Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 65 : TULANG RUSUKKU


__ADS_3

BDJ 65 :TULANG RUSUKKU


Jika ditanya bulan apa yang paling ditunggu-tunggu umat Islam? Maka jawabannya pasti adalah bulan Ramadhan. Bulan yang suci. Bulan yang lebih utama dibandingkan bulan-bulan yang lainnya. Sebagaimana sabda Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam, yang berbunyi, Ramadhan adalah bulan Allah. Keutamaannya dibandingkan bulan-bulan lain adalah bagaikan keutamaan Allah dibandingkan dengan mahluk-Nya.


Pada bulan yang suci, penuh kemuliaan dan keberkahan ini menjadi pertanda seluruh pintu surga terbuka, sedangkan pintu neraka tertutup, bahkan setan-setan dibelenggu. Selain itu, Allah Subhanahu wata’ala juga menjaga manusia supaya terhindar dari perilaku tercela dan keji, sehingga lebih banyak menjalankan amalan kebaikan untuk menghapus dosa.


Bulan suci Ramadhan kali ini juga sangat istimewa bagi keluarga besar Radityan, karena putra sulung mereka akhirnya kembali dengan keluarga kecilnya. Mereka bisa menyambut bulan suci bersama, serta menutupnya dengan kemenangan dan ikatan baru yang akan terjalin antara dua keluarga. Sesuai rencana yang telah disepakati oleh kedua belah pihak, pernikahan antara Nathan dan Alea akan berlangsung setelah bulan suci Ramadhan. Lebih tepatnya pada bulan Syawal, sebagaimana tertuang dalam kitab Qurratu uyun, bahwa menikah yang baik adalah pada bulan Syawal dan disunnahkan di bulan Ramadhan. Anjuran dari hadist yang diriwayatkan oleh Sayyidah Aisyah radiallahu anhu.


Hari jum’at, Sayyidul Ayyam, atau Rajanya hari, hari paling agung, dipilih sebagai hari di mana dua anak manusia akan dinikahkan secara agama maupun hukum. Guna melegalkan hubungan di antara keduanya, dengan tujuan mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah mawadah dan warohmah di masa depan. Dalam Al-Qur’an surat Al-Jumuah ayat delapan sampai Sembilan, telah Allah Subhanahu wa ta’ala jelaskan bahwa hari jum’at mempunyai keistimewaan dibanding hari-hari yang lain.


Hari jum’at juga disebut sebagai hari hubungan dan perkawinan oleh Rasulullah Shalallahu alaihi wasalam, karena para Nabi terdahulu menikah pada hari ini. Sebut saja perkawinan Nabi Adam Alaihi salam dengan Siti Hawa, Nabi Yusuf Alaihi salam dengan Zulaikha, Nabi Musa Alaihi salam dengan Shafura binti Nabi Syu’aib Alaihi salam, Nabi Sulaiman Alaihi salam dengan Bilqis, Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wasalam dengan Siti Khadijah, Nabi Muhammad Sallallahu alaihi wasalam dengan Siti Aisyah, sampai pernikahan Sayyidina Ali bin Abi Thalib dengan Sayyidinah Fatimah Az-Zahra.


Keistimewaan lain menikah di hari jum’at adalah karena hari jum’at adalah hari yang dianjurkan, mereka yang menikah pada hari jum’at akan mendapat keberkahan, termasuk hari raya, hari terbaik, karena pada hari ini Nabi Adam Alaihi salam diciptakan, dimasukkan ke dalam surga, dan pada hari itu pula Nabi Adam Alaihi salam dikeluarkan dari surga.


“Jadi gimana? Alea mau pakai rancangan wedding dress syar’I dari siapa?”


Pertanyaan itu kembali dilontarkan, membuat Alea yang disodori oleh 4 rancangan wedding dress syar’I tampak semakin kebingungan. Ini baru wedding dress syar’I, belum lagi ada beberapa rancangan Abaya yang harus Alea pilih. Abaya tersendiri adalah busana garmen yang berasal dari Timur Tengah, berbentuk sederhana, mirip jubah. Abaya biasa diistilahkan dengan gamis arab, karena biasa digunakan oleh wanita-wanita muslimah di belahan dunia lain—meliputi Afrika Utara dan Jazirah Arab.


“Alea pakai rancangan yang pertama saja. Rancangan Mamah Gea dan Onty Lunar.”


