
BDJ 42 : SAYEMBARA DUA WANITA
“Suster, tolong beritahu saya di mana pasien bernama Louis Gallion Anderson Kim dirawat?”
“Tolong tunggu sebentar, akan saya cek dahulu.”
“Baik.”
Perempuan dengan pakaian formal berupa rok A-line 15 centi di atas lutut, dipadukan dengan atasan kemeja chiffon berwarna broken white yang dua kancing bagian atasnya sengaja dibuka itu tampak menghampiri resepsionis dengan tergesa-gesa. Rambut pirangnya yang dibiarkan tergerai bebas dengan ujung dibuat curly, tampak bergerak kesana dan kemari secara tidak beraturan. Dalam kedua pelukan tangannya, ia membawa satu buket Aster segar dan parsel berisi buah-buahan organik yang sempat ia beli.
Bunga Aster adalah salah satu rumpun bunga matahari yang memiliki tampilan cantik dengan mahkota berwarna terang, seperti warna putih, biru, dan unggu. Bunga yang masih berasal dari kelurga Asteraceae ini selain memiliki beragam warna yang cantik, juga memiliki daun yang bersusun. Bunga Aster melambangkan sebuah kasih dan kesabaran. Bunga ini juga cocok untuk dibawa saat menjenguk orang yang sedang sakit, karena bunga ini dapat memberikan pesan agar selalu semangat meski tengah jatuh sakit.
“Bagaimana? Apa ada nama pasien Louis Gallion Anderson Kim yang dirawat di sini?” tanyanya sekali lagi, memastikan.
“Mr. Anderson dirawat di ruang VIP nomer 111. Kalau boleh tahu, siapa Anda bagi pasien, karena—“
“Kekasih,” serobot Annante cepat. “Terima kasih untuk informasinya, saya akan segera menjenguk kekasih saya.”
Setelah berkata demikian, Annante pergi berlalu begitu saja. Tanpa memberikan resepsionis itu waktu sedikit saja guna menyelesaikan kalimatnya.
“Beberapa jam yang lalu ada model papan atas yang datang untuk menjenguk mr. Anderson. Sekarang, muncul wanita lain yang tidak kalah cantik, mengaku sebagai kekasih mr. Anderson. Sungguh, apa memang mr. Anderson adalah Don Juan sejati seperti yang dibicarakan banyak orang?” gumam resepsionis tersebut, bertanya-tanya di dalam hati.
“Apa jadinya jika model papan atas tadi bertemu dengan wanita yang mengaku sebagai kekasih mr. Anderson? Apa akan terjadi kekacauan? Sepertinya aku harus mencari tahu lewat perawat yang bertugas di lantai empat,” imbuh si resepsionis.
Ia penasaran dengan reaksi dua wanita cantik yang datang dengan tujuan sama, yaitu menjenguk laki-laki bernama Louis Gallion Anderson Kim yang dijuluki sebagai Don Juan sejati. Bahkan ada beberapa suster juga dokter yang sempat dikabarkan memiliki skandal dengan Don Juan tersebut.
✈️✈️
“Cepat sembuh, bang. Kita pamit pulang terlebih dahulu,” ujar ayah tim GA itu, mengakhiri pembicaraan mereka.
“Hm. Terima kasih sudah repot-repot datang menjenguk. Padahal kalian sudah sibuk sejak kemarin.”
“Tidak apa-apa, bang. Kayak sama siapa aja,” sahut ayah Fajar dan Senja dengan nada jenaka. “Semoga bang Azar cepat sembuh, agar cepat juga memberi kabar baik soal pernikahan yang telah dinanti-nantikan.”
Si empunya nama tampak tersenyum tipis seraya melirik sang putri. “Amin ya Rabb. Semoga saja apa yang kita semogakan akan segera terlaksanakan.”
“Amin,” sahut mereka semua yang ada di sekitar Anzar. Suara Davian yang paling kencang dan nyaring.
“Kamu kayak tidak ikhlas saja, Dav,” sindir Anzar seraya menatap putra kedua dari adik bungsunya itu.
“Ikhlas kok, om. Pake banget malahan. Soalnya, kalau teh Alea segera melangsungkan pernikahan, nanti teh Arra juga bakal nyusul. Dilanjut sama Davin dan Aroon. Target nikah muda di keluarga kita—keluarga Radityan itu sudah padat, om.”
