Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 83 : MOMONGAN


__ADS_3

°BDJ 83 : MOMONGAN



...(Manten full senyum teross 😁)...


✈️✈️


“Zaujati (istriku).”


Panggilan yang kerap kali terucap lebih dari sepuluh kali dalam sehari itu sudah menjadi panggilan yang familiar di telinga Alea semenjak resmi dinikahi oleh putra sulung keluarga Dwiarga. Setiap kali baru membuka mata di pagi hari, salam serta sapaan hangat dilengkapi panggilan sayang itu selalu menyambut indra pendengaran. Satu kebiasaan kecil yang selalu berhasil membuat hati menghangat.


“Mas Nathan sedang apa?”


Perempuan dengan gamis model sederhana yang tengah memegang sapu ijuk serta pengki itu mengerutkan kening melihat sang suami. Sedangkan laki-laki dengan kaos putih polos serta celana bahan pendek itu tampak tersenyum lebar seraya mengangkat ember berisi pakaian.


“Aku ingin membantu Zaujati (istriku).”


“Simpan saja di sana, Mas. Biar aku yang cuci,” kata sang istri sembari meletakkan sapu dan pengki.


“Aku ingin membantu, apa tidak boleh?”


Alea menggelengkan kepala. Rumah baru mereka yang ada di daerah dago atas memang cukup besar dan terdiri dari dua lantai, namun Alea masih sanggup membersihkannya sendiri. Toh, nanti jika tidak ditinggali, mereka sudah mencari beberapa orang untuk bekerja sebagai penjaga kemanan, tukang kebun, dan tukang bersih-bersih. Untuk saat ini, Alea sangat menikmati peran barunya—mengurus suami serta rumah mereka dengan tangan sendiri.


“Ini pekerjaanku, Mas Nathan lebih baik duduk saja.”


Laki-laki tampan yang biasa bekerja di flight deck itu menggelengkan kepala. “Bersih-bersih rumah itu bukan kodrat kamu, Zaujati (istriku). Kodrat kamu sebagai perempuan dan istri adalah menstruasi, mengandung, melahirkan, serta menyusui calon anak-anak kita kelak.”


Alea yang memang tidak menggunakan penutup wajah, karena berada di rumah, bisa merasakan semburat merah mulai menghiasi wajahnya. Anak-anak kita?


“Jadi biarkan aku membantu mengerjakan pekerjaan rumah, lagipula aku juga tidak ada pekerjaan.”


Nathan memang tidak punya pekerjaan yang penting, mengingat ia diberi cuti total untuk menikmati hari-hari pasca pernikahan. Jadi, ia merasa bosan jika hanya diam dan menonton, sedangkan sang istri sibuk mengerjakan tugas ini dan itu. Lagipula benar kata Nathan, kodrat perempuan itu menstruasi, mengandung, melahirkan, dan menyusui.


Menurut kamus besar bahasa Indonesia atau KBBI, kata kodrat dapat diartikan sebagai kekuasaan Tuhan yang mana manusia tidak bisa menentangnya, sesuatu yang sifatnya melekat sejak diciptakan. Dari penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa kodrat perempuan ada empat hal, yaitu menstruasi, mengandung, melahirkan, dan menyusui. Keempat kodrat tersebut juga tidak dapat digantikan oleh pria. Sedangkan melakukan pekerjaan rumah tangga bukanlah kodrat, melainkan pilihan.


Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam jika sedang berada di rumah juga tidak sungkan membantu pekerjaan rumah tangga seperti menyapu, memerah susu kambing, menjahit baju, membeli kebutuhan di pasar, dan sebagainya. Sebagaimana sabda Sayidah Aisyah tatkala ditanya, ‘apa yang Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam lakukan ketika berada di tengah keluarganya?” Sayidah Aisyah kemudian menjawab, “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam biasa membantu pekerjaan keluarganya di rumah. Jika telah tiba waktu salat, beliau berdiri dan segera menuju salat.’


Rasulullah saja tidak sungkan membantu pekerjaan rumah tangga, apalagi Nathan.

__ADS_1


“Aku bisa mencuci baju,” kata Nathan seraya mendekati sang istri. “Aku biasa mencuci baju sendiri semenjak duduk di bangku sekolah menengah atas. Jadi, kamu tidak perlu khawatir soal urusan cuci-mencuci.”


Alea tersenyum tipis seraya mengangkat tangan untuk menyentuh rahang kokoh Nathan. “Baiklah, kalau Mas ingin membantu.”


“Aku juga bisa mencuci piring, menyapu, mengepel….” Kalimat Nathan tidak rampung di ucapkan karena telunjuk sang istri tiba-tiba tersimpan di depan bibirnya.


“Aku masih bisa mengerjakan semua itu, Mas.”


Nathan tersenyum seraya mengecup jari telunjuk sang istri. “Kita gotong-royong supaya cepat selesai.”


Alea tidak dapat membantah, karena ia juga tidak mau membantah perkataan suami. Lagipula niat baik Nathan ingin membantu meringankan pekerjaan rumah tangga, namun Alea yang merasa sungkan. Toh, ia masih mampu mengerjakan pekerjaan tersebut.


