Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 55 : LULUS KUALIFIKASI


__ADS_3

BDJ 55 : LULUS KUALIFIKASI


“Fi, itu prajurit ganteng berbaret jingga di depan rumah siapa? Nggak mau ditawarin masuk atau duduk?”


Gadis dengan hijab pashmina berwarna hijau botol itu tersenyum kecil. “Itu namanya bang Arion. Putra bungsu om Van’ar.”


“Itu putranya om ganteng? Pantesan Masya Allah.”


Raut kaget tampak tergambar jelas di wajah teman-teman gadis dengan hijab pashmina tersebut. “Eh, respon kalian kenapa nggak sopan gitu sama om Van’ar.”


“Ganteng, Fi.”


Alih-alih menjawab pertanyaan tersebut, dua teman si gadis malam berkata demikian dengan mata berbinar.


“Siapa yang ganteng? Om Van’ar atau putranya?”


“Dua-duanya!”


Gadis bernama Shafiya itu tersenyum kecil melihat respon teman-temannya. Objek dari obrolan mereka kali ini ada di ruang tengah, sedang berbicara dengan sang ayah. Shafiya adalah putri seorang Jendral bintang tiga yang merupakan rekan dekat Keevan’Ar Radityan Az-zzioi. Sungguh beruntung bagi Shafiya dan teman-temannya yang hari ini belajar kelompok di gazebo depan rumah, karena mereka juga bisa melihat putra Van’ar yang berparas rupawan. Laki-laki rupawan dengan baret jingga itu sedang berdiri di depan mobil seraya menerima telepon.


“Kalau begitu nanti kita bicarakan lagi di kantor.”


Mendengar suara sang ayah, Shafiya lantas menoleh. Ternyata ayahnya tengah mengantar om Van’ar. Sepertinya pembicaraan mereka telah usai.


“Baik. Kalau begitu saya pamit pulang terlebih dahulu.”


“Iya.”


“As’ssalamaualaikum.”


“Waalaikumsalam,” jawab ayah Shafiya setelah mengantan Van’ar hingga depan rumah. Laki-laki paruh baya bermarga Radityan itu sempat menangkap keberadaan Shafiya lewat ekor matanya, lalu menganggukkan kepala kecil. Shafiya membalasnya dengan anggukan kepala serta senyum tipis. Ia memang cukup mengenal Van’ar, rekan dekat ayahnya yang punya putra dan putri berparas rupawan.


“Ayah sudah selesai?” tanya sang putra kala Van’ar datang seraya menepuk bahu.


“Hm.”


Arion mengangguk mendengar respon singkat sang ayah. Ia kemudian memutari mobil guna mencapai pintu menuju kursi driver. Tanpa ia sadari, sejak tadi gerak-geriknya telah diawasi oleh para calon srikandi. Mereka menatapnya dengan sorot mata berbeda. Mulai dari tatapan suka, puja, hingga damba.


✈️✈️

__ADS_1


“Kami sepertinya datang terlambat.”


“Tentu saja tidak.”


Papa Al dengan segera beranjak dari posisi duduk guna menyambut sang calon besan.


“Maaf jika kehadiran saya membuat Anda beserta keluarga menunggu lama.”


Sekali lagi papa Al memberikan sangkalan lewat gelengan kepala. “Justru sebuah kehormatan bagi kami bisa bersilaturahmi dengan Anda beserta keluarga.”


Van’ar tersenyum tipis. Ia kemudian menoleh pada sang istri yang sudah menghampiri. Bidadari hatinya itu dengan penuh kasih meraih punggung tangannya untuk disalami. Ia pun memberikan elusan ringan di pucuk kepala sang istri seraya memanjatkan sebuah do’a.


“Mereka sudah menunggu mas dari tadi.”


“Hm.”


“Kalau begitu mas duduk dulu,” ajak Aurra. Van’ar tanpa kata langsung menuruti permintaan sang istri. Diikuti oleh Arion yang ikut bergabung bersama para orang tua. Ia sempat menangkap sapaan dari calon abangnya—Gean—lewat senyuman laki-laki itu.


“Tujuan utama kami datang untuk menemani putra sulung kami bersilaturahmi dengan ayah dan bunda calon istrinya, yaitu Anda dan istri.” Papa Al berkata demikian ditujukan pada Van’ar dan Aurra yang kini duduk bersisian.


“Jadi apa yang ingin kamu sampaikan?” tanya Van’ar to the point pada Nathan yang sejak tadi diam-diam mengamati dirinya.


“Saya datang kesini untuk memberitahukan keseriusan saya untuk mempersunting Alea. Putri Anda yang lain.”


Nathan mengangguk.


“Apa yang bisa kamu banggakan sehingga berani mempersunting putri saya?”


Nathan terdiam mendengarnya. Lidahnya tiba-tiba kelu saat mendapatkan pertanyaan seperti itu.


