Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 87 : RAYUAN PULAU KAPUK


__ADS_3

°BDJ 87 : RAYUAN PULAU KAPUK


Hari terakhir di Bandung dihabiskan pasangan Nathan dan Alea untuk menginap di bukit saung bambu. Mengusung konsep serba bambu supaya terasa nuansa sundanya, sebuah struktur bambu raksasa sebagai bangunan utama berdiri dengan gagah, ditemani dengan 4 buah saung 2 lantai yang jadi kamar penginapan. Bangunan utama terdiri dari beberapa tingkat dan dihubungkan dengan area dapur dan lobby.


Ditengah-tengahnya ada meja panjang serta panggung mini yang biasa digunakan untuk pertunjukkan seni seperti permainan alat musik angklung, sampai tari-tarian. Jika tidak ada pertunjukan, arena tersebut digunakan sebagai area makan dan nongkrong-nongkrong biasa.


Yang paling berkesan di sini adalah kamar tidurnya yang telah didesain sedemikian rupa, sehingga terasa nyaman meskipun fasilitasnya sederhana. Matras besar yang empuk diletakkan di lantai, tanpa ranjang. Kemudian dibungkus oleh seprai dan selimut yang bahannya enak. Ada pula meja kecil untuk meletakkan barang-barang ukuran kecil.


Fitur utama di kamar ini adalah jendela berukuran besar dengan rangka bambu yang mengarah ke view pegunungan, yaitu gunung patuha, gunung Malabar, gunung kendang, sampai gunung manglayang.



“Suka?”


Perempuan cantik yang baru saja melepas hijab yang melindungi mahkota di kepalanya itu mengangguk. “Bagus Mas view-nya. Tenang dan jauh dari keramaian kota.”


Nathan yang melihat eskpresi bahagia tergambar di wajah sang istri yang sedang tersenyum jadi ketularan. Ia juga bisa merasakan hal yang sama.


“Aku senang lihat kamu suka apa yang telah aku persiapkan,” ucap Nathan.


Saat ini mereka tengah duduk lesehan di depan jendela berukuran besar yang dibingkai oleh rangka bambu. Keindahan yang tercipta di luar sana begitu memanjakan mata, menambah kesan romantis dan intim bagi mereka berdua.


“Jangan malam-malam tidurnya. Besok kita harus pulang ke rumah pagi-pagi sekali.”


Alea mengangguk sebagai jawaban, dengan satu tangah membenarkan tatanan rambut sang suami yang tampak sedikit tidak rapih.


“Apa aku sudah bilang kalau kamu itu sangat cantik, Zaujati (istriku)?”


Semu merah langsung tercipta di pipi sang istri. Tanpa menjawab, perempuan cantik itu memilih untuk menggelengkan kepala.


“Memang belum pernah? Perasaan ku saja atau memang kamu yang melupakannya, tetapi aku sempat berucap seperti ini pada malam pertama kita. Kamu itu benar-benar cantik, laksana mutiara yang tersimpan baik.”


Rona merah kian mejadi-jadi di wajah sang istri. Membuat senyum Nathan mengembang tanpa berhenti.


“Masya Allah, ada hamba-Mu yang cantik tengah tersipu malu.”


“Mas, sudah.”

__ADS_1


“Sudah apanya, Zaujati (istriku).”


Alea bergerak salah tingkah saat ditatap kian lekat oleh sang suami. Tidak lama kemudian, satu kecupan hangat mampir di keningnya.


“Jangan cantik-cantik, nanti aku jadi kecanduan,” ucap Nathan seraya menjatuhkan wajahnya di bahu kecil sang istri. “Bisa repot kalau sedang ada jadwal flight, tiba-tiba aku sakau karena merindukan kamu.”


Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut sang suami, Alea mencubit gemas salah satu bisep sang suami. “Kalau sedang bekerja, Mas harus fokus sama pekerjaan. Jangan berpikir kemana-mana. Ingat, ada banyak nyawa yang bergantung pada Mas Nathan.”


“Iya, Zaujati (istriku). Aku mendengarkan dengan baik,” jawab Nathan. “Lalu bagaimana jika memang aku merindukan kamu? punya suami seorang penerbang itu akrab sekali dengan hubungan jarak jauh.”


“Maka dalam setia do’a yang dipanjatkan, rindu kita akan saling bertemu.”


Nathan mengangkat wajahnya. “Tapi, akan lebih baik jika kamu ikut aku kerja untuk beberapa waktu ke depan.”


“Eh?”


“Nanti aku bicara sama Papa Anzar. Beliau pasti mengerti keinginan ku, karena beliau juga pernah muda.”


“Kenapa tiba-tiba jadi bawa Papah sih, Mas?”


“Karena satu kali lagi, aku harus meminta izin beliau untuk membawa kamu kemana pun aku terbang.” Nathan menyentuh kedua sisi wajah sang istri. Merangkum wajah cantik tersebut. “Kamu mau ‘kan ikut aku kerja, Zaujati (istriku)?”


“Itu bisa dibicarakan lagi dengan Papah Anzar,” sahut Nathan tanpa mengurangi rasa senang di hati. Ia kemudian mengajak sang istri untuk berbaring di atas matras yang sudah siap untuk mengantarkan mereka ke pulai kapuk.


Mereka masih sempat deep talk untuk beberapa menit kemudian, sebelum akhirnya Alea jatuh ke dalam rayuan pulau kapuk. Sedangkan Nathan masih sibuk menikmati wajah cantik tersebut untuk beberapa saat. Wajah yang sudah lama ingin ia miliki untuk dirinya sendiri, dan sekarang keinginan itu terwujud.


