
BDJ 81 : BUCIN JALUR HALAL
“Nak Nathan ini pendatang baru, ya?”
Pertanyaan itu datang dari seorang laki-laki paruh baya yang keluar dari masjid bersamaan dengan si pemilik nama. Anggukan kepala kemudian diberikan sebagai jawaban.
“Benar, Pak. Saya baru menghuni rumah saya kemarin.”
“Wah, pantas saja saya baru lihat Nak Nathan jum’atan di sini.”
Nathan tersenyum tipis. Ia memang baru menghuni rumahnya yang berada di daerah Dago atas kemarin sore, jadi ini adalah pertama kalinya ia salat jum’at di masjid setempat.
Dalam Al-Qur’an dan hadist, sudah banyak dalil yang menjelaskan tentang keutamaan serta hikmah salat jum’at. Keutamaan salah jum’at sendiri pada dasarnya disampaikan oleh Allah Azza Wajalla melalui firman-nya yang tertuang dalam kitab suci Al-Qur’an, surat Al-jumuah ayat 9.
“Wahai orang-orang yang beriman! Apabila telah diseru untuk melaksanakan salat pada hari jum’at, maka segeralah kamu mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli.”
Oleh karena itu, salat jum’at sesungguhnya telah dibarengi berbagai keutamaan dan hikmah yang mendatangkan berkah kepada siapa pun yang melaksanakannya. Salah satu keutamaan dan hikmah salat jum’at ialah, hajinya orang yang tidak mampu, seakan-akan puasa dan salat selama satu tahun, diampuni dosanya, diganjar pahala berkurban, serta menunaikan ibadah di hari yang istimewa.
Al-imam Al-syafi’I dan Al-imam Ahmad meriwayatkan dari Sa’ad bin ‘ubadah sebuah hadist yang berarti, “Rajanya hari di sisi Allah adalah hari jum’at. Ia lebih agung dari hari pada hari raya kurban dan hari raya Fitri. Di dalam jum’at terdapat lima keutamaan. Pada hari jum’at Allah menciptakan Nabi Adam dan mengeluarkannya dari surga ke bumi. Pada hari jum’at pula Nabi Adam wafat.
Di dalam hari jum’at terdapat waktu yang tiada seorang hamba meminta sesuatu di dalamnya, kecuali Allah mengabulkan permintaannya, selama tidak meminta dosa atau memutus tali silaturahmi. Hari kiamat juga terjadi di hari jum’at. Tiada Malaikat yang didekatkan di sisi Allah, langit, bumi, angin, gunung, dan batu, kecuali ia khawatir terjadinya kiamat saat hari Jum’at.”
Pada dasarnya, salat jum’at adalah satu kewajiban seorang laki-laki muslim. Selain itu, banyak keutamaan dan hikmah yang dapat diraih ketika melakukan banyak Ibadan pada hari jum’at, termasuk melaksanakan salat jum’at.
“Oh, iya. Nak Nathan ini masih kuliah? Kerja? Atau bagaimana?” Tanya laki-laki lain yang usianya berkisar empat puluh tahunan.
“Kebetulan saya sudah bekerja, Pak.”
“Kerja apa, Nak?”
“Profesi saya adalah pilot, Pak. Jadi pekerjaan sehar-hari saya adalah berkutat di flight deck.”
Empal laki-laki paruh baya—di antaranya dua baru saja bertanya—langsung mengangguk-anggukan kepala dengan raut wajah kagum. Masih muda, tampan, sopan, sudah mapan pula, pikir mereka.
“Masih muda sudah jadi pilot, toh. Masya Allah sekali, Nak Nathan ini,” puji salah satunya. “Sudah punya istri? Kalau belum, putri sulung saya tahun ini baru selesai kuliah magister. Mungkin Nak Nathan berkenan untuk berkenalan.”
“Saya juga memiliki seorang putri yang sudah dewasa dan mapan,” sahut suara lak-laki yang lain. “Dia berprofesi sebagai dokter kandungan.”
“Saya juga punya keponakan perempuan, Nak. Anaknya cantik, geulis pisan malahan. Solehah, pandai memasak, sayang keluarga, dan bla bla bla bla bla.”
