
...BDJ 22 : MAFIA SON...
..."Darah akan selalu kental dari pada air. Kalimat itu bukanlah kiasan semata bagimu."—Bukan Dijodohkan...
...✈️✈️✈️...
Seorang pria rupawan yang menggunakan outfit semi formal, perpaduan suit dengan sepatu fantofel hitam, tampak asik menikmati wine di gelas berkaki tinggi. Di sampingnya, ada wanita cantik bak supermodel yang baru saja meloncat keluar dari dalam majalah. Dia memang bekerja di dunia showblitz sebagai model busana.
Tubuh ramping berlekuk bak gitar Spanyol-nya terbalut oleh Long dress of shoulder berwarna semi monokrom. Kaki jenjangnya dibalut sepasang heels bertumit tinggi warna hitam dari Jimmy Choo. Di samping terpatnya duduk, ada tas jinjing Hermes miliknya yang tersimpan dengan cantik.
Keduanya tengah menikmati waktu bersama setelah dinner romantic berdua. Menikmati pemandangan kota New york di malam hari sambil menikmati segelas wine.
"Kamu setelah ini mau kemana, Luois?" tanyanya, sambil menyentuh dada bidang lawan bicaranya.
Dari jarak sedekat ini, dia bisa mencium aroma woody, black pepper, dan citrus yang menonjolkan kesan maskulin. Aroma harum mampu membuat kaum hawa jatuh terpikat.
Penhaligon's Blenheim Bouquet adalah parfum andalannya kali ini. Dikenal sebagai parfum para petinggi bangsawan, parfum ini dibuat pada tahun 1902. Mengandung wangi aroma woody, black pepper, dan citrus, parfum ini menonjolkan sisi maskulin yang membuat setiap wanita jatuh hati. Parfum ini dibuat oleh brilian bernama Duke of Marlborough.
"Aku akan bertemu dengan Nuel dan Nicho."
Wanita cantik itu mengangguk. Lantas kembali menikmati wine yang tersisa di gelas berkaki tinggi miliknya. "Kalau begitu, aku harus pergi sekarang."
"Kau sudah mau pergi?"
"Ya. Aku harus pergi ke Milan besok."
"Ada pekerjaan?" Tanya pria bermata abu-abu tersebut. Dia mengalihkan tatapannya untuk sejenak.
"Iya. Sepulang dari Milan, mungkin aku akan pulang ke Seoul. Grandmam-ku sedang sakit, beliau mengharapkan cucu kesayangannya ini pulang."
"Kau berencana pulang?"
"Iya. Ini permintaan Grandmam-ku."
"Hm."
Wanita cantik itu tersenyum kecil melihat reaksi lawan bicaranya. Mereka memang menyewa tempat mereka makan secara privat. Jadi, jangan merasa aneh jika hanya mereka berdua yang mengisi tempat makan mewah yang berada di ketinggian tersebut.
"Don' miss me, Louis." Ujarnya sambil tersenyum manis. Jenis senyuman yang mampu membuat setiap kaum Adam bertekuk lutut pada pesonanya.
Si empunya nama terkekeh kecil. "Bukan aku, tapi kamu. Don't miss me hm?”
"Tidak akan." Jawab wanita cantik tersebut. Detik berikutnya, dia mengikis jarak diantara mereka. Menjatuhkan bibir tipisnya yang terbalut lipstick Chanel berwarna merah kepada bibir pria di hadapannya. Bibir yang selalu membuatnya candu dan ingin berlama-lama bermain di sana.
Mereka berciuman dengan panas untuk beberapa saat. Saling *******, bertukar saliva, dan menyentuh sesuka hati. Sebelum sebuah suara mengintruksi kegiatan keduanya.
"Ekhem."
Keduanya kemudian menghentikan aktivitas panas tersebut. Mengalihkan fokusnya ke arah asal suara itu berada.
"Aku pergi sekarang, baby." Pamit Lea, sambil buru-buru mengambil tas jinjing Hermes miliknya.
Sebelum pergi, Lea menyempatkan diri sejenak untuk mengecup pipi Louis singkat. Hal itu mengundang decak sebal dari Nuel dan tatapan tak suka dari Nicho.
