
BDJ 80 : IBADAH MALAM JUM’AT
Canggung. Itulah kata yang dapat menggambarkan situasi pasangan pengantin baru yang baru saja berdiskusi soal hak dan kewajiban mereka sebagai pasangan suami-istri. Dalam Islam sendiri telah diatur tata cara atau adab dalam melakukan hubungan suami-istri. Ada etika pula yang harus dipatuhi, karena jika dilakukan akan menjadi ibadah dan mendapat pahala. Sedangkan jika dilanggar, maka akan membawa malapetaka.
Dalam kitab Qurratul ‘Uyun tentang malam pertama yang merupakan karya Syaikh Muhammad Al-tahami, menjelaskan bahwa pasangan suami-istri hendaknya membersihkan diri sebelum melaksanakan hubungan suami-istri. Dianjurkan pula untuk berhias dan memakai wewangian, terutama untuk istri, agar suami dapat tertarik dan merasa senang. Jika suami senang, maka pahala yang didapatkan istri akan sangat bagus serta menjadi amal ibadah.
Sekarang kembali ke posisi Nathan dan Alea yang sama-sama selesai membersihkan diri, telah melaksanakan Salat Isya, dan baru selesai murojaah bersama. Permintaan hak sebagai suami itu datang tiba-tiba, tanpa rencana. Namun, sebagai seorang laki-laki normal yang telah menjadi suami dari perempuan yang ia cintai sejak lama, Nathan tentu sangat ingin untuk segera memiliki Alea sepenuhnya.
Kendati demikian, ia juga tidak mau egois dan meninggalkan kesan terburu-buru. Takutnya malah Alea jadi tertekan.
“Ar-rumi, Zaujati (istriku). Kamu bisa menolak jika memang masih membutuhkan waktu. Aku tidak akan memaksa,” ungkap Nathan seraya menatap sang istri lembut.
Baik Nathan maupun Alea baru saja mengambil air wudhu kembali. Canggung masih mendominasi hingga kini. Oleh karena itu, Nathan memberanikan diri untuk memberikan sang istri satu lagi opsi.
Nathan hanya tidak ingin membuat sang istri merasa terpaksa. Toh, mereka baru satu minggu menikah. Menunda malam pertama untuk beberapa minggu lagi, insya Allah Nathan siap. Menunggu Alea bertahun-tahun lamanya saja Nathan siap.
“Aku sudah siap, Kak.”
Namun, jawaban sang istri yang tanpa keraguan itu telah berhasil meruntuhkan kecemasan di hati Nathan. Laki-laki tampan itu kemudian tersenyum lebar seraya berdiri di atas kain sajadah, membenarkan peci yang ia gunakan, kemudian siap untuk menjadi imam sang istri.
“Kalau begitu kita dirikan salat sunah dulu, jika kamu memang benar-benar sudah siap memberikan hak itu untukku, Zaujati (istriku).”
Alea yang berdiri menggunakan mukena putih corak bunga-bunga berukuran kecil tampak menunduk, mencoba menyamarkan rona merah di wajahnya. “Alea sudah siap jadi makmum, Mas.”
“Masya Allah, bergetar hebat hati hamba-Mu ini ya Rabb,” gumam Nathan dengan suara teramat kecil. Sungguh, debaran jantungnya sekarang sedang tidak normal.
Pasangan suami-istri itu kemudian mendirikan salat sunat dua rakaat sebelum melakukan Ibadah malam Jum’at nomer lima yang dimaksud oleh captain ganteng bernama Nathan. Selepas salat, Nathan kemudian mengucapkan salam kepada sang istri, sebagaimana yang pernah dilakukan oleh Rasulullah. Alea juga kemudian mengambil punggung tangan sang suami untuk dikecup.
Nathan tersenyum hangat, ia kemudian meletakkan tangan di ubun-ubun sang istri seraya berdo’a. “Allahumma inni as-aluka khairo-ha wa khaira-ha ma jabaltaha ‘alaihi wa a-‘udzu bika min syarriha wa min syarri majabataha ‘alaihi. (ya Allah berkahilah dia untukku, dan berkahilah untuknya. Ya Allah, aku mohon kebaikannya, dan kebaikan tabiat yang ia bawa. Dan aku lindungi dari kejelekannya dan kejelekan tabiat yang ia bawa).”
__ADS_1
Setelah melantunkan do’a tersebut, Nathan merangkum wajah sang istri, lalu memberinya kecupan hangat di kening. Cukup lama mereka bertahan di posisi tersebut, sebelum akhirnya Nathan membuat jarak agar dapat menatap sang istri lebih leluasa.
“Masya Allah, Zaujati (istriku). Kamu selalu terlihat cantik jelita di mataku,” puji Nathan kemudian. “Aku ingin wajah cantik jelita ini dimiliki oleh anak-anak kita kelak.”
