Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 87 : KEPERCAYAAN


__ADS_3

BDJ 87 : KEPERCAYAAN


“Jadi ini kediaman utama Radityan?”


Laki-laki yang baru saja menurunkan kaca mobil civic type R warna putih yang terparkir tidak jauh dari sebuah gerbang yang menjulang tinggi itu berkata. Gerbang di depan sana dijaga oleh dua orang laki-laki bertubuh tegap yang menggunakan pakaian seragan berupa baju batik lengan pendek yang dipadukan dengan celana kain berwarna hitam. Penampilan dua penjaga gerbang itu memang beda dari kebanyakan penjaga lainnya, namun siapa pun bisa menebak jika mereka bukan orang sembarangan jika sudah dipekerjakan oleh keluarga Radityan.


“Kediaman utama Radityan berada lebih jauh dari gerbang utama, Tuan.”


“Jadi masih masuk ke dalam?”


“Benar sekali, Tuan.” Laki-laki yang menggunakan setelan formal di balik kursi driver itu menjawab seraya ikut menatap ke arah gerbang kediaman Radityan. “Lalu langkah Tuan selanjutnya apa?”


“Kirim hadiah di yang sudah dipersiapkan lewat jasa pengiriman.”


Louis yang baru saja buka suara, kembali menutup pintu kaca mobil dan mengarahkan pandangan lurus ke depan. “Jalankan mobilnya, Jack.”


“Baik, Tuan.” Jack menjawab tanpa mendebat. Walaupun sebenarnya ia ingin bertanya kenapa tuannya itu tidak di antarkan ke sana? Padahal mereka sudah lebih dari 20 menit berhenti di depan gerbang kediaman Radityan. Biasanya sang tuan jika ingin mendatangi suatu tempat, ia tak akan pernah ragu atau segan untuk masuk. Mau apapun tempat tersebut.


Mungkin, agaknya tempat di mana para Radityan berkumpul jadi pengecualian. Bagaimana pun juga mereka seolah-olah mendatangi kandang lawan tanpa persiapan yang matang. Alih-alih bisa keluar, mereka bisa-bisa jadi bulan-bulanan di dalam sana. Walaupun rumor yang beredar menyebutkan bahwa keluarga Radityan selalu welcome pada tamu yang mengunjungi rumah mereka, sepertinya pengecualian berlaku bagi Louis. Putra dari laki-laki dan perempuan yang dulu pernah membuat satu generasi Radityan terombang-ambing.


Sedangkan tanpa Louis dan Jack ketahui, sadari sejak awal mereka datang menggunakan mobil civic type R warna putih, sudah ada yang mengawasi. Jauh dari ketinggian, lebih tepatnya dari balik salah satu jendela kamar di kediaman Radityan.


“Kukira lakik, ternyata banci!”


Laki-laki yang tengah berdiri seraya mengamati lewat jendela itu berdecih. Ia kemudian kembali memasukkan senapan laras panjang yang sejak tadi sudah standby di jendela. Siap membidik target yang telah terkunci sejak kedatangan hingga kepulangan.


Semenjak mendapatkan informasi kedatangan Louis ke negaranya, ia sebagai salah satu Radityan muda selalu up to date soal gerak-gerik putra mantan ketua Mafia tersebut. Alhasil saat Louis tiba-tiba tertangkap camera pengawas menyantrongi kediaman Radityan, Davian Radityan langsung mengambil salah satu koleksi laras panjang bersertifikat. Selain Van’ar, Davin, serta Arion yang memiliki legalitas menggunakan senjata api (lebih utamanya adalah Van’ar), Davian juga mengantongi izin dari organinasi tempatnya bernaung di Amerika Serikat. Namun, tetap saja ada beberapa hal yang harus ia patuhi, salah satunya tidak boleh menyalah gunakan senjata laras panjang untuk kepentingan pribadi yang merugikan khalayak umum .


Saat ini ia hanya menyiapkan senjata laras panjang yang amunisi nya telah diganti dengan obat bius berdosis cukup tinggi. Wanti-wanti jika tiba-tiba Louis berbuat sesuatu yang di luar batas.


