Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
BDJ 117 : KEMBALI BERJUMPA


__ADS_3

Assalamu'alaikum.


Finally bisa nyapa Radityan readers lagi 🫂



Pagi itu kediaman kedua Radityan—lebih tepatnya kediaman Anzar Radityan dan istri kedatangan bunga mawar dan peony yang katanya berjumlah seribu tangkai. Dari sender alias pengirim, bunga itu diketahui berasal dari pemilik nama Leasya Annabeth Carrienella Kim. Seorang angel model yang sangat popular. Terutama di New York, karena ia telah menjadi salah satu role mode para perempuan di sana. Dua jenis bunga yang mewakili berbagai simbol, mulai dari rasa cinta, romansa, persahabatan, kekayaan, kemakmuran, keberuntungan, hingga pertanda baik itu disimpan para pelayan di depan rumah.


Dua jenis bunga dengan beragam variasi warna yang sedap dipandang mata, mulai dari warna merah, putih, merah muda, jingga, ungu, lavender, kuning, hitam, sampai burgundy untuk mawar. Sedangkan warna white, beige, green, light pink, pink, red, mint, blue, dan rose red untuk bunga peony. Warna-warni bunga-bunga itu kian menambah kesan indah di depan rumah Anzar dan Airra.


“Untuk apa bunga sebanyak ini?” komentar Anzar. Pagi itu ia sudah bersiap-siap untuk pergi ke kantor, meninjau pekerjaan putrinya yang sementara waktu ia kerjakan. Namun, sempat urung berangkat karena bunga-bunga tersebut. “Buang-buang uang saja, mubadzir.”


Dilihat sekilas saja, bunga-bunga yang dikirimkan bukan bunga biasa. Melainkan bunga dengan kualitas terbaik dari jenisnya. Bisa kalkulasikan harga per tangkainya berapa dollar dikali seribu sudah ketahuan harganya.


“Tapi, cantik, Mas,” sahut sang istri yang sudah memeluk satu bouquet bunga mawar berwarna burgundy. “Ini mawar Holland grade A.”


Mawar Holland sendiri adalah jenis mawar yang sifatnya tunggal dan memiliki kelopak yang besar serta tebal. Ketahanan bunga setelah dipanen cukup lama yakni berkisar rata-rata 1 minggu.


Anzar mengangguk. Istrinya itu memang seperti almarhumah neneknya—Silvia Radityan—yang suka sekali pada tumbuhan dengan kelopak indah tersebut. Pada dasarnya sebagian besar perempuan di keluarga Radityan memang menyukai bunga, mulai dari almarhumah Silvia, Arkia, Lunar, turun ke generasi berikutnya, seperti Alea, Arrabelle, sampai Kara, istri Arsyad.


“Papah belum berangkat kerja?”


Anzar dan Airra menoleh bersamaan saat mendengar suara putri mereka dibarengi dengan dua langkah kaki yang mendekat.


“Ini Papah sudah mau berangkat,” ujar Anzar seraya mengulas senyum tipis. “Tapi, lupa belum sapa calon cucu-cucu Papah,” tambahnya.


Sang putri yang pagi ini tampak menggunakan abaya berwarna dark blue itu mendekati sang ayah. Anzar tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan untuk menyapa calon cucu-cucunya lewat sebuah usapan lembut dan lantunan do’a. Setelah menyelesaikan ritual baru di pagi harinya, Anzar kembali buka suara.


“Ada kiriman bunga dari model Leasya Annabeth Carrienella Kim. Dia pacarnya pria bermata abu-abu itu bukan?”


Alea tampak terdiam. Ia tidak mengangguk sebagai jawaban, karena ia sendiri tidak terlalu paham tentang hubungan mereka. “Alea tidak tahu hubungan apa yang terjalin di antara mereka, Pah.”


Anzar manggut-manggut mendengarnya. Budaya western tempat mereka dibesarkan, membuat mereka bisa menjalin hubungan begitu dekat dengan pria tanpa mengikat hubungan yang jelas. Anzar awalanya berpikir Louis dan Lea setidaknya adalah sepasang kekasih, mengingat cukup santer terdengar skandal tentang kedekatan mereka. Walaupun pada dasarnya Louis sendiri memang terkenal sebagai Don Juan sejati. Don Juan tentunya berbeda dengan titel playboy.


