Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 59 : FEELING


__ADS_3

BDJ 59 : FEELING


“Abang dari tadi kenapa bolak balik terus?”


Laki-laki rupawan yang menggunakan pakaian kasual dengan apron hitam itu bertanya seraya membuka tutup kaleng kornet. Sejak ia menyiapkan bahan-bahan untuk membuat internet, sang saudara tampak berjalan kesana-kemari sambil menelpon. Ia sampai pusing sendiri melihat kelakuan calon manten satu itu.


“Kenapa? Mbak Alea nggak angkat telepon?” tebaknya seraya beralih membuka satu bungkus mie instan kuah. Mengeluarkan isi dan bumbunya, kemudian membuang bungkusnya ke tong sampah di dekat water dispenser.


“Hm.”


“Lagi sibuk kali, Bang. Banyak yang harus diurus sebelum pulang ke sini, plus bakal ambil cuti hampir dua bulan. Besok juga udah otw Jakarta kok. Tenang saja.”


“Perasaanku tidak enak,” kata sang kakak. Ia baru saja menurunkan telepon yang tadi tersangga di telinga.


“Itu cuma perasaan Abang. Berdo’a saja supaya calon istri Abang di sana baik-baik saja. Toh, di sana ada Om Galaksi sama Om Gemintang. Mereka punya pasukan keamanan yang mumpuni,” ujar Gean, mencoba menenangkan sang kakak yang risau, karena calon istrinya sulit dihubungi.


“Mending sekarang Abang duduk. Ambil mangkuk sama sendok. Aku mau buat internet nih, mau nggak?”


“Internet?”


Nathan tampak menatap sang adik dengan kebingungan. Gean hendak membuat internet—jaringan komunikasi elektronik yang menghubungkan jaringan computer dan fasilitas computer yang terorganisir di seluruh dunia melalui telepon atau satelit, tetapi yang disiapkan bukan perangkat lunak (software) atau perangkat keras (hardware) pada umumnya. Melainkan dua butir telur, satu kaleng kornet, dua mie instan kuah, dua siung bawang putih, dan 15 biji cabai rawit merah. Jangan salahkan Nathan kalau sekarang ia kebingungan. Mau membuat internet yang disiapkan malah bahan-bahan makanan?


“Selain internet, aku juga mau buat maklor. Abang mau nggak? Kalau mau, aku buat banyak sekalian.”


Gean kembali bersuara seraya menunjukkan macaroni yang tengah direndam di dalam air panas yang telah diberi minyak secukupnya.


“Tunggu dulu, internet? Baklor? Kamu sebenarnya mau buat apa?”


Gean tertawa terbahak-bahak melihat raut wajah sang abang yang tampak kebingungan. Agaknya Nathan tidak tahu apa itu internet dan baklor. Dua jenis makanan lezat yang mudah dibuat, tetapi sedikit minus gizi.


“Internet itu singkatan dari indomie, telor, dan kornet, Bang. Jadi kornet dimasak dulu sama dua suing bawang putih dan cabe rawit merah. Terus dikasih sedikit air, baru dimasukkan mie sama telor. Jadi mie bukan cuma dimasak konvensional kayak biasanya.”


Nathan tampak menautkan kening. Mencoba membayangkan bentuk makanan bernama internet alias Indomie, telor, dan kornet. Indomie saja ia jarang makan, kecuali jika sedang ingin sekali. Apalagi ini internet. Nathan baru kali ini mendengar nama makanan seperti itu.


“Nah, kalau maklor itu singkatan dari macaroni telor,” tutur Gean. “Salah satu jajanan street food yang paling banyak dicari, karena rasanya yang pedas, gurih, plus bikin nagih.”


Gean bergerak untuk mengambil sebuah pan. “Buatnya juga gampang, nggak ribet. Bahan-bahannya cuma terdiri dari 80 gram macaroni, rendam dalam air panas secukupnya. Jangan lupa ditambah minyak, sedikit aja. Terus nanti dimasak sama dua buah telur, diorak-arik gitu. Terakhir, baru dikasih bumbu tabur sesuai selera.”


Melangkah ke wastafel, Gean kemudian mencuci kedua tangan dengan bersih. “Pengen jajan enak, tapi nggak mau worry? Dari pada beli, mending buat sendiri.”


“Memang enak?”


“Abang belum pernah makan ‘kan? nanti cobain internet dan baklor buatan aku. Dijamin bikin nagih.”

