
BDJ 64 : SELAMAT TINGGAL
“Lucas kenapa pulang seorang diri? Tadi pergi bersama siapa?”
Sebagai kakak yang tidak terlalu care pada adik sematawayangnya, Louis mulai bersikap lebih akrab semenjak sang adik begitu tergila-gila untuk menempel padanya. Padahal ia pribadi tidak mau dekat-dekat dengan Lucas, karena takut membawa pengaruh buruk. Bagaimana pun juga sebagai seorang kakak, ia ingin yang terbaik bagi adiknya.
“Tadi pergi sama Eonni. Tapi, sepulang dari pusat perbelanjaan, Eonni sakit. Mual-mual, muntah, sampai sakit kepala,” ceritanya.
Wajah anak laki-laki bermarga Kim itu tampak muram saat bercerita. Ia memang pulang seorang diri, diantarkan oleh supir pribadi Lea yang tentu saja dapat dipercaya untuk membawa pulang Lucas pulang dengan selamat.
“Sekarang dimana Eonni Lea?” kini giliran Nata yang bertanya. Ia baru saja hendak membiarkan si sulung pergi, saat si bungsu kembali. Wajah murung si bungsu langsung jadi pusat perhatian mereka.
“Eonni pergi.”
“Pergi ke mana sayang?” Nata bertanya seraya memeluk tubuh mungil sang putra yang mulai bergetar. Sepertinya Lucas shock, sedih, juga kebingungan. “Hospital?”
“No. Eonni tadi bilang mau pulang ke apartemen.”
“Ok. Kalau begitu sekarang Lucas jangan menangis. Eonni pasti baik-baik saja. Nanti kita telepon Eonni Lea dan menanyakan kabarnya.”
“Baik, Eomma.”
Lucas tetap menjawab walaupun air mata sudah membasahi wajahnya. Ia menangis bukan karena takut pulang seorang diri tanpa didampingi, namun karena takut bercampur sedih melihat wajah cantik eonni Lea yang tampak pucat karena menahan rasa tidak nyaman dari gejolak yang ditimbulkan oleh asam klorida di dalam perut. Lucas berpikir jika Lea sakit karena ulah dirinya yang merepotkan Lea seharian. Padahal bukan karena alasan itu Lea sakit, mual, muntah-muntah, hingga pusing. Melainkan karena efek yang timbul akibat hadirnya kehidupan baru dalam rahim Lea.
“Hyung,” panggil Lucas.
Bocah kecil dalam gendongan ibunya itu menyadari kepergian Louis yang diam-diam. Louis yang menyadari usahanya sia-sia, langsung kembali berbalik dan menatap sang adik.
“Ada apa? ada yang Lucas inginkan?”
“Tidak ada,” jawab Lucas seraya menggelengkan kepala. “Apa Hyung tahu kemana Eonni Lea akan pergi?”
“Pergi?”
“Iya, Eonni Lea akan pergi ke tempat yang sangat jauh,” beber Lucas seraya menyembunyikan sebagian wajahnya di bahu sang ibu. “Apa Hyung tahu berapa lama Eonni pergi?”
Louis menggelengkan kepala dengan raut wajah tak terbaca. Ia baru mengetahui informasi tersebut, jadi harus bagaimana ia menjawab?
“Dengarkan Hyung. Eonni Lea bukan pertama kali pergi ke tempat yang jauh. Semua itu Eonni lakukan karena memang Eonni ada pekerjaan di sana. Nanti jika pekerjaannya sudah selesai, Eonni pasti akan segera kembali ke sini.”
Louis akhirnya ikut buka suara. Bagaimana pun juga ia masih memiliki perasaan, sehingga tidak tega jika harus terus-menerus melihat sedih salah satu di wajah orang yang ia sayangi.
Soal Lea yang pergi ke tempat yang jauh, perempuan itu pasti akan menghadiri acara fashion week di salah satu negera Timur Tengah. Lea pernah bicara soal fashion week tersebut. Salah satu acara fashion yang ingin ia ikuti sejak lama, namun baru kali ini ia mendapatkan undangan kehormatan untuk datang secara langsung sebagai partisipan.
Lea pasti pergi untuk alasan itu. Jika bukan untuk alasan tersebut, untuk apa lagi Lea pergi? Lea selama ini pergi ke berbagai Negara untuk urusan pekerjaan.