Don juan adalah istilah untuk seorang laki-laki yang handal dalam menaklukkan banyak wanita, lalu melakukan hubungan seksual dengan para wanita tersebut. Sedangkan playboy adalah istilah untuk laki-laki yang gemar gonta-ganti pasangan.


“Semua bunga ini dikirim oleh Lea?” tanya Lea kemudian.


Anzar dan Airra mengangguk.


“Bukannya perempuan itu ada di Indonesia?” celetuk Anzar tiba-tiba. “Dia ada di rumah utama, ‘kan?”


Seolah baru sadar akan keberadaan Lea yang sempat tinggal di kediaman Radityan, Anzar mencoba mencari tambahan jawaban dari istri dan sang putri.


“Iya, Lea sedang berada di Indonesia,” jawab Alea.


“Apa bunga ini dikirim dari kota ini?” Nathan yang sejak tadi berdiri di samping sang istri ikut angkat bicara.


“Iya. Ini adalah pesan yang tertinggal dari kurir.” Airra memberikan selembar kartu ucapan pada sang putri. Kartu ucapan itu berisi pesan yang ditinggalkan kurir pengirim bunga. Katanya itu pesan dari sender alias pengirim.


“Kemungkinan besar bunga ini bukan dari Lea,” tukas Nathan tiba-tiba.


“Lalu dari siapa?” sahut Anzar. “Apa mungkin ada seseorang yang punya niat buruk lewat bunga-bunga ini?”


Baik Airra, Alea, maupun Nathan kontan terdiam. Ucapan Anzar ada benarnya juga. Bagaimana jika ada yang berniat buruk lewat bunga-bunga tersebut?


“Apa benar bunga cantik ini berbahaya?” gumam Airra yang masih menggenggam satu bouquet bunga berwarna burgundy.


“Taruh lagi, sayang!” seru Anzar kemudian. “Nanti aku minta seseorang untuk menyelidiki bunga-bunga ini dulu.”


Dengan berat hati, Airra pun kembali menyimpan bunga mawar berwarna berwarna burgundy tersebut.


“Papah jangan risau dulu. Bagaimana jika kita menghubungi depot bunganya? Di kartu ucapan ini ada alamatnya,” usul Alea.

__ADS_1


“Benar, Pa. Kita bisa mulai mencari tahu lewat penjualnya,” tambah Nathan. Mendukung saran sang istri.


“Baiklah.” Anzar akhirnya setuju. Pagi yang cerah dan indah begini harus dibuat gamang oleh hadirnya bunga mawar dan peony yang ‘katanya’ dari Lea. Nyatanya, bukan.


“Mas, sebaiknya kamu segera pergi ke kantor. Ini sudah mendekati jam delapan,” ujar Airra kala melihat jarum jam yang melingkari pergelangan tangan sang suami.


“Astagfirullah.”


Anzar beristigfar kecil saat sadar jika ia lupa tujuan utamanya karena bunga-bunga misterius yang dikirimkan ke rumah.


“Kamu pergi ke kantor saja, Mas. Masalah bunga-bunga ini masih bisa kita handle.”


Walaupun Anzar awalnya sempat menolak usulan sang istri, namun pagi ini ia ada jadwal meeting dengan bagian internal. Selain itu ada segunung dokumen yang perlu ia bubuhi tanda tangan dan revisi. Pada akhirnya ia tetep pergi ke kantor pagi itu. Mempercayakan masalah bunga-bunga tersebut pada menantunya untuk diselidiki.


Setelah kepergian Anzar, Airra juga harus pergi ke firma hukum tempatnya bekerja karena ada panggilan. Selepas kepergian mereka, Nathan langsung menghubungi nomer telepon depot bunga yang tertera di kartu ucapan. Pesan yang tersimpan di kartu ucapan itu sendiri adalah ucapan selamat atas pernikahan dan kehamilan pertama Alea. Biasa saja sih, seperti kartu ucapan pada umumnya. Hanya saja karena pengirim yang masih belum jelas, jadilah mereka harus memastikan terlebih dahulu.


“Mas.”


Nathan yang sedang menunggu panggilan diterima oleh seseorang di seberang menoleh kala mendengar sang istri memanggil. “Iya, Zaujati (istriku). Ada apa?”


