Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 86 : DATANGNYA PENGGANGGU


__ADS_3

BDJ 86 : DATANGNYA PENGGANGGU


“Kamu ….sedang apa di sini?”


Laki-laki yang duduk di atas Benelli Motobi 200 evo warna hitam itu tersenyum tipis seraya menjawab pertanyaan tersebut dengan aksi, bukan reaksi. Ia menyodorkan sebuah kantong keresak hitam yang misterius, membuat lawan bicaranya kebingungan. Lagipula sekelas super model sepertinya, biasa menerima benda atau apapun yang dibungkus dengan paper bag, goodie bag, dan sebagainya. Lah, ini, kantong keresek hitam yang harganya ….hm, murah meriah.


“Apa isi dari benda itu?”


“Ambil, buka, dan lihat sendiri.”


“Kenapa bukan kamu yang membukanya untukku?”


Laki-laki yang datang dengan tampilan khas cowok mamba—pakaian hitam-hitam. Julukan mamba sebenarnya diambil dari salah satu girlband asal Korea Utara bernama Aespa, yaitu Black Mamba. Istilah mamba kemudian menggambarkan gaya fashion perempuan atau laki-laki dengan penampilan serba hitam atau warna gelap.


“Apa susahnya tinggal diambil terus dibuka,” komentar laki-laki itu seraya menurunkan santar motor Benelli Motobi 200 evo miliknya. Ia kemudian membuka kantong keresek hitam tersebut, lalu mengeluarkan sebuah dus box berwarna putih. “Katanya kamu mau ini.”


Lea—lawan bicara laki-laki itu mendekat dari arah pintu. Pagi ini ia hanya menggunakan dress rumahan berbahan katun yang nyaman untuk bumil seperti dirinya.


“Ini ….apa?” raut wajah bingung tercipta ketika bumil itu bertanya.


“Serabi.”


“Jadi ini yang namanya serabi?”


“Hm. Mau ini, ‘kan?”


Lea megangguk tanpa sungkan. Senyum tercipta di bibir kala ia mengelus permukaan luar dari perutnya yang masih datar. “Kamu tahu dari mana aku mau makanan ini?”


“Manager kamu tanya Kakak gue. Kebetulan gue ada di luar, jadi sekalian beli.” Leon yang pagi ini tampil begitu santai dengan T-shirt hitam, jeans hitam, sepatu hitam, sampai bisboll hat itu menuturkan dengan jujur.


Leon memang kebetulan mendengar ucapan sang kakak dengan manager Lea. Dua perempuan yang sempat satu alumni itu kebingungan karena Lea tiba-tiba ingin makan jajanan pasar tradisonal bernama serabi, namun Lea ingin membeli serabi itu langsung dari penjualnnya. Penjualnya juga harus berjualan di pasar tradisonal. Leon kemudian berinisiatif untuk menawarkan diri, karena ia tahu kakak serta manager Lea tengah membutuhkan jasa seseorang, yaitu dirinya. Tak tanggung-tanggung, Leon yang telah berkeliling ke beberapa lokasi, ketika menemukan apa yang dicari, ia langsung mengambil video sebagai dokumentasi yang nanti dapat dijadikan sebagai bukti.


Leon membeli beberapa varian surabi untuk Lea, mulai dari surabi original, surabi topping coklat dan keju, surabi topping telur, surabi topping pandan manis, surabi topping oncom, surabi topping nangka, sampai dengan surabi topping kekinian, yaitu surabi topping ayam-keju-sosis.


“Makan. habisin,” kata Leon penuh penekanan. “Gue belinya pake perjuangan.”


“Bukan pakai uang?”


Leon tergelak. Tidak menyangka sekelas super model seperti Lea ternyata bisa bercanda juga. “Kamu nggak papa lama-lama di luar? nanti ada yang ngambil gambar.”


Seolah sadar dengan posisinya saat ini, Lea langsung menampilkan wajah risau seraya menoleh ke kanan dan ke kiri.


“Ya udah, sana masuk. Gue juga mau balik.”


“Kamu nggak mau mampir dulu?”


Leon tampak berpikir untuk beberapa saat. “Gue ada kelas siang.”


“Jadi, kamu tidak bisa mampir? Kalau begitu tidak apa-apa. Mungkin lain kali….”

__ADS_1


“Kelas gue siang, ini masih kepagian,” potong Leon dari atas motornya. Ia lantas mencabut kunci motor, dan berjalan ke arah Lea. “Yuk, masuk. Gue juga harus habis keliling Dago. Kamu nggak mau nawarin gue minum gitu?”


Lea mengangguk seraya tersenyum canggung. Leon itu anaknya to the point. Kalau ada yang ia inginkan, Leo pasti akan segera mengatakannya. Belum genap dua hari mereka saling mengenal, namun hubungan sudah semakin dekat. Leon tampak tidak keberatan dengan kondisi Lea yang sedah hamil tanpa seorang suami. Leon juga tetap peduli tanpa mengulik lebih banyak soal masalah kehamilan Lea. Sifat itulah yang membuat Lea merasa nyaman, karena pada akhirnya ia bertemu seseorang yang dapat dijadikan teman.


“Makan yang banyak. Kalau kurang bilang ke gue, nanti dibeliin lagi.”


Lea mengangguk seraya tersenyum kecil. “Terima kasih banyak, Leon,” ucapnya seraya menepuk-nepuk bahu laki-laki yang lebih muda drinya itu.


“Jangan gitu.”


“Eh, maaf. Aku tidak sopan.”


“Bukan,” ralat Leon. “Dipuk-puk gitu sama perempuan kayak kamu, gawat efeknya ke jantung,” lanjut Leon dalam bahasa Indonesia, tentu saja hal itu mengundang tautan kebingungan di kening Lea.


