Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 60 : SIASAT JAHAT


__ADS_3

°BDJ 60 : SIASAT JAHAT


“Pastikan kalian tidak membuat kesalahan sedikitpun.”


Kalimat penuh penekanan diberikan, sebelum akhirnya sambungan telepon ditutup oleh sebelah pihak. Laki-laki yang tengah memegang paper cup berisi Americano coffe itu tampak menyeringai tipis. Saat ini ia sudah standby di bandara JFK, bandara Internasional yang sangat sibuk di New York. Menunggu kedatangan seseorang yang sudah sejak tadi ia coba hubungi. Menurut perkiraan, sebentar lagi rombongan target akan segera datang. Jadi ia tidak perlu menunggu lebih lama lagi.


Kali ini rencana yang telah ia susun matang-matang tidak boleh gagal. Ia hampir gagal menjalankan rencana karena tidak up to date. Untung saja ia mendapatkan informasi terbaru dari salah satu staff Radityan Corp’s. Jika tidak menggelontorkan cukup banyak dollar, ia pasti akan kecolongan karena tidak tahu jika sang pujaan akan bertolak ke kampung halamannya.


“Mr. Louis, rombongan keluarga Anzar Radityan sudah memasuki area bandara,” kata seorang laki-laki yang berpakaian khas office boy bandara JFK.


“Hm. Kembali ke posisi semula.”


“Baik, Mr.”


Louis tersenyum miring sepeninggalan laki-laki berpakaian khas office boy bandara JFK tersebut. Ia memang tidak standby seorang diri, namun ditemani oleh beberapa anak buah. Rencana yang telah ia susun matang-matang tidak akan berjalan lancar, jika tidak ada tim operasional yang handal. Apalagi Louis butuh banyak oknum uantuk menjalankan rencananya se-rapih mungkin.


Oleh karena itu, Louis sudah menempatkan beberapa orang di antara para office boy, office girls, calon penumpang, staff cafeteria, petugas parkir, hingga para penunggu kedatangan.


“Sebentar lagi aku akan membawa mu pergi, baby girls,” lirih Louis seraya menyeringai tipis, kemudian kembali menyesap Americano-nya.


Kali ini ia akan bertindak sedikit ekstrim, namun itu sepadan dengan apa yang akan ia dapatkan. “Jika dengan cara paksa aku mendapatkan kamu, maka akan aku lakukan mula dari sekarang.”


Ketika tengah bermonolog demikian, tiba-tiba saja kedua bola mata abu-abu miliknya menangkap kehadiran seseorang yang sudah ia tunggu-tunggu sejak tadi. Si pemilik sepasang netra bening yang berhasil memikat hati. Perempuan pertama yang membuatnya segila ini.


“Kalian harus segera bersiap di tempat,” ujar Louis memberi komando lewat microphone yang terpasang di jas yang ia gunakan. Ia menggunakan benda tersebut untuk berkomunikasi dengan orang-orangnya yang sudah standby di tempat masing-masing.


✈️✈️


“Alea, kamu mau kemana?”


“Turun, Pa. Bukannya kita sudah sampai?” tanya si pemilik nama. Ia kemudian menatap ke sekeliling lewat jendela mobil yang tertutup rapat.


Saat ini mobil yang mereka tumpangi sudah berada di parkiran bandara. Tapi, kenapa loock door masih belum dibuka? Kenapa pula sang papah menahan langakahnya barusan? Bukankah mereka akan terlambat boarding jika tidak buru-buru turun dari mobil? Mereka saja sudah telat datang ke bandara karena tiba-tiba sang papah harus berkunjung ke suatu tempat.


“Kita tidak turun di sini, sayang.”


“Maksud Papah?”

__ADS_1


Anzar menoleh dari tempatnya duduk. Ia tersenyum tipis melihat kebingungan di amta sang putri. “Hari ini kita pulang sama Om Gemintang.”


“Masya Allah. Papah nggak bohong ‘kan?” tanya Alea dengan ekspresi terkejut yang tergambar di wajahnya.


Anzar bisa melihat itu, walaupun wajah cantik jelita milik sang putri tertutup cadar.


“Iya, sayang,” kata Airra ikut menimpali. “Ini kejutan untuk Alea.”


Alea tersenyum di balik kain penutup wajahnya. Gemintang adalah kaum Adam yang dekat dengan Alea, selain papa serta ayahnya. Ibaratnya tiga orang laki-laki itu adalah orang-orang yang selalu bisa Alea percaya ucapannya. Sejak kecil Alea sudah dekat dengan Gemintan dan istrinya—Mentari. Mereka berdua berperan besar dalam tumbuh kembang Alea kecil. Sama seperti Van’ar dan Aurra. Walaupun terpisahkan oleh jarak, Van’ar dan Aurra tidak segan menghubungi Anzar atau Airra jika merindukan Alea.


Seperti kata Van’ar, Alea itu cocok disematkan panggilan Asy-Syfa. Panggilan yang sesuai dengan makna kelahirannya bagi Anzar dan Airra. Asy-Syfa artinya obat, penawar, penyembuh. Begitulah makna Alea bagi Anzar, Airra, dan bagi orang-orang yang menunggu kehadirannya ke dunia sejak lama.


“Tapi apa boleh Alea turun sebentar? Ada seseorang yang sedang menunggu Alea. Katanya minta bertemu,” ungkap Alea jujur.