“Besok kamu mau berkunjung ke mana dulu?” tanya Nathan. Salah satu tangannya sedang asik mengelus perut ramping sang istri. “Itu ….sudah tidak sakit lagi, ‘kan?”


Alea yang tadinya sedang menyuapi sang suami potongan buah kiwi langsung terdiam. Sekarang adalah hari sabtu, terhitung sudah dua hari semenjak Alea memberikan kesuciannya pada Nathan.


“Masih sakit, ya?”


Mendengar nada risau pada suara sang suami, Alea kontan menggelengkan kepala. “E-nggak kok.”


“Besok jadi keliling?”


“Insya Allah,” jawab Alea. “Memangnya Mas mau bawa aku ke mana?”


“Lembang?”


“Salah satunya,” jawab Nathan. Ia kemudian menerima suapan potongan buah kiwi lagi. Saat ini mereka berdua tengah bersantai setelah gotong-royong mengerjakan pekerjaan rumah tangga. “Pokoknya besok kita pacaran sepuasnya.”


Alea tertawa kecil seraya menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Mendengar kata “pacaran” keluar dari bibir sang suami, terdengar begitu lucu bagi Alea.


“Apa yang salah, hm? Kita belum sempat pacaran, jadi sekarang kita pacaran setelah halal. Mumpung kita belum dikaruniai buah hati.”


Alea mengangguk seraya mengurai tawa. Ia kemudian menatap sang suami yang duduk di sampingnya dengan lekat. “Mas.”


“Iya, Zaujati (istriku)?”


“Hmm, soal momongan ….Mas maunya kita langsung punya?” tanya Alea hati-hati. Sebelum menikah mereka sempat membicarakan topik ini, namun tidak ada salahnya bukan memastikan lagi.


“Kalau aku gimana kamu, Zaujati (istriku). Di sini kamu yang akan mengandung, bukan aku. Lagipula aku juga tahu jika mengandung butuh kesiapan mental dan fisik. Jadi semua kembali kepada kamu terlebih dahulu.”

__ADS_1


“….”


“Kita bisa tunda jika kamu belum siap,” tambah Nathan. “Kita bisa menikmati waktu berdua dulu, baru memikirkan soal momongan jika sudah sama-sama siap.”


“Kalau Mas sendiri, bagaimana?”


“Aku?” Nathan menatap sang istri. “Siap kapanpun Allah memberikan rizki berupa momongan pada kita. Namun, semua kembali pada keputusan kita berdua. Aku tidak boleh egois.”


Alea mengangguk paham. “Aku ….enggak mau use protection, Mas.”


Nathan tersenyum mendengarnya. “Oke. Jika kamu tidak mau menggunakan itu, karena aku tahu tidak mudah bagi perempuan menggunakan perlindungan. Ada resiko yang harus ditanggung dari setiap jenis pencegah kehamilan yang dapat digunakan.” Nathan mengelus perut sang istri kian lembut. “Kalau begitu biar aku yang use protection.”


Alea terdiam, kemudian menggelengkan kepala. “Waktu itu ….Mas Nathan juga tidak use protection.”


Nathan beristigfar kecil. Iya juga. Ia mana ada stok pengaman di rumah barunya, karena ibadah sunah malam jum’at waktu itu tidak direncanakan sejak awal. Lagipula Nathan juga belum pernah membeli pengaman, karena pergi dari kediaman Dwiarga dengan terburu-buru. Mungkin mulai kedepannya Nathan harus ready stok pengaman.


“Terus maunya kamu gimana, Zaujati (istriku)? Satu kali berhubungan bisa memunculkan kemungkinan fifty-fifty.”


“….”


“Atau bagaimana jika kita pergi konsultasi ke dokter atau…” Nathan menghentikan kalimatnya kala sang istri menatapnya lagi. “Kenapa Zaujati (istriku)?”


“Kita ….lakukan secara alami saja, Kak. Kalau memang sudah waktunya diberi rezeki berupa momongan, Alea sudah siap kok.”


Nathan yang mendengar ucapan sang istri kontan tersenyum lebar. “Kamu yakin?”


Alea mengangguk.


“Kalau begitu kita tidak perlu use protection. Lakukan secara alami saja?”


Anggukan kepala kembali Alea berikan sebagai jawaban. Nathan yang gemas sendiri kemudian merunduk, lalu menjatuhkan satu kecupan di kening sang istri.


“Kalau ini keputusan yang kamu setujui, aku malah berharap jika kamu ….cepat mengandung buah hati kita.” Wajah Nathan kian merunduk, lalu berhenti tepat di depan perut ramping sang istri. “Aku tidak sabar ingin segera menyapa kehadiran mereka di sini.”


✈️✈️


TBC


KODE KERAS SUPAYA PAPA ANZAR CEPAT PUNYA CUCU, NYUSUL AYAH VAN'AR 😁

__ADS_1


JIKA SUKA JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR, TABUR BUNGA SEKEBON, DAN TONTON IKLAN JUGA SAMPAI SELESAI 💙


Tanggerang 27-09-22


__ADS_2