
BDJ 111 : PERJUANGAN DUA AYAH
Bagi seorang laki-laki yang sebelumnya tidak pernah menjalin hubungan spesial dengan perempuan manapun, Nathan mencoba melakukan yang terbaik untuk menjadi pasangan ideal bagi Alea. Nathan juga tahu Alea belum pernah menjalin hubungan spesial dengan laki-laki mana pun, jadi ia berusaha memenuhi ekspetasi sang istri tentang laki-laki yang ia pilih sebagai pasangan. Apalagi saat ini mereka telah dititipkan 3 buah hati dari sang Ilahi.
Sebagai seorang suami yang ingin menjadi suami siaga saat istrinya mengandung, Nathan inginnya selalu bersama sang istri. Namun, mengingat pekerjaannya sebagai seorang penerbang, agak sulit untuk mewujudkan keinginan tersebut. Kalian tahu sendiri jika seorang penerbang bisa pergi berbulan-bulan lamanya karena urusan pekerjaan. Niat awalnya Nathan ingin sang istri ikut bersamanya, bekerja, pun sekalian berkeliling dunia. Sayangnya ide tersebut harus dipikirkan ulang, karena saat ini Alea membawa tiga nyawa bersamanya.
Usia kandungan yang masih muda sangat rentan mengalami keguguran. Nathan tidak mau hal buruk itu sampai menimpa istri dan calon anak-anaknya. Ia lebih baik bekerja seorang diri seperti biasa, asalkan sang istri tinggal dengan aman dan nyaman di rumah.
“Tidur yang nyenyak, Zaujati (istriku).”
Nathan berucap lembut setelah menjatuhkan satu kecupan di kening sang istri. Perempuannya itu baru saja terlelap setelah keinginannya untuk mendengarkan sang suami melantunkan lagu Rahmatan lil ‘Alameen milik Maher Zain terpenuhi.
Alih-alih ikut berbaring dan tidur, menyusul sang istri ke pulau kapuk, Nathan malah beranjak. Ada telepon yang tiba-tiba masuk. Getaran dari benda tersebut sudah terdengar beberapa kali. Pasti ada sesuatu yang bersifat sangat penting.
“Halo.”
“….”
Tidak mau membuat sang istri terganggu, Nathan akhirnya memilih menyingkir ke area balkon guna menerima panggilan.
“Ya. Tolong jelaskan secara rinci.”
“….”
Nathan mendengarkan dengan hidmat informasi dari tangan kanannya. Ternyata memang ada yang informasi penting yang ingin disampaikan oleh tangan kanannya, terkait masalah pekerjaan.
Setelah pembicaraan via telepon itu usai, Nathan baru bisa mencerna.
Duduk permasalahannya adalah Nathan diminta kembali aktif di maskapai, jika tidak jadi mengambil cuti untuk honeymoon. Walaupun Nathan adalah CEO di perusahaan keluarga yang berpusat di New York dan Jakarta, ia tetap terdaftar sebagai salah satu pilot yang harus mengabdi pada maskapai sesuai kontra kerja yang masih berlangsung.
Nathan jadi gundah sendiri, karena pada satu sisi ia masih ingin berada di samping sang istri untuk menemaninya melewati masa awal kehamilan. Namun, di sisi lain kehadirannya juga diperlukan. Satu-satunya orang yang bisa dimintai tolong oleh Nathan saat ini adalah adiknya sendiri. Walaupun Gean juga punya jam terbang yang tinggi, setidaknya ia masih diandalkan. Masalah lainnya, Gean juga akan segera melangsungkan pernikahan. Ia pasti akan meminta kelonggaran jam terbang pada pihak maskapai.
“Astagfirullah.”
Nathan beristigfar kecil seraya mengusap surai hitam pekat miliknya. Berat rasanya harus mengambil keputusan.
“Mas.”
Mendengar suara lembut sang istri, Nathan langsung berbalik dan kembali ke dalam kamar. “Kenapa sudah bangun, Zaujati (istriku)?”
“Mas nggak tidur?”
“Tadi ada telepon dari perusahaan,” jawab Nathan seraya mengambil posisi duduk di samping sang istri. “Tidur lagi. Masih ada satu jam empat puluh menit lagi menuju waktu salat Ashar.”