“Tidak bisa, sayang,” tolak Anzar baik-baik. “Kita harus segera melakukan boarding. Karena pilot kita kali ini sangat-sangat ekslusif.”


Alea mengangguk. “Alea paham, Pah.”


Gemintang memang pilot eksklusif yang dimiliki oleh keluarga Radityan. Dulu untuk pertama kali Gemintang menjajal skill menerbangkan burung besi sebagai co-pilot, ketika mendapatkan kesempatan untuk mengawal keberangkatan pasangan Van’ar dan Aurra untuk honeymoon ke Bandung. Selain beprofesi sebagai mata-mata yang handal, Gemintang juga pandai dalam bidang menembak, fotografi, serta menerbangkan burung besi.


Gemintang dan Galaksi—saudaranya juga punya hobby antimainstream sejak masih lajang. Hobby itu ialah mengoleksi hewan buas. Sampai saat ini, masih ada dan terpelihara dengan baik di mini zoo milik keluarga Pradipta.


Namun, setelah kehadiran Astronot di kehidupan mereka, hewan-hewan itu satu per satu diserahkan ke kebung binatang terdekat. Mereka risau jika tanpa sengetahuan Astronot kecil mendekati salah satu hewan buas atau berbisa tersebut. Setelah resmi menikah pun, Gemintang dan Galaksi kian membatasi hobby mereka demi keselamatan keluarga kecil mereka. Sekarang tinggal ada beberapa ekor liger—kependekan dari kata lion dan tiger—di rumah, dua pasang burung unta, beberapa ekor rusa, beberapa ekor kura-kura langka, elang dari Amerika Latin, dan sebagainya.


“Kita langsung boarding, Pah?”


Alea kembali bertanya saat mereka diarahkan secara langsung ke hangar pesawat. Alea bahkan hampir dibuat tidak percaya, karena tiba-tiba mobil yang ia tumpangi mengarah ke area yang tidak boleh sembarangan dimasuki.


“Iya. Om Gemintang sudah standby di cockpit.”


“Om ambil posisi jadi pilot?”


“Kebetulan iya,” kata Anzar seraya memeluk bahu sang putri. “Kali ini om Gemintang yang menjajal pekerjaan calon suami kamu.”


Alea menunduk seraya menyembunyikan semu merah yang menjalar di wajahnya. Dua hari tidak berkomunikasi dengan baik, ternyata membuat Alea mudah sekali mengingat laki-laki itu. Apa karena efek dari penyakit bernama malarindu?


“Nah ‘kan jadi kangen calon suami?” goda Anzar seraya menjatuhkan satu kecupan di pucuk hijab sang putri. “Sabar, sayang. Sekitar satu bulan lagi, insya Allah kalian resmi menikah.”

__ADS_1


“Papah bisa baca ekspresi orang kayak Ayah Van’ar, ya?”


“Kok tahu?” sahut Anzar jenaka. “Kenapa? Tebakan Papah benar ‘kan?”


Alea menggelengkan kepala, mencoba menyangkal tebakan sang papah. Hal itu malah membuat sang papah tertawa.


Interaksi manis antara ayah dan anak itu tidak luput dari Airra. Perempuan yang merupakan seorang istri dan ibu itu tampak ikut senang melihat keharmonisan yang tercipta di antara dua orang yang ia cintai sepenuh hati. Ia kemudian mengeratkan pegangan pada handphone miliknya yang baru saja digunakan untuk mengirimkan pesan pada seorang perempuan di luar sana. Seorang perempuan yang sama sepertinya, seorang ibu dan seorang istri. Ia meminta perempuan itu untuk melakukan satu hal, demi menjauhkan putrinya dari sesuatu yang tidak diinginkan. Apalagi menjelang pernikahan, biasanya banyak sekali halangan dan rintangan yang menghadang.


✈️✈️


“Kenapa kalian sampai kehilangan jejak?!”


Bentakan murka itu membuat beberapa orang berpakaian beda menunduk dalam dihadapannya.


“Aku yakin tadi aku melihat target berjalan masuk ke area tunggu. Sekarang kemana ia pergi?”


Louis benar-benar tak habis pikr dengan kebodohan orang-orang yang ia kerjakan. Tadi ia yakin melihat Alea memasuki area bandara, walaupun tidak sempat mendekatinya. Namun, ia kehilangan jejak karena tiba-tiba ada anak muda yang menabrak dirinya. Sekarang sosok itu malah hilang dari jangkauan semua orang-orangnya.


“Siapa yang tadi mengecek daftar penumpang dengan tujuan Jakarta, Indonesia?”


“Saya tuan.” Seorang laki-laki dengan pakaian khas staff kemanan bandara angkat suara. Ia masih menunduk di depan Louis. tidak berani mengangkat kepala. “Setelah saya cek untuk kedua kelinya, ternyata nama-nama yang tuan minta untuk dicek tidak ikut dalam penerbangan dengan tujuan Jakarta, Indonesia.”


“Maksudmu?”


“Kemungkinan besar mereka batal mengikuti penerbangan tersebut. Atau mereka menggunakan rute penerbangan yang lain.”


“F*ck?!” umpat Louis murka. “Bisa-bisanya kalian dibodohi. F*cking idiot!”


💐💐




TBC


MAAF BARU BISA UPDATE LAGI. SEMOGA BISA MENGOBATI RASA RINDU 😘

__ADS_1


Sukabumi 25-08-22


__ADS_2