“Tidak perlu ditelepon, Mas. Sepertinya aku tahu siapa pengirim bunga-bunga itu,” ujar sang istri tiba-tiba. Nathan kontan menurunkan telepon dari telinganya.


“Kamu tahu?”


Alea mengangguk seraya mengelus perut rampingnya. Tempat di mana ada 3 calon buah hati yang tengah tumbuh dan berkembang. “Sir Louis.”


“Kamu yakin?” tanya Nathan. Bohong jika ia tidak terkejut mendengar satu nama yang terlontar dari bibir istrinya.


Alea mengangguk. Dari posisinya saat ini, ia bisa melihat bunga-bunga yang katanya seribu tangkai itu dijaga oleh beberapa pengawal. Bunga-bunga cantik yang tidak bersalah itu harus dicurigai hanya karena masalah sepele.


“Tante Nata baru saja mengirimkan pesan. Dalam pesan itu dikatakan bahwa putranya akan mengirimkan seribu tangkai bunga.”


Nathan mendekati sang istri. Perempuan berpakaian syar’I itu tampak menunjukkan room chat antara ia dan Nata. Walaupun mereka sempat tidak berkomunikasi, perempuan berdarah Korea itu pagi tadi sempat mengirim beberapa butir pesan. Sama seperti Anzar yang sempat khawatir mengenai bunga-bunga tersebut, Nata juga berpikiran sama. Ia takut putranya masih belum sepenuhnya bisa ‘move on’ dari Alea. Jadi, diam-diam Nata berkirim pesan dengan Alea. Takut sang putra punya rencana di balik bunga-bunga yang ia kirimkan.


“Apa informasi itu dapat dipercaya?”


Alea mengangguk. “Aku kenal Tante Nata, Mas. Beliau tidak mungkin berbohong.”


“Baiklah. Lalu sekarang kita harus apakan bunga-bunga itu?” Nathan bertanya seraya mengelus permukaan perut sang istri yang tertutup kain.


“Simpan. Sayang sekali jika dibuang. Kita juga bisa membaginya pada orang lain.”


“Baiklah, sesuai keinginan Zaujati (istriku),” sahut Nathan seraya menjatuhkan satu kecupan di kening sang istri.


Hari ini Nathan punya banyak waktu luang di rumah untuk menemani sang istri, karena orang tuanya, terutama sang ibu telah mengupayakan libur untuk sang putra. Jadi, ia harus menikmati masa-masa libur tersebut dengan sangat baik.


“Mas.”


“Iya. Ada apa? ada yang kamu inginkan, Zaujati (istriku)?”


Alea mengangguk seraya menyentuh punggung tangah sang suami yang masih bermukim di atas permukaan perutnya. “Apa Mas mau menemani aku bertemu sir Louis.”


Nathan tampak menautkan kening. “Kamu yakin ingin bertemu dia?”


Sekali lagi, Alea mengangguk. “Kita harus bicara supaya masalah yang tersisa bisa diuraikan. Jika tidak ada pembicaraan secara baik-baik, sampai kapan pun masalah ini tidak akan selesai.”


Apa yang istrinya katakan memang benar. Masalah tidak akan selesai jika hanya dihindari dan diabaikan begitu saja.


“Kalau kamu sudah yakin, aku akan menghubungi sekretaris ku untuk menghubungi sekretaris CEO Anderson. Kita akan menemui dia untuk menyelesaikan semuanya.”


Alea tersenyum di balik niqob yang ia gunakan. Ia bersyukur memiliki suami seperti Nathan yang selalu bisa mengerti keinginannya. Nathan juga bisa dengan baik memberikan pengertian pada Alea, jika apa yang Alea inginkan tidak dapat dipenuhi.


“Terima kasih karena kamu selalu bisa mengerti aku, zauji (suamiku).”

__ADS_1


✈️✈️


“Ada yang ingin bertemu dengan kamu, Ann.”


“Siapa, ya?” tanya pemilik nama Annante Yosemite tersebut. Ia tampak sibuk sekali mengurusi beberapa dokumen, mengingat ia baru saja bekerja di perusahaan ini. perusahaan star up yang berbasis di Manhattan.


