Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 52 : DIJEMPUT CALON SUAMI


__ADS_3

BDJ 52 : DIJEMPUT CALON SUAMI


“Selamat pagi, papa,” sapaan hangat Alea berikan seraya mendekati sang ayah yang tengah sarapan menggunakan sup jagung yang terlihat sangat creamy and healty.


“Selamat pagi juga putri papa yang cantik.”


Alea tersenyum di balik kain cadar yang ia gunakan. Pagi ini gurat punuh kebahagiaan tampak tidak dapat disembunyikan dari wajahnya. Hal itu membuat sang ayah—Anzar—ikut merasakan kebahagiaan, karena sang putri merasakannya.


“Papa baru sarapan?”


“Hm. Papa harus sarapan supaya bisa minum obat. Tadi mama kamu mendesak papa makan sup, padahal papa mau makan nasi.” Anzar menoleh pada sang putri. “Kamu tidak sarapan?”


“Alea sedang puasa, pa.”


“Puasa?” ulang Anzar. “Puasa Ayyamul bidh? Puasa yang dikerjakan pada pertengahan bulan, misalnya tanggal 13, 14, dan 15 Hijriah?”


Alea mengangguk. “Iya, pa. Alea kebetulan tidak sedang datang bulan, jadi bisa melaksanakan puasa Ayyamul bidh.”


Biasanya Alea memang mendapatkan tamu bulanan di tengah bulan, jadi jarang memiliki kesempatan untuk melaksanakan puasa Ayyamul bidh. Kebetulan pertengahan bulan ini Alea sedang dalam masa suci, jadi dapat melaksanakan puasa Ayyamul bidh. Orang yang mengerjakan ibadah sunnah ini akan dicatat seperti berpuasa sepanjang tahun. 


Anzar tersenyum lebar mendengarnya. Ia jadi ingat sang adik ipar—Aurra Putri Haidan—istri Van’ar yang suka sekali mengisi hari-hari suci nya dengan melaksanakan puasa sunnah. Sekarang kebiasaan itu ditiru oleh putri tercintanya.


“Tapi hari ini kamu ke kantor?”


“Iya, pa. Ada beberapa dokumen penting yang harus diperiksa, ada rapat dengan divisi marketing juga yang harus Alea hadiri.”


Anzar mengangguk. Ia kemudian menumpukan kedua siku di atas meja makan, supaya dagunya bisa beristirahat di antara jalinan tangan. “Berarti kamu akan bertemu dengan perempuan khianat itu?”


Alea yang baru saja hendak menyimpan botol air bekas minumnya semalam ke wastafel, langsung berhenti bergerak. “Maksud papa Annante?”


“Hm, kamu pasti tahu sendiri siapa yang papa maksud,” ujar Anzar seraya menunjukkan raut wajah tidak suka saat mendengar nama Annante disebut-sebut.


“Kemungkinan besar iya, pa. Ismi juga sudah kirim pesan ke Alea kalau Annante ingin bertemu. Katanya ingin membicarakan sesuatu.”


“Tidak perlu buang-buang waktu untuk teman seperti itu,” sahut Anzar.


“Sebagai sesama manusia bukannya kita harus saling memaafkan, sebagaimana tertuang dalam dalam surat Ali Imran ayat 134, pa,” kata Alea dengan suara yang lebih rendah beberapa oktaf dari suara sang papa. Alea memang tidak pernah meninggikan suara, baik itu pada orang yang lebih muda, sebaya, lebih tua, apalagi orang tua sendiri.


“Iya. Tapi, kamu juga patut waspada pada golongan manusia seperti teman khianat kamu itu. Dia berbahaya. Papa mau kamu tidak berhubungan dengan dia lagi. Atau perlu papa pecat dia secara tidak hormat dari kantor?”


Alea menggelengkan kepala cepat. “Biar Alea yang mengurus masalah ini, pa. Lagipula Alea juga sudah memaafkan Annante. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa Alea belum bisa melupakan kesalahan yang Annante perbuat.”


“Tapi papa melarang kamu dekat-dekat dengan dia lagi. Apa kamu bisa menuruti keinginan papa yang satu itu?”


“Alea ….akan menuruti perintah papa, karena Alea tahu papa selalu menginginkan yang terbaik untuk Alea. Jika menurut papa menjauhi Annante adalah jalan yang terbaik untuk Alea, maka akan Alea ikuti.”


Anzar tersenyum tipis seraya beranjak dari posisi duduknya. Ia lalu bergerak mendekati sang putri, lantas memeluknya erat. “Alea harus percaya sama papa. Papa selalu mengusahakan yang terbaik untuk Alea. Perempuan khianat itu tidak baik untuk Alea.”


