
Efek pencemaran lingkungan mengakibatkan pemanasan global ekstrim yang terus meningkat setiap tahunnya, pemanasan tersebut tentu saja berdampak pada cuaca bumi yang semakin tidak sesuai. Seperti hari ini misalnya, ketika baru saja memasuki daerah ibu kota, hujan lumayan deras tiba-tiba mengguyur kendaraan mereka. Dari balik jendela mobil, Lea bisa melihat orang-orang yang berlalu lalang di sekitar trotoar berlarian mencari tempat berteduh. Entah di emperan toko, terminal busway, atau angkringan-angkringan yang berjejer di sisi jalan.
Mereka berjibaku untuk menghindari salah satu rahmat Tuhan tersebut. Begitu pula dengan para pengendara yang masih berjubel di jalan raya. Mereka memacu kendaraan mereka dengan hati-hati, mengingat jalan yang mulai tergenang air bisa mendatangkan marabahaya kapan saja.
“Kamu mau mampir untuk beli sesuatu?”
Lea yang sejak tadi fokus memperhatikan jalan dari jendela samping menoleh. Menetap Leon yang masih fokus mengemudikan mobil dengan kecepatan sedang.
“Minuman hangat misalnya.”
Lea menggeleng seraya menunjuk sebuah termos kecil yang ada di kursi penumpang belakang. “Mungkin kamu yang mau beli sesuatu?”
“Gue laper sih.”
“Kalau begitu berhenti dulu. Kita cari tempat makan.”
“Nggak usah, deh. Mending nyari McDonald's atau KFC terdekat. Starbucks juga oke lah. Gue bisa drive thru kopi sama cemilan berat di sana.”
“Tidak mau mampir dulu?”
Leon menggelengkan kepala. Ia lebih memilih membeli makan menggunakan layanan drive thru atau lantatur—layanan tanpa turun, yaitu jenis layanan pesan bawa pulang yang disediakan beberapa tempat makan. Leon memilih opsi tersebut karena ingin menghemat waktu. Sebentar lagi mereka akan tiba di tempat tujuan, jadi sebaiknya mereka bergegas.
Melihat kondisi di luar sana, sepertinya akan ada badai. Langit masih terlihat mencekam dengan naungan gumpalan mega abu-abu tua. Belum lagi hujan yang semakin deras, ditambah hadirnya angin yang berhembus cukup kencang.
“Kita sudah sampai?” Lea melontarkan pertanyaan kala mobil yang mereka kendarai masuk ke sebuah komplek perumahan mewah.
“Sebentar lagi.”
Dari gerbang utama komplek perumahan, mobil yang Leon kendarai masih terus berjalan ke dalam. Melewati deretan rumah dua sampai tiga lantai yang berjejer dengan rapih. Lea bisa menebak jika orang yang tinggal di komplek perumahan ini pasti orang-orang dari kalangan menengah ke atas. Dilihat dari bangunan perumahan yang berdiri, plus dengan semua fasilitas yang tersedia, komplek perumahan ini tidak terlalu jauh beda dengan komplek perumahan orang tuanya di Gangnam, Korea Selatan.
Setelah melewati beberapa deret rumah, serta dua gerbang cluster di dalam komplek perumahan tersebut, kendaraan mereka kemudian berbelok ke arah sebuah gerbang yang menjulang begitu tinggi. Ada dua orang berseragam batik dan celana kain warna hitam yang berjaga di pos keamanan. Leon sempat disuruh berhenti dan ditanyai. Setelah menjelaskan maksud dan tujuannya datang ke sini, Leon diminta menunggu. Sepertinya para penjaga itu sedang menghubungi seseorang yang tinggal di dalam sana.
“Silahkan masuk, den. Sudah ditunggu sama Tuan Muda di dalam.”
“Oke, Pak.” Leon mengacungkan satu ibu jarinya, lantas kembali menghidupkan mesin mobil.
“Rumahnya masih jauh?”
“Di tengah area luas ini.”
Lea manggut-manggut. Ketika sudah melewati gerbang yang menjulang tadi, ia baru bisa membedakan kediaman yang mereka tuju dengan kediaman yang tadi dilewati. Kediaman yang mereka tuju berada di atas tanah yang membentang begitu luas. Lea jadi bertanya-tanya, kira-kira kenalan Leon itu kerjanya apa? dari gerbang rumah nya saja bisa menjelaskan bahwa pemilik kediaman ini bukan orang biasa.
Bahkan kediaman yang Lea beli dari hasil jerih payahnya sebagai super model juga tidak seluas dan semegah ini. Atau jangan-jangan kenalan Leon adalah Crazy Rich? Milyader? entahlah. Lea harus sedikit bersabar untuk mengetahui jawabannya.
“Sampe juga,” desah Leon, lega kala kendaraan yang ia bawa telah berhenti tepat di depan pintu utama. “Turun, yuk. Kita udah ditunggu katanya.”
