarga Radityan sebagian besar mengalami kehamilan simpatik saat istrinya mengandung. Awalnya Papah tidak percaya, tapi kamu telah membuktikannya sendiri. Papah jadi semakin penasaran.”
Tumben sekali Al mau bicara panjang begini, jika dipikir-pikir. Mengingat ia biasanya irit sekali bicara. Namun, apa yang dikatakan Al memang benar. Lantas, apa yang membuat Al penasaran?
“Adik kamu itu ‘kan dari dulu sudah jadi budak cinta tingkat akut. Kira-kira dia akan mengalami kehamilan simpati atau tidak?”
Mendengar adiknya dibawa-bawa, Nathan jadi tak kuasa menahan senyum geli. Anak itu memang happy virus, sekalipun ia tak ada di sini. “Kita lihat saja nanti, Pah. Dugaan Nathan, kemungkinan besar iya. Gean akan mengalami kehamilan simpatik jika istrinya mengandung.”
Al tertawa kecil. “Membayangkan anak itu mual-mual sambil mengoceh sudah membuat perut Papah keram karena menahan tawa. Kamu tahu sendiri ‘kan kalau adik kamu itu terlalu suka bicara.”
Nathan mengangguk. Baru saja hendak bersuara untuk membalas ucapan sang ayah, tiba-tiba sebuah celetukan terdengar.
“Papah kayak puas banget bayangin Gean tersiksa.”
Laki-laki rupawan yang baru saja membuat Al dan Nathan menoleh itu muncul dengan bear face yang tidak mengurangi kadar ketampanannya sedikitpun. Ia memang baru saja bangun tidur, karena kelelahan setibanya di sini. Jika Al dan Gea datang dari Indonesia, lain lagi dengan ia yang sempat singgah ke Negara lain sebelum bertanding ke New York.
Seperti ciri khasnya, senyum jenaka kemudian muncul di akhir kalimat. Gean memang tidak pernah bisa sehari pun beraksi dengan kata-kata ajaibnya.
Nathan hanya menanggapi ucapan selamat yang cukup ‘absurd’ dari adiknya itu dengan anggukan kepala. Laki-laki muda yang tahu-tahu sudah meng-klaim satu calon anaknya itu memang sangat antuasias semenjak mendapat kabar bahwa ia akan segera menjadi uncle. Lagipula siapa sih yang tidak suka mendengar kabar kehamilan? Apalagi ini kehamilan putri Keevanzar Radityan Al-faruq. Putri semata wayang dari putra sulung Radityan generasi ke-dua.
Kabar mengenai pernikahan Nathan dan Alea juga dengan cepat menyebar luas, mengingat sempat ada beberapa stasiun televisi dan media yang memuat informasi mengenai pernikahan mereka. Ditambah lagi dari pihak Nathan juga membagi-bagikan hampers sebagai tanda syukur atas kebahagiaan yang melingkupi keluarga Dwiarga dan keluarga Radityan. Para staf yang bekerja di Arga’s Air kemudian berbondong-bondong mengucapkan selamat atas pernikahan serta kehamilan pertama Alea. Mereka berkata ikut bahagia untuk pernikahan sang CEO.
Walaupun begitu, tetap ada saja oknum yang bicara sesumbar di luar sana. Entah karena iri atau memang sudah sifatnya, mereka bahkan membicarakan Alea yang baru dinikahi Nathan, namun sudah hamil dengan usia lebih dari usia pernikahan mereka.
“Masa sih wanita tertutup seperti itu mau diajak berhubungan badan sebelum menikah?”
“Entahlah. Tapi, rumor yang beredar seperti itu.”
“Kelihatannya wanita yang menjadi istri CEO itu wanita baik-baik. CEO kita juga pria yang baik-baik.”
“Hey, apa kau lupa jika wanita adalah godaan terbesar bagi seorang pria? Sekali pun pria itu pria baik-baik.”
“Jadi maksudmu, wanita itu ….menggoda CEO kita?”
__ADS_1
Dua perempuan berwajah Europe itu tampak asik bergunjing sambil melakukan touch up pada wajah mereka. Sepertinya mereka baru saja selesai makan-makan. Tanpa mereka sadari, semua pembicaraan itu didengar oleh wanita lainnya yang baru saja keluar dari salah satu bilik toilet.
“Saat pelajaran biologi kalian sering bolos, ya?”
“Apa?” dua wanita itu kompak menoleh. Menatap pada wanita cantik berambut pirang yang tengah berdiri seraya bersidakep dada di depan mereka. “Siapa kau? Kenapa tiba-tiba lancang bicara seperti itu?”
“Aku bicara begitu karena pikiran kalian yang dangkal,” ujar wanita yang menggunakan pakaian formal bernuansa coklat itu seraya mendekati keduanya. “Kehamilan bisa langsung terjadi setelah berhubungan badan pada masa subur. Sementara itu, usia kehamilan sendiri dihitung dari hari pertama terakhir menstruasi, bukan hari di mana melakukan hubungan badan.”
Dua wanita itu langsung bungkam mendengarnya.
“Jangan sok tahu, jika kalian sebenarnya tidak tahu apa-apa. Lagipula tuduhan kalian sangat tidak berdasar.”
Salah satu perempuan itu bereaksi. “Tidak berdasar apa maksudnya? Memangnya siapa kau? Kenapa ikut campur urusan kami!”
Wanita berambut pirang itu tersenyum miring seraya menatap keduanya tak gentar. “Dengar, aku adalah seseorang yang tahu betul soal tabiat dari istri CEO kalian.”
Bungkam. Lagi-lagi dua wanita yang menggunakan ID Card Arga’s Air itu dibuat bungkam.
“Dia adalah perempuan yang sangat menjaga harkat dan martabatnya. Bersentuhan tangan dengan laki-laki asing saja tidak pernah, lantas dari mana munculnya pikiran dangkal kalian soal dia yang hamil duluan?”
“Kami tidak berkata demikian!” seru salah satu dari dua wanita itu.
“Aku punya telinga yang masih berfungsi dengan baik.” Solah tak gentar, wanita berambut pirang itu memojokkan dua lawan bicaranya sekaligus. “Tutup mulut tidak berguna kalian. Beberapa saat yang lalu aku yakin kalian menjadi salah satu penerima bingkisan dari keluarga CEO kalian. Jadi, begini kah sikap kalian setelah pura-pura mendoakan kebahagiaan mereka?”
“Kau?!”
“Yes, I’am.” Wanita itu tersenyum bangga seraya menatap kedua lawan bicaranya bergantian. “Namaku Annante. Aku mengenal betul wanita yang baru saja kalian bicarakan. Jadi, lebih baik kalian diam, daripada aku bertindak lebih buruk dari ini.”
“Memangnya kau bisa apa, hah?!”
“Iya. Kami tidak takut padamu.”
Keduanya kembali berkata dengan nada bicara yang dibuat lantang.
“Aku masih punya nomer sekretaris CEO Arga’s Air. Mau aku adukan kelakukan buruk kalian? aku punya bukti loh.”
TBC.
Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, tabur bunga sekebon, dan tonton iklan sampai selesai 😘
TYPO KOREKSI, YA 💙
__ADS_1
Tanggerang 10-11-11