Alea mengangguk dalam diam. Walaupun berat harus memutuskan tali pertemanan yang sudah terjalin sejak lama dengan Annante, namun Alea percaya bahwa ini adalah jalan yang terbaik. Toh, kesalahan yang dilakukan Annante termasuk dalam golongan kesalahan yang fatal. Kedati demikian, Alea sudah memaafkan semua kesalahan Alea. Karena pada dasarnya manusia adalah tempatnya lupa dan dosa. Walaupun begitu, masih sulit bagi Alea untuk melupakan kesalahan yang telah diperbuat oleh Annante.


“Kalau begitu Alea berangkat dulu ya, pa,” pamit Alea pasca mengecup punggung tangan sang papa.

__ADS_1


Mama Alea sudah berangkat sejak pukul enam pagi ke firma hukum, karena ada pekerjaan mendesak. Jadi Arra dengan berat hati harus meninggalkan sang suami. Namun, ia berjanji akan lekas pulang setelah pekerjaannya selesai. Ia juga tidak mau meninggalkan Anzar terlalu lama dalam kondisi saat ini.


“As’ssalamualaikum.”


“Waalaikumsalam,” jawab Anzar kala melihat sang istri beranjak pergi setelah mengucapkan salam.


Alea yang pagi ini menggunakan gamis berwarna young choco dipadukan dengan kerudung longgar dan cadar berwarna senada, bergegas pergi ke kantor dengan membawa tas kerja, tas MacBook miliknya, serta sebuah paper bag berukuran medium. Paper bag berukuran medium dengan warna hijau mint itu berisi tart chocolate raspberry yang Alea buat sejak pagi. Tart bercitarasa manis yang sengaja dibuat tidak terlalu manis itu rencananya akan diberikan pada sang tunangan, agar dapat dinikmati bersama keluarganya.


“Aileen,” panggil Alea saat menarik daun pintu utama di kediamannya.


Alih-alih menemukan bodyguard perempuan yang biasa mengawal Alea seharian non stop, ia malah menemukan sebuah punggung lebar tertutup kemeja slim fit hitam yang membelakangi pintu.


“Kak Nathan?”


Pemilik punggung lebar dan peluk-able itu meneleh sesaat setelah Alea buka suara. Ketika tatapan mata mereka bersirobak untuk beberapa detik, Alea langsung menundukkan pandangan. Menatap lantai tempatnya berpijak jadi pilihan, agar tidak membuat kontan dengan pandangan lawan bicaranya. Gadhul bashar.


“Kak Nathan ….sedang apa di sini sepagi ini?” tanyanya kikuk.


Secara normal, perempuan mana yang tidak terkejut saat pagi-pagi menemukan laki-laki tampan berdiri di depan pintu rumahnya?


Apalagi sekarang Alea yakin 100% jika laki-laki rupawan itu sedang menarik sudut-sudut bibir, sehingga tercipta sebuah senyuman. Astagfirullah, membayangkan senyum laki-laki itu saja sudah membuat Alea takut. Takut terus terbayang, hingga menimbulkan dosa.


“As’salamualaikum, Ar-Rumi.”


“Waalaikumsalam, kak,” jawab Alea kikuk. Saking kagetnya, ia sampai lupa mengucap salam.


“Kamu sudah mau berangkat kerja.”


“Baiklah,” jawab Nathan. “Aku sengaja datang ke sini pagi-pagi sekali untuk menjemput kamu.”


“….”


“Aku sudah izin papa Anzar jika itu yang kamu khawatirkan,” tambah Nathan.


Laki-laki tampan itu dengan gamblang memanggil Anzar dengan embel-embel ‘papa’ seperti yang direkomendasikan oleh Anzar kemarin malam. Karena pernikaha Nathan dan Alea sudah dipastikan, jadi para orang tua setuju agar mereka berdua menggunakan embel-embel ‘papa’ dan ‘mama’ kepada orang tua masing-masing agar lebih akrab.


“Tetapi kita belum boleh berada dalam satu ruangan berdua, kak,” lirih Alea.


“Kata siapa kita cuma berdua?” tanya Nathan seraya tersenyum.


“Tadi, bukannya kakak datang ke sini mau jemput aku?”


“Iya.” Nathan mengangguk seraya menahan senyum di bibirnya semakin lebar. “Ada Aileen juga, jika itu yang kamu khawatirkan.”


“Kita berangkat bertiga?”


“Hm. Kenapa? Kamu tidak suka?”