__ADS_1
Setelah berhasil menenangkan Lucas, Louis baru beranjak dari kediaman orang tuanya. Ia memilih kembali ke apartemen, karena sudah tidak memungkinkan lagi pergi ke perusahaan di saat emosinya tidak stabil. Toh, ia juga jadi kepikiran soal Lea yang katanya sakit. Perempuan itu mual-mual, muntah, bahkan diserang pusing. Padahal sepanjang memori yang Louis ingat, Lea itu jarang sekali terserang sakit, karena daya tahan tubuh yang dimiliki tubuh Lea terbilang strong. Ditambah lagi Lea itu penganut gaya hidup sehat—sebagaimana para super model kawakan di luar sana.
Sebagai super model yang bekerja sama dengan brand-brand kenamaan seperti Victoria’s Secret, Dior, Dolce & Gabbana, Burberry, Louis Vuitton, Channel, dan banyak lagi—membuat Lea mau tidak mau harus pandai menjaga kondisi tubuhnya agar selalu sehat dan bugar.
Tiga puluh menit lebih lima belas detik Louis habiskan untuk berkendara. Selama di perjalanan menuju penthouse super mewah miliknya yang berada di Manhattan, ia sudah berulang kali menghubungi Lea. Namun nomer telepon model berdarah Korea itu sibuk, sehingga tidak dapat menerima panggilan dari Louis satu pun. Sampai Louis menaiki lift, ia masih tetap mencoba menghubungi Lea.
Bohong jika Louis tidak merasa khawatir sedikit saja. Ia khawatir, jujur. Apalagi Lea itu jarang sakit. Pernah sekali sakit parah, itu pun saat Lea mengikuti Fashion Week di Milan saat usia nya belum genap 17 tahun. Saat itu Lea sakit karena terserang malnutrisi.
Usut punya usut, manager terdahulu Lea meminta Lea diet ekstrim agar mendapatkan bentuk tubuh ideal. Lea dilarang makan, dan hanya diizinkan menelan kapas yang telah dicelupkan ke dalam air perasan lemon atau air jeruk jika merasa lapar.
“Lea!”
Panggil Louis saat berhasil membuka pintu penthouse. Ia sudah menghubungi manager dan asisten Lea—katanya perempuan itu tidak memiliki jadwal kerja yang penting hari ini. kemungkinan besar Lea pasti ada di penthouse. Namun, alih-alih perempuan cantik yang ia dapatkan saat memasuki penthouse, Louis malah disambut oleh keheningan yang hakiki.
“Lea,” panggil Louis dengan suara yang mulai memelan.
“Lea.”
Louis berjalan semakin dalam. Master room jadi ruangan pertama yang ia tuju. Namun, perempuan cantik itu tidak ada di sana.
“Anna, please. Aku sedang tidak ingin bercanda.”
Anna adalah nama kecil Lea. Panggilan yang dulu Louis sematkan untuk Lea saat mereka masih kanak-kanak. Akan tetapi, setelah memutuskan untuk menjalin hubungan FWB alias friend with benefit, Louis hampir tidak pernah lagi memanggil Lea dengan nama Anna. Padahal dulu panggilan itu sangat spesial, karena cuma Louis yang memanggil Lea dengan panggilan tersebut.
“Anna!”
Louis memang sempat tidak pulang ke penthouse beberapa hari ke belakang, karena sibuk mempersiapkan rencana licik untuk menculik Alea. Oleh karena itu, ia tidak tahu kapan semua barang-barang milik Lea lenyap bersama si empunya. Padahal selama ini rencana pindah tidak pernah sekalipun tercetus dari bibir Lea.
Kendati demikian, kenapa sekarang perempuan itu malah pergi begitu saja tanpa bicara terlebih dahulu. Apa alasannya? Louis juga butuh penjelasan. Sial.
Louis menguyar rambut hitamnya frustasi. Ia kemudian kembali mengeluarkan telepon pintar miliknya untuk menelepon nomor Lea lagi, tetapi lagi-lagi hasilnya nihil.
“F*ck,” umpat Louis murka seraya melemparkan benda pipih keluaran brand kenamaan itu ke dinding.
Ia kemudian berjalan cepat ke ruangan lain yang biasa ditempati oleh Lea. Tetap saja hasilnya sama, sudah tidak ada tanda-tanda keberadaan Lea di ruangan tersebut. Semua barang-barang yang berhubungan dengan Lea telah menghilang. Menyisakan satu barang, tertinggal di atas meja kerja Louis, yaitu sebuah pigura foto berukuran kecil yang mencetak gambar Louis dan Lea saat keduanya baru saja lulus dari salah satu sekolah menengah atas favorit di Korea Selatan.