Senapan dengan stok gagang lipat yang tersedia sebagai pilihan untuk pendek atau panjang itu adalah senjata asli buatan negaranya. Senapan yang biasa digunakan oleh para tentara ini dilengkapi dengan peredam, sistem yang ditujukan untuk penglihatan teleskopik, mampu menjangkau target dalam jarak lebih dari 2 km, bahkan peluru yang terlepas mampu menembus kendaraan lapis baja sekalipun.


“Gimana, target terkunci? Atau mau pergi?”


Davian menoleh, menemukan etensi satu mahluk hidup lain yang ikut mendiami ruangan yang sama dengannya.


“Pergi. Dasar banci.”


Laki-laki yang sedang berdiri—melihat-lihat koleksi foto-foto triple D lebih tepatnya, memberikan senyuman kecil sebagai respon. “Terus rencana lo selanjutnya apa?”


“Terbang ke Bandung.”


“Kebetulan.”

__ADS_1


Davian menautkan kening mendengar kalimat lawan bicaranya. “Maksudnya lo juga mau balik ke Bandung?”


“Yoi. Mau nebeng sekalian?”


“Nebeng?” ulang Davian. “Kagak. Gue mau ambil penerbangan tercepat ke Bandung, soalnya pesawat keluarga Radityan lagi di pake.”


“Kalau nebeng sama gue, lo nggak usah pusing nyari tiket penerbangan tercepat ke Bandung.”


“Maksud sia? aing teu ngarti, sumpah (maksud lo? Gue nggak ngerti, sumpah)!”


Lawan bicara Davian terkekeh kecih seraya menggerakkan dagu ke jendela yang langsung mengarah ke view berupa fasilitas helipad yang ada di kediaman Radityan.


“Gue bawa burung besi, bukan kuda besi. Sia poho (lo lupa)?”


Davian menatap ke arah yang sama, lalu menepuk jidat dengan ekspresi yang kentara sekali jika ia baru mengingat sesuatu. “He’eh, bro. Aing poho (gue lupa).”


Lupa jika Algean telah membawa burung besi, bukan kuda besi.


“Dasar lengotan sia mah (sebutan untuk orang yang suka lupa dalam bahasa sunda).”


Davian tertawa kecil seraya membenahi senapan laras panjang yang tadi sempat ia siapkan. “Ya udah, lah. Mendingan sekarang lo panasin mesin, kita cus ke Bandung sepuluh menit lagi.”


Gean yang hari ini sedang menjelma menjadi soft boy, mengiyakan lewat gerakan kepala singkat. Berada di kediaman Radityan seharian ini, ia mengurangi kadar ‘selengehan’ yang sudah menjadi darah-daging di tubuhnya. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini dan Davian bisa dikatakan ‘lebih’ akrab ketimbang sebelum-sebelumnya.


✈️✈️


Perempuan yang mendapatkan pertanyaan itu tersenyum seraya mengangguk. “Enak, Mas.”


“Alhamdulillah kalau kamu suka,” kata sang suami. Ia sempat kesulitan mencari pilihan makanan untuk mengisi perutnya dan sang istri. Ia takut apa yang ia pilih tidak sesuai dengan selera sang istri, mengingat istrinya sudah lama menetap di luar negeri. Namun, ternyata makanan yang Nathan pilih cocok dengan lidah sang istri.


Kurang lebih baru menginjak dua belas hari mereka resmi menjadi suami-istri, masih banyak hal yang perlu mereka pelajari. Dua belas hari yang jika diibaratkan sama dengan usia nyamuk—nyamuk jantan hidup selama 10 hari, sedangkan nyamuk betina hidup lebih lama, yaitu bisa hidup sampai 56 hari. Atau lebih tepat dianalogikan dengan usia semut pejantan, yaitu 2 minggu.


Sepulang dari beberapa tempat wisata yang popular dan sangat rekomendasi untuk dikunjungi, mereka berdua yang mulai keroncongan kembali ke penginapan untuk salat dzuhur dan makan siang. Nathan kebetulan sudah membeli nasi tutug oncom untuk makan siang mereka, lengkap dengan es degan alias es kelapa muda.


Nasi tutug oncom sendiri adalah makanan khas yang terbuat dari bahan-bahan berupa nasi, oncom, daun kemangi, bawang merah, bawang putih, cikur atau kencur, terasi, cabe merah, dan garam itu adalah makanan khas Tasikmalaya yang sudah tidak asing di telinga, terutama masyarakat suku sunda.



