Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
BDJ 108 : ADAKAH DIA DI PERUTMU?


__ADS_3

“Sarapan, Mas?”


Laki-laki yang datang membawa sebuah majalah bisnis itu mengangguk. Kacamata baca yang bertengger apik di hidung mancungnya, mempertegas ketampanan keturunan Radityan tersebut. Walaupun usianya sudah tidak muda lagi, pesonanya masih tetap terpancar begitu kuat. Sang istri bahkan pernah berpikir jika dengan tingkat ketampanan yang semakin matang, bisa saja membuat banyak daun muda di luar sana terpesona pada suaminya.


“Sayang.”


“Iya. Kenapa, Mas?” tanya sang istri yang tengah memindahkan sup dari panci ke mangkuk.


“Kamu ….yakin kasih aku mango sticky rice buat sarapan?”


Airra tampak terdiam untuk beberapa saat. Sepersekian detik berikutnya ia baru paham apa yang dimaksud sang suami, saat laki-laki itu mengangkat piring berisi mango sticky rice di atas meja makan. Lagipula mana berani ia memberi sang suami sarapan nasi ketan di pagi hari.


“Eh, itu bukan buat kamu, Mas. Pagi ini aku masak sup ayam buat sarapan kamu.”


“Terus ini punya siapa?” heran Anzar.


Hidangan penutup asal negeri Gajah Putih yang terbuat dari beras ketan, santan, serta mangga itu tahu-tahu sudah ada di meja makan saat ia tiba. Anzar jadi berpikir sang istri menyiapkan itu untuk sarapan. Tumben sekali. Anti-mainstream. Walaupun ujung-ujungnya pasti berefek tidak baik bagi perut.


“Itu punya putri kita.”


“Alea?” kebingungan Anzar semakin menjadi-jadi. “Kenapa dia makan mango sticky rice pagi-pagi begini? Ini ‘kan ada ketannya. Tidak baik makan ketan di pagi hari, nanti Alea mulas dan sakit perut,” celoteh Anzar, panjang kali lebar. Daddy protektif mode on.


Nasi ketan memang sangat tidak disarankan untuk dikonsumsi saat sarapan. Efek yang timbul akibat mengonsumsi nasi ketan akan lebih banyak ketimbang bawang putih. Makan nasi ketan di pagi hari dapat menyebabkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari mulas sampai sakit perut. Kandungan pati pada ketan juga tidak baik jika dikonsumsi oleh ibu hamil di pagi hari.


“Tadi Alea sudah sempat sarapan nasi sama sup, Mas. Tapi, sedikit. Katanya tidak nafsu makan.”


Anzar menautkan kening mendengarnya. “Jangan-jangan Alea juga sakit seperti suaminya,” duga Anzar. “Suaminya juga belum sembuh, ‘kan?”


“Nathan katanya sudah merasa lebih baik, Mas. Tinggal mual sama sakit kepala ringan.”


“Masih tidak mau dibawa ke dokter?”


Airra mengangguk membenarkan. “Katanya cukup istirahat saja.”


Anzar tampak tidak suka dengan gagasan tersebut. “Kalau Alea ikut sakit bagaimana? Ck. Mereka itu, benar-benar. Menantuku sakit, tidak nafsu makan, sekarang putriku juga ikut-ikutan tidak nafsu makan.”


Airra tersenyum kecil mendengar celotehan suaminya, sekaligus seorang ayah yang sangat protektif. Bagaimana pun juga Anzar adalah ayah Alea. Cinta pertama Alea. Sebagai seorang Ayah, ia tentu tidak mau jika sang putri jatuh sakit, mengingat Alea jarang sakit. Sekalinya sakit, Anzar adalah orang yang paling cemas melebihi siapa pun. Airra juga cemas, namun ia bisa lebih sabar. Mengingat ia adalah sosok yang dulu mengandung Alea selama Sembilan bulan. Ia tahu kapan waktunya untuk sabar supaya tetap bisa berpikir secara rasional.


“Alea itu sedang suka makan yang asem-asem, Mas.”


“Hm?”


“Aneh, ‘kan? semalam saja putri kita menghabiskan satu buah mangga yang belum terlalu matang seorang diri.”