“Lanjut makan lagi, hiraukan keberadaan gue.”


Lea mengangguk walaupun ia sempat dibuat penasaran. Untuk saat ini, Lea hanya ingin fokus pada makanan yang ia inginkan sejak semalam.


✈️✈️


Getaran panjang yang datang bukan satu kali, namun berkali-kali berhasil membuat tidur seorang laki-laki terganggu. Ia kemudian menyambar benda tersebut, dengan mata yang belum sepenuhnya terbuka, ia mencari tahu apa penyebab dari getaran benda tersebut. Usut punya usut, ada dua panggilan video dan empat panggilan via telepon yang masuk, dan semuanya tidak terangkat.


Helaan napas terdengar saat benda pipih itu kembali terdengar. Mungkin ada informasi yang penting, sehingga adik super jahil dan super selengehan yang ia beri nama ‘skylake’ di kontak handphone-nya, menelpon berulang kali. Ia kemudian melirik sang istri yang tampak terlelap dengan nyaman di atas bantal. Wajah cantik itu tampak damai ketika tertidur. Baru saja memandangi keindahan sang istri selama beberapa detik, gataran handphone kembali membuat ia sadar.


Nathan kemudian menjatuhkan satu kecupan di kening sang istri, lalu menaikkan selimut agar menutupi badan istrinya, baru beranjak dengan gerakan perlahan dari atas tempat tidur. Sebelum mencari tempat yang aman untuk mengangkat telepon, Nathan terlebih dahulu menyambar kaos polos miliknya.


“Wa’alaikum salam, ada apa?” tanya Nathan to the point saat sambungan telepon terhubung. Kamar mandi menjadi tempatnya menerima panggilan dari Gean.


“Langsung ke intinya, Algean,” potong Nathan. Jika mendengarkan prakata sang adik, akan semakin banyak waktu yang terbuang sebelum sampai ke inti pembicaraan.


“Sini, biar gue aja yang bicara. Banyak basa-basi lo.”


Terdengar suara lain di seberang sana. Suara siapa, ya? Kedengarannya suara seorang laki-laki.


“Halo, Abang ipar. Ini gue, Davian Radityan.”


“Davian?”


“Iya, dengan Davian Radityan di sini,” sahut si pemilik nama dari seberang, jenaka.


“Ada apa tiba-tiba menelpon? Semuanya baik-baik saja bukan?”


“No, Captain,” jawab Davian. Meniru suara staff penerbangan. “Ada informasi penting.”


“Informasi tentang apa?” lipatan tercipta di kening Nathan. Menggambarkan bahwa si empunya tengah kebingungan.


“Penggemar fanatik Teh Alea ada di Indonesia.”


Nathan kian menautkan kening mendengar ucapan Davian. Namun, keturunan Radityan itu kemudian kembali melanjutkan, membuat Nathan paham akan maksud dari semua informasi yang hendak Davian sampaikan.

__ADS_1


“Dari bandara Soekarno Hatta, gue dapet laporan kalau orang itu sudah mendarat di Negara ini sejak beberapa waktu yang lalu.”


“….”


“Oleh karena itu, gue sebagai salah satu Radityan yang bertanggung jawab terhadap keselamatan Teh Alea, meminta supaya kalian segera kembali ke mansion Radityan. Dikarenakan mansion Radityan adalah tempat paling aman untuk saat."


Nathan tampak berpikir untuk beberapa waktu. Ia dan sang istri sudah menyusul beberapa schedule selama menghabiskan waktu di Lembang. Namun, sekarang semua schedule itu berada di ujung tanduk.


“Apa tidak bisa dua sampai tiga hari lagi kami berada di sini?” tawar Nathan.


“Bisa banget,” sajut Davian. Bohong jika kalimat itu tidak membuat Nathan lega.


“Akan tetapi sebagai gantinya, gue yang bakal nyusul ke Lembang buat jaga Teh Alea dari jauh.”


“….”


“Satu lagi.”


“Hm?”


“Lo kenal cewek yang namanya Nichole?”


“Nichole?” ulang Nathan dengan raut wajah kebingungan. “Tidak.”


“Yakin?”


“Seratus persen,” ujar Nathan, meyakinkan.


Suara Davian tidak terdengar lagi, namun terganti oleh suara Gean yang tiba-tiba menyelutuk. “Bukannya Kak Nichole itu mantap pacar Abang pas SMA, ya? Mamah juga kenal Kak Nichole loh, karena dulu sering Abang bawa ke rumah.”


Nathan memijit pelipisnya yang tiba-tiba pening.


“Jadi kenal atau tidak?” suara Davian kembali terdengar. Namun, kali in aura dari nada suaranya terdengar deep dan horor sekali.


“Ya ….kenal jika Nichole yang itu.”


“Memangnya ada berapa banyak Nichole di hudup lo, Bang?” tanya Davian lagi, kian mempersulit posisi Nathan.


“Satu, dan itu pun bukan mantan pacar. Kami hanya….”


“Adik kandung sendiri yang barusan bilang kalau si Nichole itu mantan lo, Bang.”


Sebelum sempat menyelesaikan kalimatnya, Davian sudah menyela. Nathan hanya bisa menghela napas kecil seraya beristigfar. Hanya karena mulut ember sang adik yang suka ceplas-ceplos, Nathan bisa-bisa diburu para Radityan di usia pernikahannya dengan Alea yang baru seumur nyamuk.


✈️✈️


TBC


Suka?? jika suka jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘

__ADS_1


Tanggerang 30-09-22


__ADS_2