
BDJ 82 : MENCARI YANG LEBIH BERARTI
Perempuan yang sedang menikmati kue dengan bentuk sangat menyerupai buah lemon itu menatap ke objek di seberang meja dengan tatapan tidak setuju. “Lalu aku pergi dengan siapa, Kak?”
“New tour guide,” jawab perempuan bernama Lilyane tersebut.
“Kakak akhirnya menggunakan jasa pemandu untukku?”
“Bukan. Tour guide kamu adalah adik dari temanku yang kemarin menemani kita.”
“Adik?”
“Iya. Dia seorang mahasiswa, kebetulan sudah paham betul seluk beluk kota ini,” kata Lilyane lagi.
Manager dari Lea itu tampak sedang sibuk mengerjakan sesuatu dengan MacBook iPhone miliknya. Padahal hari ini bumil berkeinginan untuk makan siang di luar, lebih tepatnya di daerah jalan Braga. Hanya saja sedang banyak pekerjaan yang tidak dapat ditinggal si manager, plus tour guide yang biasa mengantar mereka kemana-mana juga sedang berhalangan hadir. Sebagai gantinya tour guide yang kebetulan teman manager Lea itu memberikan opsi lain, yaitu menawarkan adiknya sebagai tour guide pengganti.
Lea yang sedang menikmati mini milk lemon steam cake itu menghela napas pendek. “Aku tidak bisa pergi jika tanpa Kakak.”
“Jangan seperti itu, Lea. Bukannya ini keinginan bayi dalam perutmu?” Lilyane berkata seraya menatap Lea lama. “Pergilah lebih dahulu. Jika sudah menyelesaikan pekerjaan ini, aku akan segera menyusul.”
“Kakak janji?”
“Iya. Sekarang cepat pergi bersiap. Jangan lupa jaga penampilan, takutnya ada paparazi.”
Lea mengangguk, lalu ia beranjak dari kursi yang diduduki. Lea memang tiba-tiba ingin makan di jalan Braga, entah apa alasannya. Ia hanya ingin saja, karena kemarin sempat lewat jalan itu. Pada saat itu jalan Braga sedang dipadati pengunjung, dan Lea tertarik untuk menikmati kuliner street food yang ada di sana. Atau mungkin ini adalah keinginan bayi dalam perutnya yang disebut ….ngidam?
Orang-orang di Negara ini mengenal kata “ngidam” sebagai keinginan yang datang dari si jabang bayi yang ada di dalam perut. Biasanya keinginan itu tergolong keinginan yang aneh.
“Lea, cepat! teman adikku sudah menunggu di depan,” panggil Lilyane.
Perempuan hamil yang menggunakan pakaian santai yang nyaman digunakan untuk beraktifitas di luar ruangan itu bergegas menyambar slim bag Micro lady Dior dari brand Christian Dior warna nude yang pernah dipakai oleh Jisoo BLACKPINK dengan kisaran harga sekitar 44,905,449 juta rupiah.
Lea kemudian pamit, dan bergegas menuju pintu depan. Ketika berhasil melewati pintu tersebut, ia langsung berhenti pada langkah ke-tiga.
“Are you sure you want it to use that (kamu yakin akan menggunakan itu)?” Lea langsung bertanya menggunakan bahasa Inggris yang pasih, alih-alih berkenalan terlebih dahulu dengan laki-laki muda berkulit kecoklatan tersebut.
Laki-laki dengan fitur wajah pribumi dengan tinggi 174 centimeter itu menaikkan satu alis. “Yeah, I’am sure.”
“Tapi kendaraan itu apakah ….aman? bukannya itu terlalu tinggi?” kata Lea seraya melirik ngeri.
“Tinggi apaan? Benelli Motobi 200 evo ini kendaraan paling rendah yang gue punya,” gerutu laki-laki muda itu. “Gue Leon, yang bertugas nganterin lo kemana pun hari ini,” ujarnya kemudian.