Nathan menanggapi obrolan para bapak-bapak itu dengan senyum tipis. Setelah mereka berhenti bicara—lebih tepatnya saling mengenalkan putri serta keponakan perempuannya—barulah Nathan berbicara seraya menangkup kedua tangan di depan dada.
__ADS_1
“Maaf sekali, Pak. Ada yang perlu saya luruskan di sini,” ujarnya dengan nada bicara yang sangat sopan. “Saya pindah ke sini bersama istri.”
Nathan tersenyum tipis, lalu menatap cincin zirconium hitam yang melingkari jari manisnya. Menatap benda bulat tersebut, ia jadi mengingat sang istri yang pasti tengah menunggu di rumah mereka.
“Kami baru menikah satu minggu yang lalu,” tambah Nathan. Informasi tersebut langsung berhasil membuat para bapak-bapak itu bungkam. Gagal sudah harapan mereka memiliki menantu ganteng, dan mapan seperti Nathan. Orang baru menikah, dan pasti sedang hangat-hangatnya.
“Tunggu dulu, Nak Nathan ini ….putra Pilot Al bukan?” tanya salah satu bapak-bapak itu, tiba-tiba. “Kemarin saya lihat video temen saya yang menghadiri acara resepsi pernikahan putra sulung Pilot Al. Mukanya Nak Nathan ini sepertinya tidak asing.”
Nathan tersenyum seraya mengangguk. “Iya. Saya adalah putra sulung pilot Al yang baru saja menikahi putri dari keluarga Radityan.”
Kontan, para bapak-bapak itu meminta maaf karena mereka tiba-tiba bicara ngawur. Mereka baru saja menyombongkan putri serta keponakan mereka, tanpa tahu jika perempuan yang dinikahi oleh Nathan itu memiliki kasta yang lebih jauh di atas mereka.
“Kalau begitu saya duluan, Pak. Istri saya sudah menunggu di rumah.”
“I-ya, silahkan Nak.”
“Mari, Pak. As’ssalamualaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Setelah berpisah dengan bapak-bapak itu, Nathan bergegas pulang ke rumahnya. Ia sudah tak sabar ingin berjumpa dengan istri cantiknya. Karena sengaja tidak membawa kendaraan, ia memilih berjalan kaki untuk mencari masjid yang tidak terlalu jauh. Di sepanjang jalan, Nathan yang hanya menggunakan baju koko berwarna putih, dipadukan bawahan kain sarung, serta sandal jepit dan kopiah hitam di atas kepala, ternyata berhasil membius banyak kaum Hawa yang tidak sengaja berpapasan dengannya. Namun, Nathan tidak menggubris. Ia memilih Gadhul bashar alias menundukkan pandangan. Mengingat ada hati yang ahrus ia jaga di rumah.
Sampai ia tanpa sengaja melihat sosok perempuan non pribumi yang lewat di depan sana. Bukan karena perempuan itu lewat dibonceng oleh laki-laki dengan paras mirip Jefrey Nichol, melainkan karena Nathan menyimpan wajah itu di memorinya. Mereka pasti pernah bertemu dalam ruang dan waktu yang sama, tetapi di mana? New York? Jakarta? atau di mana?
“As’salamualaikum, Ar-rumi, Zaujati (istriku).”
Salam dan sapaan hangat diberikan kala wajah cantik sang istri muncul ketika ia membuka pintu untuk pertama kali.
“Wa’alaikumsalam, Mas.”
Sang istri menjawab salam tersebut, kemudian mengambil punggung tangan sang suami untuk di kecup. Nathan kemudian memberikan balasan berupa kecupan manis di kening sang istri tercinta.
“Mas ganti baju dulu. Terus makan siang. Aku sudah siapkan menu sederhana untuk makan siang.”
Nathan mengangguk. Ia membiarkan sang istri mengambil alih alat salat yang ia bawa, yaitu sajadah dan kopiah. “Kamu belum makan siang?”
Perempuan cantik yang saing ini menggunakan abaya berwarna soft nude itu menggelengkan kepala.
“Kenapa belum makan?” Nathan bertanya seraya memeluk pinggang ramping sang istri.
