Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 100 : HANYA SEDANG MENGANDUNG


__ADS_3

BDJ 100 : HANYA SEDANG MENGANDUNG


(Revisi Ulang)


“Oke. I mean you have to do it (aku pikir kamu harus melakukannya).”


Laki-laki yang baru saja keluar dari kamar dengan kondisi tengah menerima panggilan itu langsung menyetop pasangan suami-istri yang juga baru keluar kamar.


“Ada apa, Dav?”


“Wait two minutes,” ujar Davian pada seseorang di seberang telepon. Ketika lawan bicaranya sudah mengerti instruksi yang ia beri, Davian lantas menjauhkan benda pipih tersebut dari telinga. Mengalihkan perhatian pada pasangan suami istri di hadapannya.


“Abang sama Teh Alea mau turun ‘kan?”


Pasangan suami-istri itu mengangguk. Entah kebetulan atau apa, mereka memang sering kedapatan mengangguk atau menjawab secara bersamaan semenjak menikah.


“Ada apa?” kini giliran Nathan yang bertanya pada saudara iparnya.


“Jadi begini, di bawah ada tamu. Bisa bilangin suruh tunggu sebentar lagi? Soalnya aku masih ada telepon. Nanti aku turun kalau sudah selesai.”


“Ya sudah, nanti kita sampaikan,” jawab Nathan seraya menggandeng istrinya. “Segera selesaikan telepon mu. Jangan membuat tamu terlalu lama menunggu.”


“Ini juga lagi dipercepat obrolannya,” ujar Davian seraya memijit pelipis. Pening mendera semenjak menerima telepon dari salah satu client yang banyak maunya.


Meninggalkan Davian yang kembali masuk ke dalam kamar, pasangan suami-istri itu kembali melanjutkan langkah untuk ke lantai bawah. Mereka hendak pergi ke taman belakang untuk jalan-jalan sore. Melihat keindahan taman bunga almarhum Silvia yang tetap terjaga hingga beberapa generasi.


Ketika masih berada di anak tangga paling bawah, mereka berdua mulai bisa melihat keberadaan “tamu” yang Davian maksud. Ternyata “tamu” itu sepasang, laki-laki dan perempuan. Mereka sempat mengira cuma laki-laki, mengingat belakangan yang sering bertamu jika atas nama Davian pasti laki-laki. Biasa lah, teman tongkrongan, teman kongkow, atau teman-teman dari dunia maya yang ingin bersilaturahmi selama Davian ada di sini.


Namun, ketika pandangan mereka tidak sengaja bertemu dengan salah satu “tamu” Davian, Alea langsung bisa mengenalinya. Lebih tepatnya mengenali perempuan yang duduk berhadapan dengan Lunar. Sosok cantik itu juga langsung terperanjat dari posisinya, sampai-sampai gelas keramik yang ia pegang jatuh dan pecah.


Alea dan Nathan tidak salah lihat, apalagi salah ingat. Itu memang Lea. Lea yang sama dengan Lea yang mereka temui terakhir kali di rumah sakit kala insiden penembakan yang menimpa Anzar dan Louis. Lea tampak menghindari pertemuan dengan Alea dan Nathan. Padahal perempuan itu telah dengan tulus mengirimkan kado pernikahan. Lantas kenapa ia harus menghindari pertemuan dengan Alea dan Nathan? Pasutri itu bukan orang jahat. Jadi, Lea tidak perlu merasa takut.


“Hey, kenapa?” Leon dengan berani menangkup kedua sisi wajah Lea yang sejak tadi membuang muka ke sembarang arah. “Perut kamu sakit?”


Lea tidak menjawab. Namun, ada gelisah yang terpancar di matanya. Leon tentu saja kepikiran. Ia mencoba memahami Lea dengan segala perubahan perasaannya. Hormon ibu hamil memang berbeda.

__ADS_1


Lunar, Alea, serta Nathan yang menyaksikan interaksi mereka berdua tampak berpikir dari sudut pandang yang berbeda. Di mata Lunar Leon itu sangat gentle. Sebut saja Leon itu tampan dan pemberani. Lunar yakin tahu jika Leon itu usianya di bawah si triple. Itu berarti Leon juga lebih muda dari Lea. Bisa dibilang berondong lah. Tetapi, sikap Leon sangat gentle.


Sedangkan dari sudut pandang Alea dan Nathan, meraka sama-sama sedang berpikir keras soal Lea dan Louis. Kenapa Lea tiba-tiba bisa ada di kediaman Radityan bersama pria asing? Lantas kemana Louis? bukan kah mereka itu tidak pernah berjauhan?


“Duduk dulu,” ujar Leon seraya membawa Lea untuk kembali duduk dengan tenang. “Minum,” katanya kemudian seraya menyodorkan air putih yang juga tersedia di meja depan mereka.


Lea merima tanpa kata.


“Nona Lea kenapa?” tanya Lunar yang punya tingkat kepo luar biasa seperti putranya.