Lipatan di kening Anzar semakin banyak bermunculan. “Kok bisa? Bukannya dari kecil Alea tidak terlalu suka mangga?”


“Nah, itu. Aku juga berpikir begitu, Mas.” Airra menatap sang suami lekat pasca menghidangkan sarapan untuk sang suami. “Aku jadi mencurigai sesuatu, Mas.”


“Curiga mengenai apa?” tanya Anzar seraya menumpukkan kedua sikunya di atas meja makan.

__ADS_1


“Jangan-jangan putri kita….”


“Putri kita kenapa, sayang??” tanya Anzar, geregetan. Antara penasaran dan risau.


“….hamil.”


Anzar langsung melongo mendengar satu kata tak terduga yang tiba-tiba meluncur bebas dari bibir istri tercintanya. “Kamu bercanda, ya? Mereka menikah belum genap satu bulan, sayang. Masa Alea langsung hamil? Kamu pikir putri kita tidak bisa menjaga diri dengan baik??”


“Ssssttt,” potong Airra cepat. “Kamu diem dulu deh. Terus dengerin aku dulu.”


“Okay. I listening.”


Melihat kepatuhan sang suami, Airra yang sempat dibuat kesal tak kuasa menahan tawanya. Semenjak mereka menikah hingga punya anak, agaknya nama Anzar patut diganti menjadi seperti ini, Keevanzar bucin Radityan.


“Katanya disuruh mendengarkan. Sekarang kenapa malah ketawa?” Anzar bertanya seraya menyentuh lengan kanan sang istri. “Sayang?” panggilnya lagi.


“Iya, iya. Maaf.” Airra menghentikan tawa kecilnya, kemudian merendahkan wajah supaya dapat berbisik pada sang suami.


“Kamu mau kasih morning kiss?” tebak Anzar, kegeeran.


Airra menggelengkan kepala kecil, membuat sang suami menghela napas gusar. Airra kemudian kembali melanjutkan niat awalnya untuk membisikkan sesuatu pada telinga sang suami. Sepersekian detik berikutnya, saat Airra sudah berhasil menjauh dari sang suami, ia bisa melihat perubahan raut wajah yang begitu signifikan.


“Gimana, Mas? kamu satu pemikiran ‘kan sama aku?”


Dengan tegas Anzar menggelengkan kepala. Tanda jika ia tidak satu pemikiran dengan istrinya.


Alih-alih merespon dengan respon yang Airra harapkan, sang suami malah masih tampak shock.


“As’ssalamualaikaum, Papah, Mamah.”


Ketika belum reda rasa shock tersebut, putri semata wayang mereka tiba-tiba datang bersama suaminya. Pasangan pengantin baru itu tampak kompak, tampil dengan pakaian bernuansa putih dan abu-abu. Sang suami mengenakan atasan berupa kaos putih bermotif jejak kaki kucing berukuran kecil di bagian dada sebelah kiri, bawahannya dipadukan dengan celana bahan berwarna abu-abu. Sedangkan istrinya tampil anggun dengan dress syar’I berbahan airlow crinkle yang memadukan dua warna, yaitu putih dan abu-abu.


“Wa’alaikumsalam, sayang,” jawab Anzar dan Airra bersama.


“Ayo duduk, sayang. Kita sarapan bersama-sama,” ajak Airra. “Nathan sudah merasa lebih baik?”


“Alhamdulillah, Mah. Sekarang sudah lebih baik,” jawab si pemilik nama. Ia mengambil posisi duduk di samping kiri, setelah sang istri menduduki kursi yang ia tarik.


“Sudah tidak mual?”


Nathan menggeleng. “Masih, tetapi sedikit.”


“Nanti Alea buatkan teh dengan campuran lemon dan madu supaya enakan perutnya. Mamah sudah ajarkan cara buatnya.”


Nathan mengangguk. Ia kemudian menatap ke arah ayah mertuanya yang sejak tadi menatapnya dengan intens. Kenapa, ya? Ia rasa ada yang ingin ayah mertuanya itu sampaikan. Tapi, kok auranya menyeramkan seperti itu.


