Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 47 : SEPOTONG HATI TANPA CINTA


__ADS_3

°BDJ 47 : SEPOTONG HATI TANPA CINTA


“Apa kalian berdua tidak bisa diam sial*n!”


Perempuan berwajah cantik yang menggunakan dress motif abstrak yang jatuh di atas lutut dari brand Miu Miu dan perempuan bersurai pirang yang mengenakan setelan formal berupa rok A-line 15 centi di atas lutut dipadukan dengan atasan kemeja chiffon berwarna broken white yang dua kancing bagian atasnya sengaja dibiarkan terbuka itu kontan terdiam. Beberapa saat yang lalu mereka terlibat adu argument yang cukup alot. Sampai-sampai membuat laki-laki yang sejak tadi duduk di pinggir bed pasien pening mendengarkannya.


“Lebih baik kalian pergi dari sini ketimbang membuat kepalaku tampah pusing.”


“Lou, aku tidak bisa pergi meninggalkan kamu. Tante Nata sudah menitipkan kamu kepadaku,” ujar Lea dengan langkah yang mulai mendekati Louis.


“Aku ….juga belum bisa pergi dari sini. Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu,” sahut Annante yang juga tak mau tinggal diam.


“Seharusnya memang kamu yang pergi dari sini,” usir Lea seraya bersidakep dada. “Di sini kehadiranmu tidak dibutuhkan. Daripada tetap tinggal di sini, lebih baik kamu mengejar sahabatmu dan meminta belas kasihan darinya.”


“Tutup mulutmu. Semua kekacauan yang terjadi hari ini karena ulahmu.”


“Ulahku? Kamu tidak salah bicara? Justru aku di sini membantu sahabat kamu mengetahui tabiat aslimu yang busuk itu.”


“Apa ini cara yang juga kamu lakukan untuk mengusir wanita-wanita yang berpotensi menggeser posisimu?”


Senyum di wajah Lea langsung sirna begitu saja kala mendengar kalimat Annante. “Untuk apa aku melakukan itu di saat aku sangat yakin jika tidak ada perempuan mana pun yang akan menggeser posisiku.”


“Benarkah begitu?” Annante kembali mendapatkan kekuatannya.


Ia merasa tidak sepenuhnya bersalah di sini. Toh, ia dan Louis sudah membuat kesepakatan sebelum bekerja sama. Awalnya Annante mungkin terpaksa melakukan semua itu, namun seiring berjalannya waktu ia jadi terbiasa.


“Tentu saja. Kamu pikir mudah bagi Louis melepaskan wanita yang sudah menemaninya sejak kecil?” sombong Lea. “Kamu adalah wanita baru dalah hidup Louis. tidak seperti aku.”


“Apa kamu yakin? Apa Louis pernah mengatakan mencintai kamu?”


“….”


Lea terdiam karena memang selama ini Louis tidak pernah mengatakan ‘cinta’ satu kali pun. Dalam diam ia hanya bisa mengepalkan kedua tangannya di sisi tubuh.


“Kenapa kamu diam? Tidak pernah bukan? Itu berarti posisi kita sama saja.” Annante tersenyum miring. Kini giliran ia membalas balik. Ia juga tidak ma uterus-menerus dipojokkan.


“Sudah?”


Kini giliran Louis yang angkat suara. Sungguh, ia muak dengan kehadiran dua perempuan yang biasanya sangat memuaskan jika tengah memberikan service di atas ranjang. Namun, jika dalam kondisi seperti ini, kepala Louis lama-lama bisa pecah.


Padahal saat ini isi kepalanya tengah dipenuhi dengan Alea, Alea, dan Alea. Louis harus memutar otar agar dapat memikirkan cara terbaik supaya bisa bertemu dengan Alea dan menjelaskan semuanya. Ia tidak mungkin menyerah begitu saja. Walaupun ia harus melawan Anzar Radityan atau manusia hebat lain yang memiliki titel Radityan di belakang namanya, Louis tidak peduli.


“Lebih baik kalian pergi dari sini.” Louis melirik dua perempuan itu bergantian. “Kalian membuat kepalaku hampir pecaha karena perdebatan kalian.”


“Tapi, Louis. Aku masih mau menemani kamu.”


“Tidak perlu. Aku juga tidak membutuhkan kamu, Lea,” balas Louis tanpa perasaan. Menahan mereka lebih lama hanya akan menambah masalah baru.


“Lou….”


“Pergilah. Aku akan ditemani oleh eomma, appa, dan Lucas.”


“Tapi….”


“Pergi!” usir Louis tanpa pandang bulu. “Kau juga,” tambahnya seraya melirik Annante.


“Louis aku ….”


“Jangan memperkeruh suasana. Pergilah. Aku sedang tidak ingin ditemani oleh siapa pun, kecuali orang tua dan adikku.”

