Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 41 : RISIH


__ADS_3

°BDJ 41 : RISIH



“Sir Louis tidak masuk kerja? Kalau boleh tau kenapa, ya?”


Perempuan bersurai pirang yang mengenakan setelan formal berupa rok A-line 15 centi di atas lutut, dipadukan dengan atasan kemeja chiffon berwarna broken white yang dua kancing bagian atasnya sengaja dibiarkan terbuka. Rambut pirangnya dibiarkan tergerai bebas, dengan ujung-ujung rambut dibuat curly. Ia baru saja mengambil pesanan coffe semi freddo with biscuit kesukaannya, saat menerima panggilan dari sekretaris CEO Anderson Cooperation.


“Sir Louis memang tidak masuk kerja. Informasi terbaru yang saya dapatkan, sir Louis masuk rumah sakit karena terluka parah.”


“A-pa?!” kaget perempuan bernama Annante itu, shock. “Sir Louis terluka karena apa?”


“Saya kurang tahu jika mengenai masalah tersebut.”


Annante tampak berpikir keras untuk sejenak. “Kirimkan alamat rumah sakit tempat sir Louis dirawat lewat alamat surel saya.”


“Saya….”


“Sekarang!” potong Annante, lalu ia memutuskan sambungan telepon begitu saja.


Tanpa menunggu lama, ia langsung bergegas mengambil tas Gucci yang ia bawa hari ini. Memasukkan kunci mobil, handphone, dan beberapa barang penting yang selalu ia bawa saat bepergian. Saking buru-buru nya, Annante bahkan melupakan coffe semi freddo with biscuit yang merupakan minuman favorit baginya.


Jika saja ia tidak nekad menghubungi sekretaris laki-laki itu, Annante mana tahu jika Louis terluka parah dan harus dirawat di rumah sakit. Awalnya Annante menghubungi sekretaris Louis karena ingin mengetahui aktivitas laki-laki itu, sampai-sampai ia tidak dapat menyisihkan sedikit waktu untuk menerima panggilan atau membaca pesan singkat yang Annante kirim. Alih-alih mendapatkan informasi yang diinginkan, Annante malah mendapatkan informasi lain yang lebih mengejutkan.


Louis terluka parah dan harus mendapatkan perawatan di rumah sakit.


“Anna, kamu mau ke mana?” tanya Ismi—asisten Annante yang sempat menjadi sekretaris pengganti bagi Alea, saat Annante berencana untuk mengundurkan diri—bertanya.


Mereka tidak saja bertemu di depan lift. Annante tampak buru-buru hendak turun, sedangkan Ismi tampak tengah memiliki sesuatu yang ingin disampaikan.


“Aku mau izin cuti setengah hari.”


“Cuti setengah hari? Memangnya kamu mau ke mana?”


“Ke rumah sakit,” jawab Annante yang masih dibuat gemas karena menunggu lift yang tak kunjung terbuka.


“Rumah sakit? Siapa sang sakit memangnya?”


“….”


“Anna, kamu dengar aku, ‘kan?”


Annante yang sempat melamun, langsung menoleh ke samping. Ia kemudian mengangguk dengan kikuk. “Ya. Ada apa?”


“Siapa yang sakit? Apa keluarga kamu?”


“Bukan,” jawab Annante seraya mengaduk-aduk isi tasnya, kemudian ia mengeluarkan handphone. Mengecek kotak surel yang masuk.


“Lalu siapa?” tanya Ismi lagi. Karena penasaran, Ismi jadi terus bertanya. Toh, jarang sekali Annante mengambil cuti setengah hari. Apalagi ini mengambil cuti setengah harinya secara tiba-tiba.


“My boyfriend,” jawab Annante singkat. Bersamaan dengan suara lift yang berdenting dan terbukanya lift.


“Kamu ….sudah punya pacar, Ann?”


Annante yang sudah memasuki lift dengan tergesa-gesa hanya menyunggingkan senyum tipis. “Hm. Kami baru saja meresmikan hubungan.”


✈️✈️

__ADS_1


“Kamu sudah merasa lebih baik, Lou?”


Laki-laki yang duduk di atas bed pasien dengan mulut penuh itu mengangguk tanpa suara. Perempuan di sampingnya yang tengah menyuapi potongan buah segar dengan telaten melakoni tugasnya. Semenjak tiba di ruangan ini dua puluh lima menit yang lalu, perempuan yang berprofesi sebagai super model itu tak henti-hentinya mencurahkan perhatian pada si laki-laki. Ia bahkan sudah lupa fakta jika sebelum hari ini terjadi, mereka sempat cekcok.