"Bagaimana?" Tanya Louis, menyambut kedatangan keduanya.
__ADS_1
"Kita sudah dapat informasinya." Ujar Nuel.
Pria berjas Navy itu mengeluarkn sebuah dokumen dari tas kerja yang dia bawa.
Louis memang meminta kedua sahabatnya itu untuk menyelidiki insiden di club kala itu. Menggunakan koneksi yang dimiliki oleh Nuel dan Nicho, Louis yakin jika insiden kala itu akan mudah diungkap.
"Mereka kemungkinan besarnya anggota FBI." Ujar Nuel menuturkan.
"You sure?"
"Hm, fifty-fifty. Mereka tidak bisa dilacak lebih lengkap informasinya. Rekaman CCTV juga diretas dari jarak jauh. Peretasnya handal. Dia tidak meninggalkan jejak sedikitpun." Tutur Nuel.
"Dari caranya bergerak, mereka menyelesaikan misi dengan rapih dan bersih. Sudah pasti mereka ini bukan orang biasa." Imbuh Nicho.
Louis mendengarkan penjelasan keduanya dengan seksama. Dia juga tidak menyangka akan berurusan dengan anggota FBI.
"Untuk sementara, jangan terlalu mencolok dulu. Buang SIM Card-mu, ganti dengan yang baru." Usul Nuel.
"Tidak bisa." Ujar Louis.
Dia tidak bisa mengganti kartunya untuk saat ini, karena kartu itu dia gunakan untuk mengakses peretas yang terhubung dengan pujaan hatinya.
"Jangan bilang kalau kamu meminta alat itu untuk menguntit seorang wanita?" Tanya Nuel mengintrogai.
Beberapa hari yang lalu, Louis memang meminta sebuah alat peretas yang harganya lumayan mahal. Benda multifungsi tersebut bentuknya mini dan mudah diaplikasikan. Kinerjanya juga canggih. Tak ayal jika harganya pun lumayan merogoh kocek.
"…."
Louis tidak menjawab.
"Dari ekspresimu, bisa aku pastikan jika itu benar." Kekeh Nicho. Dia bisa menebak jika ucapannya pasti benar. Bukan sehari-dua hari dia mengenal Louis.
"Berani sekali kau mengumpatiku?!" marah Louis.
"Sekarang berikan smartphone-mu. Ini genting!"
Dengan ogah-ogahan, Louis memberikan smartphone miliknya. Nuel memang memiliki kepandaian berlebih di dunia IT. Soal retas-meretas tingkat rendah hingga sedang, dia tentu bisa mengatasinya.
"****. Kau gegabah sekali." Ujar Nuel, beberapa menit kemudian. Dia dengan segera mematikan smartphone milik Luois dan mengeluarkan SIM Card-nya.
"Kau mencoba mengaktifkan alat peretas itu agar terhubung dengan putri CEO Radityan Corp's?"
Luois terhenyak. Begitupun dengan Nicho yang juga terkejut bukan main mendengarnya.
"Damn, jaga bicaramu bastard?!" Umpat Louis kesal.
"Kau ini, stupid!" ejek Nuel kesal.
Luois menatap sahabatnya itu tajam. Emosinya sudah memuncak hingga keubun-ubun. Dia tidak suka jika ada yang tahu jika dirinya tengah menyukai putri CEO Radityan Corp's terdahulu itu.
"My goodness, Louis. Dia itu putri Radityan. RADITYAN. Kau dengar?!" ujar Nuel kesal. "Apa tidak ada wanita lain didunia ini yang mampu membuatmu tertarik selain dirinya? Berani sekali kau berurusan dengan keluarga taipan satu ini!"
"Apa salahnya? Lagi pula, dia pasti akan bertekuk lutut di bawah pesonaku."
"Sombong sekali." Ujar Nicho menyela.
__ADS_1
Luois menatap lawan bicaranya tajam. "Apa yang baru saja kau katakan?"
Nicho tidak menjawab. Dia menyodorkan smartphone miliknya yang tengah menampilkan sebuah artikel. "Baca dan pahami sendiri."