“Mas nggak mau tidur?”
__ADS_1
Nathan tersenyum tipis. Hilang sudah resah di rongga dadanya kala melihat wajah teduh sang istri. “Mau.”
Alea tersenyum tipis, lantas melirik ruang kosong di sampingnya. Tanpa banyak kata, Nathan kemudian beranjak dari tempatnya duduk. Ikut bergabung bersama sang istri. Mengisi ruang kosong di samping istrinya.
“Tidur.”
“Iya, Mas.”
“Rasulullah Shalallahu Alaihi Wasallam berpesan, jangan tidur sebelum melaksanakan empat perkara, yaitu….”
Alea mendongkrak kala sang suami membuatnya berbaring dengan bantalan lengan kokoh laki-laki rupawan tersebut. “Pertama, membaca surat Al-ikhlas sebanyak tiga kali, maka pahalanya sama dengan mengkhatamkan Alquran. Kedua, melantunkan sholawat kepada Nabi sebanyak tiga kali. Ketiga, membaca istighfar sebanyak tiga kali. Keempat, membaca 'Subhanallah wal hamdulillah wala ilaha illahu wallahu akbar' ibarat telah melakukan haji dan umrah.”
“Masya Allah, benar sekali,” ucap Nathan seraya menjatuhkan satu kecupan di kening sang istri.
Momen-momen seperti ini lah yang belum ingin Nathan lewatkan. Mereka baru menikah, bahkan belum genap satu bulan. Rasanya belum cukup banyak kebersamaan yang mereka lewatkan, ditambah lagi sekarang Alea juga tengah hamil muda. Berat bagi Nathan untuk kembali ke dunia kerja yang begitu hetic. Jika ia kembali dalam waktu dekat, entah ia bisa membagi waktu untuk pekerjaan di kantor, maskapai penerbangan, serta untuk keluarga kecilnya atau tidak.
Entahlah. Mungkin Nathan harus minta petunjuk dulu kepada-Nya agar dipermudahkan dalam mengambil keputusan.
✈️✈️
“Sekarang kamu jadi banyak makan, ya?”
Pertanyaan yang tidak sengaja dilontarkan oleh ibunya, berhasil membuat seorang laki-laki yang sedang menikmati kimchi fried rice atau nasi goreng kimchi itu tersedak hebat. Sang ibu yang melihat itu tentu tidak tinggal diam. Ia dengan segera menyodorkan segelas air putih guna meredakan tenggorokan sang putra yang pasti terasa pedih.
“Pedas?” tanyanya risau. Melihat wajah sang putra yang berubah menjadi merah, ia jadi merasa bersalah. “Mau eomma ambilkan susu full cream?”
“Maaf, sayang. Gara-gara eomma, kamu jadi tersedak.”
Louis menggeleng seraya tersenyum tipis. “Bukan salah eomma.”
Nata tetap merasa bersalah karena akibat dari pertanyaannya barusan, sang putra jadi tersedak. Padahal tidak apa-apa jika sang putra belakangan banyak makan. Itu malah lebih baik, ketimbang mogok makan seperti awal-awal Lea menghilang. Selain makanan, Louis juga terkadang menginginkan makanan manis yang terbilang susah dicari. Walaupun begitu, ada Jack yang selalu siap siaga guna mencari.
“Belakangan ini memang ada yang aneh dengan diriku, eomma.”
“Maksudnya?”
Louis menyenderkan punggung pada sandaran kursi. “Entahlah, eomma. Aku rasa aku sedang mengidap sebuah syndrome.”
“Syndrome?” kaget Nata. “Kamu sakit, sayang? Kenapa tidak bilang sama eomma??” tanyanya retoris.
Louis memang belakangan jadi sering mampir ke rumah, karena katanya jika tinggal di Penthouse terlalu lama, ia jadi teringat terus pada Lea. Alhasil Louis lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah. Kadang ia kerja sampai lembur, kadang juga turun langsung meninjau proyek di lapangan. Seringnya ia mampir ke rumah orang tuanya. Di sana ia bisa main bersama Lucas, atau pun Blossom.
“Apa eomma pernah dengar soal syndrome couvade?”