Lea mengangguk. Ia kemudian melepaskan sabuk pengaman, mengambil slim bag Dior serba guna yang ia bawa serta handphone.
“Pakai hoodie gue. Di luar lagi hujan, pasti dingin.” Leon menyodorkan hoodie miliknya. Namun, Lea tak langsung menerima benda tersebut. “Hoodie gue memang bukan dari brand global yang biasa lo pakai, cuma brand lokal. Kalau soal kualitas jangan ditanya lagi. Enggak kalah nyaman kok kayak hoodie dari brand global.”
__ADS_1
Bukan karena masalah brand hoodie yang Leon sodorkan, alasan kenapa Lea diam saja dan tidak segera menerima Hoodie tersebut adalah karena ia merasa tersentuh setiap kali Leon memberikan perhatian kecil padanya. Laki-laki yang lebih muda darinya itu selalu terlihat gentle dalam berbagai kesempatan.
Lea cuma takut. Takut ketergantungan pada perhatian Leon.
“Pake!” seru Leon seraya menyimpan hoodie berwarna hitam tersebut. Lea hanya menggunakan dress motif flora berlengan pendek yang panjangnya hanya mencapai ½ betis. Saat mereka berangkat dari Bandung cuaca memang diprediksi bakal terik. Tahu-tahunya tiba di Jakarta malah diguyur hujan lebat.
Setelah menyelesaikan perdebatan soal hoodie tersebut, mereka berdua pun langsung turun dari mobil. Bergegas menuju pintu utama kediaman megah tersebut. Bel ditekan beberapa kali, sebagai tanda jika ada tamu yang bertandang. Tidak sampai lima menit mereka menunggu, pintu yang menjulang tinggi itu terbuka. Memperlihatkan sosok perempuan paruh baya dalam pakaian syar’I yang langsung dapat Leon kenali.
“Tante Lunar.”
Perempuan yang membuka pintu itu memang Lunar. Namun, ia tampak kebingungan mendapati kedua sosok yang datang bertamu.
“Siapa, ya?”
“Leon, Tante. Masa lupa?”
“Leon?” Lunar tampak berpikir keras. Mengingat-ingat nama Leon yang tercatat di kepalanya. “Temen Davin, Davian, atau Diano?”
“Tiga-tiganya, Tante. Tapi, lebih sering main sama Bang Vian.”
“Davian?” tanya Lunar memastikan.
Leon mengangguk. “Sebelum ke sini sudah kontak Bang Davian dulu, kok.”
Lunar tersenyum kecil seraya minta maaf karena ia tidak langsung mengenali Leon. Anak remaja SMP yang dulu suka sekali mengintili si kembar, terutama Davian. Setelah menyapa Leon, Lunar baru sadar akan kehadiran satu orang yang sejak tadi terabaikan. Padahal tadi ia melihat keduanya, tetapi malah fokus pada satu orang. Ketika baru saja hendak menyapa, Lunar langsung dibuat terbelalak kala menangkap sosok cantik yang dibawa Leon.
Bagi Lunar yang bekerja sebagai perancang busana, Lea yang merupakan model papan atas tentu saja ia hapal di luar kepala. Bahkan salah satu rancangan busananya pernah dipakai oleh Lea dalam acara perhelatan fashion week di New York.
Lunar langsung speechless melihat Lea secara langsung. Cantiknya, Masya Allah. Lebih cantik kalau lihat langsung, ketimbang lihat di cover majalah.
“Hallo,” sapa Lea dengan canggung. “Apa Anda mengenal saya?”
Lunar mengangguk dengan semangat 45. “Tentu saja. Kita pernah bekerja sama untu fashion week di New York.”
“Ah, benarkah? Maaf. Saya benar-benar melupakannya. Semua masalah pekerjaan biasa diurus oleh manager saya.”
“Tidak apa-apa, lagipula itu sudah dua atau tiga tahun yang lalu,” ujar Lunar. “Ayo masuk. Di luar sedang hujan, pasti dingin.”
Dengan ramah Lunar kemudian mengajak Leon dan Lea masuk. Menggiring keduanya ke ruang tamu, kemudian menyuguhkan minuman hangat serta beberapa kudapan.
“Jadi, Le, dia ini pacar kamu?” tanya Lunar dengan bahasa Indonesia. Karena pertanyaan itu memang ditujukan untuk Leon seorang.
“Bukan,” jawab Leon cepat. “Dia ini ….amanah dari kenalan kakak.”
“Amanah?” rasa penasaran Lunar kian menjadi-jadi. Sejak tadi ia memperhatikan dengan seksama loh interaksi antara Leon dan Lea. Leon tampak begitu perhatian pada Lea, masa bukan siapa-siapa?
“Tidak perlu cemas begitu, Le. Tante tahu pacaran sama public figure itu banyak tantangannya. Tapi, kamu keren loh dapet pacar sfek angel model.”