Louis menatap Nicho dengan tajam. Dengan enggan, dia menarik benda pipih tersebut. Membaca apa yang tersaji di layar benda tersebut dengan seksama. Detik berikutnya, dia mengembalikan benda tersebut ke arah Nicho dengan tatapan datar.
"Apa hubungannya denganku? Itu berita lama. Kita bahkan belum hadir di dunia ini." Ujarnya.
"Wanita itu ibumu."
Deg!
"Jaga bicaramu Nicho! Ibuku tidak pernah menjalin hubungan dengan pria itu. Apalagi seorang mafia!" Louis menyalak sambil menggebrak meja.
Membuat benda-benda yang ada di atas meja jatuh berhamburan ke lantai. Dia tidak terima dengan apa yang baru saja Nicho katakan.
"Yeah, itu kebenarannya." Imbuh Nicho. “You’r parents.”
"****. Tidak mungkin." Geram Louis marah.
Nuel yang melihat itu, langsung beranjak guna menengahi Louis yang semakin lepas kendali. "Tenang dulu, Luois. Kita bisa bicarakan ini secara baik-baik." Bujuk Nuel.
Luois menghembuskan nafasnya kasar. Mana bisa dia percaya dengan apa yang dimuat dalam artikel tersebut. Di sana, dibicarakan seorang supermodel yang terlibat cinta terlarang antara pemimpin Mafia yang terkenal kejam dengan seorang eksekutif muda. Dimuat juga beberapa opini-opini redaktur tentang hubungan ketinganya, kecelakaan naas yang menimpa sang eksekutif muda, tertangkapnya sang Mafia, hingga kabar burung mengenai supermodel yang dikatakan hamil di luar nikah.
Luois ingat betul perkataan Ibunya soal Ayahnya. Ayahnya itu meninggal sejak Louis masih berada di dalam kandungan. Ibunya juga pernah bilang, jika dirinya sudah menikah sebelum Luois Hadir.
"Kita tidak bisa menjelaskannya secara rinci, Luois." Nuel kembali buka suara. "Tapi, seseorang pasti bisa menjelaskannya."
"Siapa dia?!" Tanya Louis tajam. “Tunjukan kepadaku siapa yang bisa menjelaskan semua ini!”
"Dia ada di sini." Ujar Nicho. Pria itu beralih, mengedarkan tatapannya ke arah lain.
Tidak lama kemudian, pintu utama dari arah pantry terbuka. Menampilkan seorang pria berpakaian serba hitam, lengkap dengan topi hitam yang menutupi kepalanya berjalan ke arah mereka. Jubah hitam berbulu yang melekat di tubuhnya, tampak membawa kesan misterius.
"Siapa dia?" Tanya Louis bingung.
"Dia—“ ucapan Nuel terjada.
Pria berpakaian serba hitam itu tidak membiarkan Nuel menyelesaikan kalimatnya. Dia sudah terlebih dahulu bersuara, menjeda kalimat Nuel.
"Soon."
Suara deep bass-nya berhasil membuat mereka beralih perhatian. Tidak terkecuali Louis. Mereka bertiga menatap pria tersebut lekat. Mengunci pandangan hanya kepada pria berpakaian serba hitam tersebut.
Detik berikutnya, pria berpakaian serba hitam itu membuka topinya dan mengangkat wajahnya tingi. Menatap ke arah Louis lekat, sambil menyeringai tipis. Detik itu juga, Louis terkejut bukan main di tempatnya berdiri. Dia, baru saja melihat klonningan wajahnya dua kali lipat dari usianya saat ini. What the f*ck?!
...****...
...Yuhuu… Double up seperti janji Author....
...Jadi, jangan lupa KOMENTAR, LIKE, VOTE, SHARE & FOLLOW Author....
...Gimana buat cerita BDJ ini? Makin gereget? Kaget enggak? Mau lanjut lagi?...
...Yok, ditunggu jawabannya ya readers:’D...
__ADS_1
...🔥🔥🔥...
...Sukabumi 16 Juli 2021...