Alea bersemu kian merah. Belum apa-apa saja, Nathan sudah bahas-bahas soal anak, bagaimana Alea tidak malu coba? Diberi kode terus-menerus begini.
“Kamu masih memiliki kesempatan untuk menolak, Zaujati (istriku),” ujar Nathan dengan kesabaran yang tiada habisnya. Sekarang meraka sudah sama-sama duduk di ujung tempat tidur. Padahal jika Alea menolak, ia juga akan merasa sedikit ….kecewa.
“Aku ….tidak memiliki niat untuk menolak, Mas.”
“Sungguh?” tanya Nathan, gemas melihat wajah cantik sang istri yang diselimuti rona merah. Cantik sekali di matanya.
Alea mengangguk tanpa berani mengangkat wajahnya.
“Kalau begitu tolong tatap mataku, Zaujati (istriku). Jangan menunduk. Apa ada sesuatu yang lebih menarik di bawah sana ketimbang suamimu?”
Alea menggelengkan kepala, kemudian mendongkrak dengan gerakan perlahan.
“Kalau kamu memang sudah siap untuk memberikannya, maka izinkan aku mengambil hak itu malam ini, Zaujati (istriku).” Nathan kembali meminta izin seraya menggenggam kedua telapak tangan sang istri, lalu ia kecup bergantian.
Alea mengangguk dengan gerakan kecil. Senyum cantik kemudian tersungging di bibirnya. “Ambilah, Mas. Aku dengan senang hati memberikannya, karena itu adalah salah satu kewajiban ku sebagai seorang istri.”
Nathan tersenyum, lalu menganggukkan kepala. Ia kemudian mengikis jarak di antara mereka, kemudian kembali membaca do’a sebelum memulai Ibadah sunah malam jum’at bersama sang istri.
💙
Selama Nathan hidup di dunia, ia tidak pernah menyukai sesuatu sampai seperti ini. Apalagi sampai tahap jatuh cinta sedalam-dalamnya. Hanya dengan menikmati raut wajah yang tampak polos, serta tengah terlelap di alam mimpi saja, berhasil membuat rongga dada Nathan penuh akan kebahagiaan. Tak ada bosan-bosannya menatap wajah cantik sang istri yang masih terlelap, mengingat fajar masih lama menyingsing.
Apalagi jika mengingat ibadah yang semalam telah meraka lakukan bersama, sungguh luar biasa bahagia yang Nathan rasakan. Ia sampai-sampai enggan untuk beranjak dari peraduan, mengingat tempat tersebut sangat memorable bagi mereka. Tangan kanannya yang sejak tadi bebas memainkan surai cantik milik sang istri, kemudian masuk ke dalam jalinan selimut tebal yang melindungi mereka dari hawa dingin yang keluar dari AC. Berhenti tepat pada permukaan perut ramping sang istri yang sudah terlapisi terusan panjang yang nyaman digunakan untuk tidur.
“Bismillah, semoga salah satu di antarnya ada yang berhasil bertahan sampai pembuahan.”
__ADS_1
Setelah bergumam demikian, Nathan ta bosan-bosan menjatuhkan satu kecupan hangat di kening sang istri. Sampai-sampai si empunya terusik dan mulai meraup kesadaran.
“Mas.”
“Iya, Zaujati (istriku),” jawab Nathan dengan suara lembut. Ia sudah menyambut pandangan pertama sang istri dengan senyum semanis gula.
“Mas bangun pagi sekali. Maaf, aku bangun kesiangan.”
“Tidak ada yang perlu dimaafkan, Zaujati (istriku). Ini belum subuh.” Nathan menyambut pandangan sang istri. Perempuan cantik itu tampak bersemu kala kilasan memori mampir di kepalanya.
“Apa tidur kamu nyenyak, Zaujati (istriku)? Maaf jika waktu tidur kamu jadi berkurang banyak karena aku.”
Gelengan kepala Alea berikan sebagai jawaban. Mungkin jika dihitung, mereka tetap tidur dengan jam normal, walaupun sempat melakukan ibadah sunah malah jum’at untuk pertama kalinya.
“Tidurku nyenyak, Mas.”
“Syukurlah. Aku merasa lega sekarang.”
Alea tersenyum seraya menatap sang suami lamat-lamat. Hati kecilnya kemudian melangitkan pujian pada Tuhan yang Maha Esa, karena telah memberikan laki-laki sempurna seperti ini untuk menjadi pasangannya. “Terima kasih untuk segalanya, Mas.”
“Seharusnya aku yang mengatakan itu,” sahut Nathan. “Terima kasih untuk segalanya, Zaujati (istriku). Semua yang telah kamu berikan kepadaku sangatlah berharga. Aku beruntung memiliki tulang rusuk seperti kamu.”
✈️✈️
TBC
Ada yang mau ikut ke Mars sama Author 🙂
Next? jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, tabur bunga sekebon, dan tonton iklan sampai selesai 😘🥰😍
Tanggerang 24-09-22
__ADS_1