Leon tersenyum tipis seraya menggaruk tengkuk. Sekarang ia sadar dari mana sifat sang senior yang suka over excited dan kepo luar biasa. Ternyata dari ibunya.
__ADS_1
Sedangkan Lea yang sejak tadi duduk di samping Lea tampak terasingkan kala mereka bicara menggunakan bahas Indonesia.
“Tante senang sekali loh bisa liat Nona Lea. Lihat secara langsung begini berkali-kali lipat lebih cantik dari cover majalah. Masya Allah,” ungkap Lunar. “Sungguh sebuah kehormatan.”
Lea menggelengkan kepala seraya melambaikan tangan di depan dada. “Justru kedatangan saya yang tiba-tiba membuat Anda kerepotan.”
“Tidak ada yang kerepotan di sini. Jadi, silahkan dinikmati minuman dan makanannya selagi menunggu Davian turun. Tadi dia sedang menerima panggilan telepon.”
Lea mengangguk. Di sampingnya Leon tampak telaten menggeser beberapa kudapan agar mudah dijangkau oleh Lea. Padahal Lea sendiri tidak terlalu berniat untuk menikmati semua itu. Ia hanya ingin menikmati coklat hangat yang disediakan Lunar, sepertinya enak. Tadinya Lunar menghidangkan teh hangat, namun karena Leon memberitahukan bahwa Lea sedang tidak meminum teh, Lunar kemudian minta pelayanan untuk membuatkan coklat panas.
Leon tahu jika teh mengandung kafein yang cukup tinggi, jadi ia membatasi asupan teh untuk Lea. Menurut sebuah artikel yang pernah Leon baca, kandungan kafein dalam daun teh adalah 3,5 persen. Lebih besar dari kandungan kafein dalam biji kopi yang hanya berkisar 2,2 persen. Namun, takarannya akan berbeda jika 237 mililiter kopi yang diseduh dengan air panas, karena kandungan kafein nya akan lebih banyak dari teh.
Leon waktu itu iseng tanya-tanya ke mbah google soal makanan yang boleh dan tidak boleh dimakan oleh ibu hamil. Bagaimana pun juga ia sering membawakan makanan untuk Lea, takutnya ia salah memberi dan berakibat fatal pada si jabang bayi.
Selagi menunggu kedatangan Davian, Leon dan Lea menghabiskan waktu untuk mengobrol dengan Lunar yang menerima kedatangan mereka dengan hangat. Ketika mendengar ada suara langkah kaki menuruni anak tangga, Leon dan Lea kontan menoleh. Mereka mengira orang yang mereka tunggu telah tiba. Namun, alih-alih Davian yang turun dari sana, malah sepasang suami-istri yang tampak serasi dengan warna pakaian yang senada yang muncul.
Melihat siapa yang baru saja datang, Lea langsung berdiri dari duduknya, sampai-sampai cangkir berisi coklat panas yang tengah ia pegang jatuh, berdentum. Bertemu dengan lantai marmer di bawah kakinya.
“LEA!”
Leon yang kelewat panik langsung menarik Lea menjauh agar tidak terkena pecahan gelas keramik yang berhamburan kemana-mana.
“Kamu kenapa sih? Ada yang sakit? Perut kamu tidak nyaman?” pertanyaan retoris dilontarkan oleh Leon, namun Lea tidak menggubris. Tatapan matanya masih tertuju pada pasangan yang baru saja tiba di ruangan tersebut.
“Kamu membawa aku ke rumah siapa, Leon?” tanya Lea seraya menatap langsung ke mata Leon.
“Rumah kenalan. Gue udah bilang ‘kan?”
Lea mengangguk dengan raut wajah linglung. “Kenalan kamu siapa namanya?”
“Kenalan gue? Davian Radityan. Kenapa?”
Pantas. Lea berucap di dalam hati. Ia merutuki kebodohannya yang kurang teliti, sampai-sampai takdir membawa ia masuk ke kediaman Radityan. Kediaman dari keluarga yang putrinya menjadi korban dari obsesi gila pria yang ia cintai setengah mati. Sungguh, Lea merasa tak punya muka untuk bertemu dengan mereka.
“Leon,” panggilnya.
“Iya. Kenapa? Perut kamu sakit?”
Lea mengangguk singkat. Mungkin karena shock, perutnya benar-benar jadi terasa tidak nyaman. “Ayo kita pulang. Aku tidak bisa tinggal di sini.”
✈️✈️
TBC
SETUJU NGGAK SIH KALO LEA SAMA LEON JADI COUPLE? KALAU SETUJU/ENGGAK, KOMENTAR 👇
Jangan lupa like, vote, follow Author, share, tabur bunga sekebon, dan tonton iklan sampai selesai 😘
Tanggerang 19-10-22
__ADS_1