Nata mengangguk. “Kehamilan simpatik?” ia menatap sang putra dengan mata memicing. “Kondisi itu biasanya dialami oleh seorang laki-laki, jika pasangannya sedang mengandung. Kehamilan simpatik atau syndrome couvade sendiri adalah masalah yang terjadi pada seorang pria, ketika pasangannya sedang hamil maka ia yang akan mengalami gejala kehamilan.”
__ADS_1
Louis manggut-manggut mendengarkan penuturan sang ibu. Benar sekali. Ia juga sempat mencari tahu lewat healthpedia, bahkan sempat bertanya langsung pada dokter.
“Lalu, apa hubungannya dengan kamu?”
“Aku rasa ….aku sedang mengalami itu, eomma.”
“Jangan bercanda!” nada bicara Nata naik satu oktaf mendengar ucapan sang putra. “Mana mungkin kamu mengalami syndrome couvade, sedangkan kamu tidak memiliki istri, atau kekasih yang sedang mengandung.”
Sadar jika sang ibu mulai curiga, Louis kembali menegakkan punggung. Kedua tangannya ia pindahkan ke atas meja, dengan posisi siku sebagai tumpuan. “Louis punya Lea, eomma. Begitu pun sebaliknya.”
“Jangan bilang….”
Louis mengangguk. Mengiyakan apapun prasangka pertama yang tercetus di kepala sang ibu.
“Bagaimana bisa, Nak? Lalu ….sekarang di mana Lea? Kenapa orang tuanya saja tidak tahu di mana Lea berada??” tanya Nata retoris.
“Wanitaku ada di tempat yang aman, eomma. Dia baik-baik saja. Begitu pula dengan bayi kami.”
Nata sungguh tidak percaya dengan fakta yang baru saja dibeberkan sang putra. Namun, jika memang itu adalah kebenarannya, lantas kenapa sang putra masih santai-santai saja di sini? Sedangkan di luar sana ada perempuan yang sedang mengandung benihnya.
“Mungkin jika informasi yang aku dapatkan akurat, saat ini bayi kami berusia dua belas atau tiga belas minggu. Kata Jack, bayi seusia itu baru sebesar buah jeruk dengan berat sekitar 15 gram.”
Ketika menjelaskan, tampak raut wajah bahagia yang tersirat di wajah rupawan putranya. Nata tidak buta. Ia bisa melihat kasih sayang yang tulus di mata Louis. Padahal putranya itu tipikal orang yang minum ekspresi dan pelit berbagi kasih sayang. Lantas kenapa putranya tega membiarkan Lea berjuang seorang diri?
“Aku juga sangat ingin menghampiri mereka, eomma. Awalnya aku sempat ragu dan kecewa, karena tahu kabar kehamilan itu dari si bajing*n Nicho yang sejak dulu terobsesi untuk meniduri wanitaku. Belakangan Jack berhasil mengumpulkan banyak bukti, termasuk bukti bahwa aku adalah ayah biologis dari bayi yang dikandung wanitaku.”
Nata mulai tergugu dalam posisi duduk di depan sang putra. Tak berbeda jauh dengan putranya yang juga menampilkan ekspresi yang begitu putus asa.
“Sekarang yang bisa aku lakukan adalah memberinya waktu untuk berpikir. Jika situasi dan kondisinya sudah lebih memungkinkan, aku akan segera menghampirinya.”
Nata menatap sang putra dengan lamat-lamat. Ia tidak menyangka jika kisah di masa lalu akan terulang kembali. Ayah dan anak sama-sama menyakiti wanita yang sebenarnya sangat mereka cintai. Namun, dengan cara itu pula akhirnya mereka dapat saling terikat. Iya kemudian bicara dengan pandangan yang tak terlepas dari putranya.
“Eomma cuma minta satu hal.”
“….”
“Tolong jangan egois. Apapun yang nantinya Lea ambil sebagai keputusan terakhir, tolong hargai keputusannya. Termasuk jika Lea tidak mau berhubungan lagi dengan kamu, sekalipun ada perantara berupa anak di antara kalian.”
Mendengar ucapan sang eomma, seketika itu pula Louis merasa dunianya akan segera runtuh.
✈️✈️
TBC
ENAKNYA LOUIS DIAPAIN SEBELUM ENDING??
__ADS_1
Tanggerang 4/11/22