__ADS_1


Nathan mengangguk singkat seraya mengambil posisi duduk di salah satu kursi makan. Membiarkan sang adik untuk kembali berkreasi sesuka hati. Kalau masalah masak, Gean tidak perlu diragukan lagi. Laki-laki yang pernah mengenyam pendidikan di Prescott itu bahkan pernah bekerja di sebuah café yang menyediakan makanan dan minuman homemade. Gean juga pernah menang lomba masak dengan jurinya seoran anggota TNI. Masak ikan pepes yang dimasak secara tradisional.


Secara keseluruhan, laki-laki di keluarga mereka biasanya multi-fungsi. Mereka yang dididik keras sejak kecil, tentu saja biasa hidup mandiri di kemudian hari. Untuk urusan perut tiddka perlu khawatir, karena mereka dibekali kemampuan memasak dengan cukup mumpuni. Namun, sekalipun mereka memiliki keahlian dalam bidang masak yang cukup mumpuni, ketika menikah mereka akan cenderung lebih suka menikmati hasil masakan istri. Bagaimana pun citarasanya, mereka akan selalu memakannya. Itu semua adalah bentuk apresiasi bagi istri mereka yang sudah mengeluarkan effort lebih untuk memasak.


“Masih belum ada kabar?” tenya Gean saat menyajikan satu porsi internet lengkap dengan telur mata sapi setengah matang di depan Nathan. “Makan internet dulu. Nanti baru lanjut telepon Mbak Alea.”


“Hm.”


Nathan menggeser internet yang baru saja dihidangkan sang adik. Perasaannya memang tidak enak, mungkin sesuatu akan terjadi. Apa itu ada hubungannya dengan sang kekasih hati? Memikirkannya saja sudah membuat Nathan gelisah.


“Jangan lupa baca doa,” tambah Gean yang baru saja meletakkan mangkuk keramik kecil berisi baklor di depan sang kakak. “Khawatir juga butuh tenaga. Jadi Abang makan internet sama baklor dulu sampai kenyang. Hati-hati, pedesnya level dewa.”


✈️✈️


“Makan dulu, Alea. Biar koper sama barang-barang kamu diturunkan sama Bagas.”


Airra melerai sang putri yang sejak tadi ikut hilir-mudik membawa turun koper dan barang-barang lain. Padahal sudah ada bodyguard yang ditunjuk untuk membawa barang-barang mereka ke dalam bagasi mobil. Akan tetapi putri sematawayang Anzar dan Airra itu tetap saja ingin melibatkan diri.


“Alea takut ada yang tertinggal, Mah. Makanya sekalian dicek ulang.”


“InsyaAllah tidak ada yang tertinggal. Tadi kamu sudah cek berulang kali, Mamah juga melihatnya sendiri.”


Perempuan dengan gamis berwarna terracotta itu mengangguk, tetapi belum mengindahkan intrupsi ibunya. Ia masih memegang kertas berisi list barang-barang yang akan dibawa pulang ke Jakarta. Penerbangan mereka jadwalnya adalah nanti malam, tetapi Alea sudah sibuk mengecek barang-bawaan sejak pagi.


Si pemilik nama mengangguk. Ia kemudian menyimpan list barang-barang di atas meja bersama balpoinnya, kemudian mengikuti sang ibu ke ruang makan.


“Papah sama Mamah sudah makan?”


“Sudah. Tadi Papah makan sebelum pergi bersama Om Gemi. Mamah juga sudah makan.”


“Om Gemi kesini? Kok Alea nggak tahu?”


Alea tampak terkejut kala mendengar om-nya yang dulu sering kali menjadi baby sitter itu datang berkunjung, tetapi mereka tidak bertemu sama sekali. Padahal sejak tadi Alea ada di ruang tamu, sibuk mengurus list.


“Om Gemi tidak sempat masuk, karena menunggu di parkiran. Katanya ada sesuatu yang harus diurus bersama Papah sebelum kita bertolak ke Jakarta.”


Alea mengangguk-anggukan kepala seraya mengambil piring untuk diisi nasi. Di atas meja sudah tersedia berbagai menu makanan yang tampak lezat. Namun, yang menarik perhatian Alea adalah ayam pedas yang dimasak dengan bumbu kuning serta tofu masak saus tiram. Maka setelah mengisi piring dengan satu colek nasi, ia menambahkan ayam pedas bumbu kuning dan tofu masak saus tiram sebagai lauk.


“Semalam yang datang membuat kerusuhan itu Annante?”