Kendaraan yang ia bawa memang bukan kendaraan roda empat seperti apa yang Lea bayangkan, melainkan cruiser yang dibekali mesin bersilinder tunggal, 197cc dengan sistem pengumpan bahan bakar minyak injeksi. Kendaraan roda dua itu tinggi joknya hanya 715mm, seta untuk handling-nya sendiri, jarak stang yang cukup jauh diklaim mampu memberikan kenyamanan ketika berkendara dalam perjalanan yang jauh atau touring.
“Apa?” ulang Lea. Ia merasa tidak paham dengan bahasa laki-laki tersebut.
__ADS_1
“Nggak bisa bahasa Indonesia?” tanya laki-laki muda bernama Leon itu dalam bahasa Inggris.
“Bisa, sedikit,” jawab Lea.
Leon mengangguk paham. “Ya udah, ayo naik,” ajak Leon seraya menyodorkan helm kepada Lea. Namun, Lea urung mengambil benda tersebut. “Kenapa lagi? Tenang aja, nggak bakal jatuh kok.”
Lea tampak berpikir dengan tangan sesekali mengelus perut datarnya. Hal itu ternyata tidak luput dari pantauan netra coklat elang milik Leon. “Oo, bunting.”
“Kamu bilang apa?” tanya Lea.
Leon menggelengkan kepala. “You ....pregnant (kamu ....hamil)?”
Lea terkejut akan pertanyaan itu. Namun, ia kemudian memberikan jawaban dengan anggukan kecil. “Kenapa tiba-tiba bertanya? Itu privasi.”
“Nanya juga demi keselamatan kamu sama si jabang bayi,” sahut Leon. Ia kemudian menepuk-nepuk jok belakang seraya tersenyum kecil. “Sini naik, nggak perlu khawatir. Motornya pendek, jok-nya juga empuk, gue juga bakal bawa motornya pelan-pelan.”
Lea tampak tidak yakin, namun sang manager telah berpesan jika adik dari temannya itu dapat dipercaya, setidaknya untuk saat ini. Lagipula keinginan Lea untuk makan di jalan Braga sudah tidak terbendung, jadi mau bagaimana lagi.
“Kenapa tidak bawa kendaraan roda empat saja?” tanya Lea saat akhirnya menerima uluran helm dari Leo.
“Takut kena macet. Soalnya ini menghadapi akhir pekan.”
Lea mengangguk kecil. Sebagai seorang model papan atas, ini baru pertama kalinya ia bepergian menggunakan kendaraan roda dua. Biasanya ia keluar masuk mobil mewah seperti super cars. Apalagi saat ini kondisinya tengah berbadan dua.
“Kalau semisal gue bawa kamu jatuh, terus kerasa sakit, tenang. Langsung bakal gue bawa ke rumah sakit untuk diberi penangan pertama,” ujar Leon meyakinkan, sembari membantu Lea menggunakan helm.
Lea terdiam. Sungguh, kata-kata laki-laki muda yang masih terasa asing baginya itu berhasil membuat hati kecilnya tersentuh. Selain sang manager dan teman dari ayah si jabang bayi, tidak ada lagi yang mengetahui tentang kehamilan Lea. Kini ditambah dengan kehadiran Leon—si mahasiswa fakultas seni dari salah satu universitas ternama di kota kembang yang tiba-tiba memberikan perhatian-perhatian kecil, namun sangat berarti bagi Lea. Karena Leon adalah orang kedua setelah manager Lea yang begitu care pada fetus dalam rahimnya.
“Ok. Ada lagi?”
“Aku tidak mau menjadi pusat perhatian. Bahkan lebih baik jika kehadiran ku tidak jadi perhatian sama sekali.”
“Noted.” Leon menjawab seraya menghidupkan motor kopling tersebut. “Gue bakal mengutamakan privasi kalian berdua.”
**
“Jack!”
Laki-laki dengan setelan jas formal berwarna hitam itu datang tergopoh-gopoh dari pintu yang baru saja terbuka.
“Iya, Tuan.”
“Apa ini?” sang tuan menunjuk makanan yang telah tersaji di hadapannya.
“Makanan yang Anda minta, Tuan.”
__ADS_1
Louis—yang dipanggil tuan oleh Jack tampak memijit pelipis yang terasa pening.