“Allahumma inny as-aluka rukya shoolihatan shoodiqotan ghoira kaadzibatin naafiatan ghoiro dzloorrotin (Ya Allah, aku memohon kepada-Mu mimpi yang baik dan benar, (serta) tidak dusta, yang bermanfaat dan tidak bahaya).”


Sebuah do’a untuk memohon mimpi baik Nathan panjatkan di pucuk kepala sang istri. Ia kemudian memberikan satu kecupan sebagai penutup. “Selamat malam, Zaujati (istriku). Semoga mimpi indah,” ucapnya sebelum ikut bergabung bersama sang istri di pulau kapuk.


Nathan memang tidak pernah kesulitan untuk tidur semenjak menikah. Jika sudah ada Alea di sisinya, ya sudah. Ia akan dengan mudah memejamkan mata, kemudian masuk ke pulau kapuk. Tempat yang saat ini Nathan tuju, agar dapat menyusul sang istri.


Tiba di pulau kapuk, Nathan langsung berjumpa dengan sang istri yang tengah bersama tiga mahluk mungil. Perempuan yang menggunakan gamis putih dengan kerudung berwarna senada itu tampak duduk di bawah pohon yang lebat daun, buah, serta bunganya. Salah satu dari tiga mahluk mungil itu sedang tertawa kegirangan di pangkuan sang istri, satu lagi duduk sambil mengunyah sesuatu dengan raut wajah menggemaskan. Sedangkan yang terakhir sedang merangkak di dekat kaki sang istri yang tertutup oleh bawahan gamis putih yang ia kenakan.


Di sekitar mereka terdapat sebuah Al-Qur’an yang tersimpan di atas sebuah dudukan dari kayu. Ada pula buah berwarna merah yang terjatuh dari pohon yang menjadi tempat berteduh istri dan ke-tiga mahluk mungil tersebut.


“Masya Allah.”

__ADS_1


Nathan tidak dapat berkata-kata melihat kebersamaan sang istri bersama tiga mahluk mungil yang wajahnya bersinar, seolah-olah tercipta dari nur (cahaya).


“Mas.”


Mendengar panggilan sang istri, Nathan kembali fokus menatap ke arah wanita yang sedang melambaikan tangan ke arahnya. Seolah-oleh memberikan isyarat untuk segera mendekat. Tanpa pikir panjang, Nathan kemudian membawa langkahnya menuju mereka berempat. Namun, semakin cepat ia mengikis jarak untuk mendekat, bertambah satu orang lagi yang tampak ikut bergabung bersama sang istri. Ia adalah Keevanzar Radityan yang kemudian mengambil alih mahluk mungil di dekat kaki sang istri. Menimangnya dengan senang hati.


Satu langkah mendekat, ada visual ibu mertua serta kedua orang tuanya yang ikut bergabung. Mereka tampak bahagia dan bergembira, bermain bersama para mahluk mungil tersebut. Semakin banyak jarak yang dipangkas, semakin banyak visual orang-orang terdekatnya yang bermunculan dan ikut bergabung.


“Mas, ayo kesini.”


Nathan mungkin jadi orang terakhir yang bergabung bersama mereka. Namun, ia bisa langsung merasakan kebahagiaan yang mereka rasakan saat tiga mahluk mungil tadi berebut minta perhatiannya. Satu per satu dari mereka mengangkat tangah, minta digendong. Sedangkan Nathan hanya punya dua tangan. Bagaimana coba?


“Satu per satu, sayang. Tangan Baba ‘kan cuma sepasang,” ujar sang istri memberi pengertian. Tak pelak pengertian itu membuat para mahluk mungil itu terlihat merengek. Nathan yang tidak tega, ia spontan berkata.


“Sini, satu per satu Baba gendong.”


Ia berucap dengan spontan. Tanpa pikir panjang, namun terasa begitu senang ketika mengatakannya.


“Mas.”


“Iya, Zaujati (istriku).”


Nathan langsung membuka mata saat merasa namanya dipanggil. Namun, ketika sepenuhnya mendapatkan kesadaran, ia hanya menemukan sang istri yang baru saja mencari posisi paling nyaman dalam lingkaran lengan kokoh serta dada bidangnya. Wait.


Jadi, barusan ia sedang bermimpi?


Sungguh hanya mimpi? tetapi, kenapa terasa begitu nyata?


Kebersamaan, kebahagiaan, kegembiraan, canda dan tawa yang terlihat begitu nyata. Semua itu bahkan terasa menyentuh hati, hingga kini Nathan masih dapat merasakan sisa-sisa euforia kebahagiaan yang tertinggal.


“Mimpi apa barusan?” lirihnya seraya menatap sang istri. “Apa itu gambaran kita di masa depan?”


Jika iya, maka Nathan akan sangat menantikan masa-masa itu datang. Masa di mana ia merasakan kebahagiaan juga kegembiraan saat menyambut kelahiran buah cintanya dengan sang istri. Pasti para orang tua juga ikut merasakan hal yang sama, mengingat kelak anak-anak yang lahir dari rahim Alea adalah cucu pertama dari Anzar-Airra serta Al-Gea. Sekaligus cucu tertua di generasi Radityan ke-empat. Walaupun dari segi usia akan ada anak dari Arsyad dan Kara yang lahir terlebih dahulu.


“Bismillah, Zaujati (istriku). Semoga selanjutnya kita yang mendapat rezeki berupa keturunan,” lirih Nathan seraya menyentuh permukaan perut sang istri yang tertutup selimut. “Sepertinya akan sangat menyenangkan jika ada mahluk-mahluk mungil dengan wajah copy paste dari kita.”


✈️✈️

__ADS_1


TBC


Tanggerang 07-10-22


__ADS_2