Airra tiba-tiba bertanya. Mengingatkan Alea pada kedatangan tamu tak diundang yang semalam membuat keributan. Memang Annante yang semalam datang berkunjung. Ia datang karena ingin bertemu Alea, tetapi tak kunjung mendapatkan kesempatan. Ia sempat memaksa masuk, tetapi berhasil ditahan oleh para bodyguard. Alhasil karena membuat keributan dan menibulkan rasa tidak nyaman bagi keluarga Anzar dan warga sekitar, Anzar kemudian meminta bantuan kepada keamanan kompleks untuk mengamankan Annante.


“Iya. Mah. Annante datang karena ingin bicara.”

__ADS_1


“Lalu kenapa kamu tidak memberi Annante kesempatan untuk bicara?”


“Sudah, Mah. Alea sudah memberikan kesempatan itu, dan hasilnya tetap sama.” Alea menjawan dengan wajah tertunduk. Menatap pada isi piring yang belum tersentuh sama sekali.


“Mamah tahu kalian sudah sama-sama dewasa. Jadi Mamah pikir, kalian sudah bisa mengambil keputusan terbaik untuk permasalahan kalian.”


“Iya, Mah. Alea juga sudah memaafkan kesalahan Annante. Akan tetapi, untuk memulai hubungan seperti dulu lagi, Alea tidak bisa.”


Airra tersenyum tipis seraya membelai pucuk jilbab instan yang digunakan sang putri. “Tidak apa-apa, Alea. Lagipula bukan kamu yang memutuskan tali persaudaraan di antara kalian, melainkan Annante. Allah pasti akan segera mengganti teman seperti Annante dengan seseorang yang lebih baik.”


Alea mengangguk seraya menatap sang ibu. Apa yang dikatakan ibunya benar, Allah Subhanahu wata’ala akan mengganti apa yang telah ditetapkan oleh-Nya. Alea tidak perlu khawatir, karena ia percaya jika baik atau buruknya Qada dan Qadar, semua pasti memiliki hikmah di baliknya.


Sekarang yang perlu Alea pikirkan adalah soal pernikahannya dengan Nathan yang sudah berada di depan mata. Ketika tiba di Jakarta, ada setumpuk pekerjaan yang harus ia kerjakan, bersangkutan dengan pernikahan. Ia juga sudah berkomunikasi dengan Gea—calon mertuanya—mengenai perintilan pernikahan. Semua akan lebih mudah dibahas jika sudah tiba di Jakarta.


“Alea, apa ada yang masih tertinggal?”


Anzar mendekati sang putri seraya mengenakan blazer hitam miliknya. Sebentar lagi keluarga kecil Azar akan bertolak ke bandara untuk melakukan penerbangan.


“Tidak ada, Pah,” jawab Alea. Ia sudah bersiap masuk ke dalam mobil saat sang papah datang menyapa. Ia sempat berhenti melangkah saat benda pipih di dalam tas miliknya bersuara.


Alea sempat melewatkan panggilan telepon dari sang calon suami, mungkin saat benda itu berbunyi ia sedang beraktivitas. Saat dihubungi lagi, nomer telepon laki-laki itu sebuk. Mungkin suara barusan berasal dari notifikasi pesan singkat yang dikirim sang calon suami.


Alea lantas masuk ke dalam mobil, menyusul sang ibu yang sudah berada di dalam sana. Ia kemudian mengambil handphone pintar miliknya, membuka kunci menggunakan finger screen, lalu mencaritahu notifikasi pesan singkat yang tadi muncul. Alih-alih nomer calon suaminya yang mengirim surat, ternyata ada serentetan pesan yang muncul dari kontak CEO Anderson. Padahal Alea sudah bilang jika ia tidak mau meladeni percakapan di luar konteks pekerjaan. Namun, sekarang laki-laki itu mengirim serentetan pesan, bahkan sempat menelpon beberapa kali.


Sebenarnya apa yang laki-laki itu inginkan? Pikir Alea seraya membuka room chat antara ia dan CEO Anderson.


Kenapa laki-laki it uterus menganggu dirinya? Apa kurang jelas apa yang telah ia katakan tempo hari?


“Sir Louis ingin bertemu di bandara JFK?” gumam Alea setelah membaca pesan singkat yang tertinggal di room chat mereka.


Louis meminta Alea untuk meluangkan waktu. Laki-laki itu sudah menunggu di bandara JFK dan ingin segera bertemu.


Apa tujuan laki-laki itu sebenarnya? Alea juga tidak tahu.


✈️✈️


TBC


NEXT? BESOK UPDATE LAGI, YAK 🤗


JANGAN LUPA RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR 👇


Sukabumi 22-08-22

__ADS_1


__ADS_2