“Apa ada yang ingin Papah sampaikan?” tanya Nathan memberanikan diri secara to the point.


“Kalau sakit pergi ke rumah sakit, periksa. Jangan menunggu kondisi kamu semakin parah,” celetuk Anzar, pedas.

__ADS_1


Nathan tentu terkejut akan lontaran kata-kata pedas tersebut. Begitu pula dengan Airra dan Alea yang ikut terkejut.


“Mas, kamu kenapa sih? kok bicaranya gitu sama menantu kita?” lerai sang istri.


Anzar memejamkan mata barang sejenak. Ia baru membuka mata setelah beberapa detik berdiam diri untuk mengontrol emosi yang bergejolak. “Sepertinya bukan kamu yang harus diperiksa,” ucap Anzar kemudian. “Tapi Alea.”


Mendengar ucapan Anzar, Nathan dan Alea kompak saling memandang. Nathan yang sakit, kok tiba-tiba Alea yang harus diperiksa. Maksudnya bagaimana, ya?


“Maksud Papah apa? Alea baik-baik saja.”


Anzar melunak. Ia menatap sang putri dengan senyum hangat yang tersemat. “Begini, sayang. Dalam keluarga Radityan itu ada suatu ciri khas bagi para ihkwan.”


“Ciri khas?” ulang Alea, kebingungan. Di sampingnya, Nathan juga tampak kebingungan.


Anzar manggut-manggut. Ia kemudian menatap putri serta menantunya secara bergantian. “Sudah bukan rahasia di keluarga lagi, jika salah satu Radityan menikah, lantas mereka dikarunia keturunan, maka pihak laki-laki lah yang akan mengalami ciri-ciri yang biasa terdapat pada ibu hamil.”


“….”


“Para istri di keluarga Radityan sangat diberkahi. Buktinya, Allah membiarkan para laki-laki Radityan mengalami sindrom couvade atau kehamilan simpatik. Sindrom ini mengakibatkan para suami cenderung mengalami gejala-gejala yang biasa terdapat pada ibu hamil.”


“Tapi, Alea tidak hamil, Pah,” sanggah sang putri dengan suara kecil.


“Belum, sayang. Bukan tidak,” ralat Airra. “Kita cek dulu, bagaimana? Siapa tahu sudah ada yang hadir di perut kamu.”


Alea terdiam mendengarnya. Namun, kedua tangannya tak tinggal diam. Bergerak, lalu bermukim di atas permukaan perutnya yang masih sangat datar seperti biasa. Tidak berselang lama, satu telapak tangan kokoh ikut bergabung di atas permukaan perutnya. Alea kemudian menoleh, menatap wajah si empunya tangan.


“Adakah dia di perutmu?” monolog Nathan dengan pandangan yang menerawang jauh ke netra bening sang istri.


“Mas,” lirih sang istri. Ada nada ragu dalam lirihnya.


“Ayo kita pastikan, Zaujati (istriku). Siapa tahu dia benar-benar sudah ada di dalam sana,” ujar Nathan penuh keyakinan. Raut wajah tampan itu tampak bersinar cerah, tidak ada lagi raut pucat yang semalam ia lihat.


Apa benar sudah ada malaikat kecil yang bersemayam di dalam perutnya?


Akan tetapi, meraka baru menikah satu bulan. Itu pun belum genap. Alea bukannya meragukan kehendak Sang Pencipta, ia hanya takut membuat orang lain menaruh harapan terlalu tinggi kepada dirinya. Alea takut mengecewakan mereka dengan hasil akhirnya.


“Ingat janji sang Maha Kuasa, sayang.” Anzar berkata, mencoba mengusir keraguan sang putri. Sebagai seorang ayah, ia tahu betul jika sekarang sang putri tengah dirundung keraguan.


“Surat Yasin ayat 82. Jika sang Maha kuasa sudah berkehendak, ‘kun fa yakun’ maka terjadilah apa yang dikehendaki oleh-Nya.”


✈️✈️


TBC


NGGAK JADI HONEYMOON, BABY MOON PUN JADI WKWKWK 🤣😘


Jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, share, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘


Tanggerang 29/10/22

__ADS_1


__ADS_2