Anzar tertawa kecil mendengarnya. Tawa yang sukar sekali didengar. Tawa yang muncul pada waktu-waktu tertentu, dan arena orang-orang tertentu pula.
__ADS_1
“Pulang sana. Ada kamu di sini, perut om jadi sakit karena kamu stand up komedi terus.”
“Ah, om, bisa aja. Padahal Dadav cuma punya skill stand up komedi tipis-tipis loh.”
Anzar menggelengkan kepala mendengar kalimat sang keponakan. Kehadiran si happy virus milik Radityan itu memang selalu menjadi obat yang mujarab bagi orang-orang yang tengah dilanda kesedihan atau kegundahan. Davian selalu punya tips and trik untuk mencairkan suasana. Ia juga mampu menempatkan diri, di mana harus melontarkan ‘guyonan’, dan di mana harus menahan sikap untuk mengeluarkan ‘guyonan’ andalannya itu.
Kepulan dua Pradipta bersaudara bersama Astronot dan si happy virus, membuat suasana di ruangan VIP tersebut kembali hening. Tidak ada lagi Davian, maka tidak ada lagi penghalang tak kasat mata yang tadinya mampu membuat Anzar melupakan keberadaan dari putra mantan kekasihnya di masa lalu. Namun, Anzar menyadari jika Louis hanya seorang diri saat ini. Ditemani oleh seorang perempuan cantik dengan pakaian minim bahan yang wajahnya acak kali wara-wiri di televisi. Bahan kerap kali menghiasi papan reklame raksasa di beberapa tempat umum yang disinggahi banyak orang.
Anzar menyadari mereka hanya berdua di balik pembatas sana, karena Nata—mantan kekasih tercinta Anzar di masa muda keluar beberapa saat yang lalu bersama suaminya. Kemungkinan mereka pergi karena hendak membeli atau mengambil sesuatu.
“Ira, boleh tolong usap-usap kepalaku lagi? Aku ingin tidur.”
“Iya, sebentar mas,” jawab sang istri yang tampak tengah berkutat dengan layar gaway. Perempuan yang berprofesi sebagai seorang istri, ibu rumah tangga, dan lawyer itu memang melupakan pekerjaan penting sebagai lawyer karena sang suami terluka. Alhasil ia langsung diberondong puluhan surel saat membuka handphone.
“Biar Alea aja yang usap-usap, pa,” ujar sang putri, menawari.
“Tidak perlu. Ini part khusus yang cuma mama yang bisa melakukan. Mujarab soalnya,” tolak Anzar baik-baik. “Nanti kamu coba aplikasikan sama calon suami kamu saja. Dengan catatan jika sudah resmi jadi suami.”
Dengan semburat merah yang samar muncul di balik kain penutup, Alea mengangguk. Semenjak kedatangan Nathan yang tiba-tiba, topik seputar ‘pernikahan’ jadi tidak pernah lepas dari pembicaraan Anzar dan sang putri.
“Sudah, sini. Kamu harus segera istirahat jika sudah mengantuk, mas. Kalau nggak, repot.”
“Repot kenapa?”
“Repot karena kamu jadi rempong—“
“Louis?!”
Perempuan dengan pakaian formal muncul setelahnya, dengan senyum yang mengembang begitu lebar. Namun senyum itu tak bertahan lama, karena pada kenyataanya ia bukan menemukan si pemilik nama, melainkan tatapan penuh tanya dari tiga orang manusia yang berbeda.
“Ann? kamu ada di sini?”
Alea adalah orang pertama yang bereaksi. Ia menyambut Annante yang baru saja muncul dari balik pintu, namun mematung begitu saja setelah kedapatan memanggil Louis dengan sangat antusias.
“Aku ke sini untuk menjenguk ayah kamu,” ralat Annante dengan lancar. Ia kemudian tersenyum kikuk seraya melangkah masuk.
“Kamu pikir putriku tuli? Dia pasti mendengar apa yang kami juga dengar. Kami mendengar kamu memanggil nama seseorang. Bukan kah begitu?” serobot Anzar seraya menatap teman dekat putrinya dengan lekat.
