Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 31 : MUSUH DALAM SELIMUT


__ADS_3

BDJ 31 : MUSUH DALAM SELIMUT


KOREKSI TYPO YA, SOALNYA TADI REVISINYA BURU-BURU 🙏🏻



“Ada urusan apa sampai-sampai kamu repot-repot memanggilku ke sini?”


Perempuan yang memiliki rambut berwarna pirang itu buka suara. Padahal ia baru saja tiba, namun langsung bertanya secara to the point. Ia memang sengaja datang terlambat karena tidak mau menunggu terlalu lama. Padahal lawan bicaranya sudah datang sepuluh menit sebelum jam meet up yang telah disepakati.


“Duduklah terlebih dahulu, Ann. Mungkin kamu juga ingin memesan segelas coffe semi freddo with biscuit? Hari ini cukup terik. Kamu biasa memesan itu saat cuaca terik seperti saat ini.”


‘Damn, dia bahkan berbasa-basi dengan menawarkan minuman favoritku,’ batin perempuan berambut pirang yang siang ini hadir menggunakan sleeveless A-line mini dress tanpa lengan yang dibuat dari bahan wol dan sutra dari brand fashion kelas dunia, Louise Vuitton.


Dress seharga 3700 USD itu memadukan atasan bergaya tank top dan rok makro-Monogram yang sedikit melebar. Ia juga membawa tas Twist MM dari brand yang sama berwarna hitam. Harga tas nya sendiri sekitar 4450 USD. Sedangkan untuk alas kaki, ia memilih menggunakan slingback shoes berwarna dark blue.


Sedangkan lawan bicaranya, tampak hadir dengan outfit serba tertutup dari ujung kepala hingga ujung kaki. Siang ini ia menggunakan outfit syar’I berwarna soft nude yang dipadukan dengan white sneakers dari brand Gucci. Salah satu brand fashion ternama dunia. Ia juga tahu jika harga white sneakers itu tidak murah.


Sedangkan untuk tas, lawan bicaranya itu tampak membawa slim bag berukuran kecil dari brand yang sama. Dari outfit yang digunakan, ia tidak menemukan brand apapun. Ia yakin jika outfit yang digunakannya pasti buatan handmade. Ia tahu betul jika lawan bicaranya ini orang kaya dari golongan old money, namun low profile.


Tampilan boleh sederhana, tapi jika ditotalkan harga outfit nya tak kalah fantatis. Hanya jarang diperlihatkan saja, karena keturunan Radityan itu termasuk golongan orang kaya yang low profile. Untuk baju yang digunakan sehari-hari saja, mereka jarang membeli. Biasanya menggunakan baju hasil produksi perusahaan sandang milik keluarga, kemudian sengaja tidak diberi brand. Padahal pakaian yang mereka gunakan selalu dibuat dari bahan-bahan dengan kualitas terbaik.


“Kamu apa kabar, Ann? sudah lama sekali kita tidak mengobrol seperti ini.”


“I fine,” jawab si rambut pirang pasca memilih merendahkan ego, memutuskan untuk mengambil posisi duduk di depan lawan bicaranya. “To the point saja. Kamu mau apa mengajak aku bertemu di sini?”


“Aku mau biacara sama kamu. Kamu keberatan?”


“About what?”


“Kenapa tiba-tiba kamu memilih resign?”


“Karena aku tidak terima dipindahtugaskan begitu saja!”


“Ann—“


“Kamu juga, kenapa tega melakukan ini kepadaku? Apa selama ini kinerjaku kurang? Kamu tidak puas dengan kinerja yang aku berikan?”


“Ann, dengarkan aku dulu.” Alea—lawan bicara si pirang itu berusaha semaksimal mungkin membuat lawan bicaranya tenang agar mereka bisa mengobrol dengan nyaman. “Demi Allah. Aku tidak pernah memiliki rencana untuk memindahtugaskan kamu.”


“Tapi buktinya, aku dipindahtugaskan bukan?” kata Annante dengan sorot mata dingin.


“Kamu diberi tawaran untuk pertukaran pekerja, Ann.”


“Aku dipindahtugaskan. Itu jelas-jelas perintah untukku.”


Alea menghela napas dengan perlahan. Sebelum datang menemui Annante, Alea sudah terlebih dahulu mencaritahu. Apa yang sebenarnya terjadi, sampai-sampai Annante berakhir dengan keputusan untuk mundur dari perusahaan. Padahal posisinya sudah sangat nyaman dan menguntungkan. Alea juga cocok bekerja dengan Annante. Sejauh ini hanya Annante partner yang mampu mengimbangi Alea.


Dari informasi yang Alea dapatkan, bagian Human Resources Development hanya menawarkan kontrak kerja baru. Kontrak tersebut memang mengharuskan Annante pindah tugas ke Ukraina. Alea juga sempat diperlihatkan isi kontrak yang dimaksud. Saat menggali informasi lebih lanjut, pihak Human Resources Development ternyata mendapatkan rekomendasi dari sang ayah. Oleh karena itu, Alea langsung menghubungi sang ayah untuk meminta klarifikasi. Klarifikasi yang ayahnya berikan juga tidak ada yang janggal.