“Nunggu Mas pulang jum’atan,” sahut sang istri, jujur.
Nathan kembali mengukir senyum seraya menjatuhkan kecupan ringan di pucuk kepala sang istri yang tertutup jilbab. “Kalau begitu kita makan siang bersama. Seperti biasa, satu piring berdua. Sebagaimana sunah Rasulullah.”
__ADS_1
Alea tersentuh mendengarnya. Ia memang sudah mulai terbiasa makan satu piring berdua dengan suaminya. Entah perasaan Alea saja, atau memang faktanya. Akan tetapi, bagi Alea pribadi, makan satu piring berdua dengan suaminya rasanya ia jadi cepat kenyang.
“Ar-rumi, Zaujati (istriku).”
“Iya, Mas?” Alea yang baru saja hendak mengambilkan baju rumahan untuk ganti sang suami, menoleh. Menatap sang suami lekat, menunggu kalimat berikutnya.
“Kamu ….masih kesakitan?”
Alea mengerjap. “Maksudnya?”
Nathan berdeham kecil seraya menghampiri sang istri. Baju koko putihnya kini sudah tanggal, menyisakan kaus dalam berwarna putih. “Pasti masih terasa sakit, ya? Minimal perih dan terasa tidak nyaman,” ucap Nathan kala ia berhasil memeluk tubuh sang istri yang tampak membeku. “Kalau rasa sakitnya bertahan lama dan bertambah parah, kita pergi ke dokter, ya?”
Alea yang lambat mencerna maksud dari perkataan Nathan baru merespon saat dokter dibawa-bawa. “Aku ….sudah tidak apa-apa, Mas.”
“Yakin?”
Alea mengangguk kecil. “Mas tidak perlu khawatir. Semalam Mas tidak melukai Alea sama sekali.”
Nathan membuat jarak dengan cara merenggangkan pelukan agar dapat menatap wajah cantik sang istri. Mencari kebohongan di sana. Pasalnya Nathan khawatir jika perbuatannya semalam masih menimbulkan rasa nyeri pada milik sang istri. Padahal ia sudah sangat berhati-hati dan selembut mungkin dalam bekerja.
Rencana mereka untuk jalan-jalan keliling kota kembang juga harus di-pending. Mau bagaimana lagi, mengingat kondisi sang istri terlihat masih kurang nyaman dengan kondisi salah satu anggota tubuhnya. Nathan jadi sedikit merasa bersalah. Akan tetapi, rasa bersalah itu selalu ditepis dengan baik oleh Ale.
Alea dengan sabar menjelaskan jika kondisinya baik-baik saja. Besok mereka juga bisa mulai agenda untuk keliling, mengunjungi satu per satu bangunan ikonik di kota Bandung.
“Aku benar-benar minta maaf, karena semalam kita melakukan itu, kamu jadi merasa kesakitan dan tidak nyaman.”
Alea menggelengkan kepala seraya ngangkat tangan kanannya untuk membelai rahang kokoh milik sang suami. Ia memberanikan diri, walaupun wajah cantiknya berangsur-angsur memerah. “Semuanya baik-baik saja, Mas. Tidak perlu cemas. Toh, ini adalah rasa yang lumrah dialami oleh para akhwat setelah melakukan hubungan itu untuk pertama kali.”
Nathan tersenyum lebar seraya mengangguk. Ia kemudian membawa wajahnya untuk merunduk, menyentuhkan kening serta hidungnya dengan milik sang istri. “Apa kamu tahu Ar-rumi, Zaujati (istriku). Saat ini aku sedang merasa sangat bahagia.”
“Bahagia karena apa, Mas?” tanya Alea dengan suara kecil, sekilas mirip cicitan.
“Bahagia karena akhirnya punya rumah pulang sendiri, yaitu kamu. Zaujati (istriku) yang menyambut ku ketika pulang dari luar rumah. My beloved wife until jannah.”
✈️✈️
TBC
BUCIN TEROSS, NGGAK TAHU BANYAK YANG JOMBLO 😜
Jika suka jangan lupa like, vote, komentar, follow Author, tabur bunga sekebon, dan tonton iklan sampai selesai 😘😘
Tanggerang 25-09-22
__ADS_1