
BDJ 30 : NIKAH SIRI
“Kamu sedang apa sih, baby?”
Laki-laki yang tengah sibuk mengunyah itu mengubah mode kamera depan menjadi kamera belakang agar dapat mengambil gambar makanan yang tengah ia santap. Untuk sesaat, piring porselen berisi setengah porsi Aglio olio grilled praw tampak memenuhi layar.
“Oh, lagi dinner? Sendirian aja? Kenapa enggak join sama yang lain?” tanya seseorang di seberang, beruntun.
“Males.”
“Kenapa males? Hitung-hitung bersosialisasi.”
“Males.”
“Astagfirullah, baby. Enggak ada kata lain selain hm, iya, tidak, atau males apa? Kebiasaan. Kalau menjawab pakai kata-kata itu mulu. Atau jangan-jangan kamu masih marah, ya?”
“Marah kenapa?”
Nathan berkata setelah menenggak setengah air putih dalam gelas. Ia sudah merasa kenyang hanya dengan satu porsi yang Aglio olio grilled praw ia pesan dari resto hotel. Padahal satu porsi Aglio olio grilled praw itu tak seberapa banyak. Ia memang sedang malas join dengan yang lain. Ia juga masih kepikiran soal penyerangan yang menimpanya kemarin. Siapa dalangnya? apa tujuannya melakukan itu? pertanyaan-pertanyaan seperti itu terus bermunculan dalam benak.
“Aku, kan, sudah minta maaf. Lagipula aku gak tahu itu your future wife. Kamu enggak pernah kasih fotonya, sih.”
‘Jangankan kamu, aku saja tidak punya fotonya,’ batin Nathan di dalam hati.
“Your future wife pasti salah paham, ya? Atau malah cemburu? Nanti pas ada waktu, aku bantu kamu bujuk dia deh.”
“Enggak perlu. Kami baik-baik saja.”
“Masa? Kok kamu kayak bad mood gitu?”
“Sedang ada sedikit masalah di pekerjaan. Kamu tidak perlu khawatir.”
“Gitu?”
“Hm.”
“Kamu berapa lama sih penerbangan kali ini?”
“1 month,” jawab Nathan seraya membawa peralatan bekas makannya ke wastafel.
“Lumayan lama juga, ya. Padahal kamu lagi proses ta’aruf.” Perempuan cantik yang terlihat sedang mengecat kuku di seberang sana tampak manggut-manggut. “Omong-omong, kalian setuju untuk ta’aruf berapa lama?”
“Maunya satu bulan, tetapi tidak menutup kemungkinan lebih dari satu bulan. Lihat bagaimana perkembangannya saja. Nanti kalau sudah cocok, siap, dan mantap, pasti langsung ke pelaminan.”
“Wah, gercep ya.”
__ADS_1
“Lebih cepat, lebih baik,” jawab Nathan, enteng. Menyulut tawa perempuan di seberang sana.
“Kenapa enggak nikah siri aja dulu, baby?”
“Uhuk-uhuk!”
“Pakai batuk segala. Salting tuh,” goda El. Pemilik suara di seberang telepon. “Kalau udah mantap, dari pada nunggu proses urus dokumen yang ribet dan lama, kenapa enggak nikah siri dulu? Biar halal. Supaya kamu lebih tenang karena sudah meresmikan dia. Belakangan kamu juga sering risau karena ada someone yang kayaknya tertarik sama your future wife, ‘kan?”
Nathan yang baru saja merasakan lega di tenggorokannya pasca tersedak saliva sendiri, langsung berdeham kecil. “Masalah itu harus dibicarakan lagi.”
“Aku tahu kamu sudah secinta itu sama dia, baby. Aku akan selalu mendoakan yang terbaik untuk kalian.”
“Hm. Terima kasih.” Nathan tersenyum tulus walaupun sangat tipis.
Ide nikah siri memang bukan pertama kali muncul ke permukaan. Nathan sendiri sudah sempat berpikiran untuk menikahi sang pujaan hati secara siri. Namun, ide itu masih sebatas wacana sementara. Toh, mereka juga masih tahap ta’aruf. Jika membuahkan hasil yang diinginkan, maka akan ada pembicaraan lebih lanjut untuk membicarakan keputusan terbaik untuk keduanya. Namun, jauh sebelum ini, pembicaraan soal pernikahan juga sempat menjadi topik hangat antara Nathan dan kedua orang tuanya. Nathan sebagai laki-laki yang sudah dewasa, memang sudah memperlihatkan keinginan untuk segera meresmikan hubungan.
Jika ditanya apakah Nathan sudah siap menikah? Jawabannya tentu saja sudah. Hanya saja ia tidak boleh egois karena sang pasangan masih membutuhkan waktu untuk meyakinkan diri. Menikah bukanlah perkara yang mudah. Menikah adalah ibadah. Ibadah dalam jangka waktu panjang yang membutuhkan persiapan matang. Selain itu, alasan lain yang membuat Nathan ingin segera meresmikan hubungannya dengan Alea.
Alasan itu bernama Louis Gallion Anderson Kim. Ya, laki-laki berwajah kaukasia itu jadi alasan terkuat Nathan untuk segera menjadikan Alea sebagai istri. Pasalnya Nathan sudah mengetahui jika Louis tertarik pada sang pujaan hati. Nathan tidak bodoh, ia bisa melihat ketertarikan yang sangat kuat terpancar dari mata abu-abu laki-laki itu. Setiap melihat sang pujaan hati, laki-laki itu terlihat sangat tertarik untuk lebih mengenal sang pujaan hati.