“Tadi aku memberikan perintah apa padamu, Jack?”
“Anda ingin makan daging yang dibakar dengan cara ditusuk, diberi bumbu bakaran serta saus kacang.”
“Lalu ada yang kamu lupakan?” tanya Louis.
Jack menggelengkan kepala. “Tidak ada, tuan.”
Helaan napas gusar terdengar. Bersamaan dengan itu, Jack sadar jika ia telah kembali membuat kesalahan.
“Tadi aku bilang makanan Indonesia,” kata Louis penuh penekanan. “Olahan daging dari Indonesia yang dibakar dengan cara ditusuk, kemudian diberi bumbu dan saus dari pasta kacang. Lalu apa yang kau bawa?”
“Yakitori, Tuan.”
“Makanan Jepang?”
Jack mengangguk. Yakitori memang mirip dengan salah satu menu makanan popular di Indonesia, yaitu sate. Kedua makanan tersebut sama-sama ditusuk dan dibakar. Bedanya, Yakitori dilumuri saus kecap asin dan berbagai macam bumbu, sedangkan sate dilumuri saus kacang.
“Saya tidak menemukan makanan yang Tuan maksud di sekitar sini.”
Louis merasakan kepalanya kian pening. Ingin makan satu jenis makanan saja, tangan kanannya itu tidak dapat memenuhi. Sial*n. Padahal Louis sangat ingin makan makanan itu setibanya di negeri Gajah Putih untuk mencari sang kekasih.
“Tuan harus sedikit bersabar jika ingin menikmati makanan tersebut. Mungkin makanan tersebut ada yang menjual di Singapura.”
Louis mendengus seraya menatap ke arah sembarangan. “Tidak perlu. Aku akan makan langsung dari tempat asalnya.”
“Baik, Tuan.”
“Pergilah,” usir Louis. “Bawa makanan ini juga. Aku tidak sudi memakannya.”
“Baik, Tuan.”
Setelah memastikan makanan di hadapannya dibawa oleh Jack, Louis kembali berkutat dengan berbagai informasi yang telah terkumpul. Ia memang sudah menyebarkan beberapa mata-mata untuk mencari Lea. Soal kabar kehamilan Lea, Louis memilih mengesampingkan masalah itu. Ia ingin menemukan Lea dulu, baru bertanya secara langsung kepada pihak yang terkait.
Hasil dari penyelidikan Jack tentang bukti-bukti yang Nicho kumpulkan dalam flashdisk yang waktu itu juga diberikan kepada Louis. Ternyata semua bukti berupa video, foto, rekaman, serta beberapa salinan dokumen itu adalah asli, bukan hasil rekayasa. Bohong jika Louis tidak terkejut mengetahui fakta tersebut. Namun, ia tidak mau salah langkah hanya karena praduga-duga. Oleh karena itu, ia memilih untuk mencari Lea terlebih dahulu. Kemudian menggali kebenaran dari kehamilan Lea.
Karena sibuk mencari Lea, Louis juga jadi tidak terlalu fokus pada Alea. Walaupun pada satu sudut hati kecilnya, ia merasa sangat kalah karena telah kecolongan. Ia menginginkan Lea, tetapi tidak rela Alea diperistri laki-laki lain. Serakah. Mungkin satu kata itu mampu mendeskripsikan sikap Louis. Kendati demikian, tanpa ia sadari, sedikit demi sedikit ia mulai mengurangi minat untuk mengejar Alea. Apalagi setelah tahu jika Alea sudah dimiliki. Oleh karena itu, sekarang Loui lebih fokus mencari Lea.
Louis hanya tidak mau mengulang sejarah kelam orang tuanya tanpa ia sadari. Louis tidak mau jadi pengecut seperti ayahnya. Tidak mau dan tidak akan pernah terjadi. Maka dari itu, ia mencari Lea yang keberadaannya sangat penting untuk diketahui.
✈️✈️
TBC
HARI INI ISTIRAHAT DULU DARI PASANGAN BUCIN 😂😂
__ADS_1
Jika suka jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, tabur bunga sekebon dan tonton iklan sampai selesai 😘😘
Tanggerang 26-09-22