‘Nah, ini, jebakan betmen versi ayah Van’ar,’ batin Gean di dalam hati. Ia kan, sudah berpengalaman. Apalagi dulu ia mendapati ujian seperti ini di kesatuan TNI. Sedangkan sang abang, di hadapan para keluarga inti Radityan.


“Tidak ada yang dapat saya banggakan, karena sebagai seorang manusia, semua yang saya miliki adalah titipan dari yang Maha Kuasa. Saya hanya memiliki keyakinan yang tertanam kuat dalam sanubari, jika saya mencintai juga menyayangi Alea sepenuh hati.”


Van’ar menatap intens lawan bicaranya. Seolah-olah hanya ada mereka di ruangan ini. Dulu ia sempat melihat keberanian penerus keluarga Dwiarga lewat si bungsu yang berani melamar putri kandungnya sendiri. Sekarang, muncul si sulung yang juag memperlihatkan keberanian yang tak kalah besar guna mempersunting putrinya yang lain.


Bohong jika Van’ar tidak senang mendengar kabar bahagia ini. Namun, ia tidak boleh larut dalam euforia terlalu lama. Ia harus memastikan bahwa si sulung dari keluarga Dwiarga yang satu ini sesuai kriteria yang telah ditetapkan.


“Apa yang akhirnya membuat kakak saya menyetujui keinginan kamu untuk mempersunting putrinya?”

__ADS_1


Para audience yang ada di ruangan tersebut ikut dibuat bertanya-tanya setiap kali Van’ar melontarkan pertanyaan. Apakah Nathan bisa menjawab dengan baik dan benar? Atau malah Nathan tidak dapat menjawab karena terjebak oleh pertanyaan Van’ar?


“Mungkin karena beliau sudah bosan melihat rengekan saya.”


Para audience yang terdiri dari para orang tua dan saudara itu kontan terhenyak kala mendengar ucapan Nathan.


“Maksudmu? Tolong perjelas.”


Nathan berdeham seraya mengangguk. “Saya mengenal Alea semenjak duduk di banku sekolah menengah atas.”


‘Wih, udah bucin sejak dini kayak gue si abang,’ batin Gean, ikut terkejut mendengar ucapan sang abang.


“Bandara Seokarno Hatta memberikan cerita tersendiri untuk saya, karena di tempat itu saya pertama kali melihat Alea. Kebetulan papa saya dan papa Alea berteman lama. Semenjak pertemuan pertama itu, saya spontan bertekad memiliki Alea untuk saya sendiri. Katakanlah saya egois, tetapi saya memang menginginkan Alea semenjak hari itu. Jadi saya meminta pada papa saya untuk dipertemukan dengan papa Alea.”


“Lalu apa yang kamu dapatkan dengan cara kekanakan seperti itu?”


Nathan menghela napas perlahan. “Cara saya memang terkesan kekanakan waktu itu. Saya meminta papa untuk menawarkan perjodohan antara saya dan Alea. Namun ide itu ditolak mentah-mentah oleh papa Alea.” Dengan tangan yang bergerak gelisah, Nathan mencoba menenangkan sanubari. “Saya tidak jera waktu itu. Saya kembali meminta tenggat waktu untuk mendapatkan Alea secara benar.”


“Dengan cara?”


“Membuktikan bahwa saya mampu menjadi imam yang baik bagi Alea. Saya membutuhkan cukup banyak waktu untuk memantaskan diri. Sementara itu, saya meminta pada papa Alea untuk menjaga hati Alea untuk saya. Itu adalah bayaran yang setimpal menurut saya.”


“Lah, kok cerita kita alurnya mirip?” celetuk Gean tiba-tiba.


“Algean,” lerai Al. Heran dengan kelakuan si sulung yang tidak tahu situasi dan kondisi.


“Bener kok, pa,” lirih Gean seraya menatapa sang calon mertua.


Van’ar yang mengetahui maksud sang calon menantu tersenyum sangat tipis. “Ternyata memang benar, kualifikasi yang diberikan kakak saya tidak jauh berbeda dengan cara saya melakukan kualifikasi terhadap adik kamu.”


Nathan tampak kebingungan mendengarnya. Berbanding terbalik dengan Gean yang tampak manggut-manggut seraya tersenyum miring. Benar dugaannya, nasibnya dan sang abang hampir mirip.


“Jika kamu sudah lulus kualifikasi yang diberikan oleh kakak saya, itu berarti saya tidak perlu meragukan kamu lagi.”


Setelah berkata demikian, Van’ar tersenyum tipis sembari mengeratkan tautan tangan antara dirinya dan sang istri. Tautan yang sejak tadi tidak pernah terlepas sedikit pun.


“Dengan demikian kamu sudah mengantongi restu untuk memperistri putri kami. Alea Ananta Rumi Al-faruq.”


✈️✈️

__ADS_1


Koreksi Typo 🙏🏻


Sukabumi 06-08-22


__ADS_2