Kendati demikian, sekarang perempuan yang menggunakan dress motif abstrak yang jatuh di atas lutut dari brand Miu Miu melupakan kekesalannya tempo hari. Toh, saat ini laki-lakinya tengah terluka cukup parah.


“Eomma kemana?”


Alih-alih menjawab pertanyaan Lea, Louis yang baru saja menelan makanan di dalam mulutnya langsung menanyakan topik yang lain.


“Tante Nata pergi ke luar sebentar,” sahut Lea dengan nada sebal. Ia kemudian melirik pada pastry yang ia bawa, namun tidak Louis sentuh sama sekali. “Kamu ingin makan yang lain lagi? Mungkin cake?”


“Tidak. Aku sudah kenyang.”


“Aku tadi bawa cake dari toko kue….”


“Aku bilang tidak,” potong Louis dengan ekspresi datar. “Aku kenyang.”


“Ah, begitu rupanya.” Lea tersenyum kikuk seraya bergerak guna menyimpan piring berisi buah-buahan potong bekas menyuapi Louis.


Saat ini mereka memang hanya berdua di sini. Maksudnya di bagian tempat di mana Louis dirawat. Sedangkan di bagian lain yang tertutup tirai, terdengar agak ramai. Ada lebih dari tiga suara yang saling bersahutan dalam satu waktu. Louis dan Lea bisa mendengar percakapan mereka dengan jelas, karena memang ruangan ini tidak seberapa besar. Pun pembatas di antara mereka hanya sebatas tirai.


“Aku punya kenalan di rumah sakit ini. Kebetulan dia menduduki salah satu posisi penting di bagian direksi. Aku sudah menghubungi dia agar kamu segera mendapatkan ruangan rawat inap pribadi.”


“Kenapa?”


“Kenapa apanya?” bingung Lea. “Aku melakukan semua ini karena kamu pasti risih dirawat dalam satu ruangan dengan orang asing.


“Dia bukan orang asing,” koreksi Louis dengan mata yang mulai terpejam. “Dia ayah dari Alea,” lanjutnya.


Untuk pertama kali setelah sekian lama, Louis kembali mengucapkan nama Alea menggunakan mulutnya sendiri. Padahal biasanya Louis selalu menggunakan kata pengganti atau kata kiasan. Namun, kali ini hal itu tidak berlaku lagi. Diam-diam Lea merasa kesal tanpa alasan karena Louis menyebut-nyebut Alea. Si pemilik nama yang suaranya sesekali terdengar, menyahuti obrolan atau pertanyaan yang tiba-tiba dilontarkan padanya.


“Syar’i.”


“Apa?” bingung Lea.


“Bukan saja tertutup, tetapi syar’i.” Louis kembali menjawab dengan kelopak mata yang masih tertutup. “Jika ingin berpakaian tertutup, dia tidak perlu menggunakan penutup kepala. Tetapi dia bukan saja berpakaian tertutup dengan cara menggunakan penutup kepala dan penutup wajah, tetapi juga sesuai dengan aturan atau syariat agama yang dia peluk. Itu namanya syar’i.”


“Dari mana kamu mendapatkan kosa kata seperti itu, Lou?”


Louis memilih tidak angkat bicara. Ia memang sempat mencari tahu beberapa pertanyaan dasar terkait islam di situs pencarian paling popular. Pencarian yang ia lakukan di kala waktu senggang itu sempat membuat Louis terjun pada arena bacaan yang menjelaskan apa itu islam. Agama yang dianut oleh Alea—perempuan yang begitu berhasil menarik perhatiannya. Dari pencarian itu, Louis juga jadi tahu jika memang seharusnya perempuan dalam agama islam menutup tubuhnya dengan baik seperti Alea. Karena dalam kepercayaan islam, keindahan pada tubuh seorang perempuan hanya boleh dilihat oleh laki-laki yang menikahinya kelak.


“Kamu penasaran sekali ya, sama perempuan tertutup itu?” Lea kembali bertanya seraya memijat lengan Louis. “Apa sih yang membuat kamu sangat tertarik kepadanya?”


“Auranya,” jawab Louis spontan. ‘Aura yang dia miliki berbeda. Wajahnya, sekalipun tertutup oleh kain, terlihat begitu bercahaya.’ Lanjut Louis di dalam hati.