Alea tampak kesulitan menjawab. Bukan tidak mau, tetapi ia membayangkan bagaimana canggung nya nanti di dalam mobil. Namun, ia juga tidak mau menolak niat baik sang calon suami yang datang jauh-jauh hanya untuk menjadi ‘driver’ dadakan baginya.


“Memangnya kakak nggak apa-apa mengantar aku ke kantor? Aku bisa pergi dengan supir supaya tidak merepotkan kak Nathan.”

__ADS_1


“Justru karena aku ingin direpotkan sama kamu, jadi aku datang menjemput kamu.”


Alea sudah tidak dapat membantah lagi. Ia hanya bisa menunduk seraya menyembunyikan senyum di balik kain cadar yang ia gunakan.


“Kamu mau kan, berangkat kerja diantar aku untuk yang pertama kalinya?”


“Mau kak,” jawab Alea pada akhirnya. Ia segan menolak permintaan sang calon suami.


“Terima kasih.” Nathan mengucapkan terima kasih dengan senyum yang masih terpatri di bibir.


“Seharusnya aku yang bilang terima kasih sama kakak.”


“Tidak apa-apa Ar-Rumi. Tidak perlu merasakan terbebani, karena mengantar kamu bekerja pagi ini sudah membuat suasana hatiku menjadi lebih baik.”


“Maksud kakak?”


“Lusa aku akan ikut ke Jakarta bersama orang tuaku. Aku akan menemui ayah dan bunda kamu di sana.”


“Ayah Van’ar dan bunda Aurra?”


“Iya,” jawab Nathan. “Mereka harus mengetahui secara langsung soal niat baik kita untuk menikah empat Sayyidul Ayyam mendatang. Minggu depan barulah kamu beserta mama dan papa yang pulang ke tanah air untuk mempersiapkan pernikahan.”


Alea mengangguk paham. Semalam pembicaraan ini sudah dimusyawarahkan. Pernikahan Nathan dan Alea akan dilangsungkan di tanah air, agar lebih mudah diproses. Namun, mereka tetap harus mengurus beberapa proses di New York, karena kemungkinan besar setelah menikah, Nathan dan Alea akan menetap di New York.


Lusa Nathan akan ikut orang tuanya kembali ke tanah air untuk menemui keluarga besar Radityan di Jakarta. Terutama ayah dan bunda Alea, yaitu Keevan'ar Radityan Az-zzioi dan Aurra Putri Haidan. Sedangkan minggu depan, rencananya Anzar, Airra, beserta Alea akan menyusul ke Jakarta.


Keluarga kecil Anzar akan pulang setelah sekian lama, karena pernikahan Alea akan diselenggarakan empat Sayyidul Ayyam dari sekarang. Tinggal sisa satu minggu lagi untuk Alea menyelesaikan urusannya di sini, sebelum pulang ke tanah air untuk mempersiapkan pernikahan. Kemungkinan besar Nathan juga akan mengajak Alea honeymoon di tanah air terlebih dahulu pasca mereka resmi menjadi suami istri.


“Terima kasih, kak,” ucap Alea kala Nathan membukakan pintu untuknya.


Dijawabi anggukan kepala oleh si empunya panggilan.


Kedatangan Alea pagi ini agaknya menarik perhatian, tidak seperti biasa. Hal itu dikarenakan Alea datang bersama CEO Arga’s Air yang merupakan rekan bisnis mereka. Ketampanan serta sikap gantle Nathan juga membuat banyak kaum Hawa iri juga bertanya-tanya soal hubungan mereka. Di antara mereka, ada seorang perempuan yang langsung menyibak kerumunan saat mengetahui kedatangan Alea bersama seorang laki-laki.


“Alea.”


Si pemilik nama yang tengah berbincang dengan Aileen dan Nathan langsung menoleh ke sumber suara tersebut.


“Ann?”


Perempuan dengan pakaian formal bernuansa monokrom itu berjalan mendekat dengan raut yang mencerminkan tanda tanya besar.


“Jawab dengan jujur pertanyaan ku. Apa CEO Arga’s Air ini adalah calon suami kamu?”


Alea tampak sedikit terkejut karena tiba-tiba Annante datang dan berkata demikian. Namun, ia dengan tenang maju satu langkah, lalu menatap Annante lurus-lurus.


“Iya, dia adalah calon suami aku. Jika itu yang mau kamu dengar. Untuk kedepannya, kamu bisa tenang jika ingin mendapatkan hati mr. Louis tanpa sembunyi-sembunyi lagi.”


✈️✈️


TBC

__ADS_1


Sukabumi 01-08-22


__ADS_2