__ADS_1


Annante menatap Louis dengan perasaan sedih. Mungkin benar kata orang-orang di luar sana jika Louis Gallion Anderson Kim hanya memiliki sepotong hati tanpa cinta. Jika super model macam Leasya Annabeth Carrienella Kim saja yang sudah menjadi partner Louis sejak mereka masih kecil diusir begitu saja, apa kabar dengan Annante? Sekarang Annante bisa melihat betapa tidak berartinya ia untuk Louis.


Ia ‘tetap’ hanya sebatas partner simbiosis mutualisme yang hanya dicari jika dibutuhkan.


Hari ini Annante rasanya mendapatkan dua tamparan tak kasat mata yang menyadarkan dirinya.


“Baiklah,” ucap Annante pada akhirnya. Ia kemudian mengambil barang-barang bawaanya yang tadi dibiarkan teronggok di sembarangan tempat sebelum mengambil ancang-ancang untuk meninggalkan tempat tersebut. “Sebelum aku pergi, apa aku boleh menanyakan sesuatu?”


“Hm?”


“Apa ada wanita yang kamu cintai di antara kami? Aku, dia, atau Alea.” Annante bertanya seraya menunjuk dirinya sendiri, lalu melirik Lea, terakhir ia menatap Louis lekat.


Louis mengerutkan kening mendengarnya. Sedangkan Lea tampak semakin tidak suka pada Annante karena tak kunjung angkat kaki.


“Aku hanya ingin memastikan sesuatu.”


Louis teresnyum miring, namun tak kunjung menjawab. Cinta, ya? Ada yang bilang, orang yang kita cintai adalah orang yang paling berpotensi menyakiti. Lantas untuk apa ia harus mencintai jika ujungnya berpotensi tersakiti? Selagi masih bisa bersenang-senang tanpa melibatkan perasaan yang merumitkan, kenapa tidak?


Louis lebih suka menjalin hubungan terbuka yang saling menguntungkan. Ketimbang menjalin hubungan yang membingungkan dan mengekang.


Oleh karena itu sampai saat ini ia belum mau terlibat hubungan official dengan perempuan manapun. Kendati demikian, Alea bisa saja jadi pengecualian.


“Kamu harus memastikan sesuatu pada hatimu. Apakah kamu telah jatuh cinta atau hanya tengah merasakan ketertarikan sementara? sebaiknya kamu segera mencari tahu jawabannya sebelum terlambat.”


Bukan tanpa alasan Annante berkata demikian. Ia baru sadar bahwa selama ini ia terlalu memaksakan kehendak agar dapat dekat dengan Louis, tanpa menyadari kondisi hati si laki-laki. Namun, Louis juga bisa dibilang bodoh dan abai karena terlalu menganggap enteng urusan hati. Suatu saat nanti, apa yang ia tuai hari ini pasti akan menimbulkan balasan di kemudian hari.


✈️✈️


“As’salamaulaikum, ayah, bunda.”


Perempuan berhijab dan bercadar itu mengucapkan salam sebagai sapaan dengan suara yang begitu riang. Padahal beberapa jam yang lalu ia sempat menangis di depan sang calon suami. Namun, sekarang suasana hatinya sudah kembali membaik. Apalagi pasca menunaikan kewajibannya sebagai umat muslim.


“Alhamdulillah, kabar baik, bunda. Kabar Ayah sama bunda sendiri bagaimana?”


Dengan sorot mata yang tidak dapat menutupi rasa rindu, perempuan berhijab itu menatap sosok yang ia panggil dengan sebutan ‘bunda’ di layar ponsel.


“Alhamdulillah, bunda sama ayah sekeluarga di sini juga kabar baik.”


“Alhamdulillah kalau begitu. Alea senang mendengarnya.”


“Kabar mama sama papa Alea sendiri bagaimana?” sosok yang juga berhijab syar’I dan menggunakan cadar di seberang sana kembali bertanya.


“Mama Alhamdulillah kabarnya baik. Kalau papa, sedang mendapatkan sedikit musibah.”


“Musibah?”


Sosok gagah dengan Pakaian Dinas Lapangan lengkap dengan baret berwarna merah mencolok yang sejak tadi diam dan menyimak obrolan, kini buka suara. Sosok yang diakui paling tampan di generasi ke-2 dalam keluarga Radityan yang pesonanya tidak lekang dimakan usia.


“Ada apa? katakan sama ayah.”


“Ayah, Alea kangen.”


Laki-laki di seberang sana yang senantias memasang wajah datar dan berwibawa tampak menarik sudut-sudut bibirnya sampai membentuk sebuah senyuman. “Kalau begitu putri ayah harus pulang ke tanah air.”


Alea mengangguk. “Insya Allah dalam waktu dekat Alea akan pulang ke tanah air.”


“Ayah akan tunggu kepulangan putri kecil ayah yang satu ini.”


“Janji? Ayah nggak boleh ingkar janji loh.”

__ADS_1


“Ayah bisa saja ingkar janji jika Negara sudah memanggil.”


Alea terdiam mendengarnya. Ia lupa jika profesi ayahnya itu adalah abdi Negara. Salah satu asset Negara yang harus siap siaga setiap kali Negara membutuhkan.


