Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
BDJ 107 : NATHAN SAKIT


__ADS_3

Memasuki minggu keempat pasca resmi menikahi sang kekasih hati, Nathan tiba-tiba jatuh sakit sekembalinya dari tanah air. Padahal Nathan jarang sekali terserang penyakit karena daya tahan tubuhnya terbilang kuat. Ia juga menganut pola hidup sehat.


Awalnya Nathan pikir sakit efek jetlag, padahal mereka pulang menggunakan fasilitas pribadi milik keluarga Radityan. Begitu tiba di mansion Radityan yang didiami oleh Anzar beserta keluarga kecilnya, Nathan langsung diminta untuk istirahat total. Jadwal bulan madu mereka yang niatnya ingin pergi ke tanah suci, Makkah Al-Mukarramah juga harus diundur.


“Baba sedang sakit, kenapa sejak tadi Muezza dan Mauja ganggu istirahat Baba?”


Dua hewan berbulu lembut yang berada di samping kanan dan kiri laki-laki yang tengah berbaring itu mengeluarkan suara khasnya. Seolah-olah menjawab pertanyaan dari umma mereka.


“Ayo kita pergi ke luar, biar Baba makan, minum obat, terus istirahat.”



Meow


Meow


Seolah-olah menolak ide tersebut, dua mamalia itu kompak mengeong. Membuat laki-laki rupawan yang hanya menggunakan pakaian rumahan, berupa kaus putih polos dan bawahan celan kain itu ikut angkat suara. “Biarkan mereka di sini, Zaujati (istriku). Lagipula aku tidak terganggu dengan keberadaan mereka.”


Alea yang datang membawa makan malam untuk sang suami tidak mendebat. Ia kemudian duduk di samping suaminya, membiarkan dua kucing betina itu tetap di tempat yang membuat mereka betah.


“Muezza dan Mauja manja sekali sama kamu, Mas.”


Nathan tersenyum kecil mendengar kalimat yang baru saja istrinya katakan. “Kamu sedang cemburu Zaujati (istriku)? Kalau kamu mau manja-manja juga boleh. Aku tidak keberatan jika kamu manja.”


Alea dengan cepat menggelengkan kepala. “Bukan begitu maksudnya, Mas,” jawab Alea gelagapan. “Maksud aku, Muezza dan Mauja bisa dengan mudah dekat sama kamu. Beda sama Izaan dan Jarrah.”


Nathan bergerak dengan perlahan untuk mengubah posisi menjadi duduk bersandar pada head board. Ia kemudian mengambil alih Muezza ke dalam dekapan. “Lihat, Umma sepertinya merasa tidak senang Muezza dan Mauja manja sama Baba.”


Alea dengan canggung menggelengkan kepala. Mana mungkin ia tidak suka anak-anak kesayangannya dekat dengan sang suami. Ia hanya sedikit heran karena Muezza dan Mauja cepat sekali akrab dengan Nathan, padahal biasanya anabul—anak berbulu—itu tidak mudah akrab dengan orang baru.


“Muezza sama Mauja main sama Izaan dan Jarrah dulu. Baba mau pacaran sama Umma,” celetuk Nathan lugas. Ia kemudian menurunkan Muezza dari dekapan. Seolah-olah mengerti apa yang diperintahkan sang baba, hewan menggemaskan itu langsung turun dari tempat tidur. Diikuti pula oleh Mauja yang sempat mengeong beberapa kali.


Alea yang melihat tingkah “ajaib” dua hewan peliharannya itu hanya bisa speechless.


“Anak-anak sudah pergi. Sekarang kamu boleh memonopoli aku sepenuhnya, Zaujati (istriku).”


Alea menggelengkan kepala seraya mengambil alih nampan yang tadi ia bawa. “Waktunya Mas makan malam, terus minum obat.”


Nathan tersenyum sambil menatap istrinya. “Disuapi?”


Alea mengangguk. “Atau Mas mau makan sendiri?”

__ADS_1


“Alhamdulillah, aku sudah punya cukup tenaga untuk makan sendiri, Zaujati (istriku).” Nathan mengangkat tangan kanannya untuk mengambil alih piring berisi bubur yang pasti buatan tangan sang istri. “Kamu sudah makan?”


Gelengan kepala Alea berikan sebagai jawaban. “Setelah Mas makan dan minum obat, aku akan menyusul.”


“Makan sekarang saja, ini sepertinya cukup untuk kita berdua.”


“Itu porsi untuk satu orang, Mas.”


Nathan mengangguk. “Memang. Tapi, aku rasa ini cukup untuk kita berdua.”


Tak lagi mau mendebat, Alea memilih menggunakan kedua tangannya untuk melepaskan ikatan tali niqob yang menutupi sebagian wajahnya. Nathan yang sekarang bisa melihat keseluruhan wajah cantik sang istri langsung tersenyum kian lebar.


“Kenapa, Mas?”


“Masya Allah, Zaujati (istriku) cantik sekali.”


Dikarenakan tidak menggunakan kain penutup wajah, Nathan bisa dengan jelas melihat rona merah yang muncul tiba-tiba, menghiasi wajah cantik istrinya yang langsung menunduk. “Ayo baca do’a dulu,” ujarnya kemudian. “Sudah?”


Alea mengangguk. Tak berselang lama, satu sendok bubur tanpa diaduk berhenti tepat di depat mulutnya. Walaupun posisinya sedang sakit, Nathan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk memberi sang istri nafkah lewat tangannya sendiri. Kecuali, jika memang ia sudah tidak punya tenaga untuk itu. Setelah sang istri menerima suapan pertama, suapan berikutnya adalah untuk dirinya sendiri. Namun, baru saja olahan lunak berbahan dasar beras itu mendarat di mulut, rasa mual langsung melonjak pesat.