Leon menggelengkan kepala. Ia dengan tenang mengusap jemari Lea yang tampak bertautan dengan cemas. “Kamu kaget karena gue bawa ke kediaman Radityan? Kenapa? Apa gue boleh tahu alasannya?”


“Aku….,” lirih Lea dengan suara kecil. "....malu."


“Malu?” ulang Leon dengan suara agak keras. Hal itu langsung mendapat lirikan peringatan dari Lea. “Malu kenapa?” lirih Leon seraya menahan senyum geli.


Lea menggelengkan kepala. Kemudian dengan sisa keberanian yang masih tersimpan, ia mendongkrak, menatap lawan bicara mereka yang telah bertambah. Pasalnya sekarang Nathan dan Alea sudah bergabung di dekat Lunar.


“Aku tidak tahu jika ini rumah keluarga kamu,” ujar Lea. Dengan mudah mereka tahu jika kalimat itu ditujukan untuk Alea, kecuali Leon. Walaupun pernah memberikan kado lewat jasa kirim, Lea tidak pernah tahu persis kediaman Radityan. Salahnya juga tidak pernah mencari tahu. “Maaf jika kehadiran ku membuat kalian tidak nyaman.”


Walaupun sudah diberi kata-kata “penenang” seperti barusan, Lea tetap merasa jika ia salah masuk rumah. Bagaimana bisa ia berakhir di rumah keluarga besar dari perempuan yang pernah Louis gilai.


Padahal Lea tidak ada sangkut pautnya perbuatan Louis, namun Lea tetap saja merasa sungkan.


“Mereka suami-istri, saudara dari kenalan aku,” ujar Leon. Memberi tahu Lean, takutnya Lea tidak kenal mereka. Padahal jauh sebelum Lea kenal Leo, ia sudah terlebih dahulu mengenal Alea dan Nathan.


Kedatangan Lea ke kediaman Radityan melalui bantuan Leon murni ketidaksengajaan. Lea kira kenalan Leon bukan dari circle Radityan. Ternyata oh ternyata, mereka tetap bagian dari Radityan.


“Kalau aku boleh tahu, apa kamu berada di sini bersama Louis?” Alea hanya ingin tahu. Jawaban Lea nantinya yang akan menentukan kebenaran. Apa benar Louis datang ke Negara ini untuk mencari Lea? Memangnya apa yang terjadi di antara mereka, sehingga Lea pergi meninggalkan laki-laki itu?


“Aku sendiri,” jawab Lea. “Maksudku, berdua dengan manager ku.”


“Lea memang datang berdua dengan manager nya, Kak.” Leon ikut membantu menjelaskan. Sepertinya ada sesuatu yang tidak ia ketahui telah terjadi. Mungkin antara Lea dan Alea, sehingga Lea segan pada Alea.


“Lalu kamu siapa?” kini giliran Nathan yang bertanya.

__ADS_1


“Leon, Bang. Junior Bang Davian pas masih satu tongkrongan,” tutur Leon, memperkenalkan diri.


“Lalu apa hubungan kalian, serta tujuan kalian datang ke sini?” tanya Nathan to the point. Ia memang tidak suka basa-basi.


“Kita cuma teman yang baru kenal, Bang.” Leon menjawab seraya menatap Lea untuk beberapa saat. “Tujuan saya datang ke sini karena ingin bertemu Bang Davian. Saya butuh bantuan dan perlindungan.”


“Perlindungan?” bingung Nathan, Alea, termasuk Lunar.


“Iya. Perlindungan dari….” Kalimat Leon terpotong kala ia mendengar suara mual yang langsung dibekap. “Kamu mual? Mau muntah?”


Lea mengangguk dengan bibir yang ditutup oleh kedua tangan.


“T-ante, kamar mandi terdekat ada di mana, ya? Lea mau muntah.”


Lunar tidak langsung menjawab. Namun melihat kegelisahan Leon, sepertinya Lea benar-benar butuh kamar mandi. Lunar kemudian memanggil satu main untuk menunjukkan letak kamar mandi.


“Mau aku temani?” tawar Leon saat Lea hendak pergi bersama seorang maid.


Lea tidak menjawab. Namun, gelengan kepala ia berikan. Mungkin sudah sangat mual, jadi Lea tak sanggup buka mulut. Leon pun mengalah. Ia membiarkan Lea pergi sendiri, mengikuti seorang pelayan.


“Leon,” panggil Alea. membuat si pemilik nama menoleh. “Ada apa dengan Lea? Apa dia sakit?” ada nada cemas di suaranya.


Leon menggelengkan kepala seraya menumpukkan kedua siku di atas paha. Tangannya kemudian digunakan sebagai tumpuan.


“Lea tidak sakit. Dia hanya sedang mengandung.”


✈️✈️


TBC


Koreksi Typo, pasti banyak 🙏🏻


Belum aku revisi full 😭


Tanggerang 20-10-22

__ADS_1


__ADS_2