Nathan tentu tidak tinggal diam. Semenjak pertemuan pertama mereka di club night, Nathan sudah tidak menyukai laki-laki itu. Nathan juga sempat meminta salah seorang kenalannya untuk mencaritahu informasi Louis secara detail. Sekarang Nathan sudah mengantongi informasi Louis Gallion Anderson Kim. Informasi yang Nathan dapatkan juga cukup detail dan lengkap, sampai-sampai Nathan tahu track record laki-laki itu mulai dari lingkup pergaulan, bisnis, hingga percintaan.
“El menelpon lagi?” gumam Nathan yang baru saja kembali, setelah pergi ke kamar mandi.
Sambungan teleponnya dengan El sudah terputus sekitar dua puluh menit yang lalu. Sekarang benda pipih berwarna hitam itu kembali berdering. Menandakan ada panggilan yang masuk kembali. Saat mengambil benda pipih tersebut, satu nama tampak tertera menghiasi layar.
“Waalaikum’salam. Nathan, are you okay?”
Nathan tampak menautkan kening saat mendengar kalimat pertama yang diucapkan oleh ayah pujaan hatinya itu. “Alhamdulillah, om. Saya baik-baik saja.”
“Syukurlah kalau begitu.”
Nathan bisa mendengar nada suara yang menghela kelegaan dari seberang.
“Memangnya ada apa, om? Apa ada sesuatu yang menganggu om?”
“Tidak. Sebenarnya ada beberapa hal yang harus saya bicarakan dengan kamu. Ini menyangkut keselamatan Alea.”
Nathan langsung melebarkan mata mendengar ucapan calon ayah mertuanya itu. “Keselamatan Alea? Memangnya Alea kenapa om? Dia baik-baik saja bukan?”
“Untuk saat ini Alea baik-baik saja. Namun, ada yang sedang mengintai keselamatan Alea.”
Ada yang mengintai keselamatan sang kekasih? Jantung Nathan langsung berdetak tak karuan mendengar informasi tersebut.
“Kamu mengenal Louis Gallion Anderson Kim?”
“Iya, om. Saya mengenalnya. Dia adalah CEO Anderson Cooperation.”
__ADS_1
“Kamu harus hati-hati dengar jerk satu itu.”
Nathan mengangguk paham, seolah-olah laki-laki paruh sebaya di seberang bisa melihatnya.
“Ada yang salah dengan jerk satu itu. Beberapa hari yang lalu, orang-orang ku menemukan alat sejenis penyadap. Benda berukuran mikro itu ada di gantungan handphone milik Alea.”
“Gantungan handphone?” ulang Nathan memastikan.
“Iya. Kenapa? Kamu mengetahui sesuatu soal gantungan itu?”
Nathan meremas surai hitamnya, kemudian menjawab. “Sebelum melakukan penerbangan, saya sempat memberikan gantungan yang terbuat dari replika bunga Orchid—Anggrek kepada Alea. Apa yang om maksud adalah gantungan itu?”
“Bukan. Benda itu didapatkan dari gantungan berbentuk kartun tahun 90-an favorit Alea.”
Nathan menghela napas lega mendengar penuturan tersebut. Ia sempat mengira jika benda berbahaya itu ditemukan dari gantungan handphone yang ia berikan pada sang kekasih.
“Gantungan berbentuk replika Bungan anggrek yang kamu maksud masih disimpan dengan baik oleh Alea.”
Nathan tersenyum kecil mendengarnya. Ah, hatinya terasa lega karena barang pemberiannya disimpan dengan baik oleh sang kekasih.
“Kamu harus menjaga diri dengan baik selama berada di sana. Karena jika kamu kenapa-kenapa, putriku pasti akan merasa sedih.”
Untuk beberapa saat Nathan dibuat tertegun karena kalimat calon mertuanya itu. “I-ya, om.”
“Jangan risaukan keadaan Alea. Dia akan baik-baik saja selama berada dalam pengawasan orang tua, om dan keponakannya.”
“Iya. Saya titip Alea selama saya bertugas, om.” Sebelah alis Nathan terangkat saat mendengar suara kekehan yang samar dari seberang. Apa ada yang salah dari ucapannya barusan?
“Kamu ini sudah seperti seorang suami yang menitipkan istrinya saja. Kamu tidak perlu khawatir. Alea akan baik-baik saja. Jaga dirimu saja selama berada di sana. Kemungkinan besar akan ada yang mengincar keselamatanmu juga.”
“Maksud om?”
“Nanti kamu akan tahu jika sudah kembali ke sini. Jadi, lekaslah kembali. Kasihan putriku, ia merindukan kamu.”
Nathan berdeham kecil karena tiba-tiba tenggorokannya terasa kering. Dehaman itu ternyata ditangkap oleh keturunan Radityan di seberang. Sehingga laki-laki paruh baya itu kembali bersuara. Setelah puas tertawa.
“Jika putriku berkenan untuk segera dinikahi, saya akan dengan senang hati menyegerakan pernikahan kalian. Setidaknya jika kalian sudah resmi menikah, kekhawatiran saya akan sedikit berkurang. Namun, semua itu kembali lagi pada keputusan Alea.”
✈️✈️
TBC
Absen dulu yuk, siapa yang masih setia menunggu BDJ update ☝️
Setuju enggak Nathan dan Alea nikah duluan? Jawab di sini 👇
Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author & share ❤️
__ADS_1
Sukabumi 28/06/22