Dua pemilik nama tersebut langsung tersenyum sumringah seraya bertatapan. Meraka adalah salah satu desainer kondang tanah air yang tidak kalah famous. Karya mereka juga sudah dikenal oleh banyak orang, bahkan sudah go internasional. Namun, mereka tak sungkan menyodorkan rancangan desainer kondang lain, termasuk rancangan desainer sekelas Ivan Gunawan—salah satu desainer kondang di tanah air. Semua itu demi menunjang hari bahagia Alea Ananta Rumi yang akan segera diperistri.


Menyisakan waktu kurang lebih satu bulan lagi, membuat kedua belah pihak benar-benar bekerja ekstra untuk mempersiapkan semua kebutuhan untuk pernikahan. Semenjak tiba di Indonesia, Alea langsung dihadapkan dengan berbagai perintilannya pernikahan yang harus ia pilih sendiri. Sedangkan perintilan yang lebih besar sudah diurus oleh para orang tua bersama mempelai pria.


“Alea sudah yakin?” tanya Airra memastikan.


Sebagai seorang ibu, ia tentu menginginkan yang terbaik bagi putri sematawayangnya. Oleh karena itu, Airra juga ikut bekerja keras untuk mempersiapkan hari bahagia sang putri.


“Iya, Mah. Alea lebih suka rancangan Mamah Gea dan Onty Lunar.”


Walaupun belum terbiasa memanggil Gea dengan embel-embel ‘mamah’, Alea tetap harus membiasakan diri. Bagaimana pun juga ia akan segera menjadi menantu Gea.


“Mbak Airra tenang saja, kami akan mengusahakan yang terbaik. Semua kemampuan akan kami kerahkan untuk membuat baju pengantin Alea,” kata Lunar seraya tersenyum lebar.


“Tentu saja. Aku merasa sangat tersanjung karena bisa bekerja sama dengan kamu, Lun. Apalagi kita bekerjasama untuk membuat gaun pengantin calon menantuku.”


Lunar tersenyum. “Iya, Mbak. Aku saja rasanya kayak masih mimpi. Ternyata sebentar lagi kita jadi keluarga.”

__ADS_1


Gea mengangguk seraya membalas dengan senyuman pula. Semua memang ikut berbahagia karena pernikahan Nathan dan Alea. Jika bisa, mereka bahkan ingin segera hari itu tiba. Hari di mana dua keluarga akan bersatu karena sebuah pernikahan antara sepasang sejoli.


“Alea mendingan istirahat dulu, kasihan dari pagi disuruh memilih ini dan itu.” Lunar berkata seraya membereskan rancangan-rancangan yang berserakan di atas meja.


“Iya, sayang. Lebih baik kamu istirahat dulu,” tambah Gea.”


Airra mengangguk. Ia juga setuju dengan ide mereka, supaya Alea istirahat terlebih dahulu. Alea sudah bekerja sejak pagi—memilih ini dan itu, mempertimbangkan ini-itu, dan sebagainya. Padahal saat ini mereka sedang melaksanakan ibadah puasa.


“Lebih baik kamu naik dan istirahat dulu, sayang. Kamu kelihatan lelah,” ucap Airra seraya mengelus pelipis sang putri. “Istirahat gih. Kamu tidak boleh kurang istirahat apalagi kurang fit.


“Baik, Mah.”


Alea akhirnya menyetujui. Ia memang kecapean seharian ini, karena sibuk mengurus berbagai pernak-pernik pernikahan. Ia kemudian pamit pada para ibu untuk istirahat sejenak di kamarnya. Hari ini memang banyak agenda yang harus Alea kerjakan, begitu pula dengan Nathan. Calon suaminya itu pagi tadi sempat datang ke kediaman Radityan untuk mengantarkan sang ibu, kemudian ia harus bergabung dengan Anzar dan beberapa laki-laki Radityan. Mereka harus mengurus kebutuhan pernikahan yang lain.


Intensitas pertemuan di antara mereka jadi semakin berkurang, karena kesibukan masing-masing. Namun, seolah-olah Allah tahu jika mereka sama-sama ingin bertemu barang sebentar saja. Laki-laki yang sempat muncul di benak Alea tiba-tiba muncul, menghadang jalanya.


“Assalamu’alaikum, Ar-rumi.”


“Waalaikum’salam, Kak.” Alea menjawab salam tersebut seraya menunduk. Menjaga pandangan—Gadhul bashar.


“Kamu mau kemana, Ar-rumi?”