Diam-diam ia memejamkan mata karena ingin memfokuskan pendengaran pada pembicaraan orang-orang di sebelah. Terutama pada suara familiar yang sesekali terdengar menyahuti pertanyaan demi pertanyaan yang dilontarkan padanya.


“Aura teh Alea sekarang beda, ya. Lebih bersinar terang. Mungkin karena sebentar lagi mau go to halal.”


“Dadav, kamu bicara apaan sih.”


“Lah, emang gitu. Sorot matanya juga beda, seolah-olah bisa berbicara jika sedang ada cinta yang bermekaran.”


“Astagfirullah, Dadav.”


Sekali pun hanya terdengar sesekali dan Louis tidak sepenuhnya mengerti topik pembicaraan mereka, ia tetap bisa bersyukur karena masih memiliki kesempatan untuk mendengar suara dari wujud nyata malaikat tak bersayap itu.

__ADS_1


“Lou, dari tadi kamu mendengarkan aku atau tidak sih?”


Guncangan yang menganggu salah satu lengannya, membuat Louis mau tak mau membuka mata. “Apa?”


“Kamu yang apa-apaan. Dari tadi aku bicara sama kamu, tapi kamu malah diam saja.”


“Lebih baik kamu diam,” sahut Louis. “Risih.”


“A-pa?”


“Aku risih mendengar suara kamu yang terus mengajakku berbicara.”


“….”


“Lebih baik diam,” ujar Louis final. Ia kemudian kembali menutup mata, lantas mengubah posisi menjadi agak menyamping. Posisi menyamping yang tentu tetap aman bagi bagian perut yang terluka.


Sedangkan di bagian ruangan yang satu lagi, bed pasien tampak dikelilingi oleh orang-orang terdekat. Mulai dari ujung kaki, ada Astronot dan Galaksi yang berdiri, disambung Gemintang dan Davian di sisi kanan dan kiri. Sudah seperti malaikat Munkar dan Nakir yang siapa sedia menanyai.


“By the way, kapan tanggal cantik akan segera dirilis, bang?” tanya Gemintang seraya menatap Anzar dengan alis naik-turun.


“Iya, om. Dadav juga udah GBL nih.”


“GBL? Istilah apa itu?” bingung Gemintang. Tahu-tahu Davian tiba-tiba menyahut dengan istilah yang tidak dimengerti.


“GBL itu gak sabar banget loh,” tutur Davian meluruskan. “Gaya bahasa kids zaman now di Jakarta.”


“Pantesan om tidak mengerti,” sahut Gemintang. “Intinya kami menunggu kabar baik dari keluarga abang. Kami siap untuk berpartisipasi dan melibatkan diri di pernikahan Alea.”


“Ditunggu saja kabar baiknya,” komentar Anzar, kelewat santuy. “Calon suami Alea juga sebenarnya sudah tidak sabar. Dia setiap sepertiga malam pasti melangitkan doa yang kurang lebih bunyinya seperti ini, ‘Allahumma layyin qolbahu kamma laiyyanta li hadiid li daud.”


“Papa,” lerai sang putra yang tiba-tiba bereaksi. Sepertinya Alea jadi malu sendiri.


“Om, Davian nggak ngerti bahasa arab. Tolong diterjemahkan dong,” pinta Davian yang dibuat penasaran dengan arti dari do’a tersebut.


Anzar tersenyum lebar seraya menatap sang putri lekat-lekat. “Artinya….” Ia kemudian melirik sang keponakan yang terlihat tengah dibuat penasaran karena harus menunggu.


“….ya Allah luluhkanlah hatinya sebagaimana engkau meluluhkan besi untuk nabi Daud.”


✈️✈️


TBC


LANJUT? JANGAN LUPA RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR & TABUR BUNGA SEKEBON 💐💐💐💐


Sukabumi 14-07-22


REKOMENDASI NOVEL KEREN NIH!



Blurb


Aliando Ivander sang idola sekolah. Dia mencintai murid baru yang ada di sekolahnya. Tepat di hari pertama gadis itu sekolah, dia langsung menyatakan perasaannya.


"Aku tidak minta persetujuanmu dan aku tidak menerima penolakan!" Itu kalimat andalannya.


Alisha Leandra gadis cantik murid pindahan dengan terpaksa harus menjalin hubungan dengan Aliando. Bagaimana dia menghadapi fans gilanya Aliando? Bagaimana akhirnya dia bisa menerima Aliando? dan apakah misteri kehidupan Alisha bisa diterima oleh Aliando? Karena ternyata Aliando bukan satu-satunya pria dalam hidupnya.

__ADS_1


-


__ADS_2