Di foto tersebut Lea tampak tersenyum lebar seraya memeluk satu lengan Louis. sedangkan Louis sendiri tampak menampilkan wajah datar ke arah kamera.
Saat tangan Louis terulur untuk mengambil benda tersebut, ternyata ada sebuah post it yang sengaja ditinggalkan Lea. Di atas post it tersebut tertuang kata-kata yang membuat tarikan napas Louis berhenti untuk beberapa saat.

To me you are perfect (Bagiku kamu sempurna)
✈️✈️
__ADS_1
“Kamu sudah yakin dengan keputusan yang kamu ambil?”
Perempuan dengan wajah pucat yang sedang mengobrak-abrik isi koper itu tidak merespon. Ia sedang sibuk mencari sesuatu di dalam koper, tetapi tak keunjung menemukannya.
“Lea, please listen me!”
“Aku yakin tadi baju itu ada di sini,” monolog si pemilik nama.
“Kamu sedang mencari apa memangnya?” seraya menghela lapas kecil, manager Lea akhirnya turun tangan untuk membantu.
“Black oversized T-shirt.”
“Milik ayah dari bayimu?”
“Hmm.”
“Untuk?”
“Dipakai,” jawab Lea sekenanya.
“Bukannya kamu sudah memutuskan untuk menjauhi semua hal yang berhubungan dengan—“
“Dapat!” seru Lea girang. Wajah cantiknya yang pucat tampak dinaungi oleh gurat-gurat puas.
Ia kemudian mengangkat black oversized T-shirt yang sejak tadi ia cari tinggi-tinggi. Lalu mengendus bau khas si pemilik black oversized T-shirt tersebut agar keinginan si jabang bayi yang berada di rahimnya terpenuhi.
“Astaga, Lea. Aku benar-benar kehabisan kata-kata melihat tingkah laku mu,” ungkap manager Lea. Semenjak Lea mengaku tengah berbadan dua, memang ada saja keinginan aneh yang Lea ungkapkan. Untung saja keinginan itu masih bisa diatasi.
“Kita berangkat ke bandara sekarang, Kak.”
Lea beranjak dari posisinya seraya membawa black oversized T-shirt milik Louis untuk digunakan. Ia memang ‘mencuri’ beberapa potong T-shirt yang biasa digunakan Louis sebagai antisipasi. Walaupun ia baru saja mengalami kehamilan pertama, namun Lea sudah banyak belajar dari apa yang ia baca. Tidak seperti kebanyakan perempuan yang langsung negatif thinking saat mendapati dirinya hamil di luar nikah, Lea bisa tetap berpikir rasional karena menganggap bayi dalam rahimnya sebagai anugrah.
Awalnya Lea juga terkejut mendapati jika dirinya tengah berbadan dua. Fakta itu baru diketahui setelah Lea tiba-tiba jatuh sakit. Saat diperiksa oleh dokter pribadinya, Lea disarankan untuk langsung mendatangi poli kandungan. Lea tentu bertanya-tanya, kenapa ia harus datang ke poli kandungan? Ternyata setelah memenuhi usulan dokter, Lea jadi tahu jika ia bukan sakit, melainkan tengah berbadan dua.
“Kamu sudah memikirkan ulang soal keputusan kamu untuk rehat sejenak dari dunia modelling? Sebelum aku mengirimkan konfirmasi pada pihak client dan ambassador, kamu masih bisa berubah pikiran.”
“Iya, Kak. Aku sudah memikirkan semua matang-matang. Aku akan rehat dari dunia modeling selama mengandung.”
“Baiklah. Kalau begitu kamu bersiap, biar aku menghubungi pihak client dan ambassador yang masih terikat kontrak. Kita akan pergi ke bandara kurang dari tiga puluh menit lagi.”
Lea mengangguk. Sepeninggalan manager-nya yang pengertian itu, ia menjatuhkan dirinya di tepi tempat tidur. Dua butir air mata langsung jatuh dari masing-masing kelopak matanya tanpa dapat dicegah. Tidak mudah memang berusaha tetap tegar, padahal hatinya sudah remuk redam di dalam dada.
“Selamat tinggal, Louis. Semoga penyesalan datang begitu lambat, supaya kamu merasakan sakit yang sepadan nantinya.”
💐💐
__ADS_1
TBC
Tanggerang 05-09-22