Laki-laki tampan yang hari ini menggunakan kemeja berwarna baby blue itu tampak tersenyum tanpa sepengetahuan Alea. Ia merasa ada jutaan kupu-kupu yang terbang di rongga dada setiap kali Alea memanggil ibunya dengan embel-embel ‘mamah’.


“Apa aku boleh meminta sedikit waktu kamu, Ar-rumi? Aku ingin menunjukkan sesuatu kepada kamu.”


“Boleh, Kak.”


Senyum Nathan kian awet bersarang di bibir. “Kalau begitu ayo ikuti aku. Ada yang ingin aku tunjukkan.”


Alea mengangguk. Ia kemudian berjalan pelan di belakang Nathan, mengikuti langkah kaki laki-laki itu kemana pun ia melangkah. Setelah beberapa menit berjalan, ternyata Nathan membawa Alea ke samping mansion Radityan. Area yang masuk taman besar di kediaman Radityan. Tempat di mana pohon-pohon cemara, pinus, damar, hingga kurma tumbuh tinggi, subur dan berjejer rapih. Salah satu spot yang unreal di area mansion Radityan, karena keindahannya yang tampak seperti ilusi optik.


Tempat di mana Van’ar muda melamar Aurra. Tempat di mana Van’ar muda menyatakan perasaannya.


Tempat yang menyimpan banyak sejarah di masalalu.


“Apa yang sebenarnya ingin Kakak tunjukkan?”

__ADS_1


Nathan kembali tersenyum. Alasannya membawa ke sini untuk mencuri waktu bersama, walaupun ada jarak yang begitu membentang di antara mereka.


“Aku menemukan harta karun dan ingin membaginya dengan kamu, calon istriku.”


Rona merah bersemu di wajah Alea, untungnya tersamarkan dengan baik. “H-arta karun? Maksud Kakak?”


“Lihatlah ini.”


Nathan menggeser kan tubuhnya agar Alea bisa melihat sebuah batang pohon yang telah patah dan jatuh ke tanah. Maksudnya?


“Ini yang Kakak maksud dengan harta karun?” tanya Alea bingung.


Nathan sadar akan kebingungan itu, maka ia semakin senang melihatnya. “Lihatlah lebih seksama, Ar-rumi. Maka kamu akan menemukan harta karun yang tersembunyi.”


Alea menyipitkan mata. Ia kemudian memindai batang pohon patah tersebut. Satu menit, dua menit, tiga menit, sampai lima menit berlalu, ia belum bisa menemukan apa yang dimaksud Nathan.


“Di mana, Kak?”


Nathan tersenyum semakin lebar saat melihat kebingungan sang calon istri. Ia kemudian berjongkok agak dekat dengan batang pohon itu, namun tetap membuat jarak dengan Alea.


“Lihatlah, ini adalah harta karun yang akau maksud.”


Alea menajamkan penglihatan. Di atas batang pohon patah yang Nathan tunjuk itu, terdapat…. bunga? berukuran sangat kecil, mirip seperti jamur. Parasit.


“Udumbara flower?” tebak Alea hati-hati. Kalau tidak salah tumbuhan mirip jamur itu adalah Udumbara flower.


Nathan mengangguk. Ia mengakui kecerdasan sang calon istri dalam menebak. “Hm. Kamu benar, ini adalah Udumbara flower. Salah satu jenis bunga berukuran kecil dan tergolong langka. Saking langkanya, Bunga ini mendapatkan julukan bunga dari surga, karena sulit tumbuh di bumi. Bahkan katanya, bunga ini hanya mekar sekali saja dalam kurun waktu 3000 tahun,” jelas Nathan. “Aku bisa dikatakan beruntung bisa menemukan bunga ini, tanpa disengaja.”


Alea mengerjapkan mata. “Lalu kenapa Kakak membawa Alea ke sini?”


Jika merasa beruntung menemukan harta Karun, bukan kah seharusnya Nathan menyimpannya sendiri? Kenapa malah memanggil Ale? Tujuannya untuk apa?


Sedangkan bagi Nathan yang pasti akan ditanya demikian, tampak masih mempertahankan senyum di bibir. Iya punya alasan tersendiri ingin membawa Alea ke sini, melihat Udumbara flower.


“Karena aku ingin membagi keberuntungan dengan tulang rusukku.”


✈️✈️

__ADS_1


TBC


Tanggerang 06-09-22


__ADS_2