“Akan tetapi do’a ayah akan selalu ada dan menyertai setiap langkah Asy-Syifa.”


Di balik kain cadar yang menutup sebagian wajahnya, ada senyum yang mengembang. Alea selalu senang jika dipanggil Asy-Syfa oleh sang ayah yang tak lain dan tak bukan adalah Keevan’ar Radityan Az-zzioi. Adik dari papanya. Suami dari sang bunda yang dulu merupakan calon istri papanya. Sekenario Tuhan memang sangat indah. Siapa sangka jika mantan calon istri sang papa, kemudian berjodoh dengan adik papanya. Seorang abdi Negara yang selalu setia menjalankan tugas sebagai penjaga keamanan dan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.


As-Syfa adalah nama lain kitab suci Al-Qur’an. Nama Asy-Syfa sendiri mengandung arti obat penyembuh. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa ta’ala dalam surat Yunus ayat 57 yang mengatakan bahwa Al-Qur’an adalah obat penyembuh bagi semua penyakit hati. Van’ar menyematkan nama tersebut pada Alea yang merupakan putri pertama Anzar dan Airra. Buah cinta mereka yang menjadi obat dan juga pelipur lara.


Dalam keluarga Radityan, para laki-laki memang sangat menghormati, menyayangi, juga melindungi para perempuan dan anak-anak. Anak perempuan yang terlahir di tengah-tengah keluarga Radityan selalu mendapatkan keistimewaan berupa panggilan sayang yang berbeda. Sebut saja Lunar. Kembaran Van’ar itu mendapatkan panggilan sayang berupa Aisyah. Nama Aisyah memang dikatakan cocok bagi Lunar yang memiliki kepribadian pemberani, ceria, cerdas, padai mengekspresikan diri, dan berani bertanya jika ada yang tidak ia pahami.


Sedangkan Arra, putri Van’ar dan Aurra mendapatkan panggilan sayang berupa Humaira. Nama Humaira juga tersemat pada bagian tengah namanya. Nah, Alea sendiri mendapatkan panggilan sayang berupa Asy-Syfa. Panggilan yang sesuai dengan makna kelahirannya bagi kedua orang tuanya. Asy-Syfa. Obat, penawar, penyembuh.


“Ayah,” panggil Alea.


“Iya, putriku?”


“Alea ingin meminta sesuatu.”


“Katakanlah. Jika bisa, maka akan segara ayah berikan.”


“Alea ingin meminta do’a ayah sama bunda supaya Alea bisa mengambil keputusan dengan mudah. Ada laki-laki sholeh yang berniat mengajak Alea untuk membangun bahtera rumah tangga bersama.”


Sepasang suami-istri yang ada di seberang sana tampak saling tatap untuk sejenak. Mereka sebenarnya sudah mengetahui informasi ini dari papa Alea, namun belum cukup detail.


“Ayah dan bunda akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kamu,” ucap Aurra.


“Hm. Jika benar dia laki-laki sholeh yang sudah Allah takdirkan untuk kamu, dia pasti akan menjadi imam kamu bagaimana pun caranya, kayfamaa kunta (bagaimanapun keadaanmu).” Laki-laki yang sepertinya hendak berangkat dinas itu tampak menyunggingkan senyum yang bisa membuat hati kaum Hawa goyah.


“Jangan ragu untuk terus meminta petunjuk pada Allah, putriku. Karena segala urusan di dunia ini pasti bisa diselesaikan dengan ridho-Nya.”


“Iya, ayah.”


“Sesungguhnya dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baiknya perhiasan dunia adalah perempuan sholehah. Ayah yakin putri ayah ini adalah perempuan sholelah yang insyaAllah akan Allah sandingkan dengan laki-laki yang sholeh pula. Jodoh tidak akan pernah salah, palagi tertukar. Kamu percayakan saja semua pada Allah Subhanahu wa ta’ala.”



✈️✈️


TBC


YUHUUU, HARI INI UPDATE SATU BAB AJA, YA ☺️ BESOK INSYAALLAH DOUBLE UPDATE.


NEXT GAK NIH? KALU NEXT, JANGAN LUPA RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR 👇


LIKE, VOTE, FOLLOW AUTHOR, SHARE & TABUR BUNGA SEKEBON 💐💐💐💐


Sukabumi 23-07-22


REKOMENDASI NOVEL KEREN UNTUK KAMU!



Blurb :


Virendra Aryan, seorang Jendral yang begitu tampan, pintar dan tegas. Sosoknya yang mempesona membuat banyak kaum hawa menyimpan kagum padanya.


Namun, siapa yang menyangka keputusan sang Jenderal yang tiba-tiba ingin menikahi gadis muda berusia 18 tahun.

__ADS_1


Akankah kisah cinta mereka berakhir bahagia atau justru berakhir tragis mengingat sosok Jenderal Virendra yang memiliki banyak musuh?


__ADS_2