Setelah bersusah payah mengandalkan ijazah serta pengalaman kerja yang ia miliki, akhirnya ia bisa kembali bekerja di perusahaan. Walaupun kali ini ia hanya bekerja sebagai staf secretariat biasa, bukan lagi sebagai sekretaris CEO atau Direktur Utama. Sebelumnya ia sempat bekerja sebagai Costumer Service atau CS, namun pekerjaan itu ternyata kurang cocok untuknya. Jadilah ia mengirim lamaran ke berbagai perusahaan yang sedang membuka rekrutmen.


Kehidupan Annante setelah keluar dari Radityan Cooperation memang bisa dikatakan sulit. Ia yang biasa tampil dengan barang branded mulai kesulitan mencukupi kebutuhannya, karena penghasilan dan pengeluarannya tidak lagi seimbang. Jadi ia harus lebih keras mencari pekerjaan yang sekiranya mumpuni untuk ia lakoni.


“Kami pergi ke kantin duluan, An. Kamu bisa menggunakan ruangan tamu untuk mengobrol,” ujar salah satu teman barunya.


Annante tersenyum seraya mengangguk. Setelah selesai membenahi barang-barang penting bagi pekerjaannya, ia langsung bergegas menemui seseorang yang sudah menunggu di ruang tamu—ruangan yang biasa digunakan untuk ruang tunggu bagi tamu-tamu penting.


Baru saja Annante hendak menyapa, suaranya langsung hilang begitu saja saat melihat siapa yang duduk dan menunggunya.


“Sudah lama kita tidak berjumpa.”


Sapaan itu terdengar cukup ….bersahabat, bagi dua orang yang pernah saling berbagi kehangatan di ranjang. Lantas berpisah begitu saja karena keegoisan masing-masing.


“Apa lagi yang kamu inginkan dariku?” tanya Annante to the point. Ia bahkan tak mau repot-repot duduk di depan lawan bicaranya.


“Tidak ada,” jawab laki-laki pemilik mata abu-abu tersebut.


“Lalu apa tujuanmu mencari ku?”


“We need to talk.”


“About what?”


“Something,” jawab Louis. Yes, laki-laki yang menemui Annante adalah Louis. “I’am sorry.”


“….”


Annante tampak tidak percaya dengan apa yang baru saja Louis ucapkan. Kehadiran laki-laki itu di sini juga sudah seperti ilusi optik baginya. Lalu, apa ini? sebuah permintaan maaf?


“Aku datang untuk meminta maaf secara benar.”


“Untuk apa? lagipula maaf yang kamu ucapkan tidak akan mengubah apapun,” sahut Annante. “Aku ….tidak lagi memiliki kepercayaannya.”


Louis tahu siapa yang dimaksud oleh Annante. Untuk mendapatkan kepercayaan seseorang yang telah dikhianati memang sulit. Butuh waktu juga pembuktian. Namun, Louis yakin jika suatu saat waktu itu akan tiba untuk mereka.


“Maaf telah melibatkan mu,” ujar Louis lagi. Sejak dulu ia memang banyak bermain-main dengan wanita. Namun, pada kasus Annante kali ini berbeda. Ia telah memanfaatkan perempuan yang tulus mencintainya, bahkan rela menusuk temannya sendiri. Secara tidak langsung ia lah alasan yang telah membuat Annante kehilangan kepercayaan Alea. Untuk kemalangan hidup yang dialami Annante saat ini, ia juga merasa ikut ambil bagian.


“Terima kasih telah mencintai pria bermasalah sepertiku. Tapi, aku tidak akan pernah bisa membalas perasaan itu.”


“….”


“Bukan karena Alea alasannya. Jika itu yang kau pikirkan,” lanjut Louis. Walaupun ekspresi wajahnya flat, ia tetap mencoba mengontrol emosi supaya bisa dengan lancar mengutarakan niat baiknya. “Wanita itu adalah Lea. Wanita yang tengah mengandung bayi ku.”


✈️✈️


TBC


Terima kasih buat Readers yang masih nungguin BDJ update 🙏🏻


Belakang aku ada masalah dengan platform, sekaligus sedang sibuk ngurus anak sebelah. Tapi, tenang aja. Insyaallah cerita Radityan baik BDJ maupun BCT bakal rampung semua bulan depan. Supaya tahun baru bisa menyambut kedatangan para Perwira di cerita ku 😘😘


Semoga suka 😘


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon 💐💐💐


MAMPIR JUGA KE UN FAMILIAR BROTHER 👇

__ADS_1


Tanggerang 27-11-22


__ADS_2