Perut Nathan rasanya seperti baru saja diajak naik rollercoaster tertinggi di dunia. Terkocok hebat, menimbulkan mual yang luar biasa. Desakan untuk mengeluarkan isi perut yang sebenarnya tidak ada apa-apanya semakin menjadi-jadi, membuat Nathan beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.


Semenjak jatuh sakit, Nathan memang jadi sensitif. Perutnya tidak mudah menerima makanan yang masuk seperti biasa. Kemarin Nathan juga sempat mual, bahkan sampai muntah di pagi hari. Ketika menjelang malam, hanya tersisa rasa mual yang tercipta setiap kali hendak mengisi perut dan minum obat. Sama seperti saat ini.


“Masih mual, Mas?” Alea bertanya saat berhasil menghampiri sang suami. Laki-laki rupawan itu terlihat baru saja berkumur-kumur di wastafel.


Sebagai jawaban Nathan memberikan anggukan. Ia kemudian menatap sang istri seraya merentangkan kedua tangannya lebar-lebar. Wajah rupawan nya tampak sedikit pias.


“Mas mau apa?” tanya Alea, kebingungan.


“Peluk.”


“Peluk?”


Nathan mengangguk. Raut wajah pias nya malah tampak seperti raut anak kecil yang minta dipeluk oleh ibunya.


Alea tersenyum seraya mengambil beberapa langkah guna mendekat ke arah sang suami. Setelah berdiri di depan sang suami, ia kemudian melingkarkan kedua tangan ke belakang. Disambut oleh sepasang tangan kekar milik sang suami yang melingkupi tubuh kecilnya.


“Masya Allah, rasanya jauh lebih baik setelah memeluk Zaujati (istriku),” gumam Nathan pelan. Namun, masih bisa didengar oleh sang istri.


Physical touch lewat peluk seperti ini adalah salah satu bentuk love language yang kerap Nathan tunjukkan pada sang istri. Dikala sedang senang, sedih, ataupun marah, rasanya semua itu akan cepat mereda jika ia dapat memeluk sang istri. Physical touch lewat peluk ini sendiri adalah salah satu sikap yang Nathan pelajari dari Rasullullah Shalallahu Alaihi wasallam. Ketika marah, Rasullullah Shalallahu Alaihi wasallam akan mengusir amarah tersebut dengan cara memeluk istrinya.

__ADS_1


Dalam sebuah hadis, diriwayatkan suatu kisah ketika Rasullullah Shalallahu Alaihi wasallam marah kepada Siti Aisyah karena Siti Aisyah terus merasa cemburu kepada almarhumah Siti Khadijah. Cara yang Rasullullah gunakan untuk menghilangkan amarah tersebut adalah dengan memeluk istrinya, Siti Aisyah, seraya berkata, “Ya Khumairah Ku (panggilan sayang Rasulullah pada Siti Aisyah), telah hilang amarahku setelah memelukmu.” Hadist riwayat Muslim.


“Masih mual, Mas?”


“Sedikit,” jawab si pemilik panggilan. Pada akhirnya ia tidak jadi mengisi perut dengan bubur buatan istri tercinta, melainkan dengan 7 butir kurma sakari. Kurma sakari sendiri tergolong makanan pencahar (lacative food), yang bisa mengatasi masalah sembelit, karena mengandung tinggi serat alami yang menyehatkan bagi usus dan sistem pencernaan.


Kurma menjadi makanan yang sunnah dikonsumsi ketika berbuka puasa. Sesuai sunnah Rasulullah, jumlah buah kurma yang dianjurkan untuk dikonsumsi biasanya dihitung dari bilangan ganjil, mulai dari satu, tiga, lima, tujuh, dan seterusnya.


“Sekarang sudah lebih baik,” tambah Nathan meyakinkan.


Alea sebenarnya ingin percaya pada ucapan sang suami, namun melihat wajah rupawan itu pucat, ia menjadi risau sendiri. Alea sudah menyarankan Nathan untuk diperiksa oleh dokter keluarga, tetapi laki-laki itu menolak. Padahal Nathan sempat demam juga.


“Kamu belum tidur?”


Alea yang sedang berdiri di dekat wastafel tampak beristighfar kala mendengar suara sang ibu tiba-tiba menyapa. Ia memang turun ke bawah setelah menidurkan sang suami. Menidurkan dalam arti yang sebenarnya.


“Kamu kupas mangga buat siapa malam-malam begini?” tanya Airra yang datang membawa botol Tupperware kosong untuk diisi air. “Suami kamu? bukannya tadi kamu kasih Nathan bubur?”


Alea mengangguk sebagai jawaban. “Mas Nathan sudah tidur. Dia tidak jadi makan bubur karena mual.”


“Terus itu mangganya buat siapa?”



“Aku,” jawab Alea polos. “Tiba-tiba pengen makan yang asem-asem, Mah. Tadi pas buka lemari pendingin lihat mangga, jadi aku ambil satu.”


Arra tampak menatap sang putri dengan raut wajah yang tidak terbaca. Seriously, malam-malam begini putrinya mau makan mangga? Bukannya Alea tidak suka buah mangga?


“Tapi, itu buah mangganya belum matang sempurna loh, sayang. Masih agak keras. Rasanya juga pasti asam.”


“Tidak apa-apa, Mah.” Alea tersenyum kecil seraya menusuk satu potong mangga tanpa kulit dengan tusuk gigi. “Seperti ini malah kelihatan lebih enak.”


✈️✈️


TBC


NAH, LOH. KAPTEN TEPAT JUGA, PADAHAL BELUM HONEY MOON 😂


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon, dan tonton iklan sampai selesai 😘


Tanggerang 28-10-22

__ADS_1


__ADS_2