“Sebenarnya, saya…”
Annante tidak dapat melanjutkan kalimatnya, karena percuma saja. Toh, ia sudah tertangkap basah memanggil nama Louis dengan begitu antusias tadi. Ia mana tahu jika ruangan ini adalah ruangan ayah Alea, bukan ruangan Louis. Toh, Annante juga tidak terlalu tahu-menahu soal ayah Alea yang dirawat di rumah sakit ini. Ia mana peduli, kecuali jika itu menyangkut Louis.
“Louis?” gumam Annante saat melihat siluet yang terlihat saat tirai pembatas dibuka. Ternyata memang benar, ini adalah ruangan Louis ….dan Anzar—ayah Alea.
__ADS_1
“Mau apa kau datang ke sini?” tanya Lea dengan nada dan gaya yang berkelas.
Super model seperti dirinya sudah dibekali wawasan tentang attitude and manner yang cukup memadai. Alhasil ia juga pandai menguasai diri, apalagi saat ditempatkan dalam posisi seperti ini.
Cih, Lea akan memperlihatkan tempat Annante yang sesungguhnya. Jangan pikir Lea tidak tahu jika perempuan itu adalah Annante.
Perempuan yang belakangan menyita banyak waktu Louis. Lea bahkan sempat menerima informasi jika perempuan itu sempat beberapa kali berkunjung ke griya Louis yang notabene tempat tinggal Louis dan Lea. Lea tentu marah, karena Louis berani membawa perempuan ular seperti Annante. Bukan perempuan bayaran sekali pakai yang biasa Louis panggil. Lea tak sudi berbagi ranjang di tempat tinggalnya dengan Louis dengan Annante. Perempuan bermuka dua yang sesungguhnya menurut Lea.
“Apa urusan kamu bertanya seperti itu?” jawab Annante. “Aku datang ke sini bukan untuk kamu, jadi jangan ikut campur.”
“Justru karena kamu datang ke sini, aku harus ikut campur.” Lea tak mau kalah. Dengan nada suara yang masih santai dan tetap stay kalem, ia membalas ucapan Annante. “Kamu pikir aku tidak tahu alasan kenapa kamu datang jauh-jauh ke sini? Kamu ke sini untuk bertemu….”
Lea menatap Louis untuk sejenak, laki-laki itu tampak memperingati lewat sorot matanya. Namun, Lea mengindahkan. Ia lantas beralih menatap Alea untuk sejenak. Perempuan tertutup itu juga tampak penasaran jika ditilik dari sorot matanya. Lea baru menatap ke arah Annante untuk yang terakhir kalinya.
“….teman kencan kamu bukan? Louis Gallion Anderson Kim.”
“Jaga bicara kamu!” sangkal Annante. “Aku ke sini ….untuk menjenguk sir Anzar.”
“Pembohong,” ucap Lea seraya tersenyum tipis, tetapi misterius. “Kamu pikir aku tidak tahu sebesar apa rasa cemas kamu saat my Lou terluka,” tambah Lea seraya menggoyangkan ponsel Louis yang entah sejak kapan berada padanya.
Annante tidak dapat berkata-kata. Ia memang sempat mengirimkan banyak pesan pada Louis karena saking khawatirnya.
Lea tersenyum miring seraya menatap Annante lamat-lamat. “Jadi, penghianat dan penggoda laki-laki yang sudah memiliki pasangan ini datang kesini untuk apa? selain mendatangi buruannya.”
TBC
NEXT? BARU PEMANAS NIH 🙌
BELUM APA-APA. LANJUT LAGI? JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR FOLLOW AUTHOR 🙌
Sukabumi 17-07-22
REKOMENDASI NOVEL KEREN!!
BLURB :
Seorang istri bernama Suci Permata Sari berusia 24 tahun, yang telah di diagnosa oleh seorang dokter bahwa dia tidak bisa memiliki keturunan.
Suci menyuruh sang suami yaitu Dimas Hartawan berusia 26 tahun, untuk mencari wanita lain agar mereka bisa secepatnya memiliki keturunan dengan syarat wanita itu bisa membagi Haknya dengan adil bersama Suci.
Apakah Dimas berhasil menemukan pengganti Suci dengan syarat tersebut?
__ADS_1
Dan apakah Suci dan madunya bisa hidup akur serta saling membagi haknya?
--