Nasi tutug oncom yang disediakan bersama lauk pelengkap berupa ayam goreng serundeng, tahu goreng, tempe goreng, karedok leunca, selada air goreng, sambal terasi, kerupuk serta lalapan siap mengisi perut pasangan pengantin baru yang tengah keroncongan itu.


“Aku pikir kamu tidak akan suka.”


“Aku biasa makan makanan Indonesia, Mas. Jadi aku suka menu makanan otentik seperti ini,” klarifikasi sang istri. Membuat sang kapten kian merasa senang.

__ADS_1


“Kalau begitu ayo dihabiskan. Habis makan istirahat dulu, nanti sore lanjut jalan-jalan.”


Alea mengangguk dengan senang hati. Hari ini terlihat senang dan lepas sekali. Mendatangi berbagai tempat wisata di Lembang ternyata benar-benar memperbaiki mood perempuan berhijab syar’I tersebut. Nathan juga sebenarnya senang, namun jauh di lubuk hati yang paling dalam, ia merasa ada yang tetap mengangguk. Pengganggu itu tak lain dan tak bukan adalah soal kedatangan Louis dan tentu saja soal kedatangan ….Nichole.


“Zaujati (istriku).”


Merasa dipanggil, perempuan yang sedang mencuci tangan setelah membersihkan sisa kekacauan yang mereka perbuat itu menoleh. Menatap ke arah sang suami yang tengah membersihkan meja menggunakan tisu kering.


“Ada yang ingin Mas katakan?” tanya Alea, kelewat peka. “Sepertinya begitu.”


Nathan berdeham kecil seraya membuang tisu kering bekas pakai ke dalam tempat sampai. “Sini, Zaujati (istriku). Duduk dulu.”


Alea mengangguk. Ia kemudian mengeringkan tangan menggunakan lap kering bersih yang tersedia, baru mendatangi sang suami yang duduk lesehan di lantai, dekat kaki tempat tidur.


“Ada apa, Mas?”


Alih-alih menjawab, Nathan memilih membawa sang istri lebih dekat, lalu memeluknya. Mengistirahatkan dagunya di bahu kecil sang istri.


“Mas kenapa?” tanya Alea, heran. Tiba-tiba suaminya jadi manja begitu. Apa mungkin ada udang di balik batu?


“Kamu ….percaya ‘kan sama aku?”


“Kok tiba-tiba nanya begitu, Mas?” kebingungan Alea kian bertambah.


“Aku cuma ingin bertanya, Zaujati (istriku). Percaya atau tidak sama aku?”


Alea menghembuskan napas perlahan seraya mengelus pelan surai hitam milik sang suami. “Semenjak 1400 tahun yang lalu, Ali bin Abi Thalib sudah mengingatkan, bahwa yang paling menyakitkan dalam hidup adalah terlalu berharap pada manusia.”


“….”


“Itu bukan berarti aku tidak percaya sama kamu, Mas. Aku percaya sama kamu, namun dalam batas yang wajar.” lanjut Alea. “Sekarang kenapa tiba-tiba Mas tanya begitu? Bukan kah jawabannya sudah sangat jelas? Aku menerima khitbah dan ajakan nikah dari Mas Nathan, itu berarti aku percaya dan memiliki harapan besar untuk hidup bahagia bersama laki-laki yang menjadi imam ku saat ini.”


Nathan tidak merespon dengan kata-kata. Namun, ada perasaan lega yang mendera. Ia kemudian menjauhkan wajah dari bahu sang istri, kemudian menatap perempuannya itu dengan sorot mata yang dalam dan sirat akan berbagai makna.


“Kalau begitu tolong jaga kepercayaan itu, sekali pun akan ada satu, dua, atau bahkan puluhan perempuan yang bermunculan dari masa lalu ku.”


“….”


“Percaya lah bahwa selama ini hatiku hanya tertuju pada kamu. Tidak ada seorang pun yang berhasil mengetuk, apalagi masuk ke dalamnya. Hanya saja, terkadang datang seseorang dari masa lalu yang mengklaim diri mereka sempat berhasil mengetuknya.”


✈️✈️


TBC

__ADS_1


Jika suka jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘😘


Tanggerang 02-010-11


__ADS_2