Anzar merekomendasikan nama Annante—yang notabene sekretaris Alea karena tahu Annante mampu meng-handle pekerjaan tersebut. Lagipula Annante juga sudah lama mengabdikan jasanya untuk menjadi sekretaris Alea. Anzar hanya memberikan solusi sebagai bentuk pengalaman kerja yang baru. Namun, agaknya hal tersebut sangat mengguncang Annante. Sehingga ia memilih menolak dengan keras, bahkan hendak mengajukan resign. Anzar juga sudah berpesan pada sang putri agar tidak terlalu mencemaskan masalah ini. Toh, jika Annante resign, Anzar masih bisa mencari sekretaris yang lebih kompeten untuk Alea.


“Kamu tidak perlu mengundurkan diri, hanya karena tidak ingin menandatangani kontrak itu, Ann.”


‘Hanya katanya?’ batin Annante di dalam hati, jengah.


“Kamu hanya perlu tetap menjadi sekretaris aku. Aku sudah cocok sama kamu. akan sulit untuk mencari sekretaris kompeten seperti kamu.”


‘Tentu saja. Keluar dari perusahaan mu, aku akan tetap dicari oleh perusahaan-perusahaan besar di Newy York.’ Annante kembali menjawab, di dalam hati.


“Aku tahu kamu terkejut karena kontrak tersebut. Namun, coba pikirkan sekali lagi, Ann.”

__ADS_1


“….”


“Kita sudah mengenal sejak lama. Apa kamu pikir aku tidak kewalahan jika kamu tidak ada?”


Annante diam-diam tersenyum miring. “Sebenarnya aku juga berat untuk meninggalkan perusahaan,” keluhnya kemudian. “RC sudah seperti rumah bagiku. Aku memiliki banyak rekan kerja yang sudah aku anggap sebagai saudara di sana. Pasti akan sulit jika berpisah dari mereka. Selain itu, aku juga tidak mudah beradaptasi dengan lingkungan baru. Kamu sendiri ingat betul saat pertama kali aku bekerja di RC. Waktu itu aku bekerja di bagian marketing, ‘kan? Dulu aku sangat pemalu.”


Alea tersenyum kecil di balik kain penutup wajahnya. Ia lantas mengangguk, menyetujui.


“Kalau begitu jangan pergi, Ann. RC membutuhkan kamu.”


‘Teruslah memohon, munafik. Karena ini yang aku inginkan,’ batin Annante bersorak penuh kemenangan.


“Ann?”


“Hm ….” Annante tampak bersikap seolah-olah tengah mempertimbangkan permintaan tersebut. “Baiklah. Aku akan tetap bekerja demi kejayaan RC.”


Alea merasa senang mendengar jawaban Annante. Akhirnya ia tidak terancam kehilangan sahabat juga partner yang sangat berharga baginya.


“Habis ini kamu mau kemana, Ann?”


“Pulang,” jawab Annante, agak ragu. Pasalnya setelah ini ia sudah ada janji temu dengan partner FWB alias friend with benefit nya.


“Hari ini ibuku memintaku pulang lebih awal untuk membantu menyiapkan masakan istimewa. Akan ada perayaan kecil-kecilan untuk menyambut ulang tahun dad. Aku juga diberi tugas untuk membeli beberapa bahan makanan dan beer.”


“Jadi begitu. Maaf karena aku belum bisa menyempatkan waktu untuk mampir ke rumahmu. Nanti aku akan mengirimkan hadiah untuk uncle Jo.”


“Aduh, kamu tidak perlu repot-repot, Alea. Lagipula dad juga sudah cukup banyak mendapatkan hadiah.”


“Aku tidak merasa keberatan kok. Lagipula aku juga sudah memesan jas untuk uncle Jo. Kebetulan aku pesan dua setelan dari koleksi Louis Vuitton Men’s Pre-Spering. Satu untuk ayahku, satu untuk uncle Jo.”


Annante tersenyum kecil, menutupi rasa muak nya. Mungkin dulu ia senang setiap kali Alea memberikan hadiah untuk anggota keluarganya yang merayakan hari jadi. Namun, hari ini ia muak. Sekalipun Alea sudah berbaik hati hendak menghadiahkan sebuah jas dari brand Louis Vuitton yang harganya tidak murah.


“Kalau begitu terserah kamu. kamu tahu sendiri, aku tidak bisa menolak keinginan mu yang satu itu,” ujar Annante pada akhirnya. “Kalau gitu aku pamit ya.”


“Kamu mau pergi sekarang?”


“Iya.”


“Kamu bawa kendaraan?”


Annante menggeleng. “Aku tadi diantar,” jawabnya dengan senyum tipis.


“Mau pergi bersama? Aku juga akan kembali ke kantor.”


“Ah, tidak perlu. Aku sudah ada yang menjemput.”


Alea terdiam untuk sejenak. “Kalau begitu hati-hati di jalan, Ann. Besok aku harap kamu sudah mulai masuk kerja.”


“Tentu saja.”


Setelah berkata demikian, Annante pamit pergi terlebih dahulu. Tiba di luar café tempatnya janjian dengan Alea, ia langsung mencari kendaraan paling mewah yang parkir tidak jauh dari café. Saat menemukan apa yang ia cari, senyum Annante langsung merekah. Dengan segera ia berjalan ke arah super cars yang terparkir di seberang jalan tersebut.


“Bagaimana?”


Sambut laki-laki di balik kemudi super cars tersebut saat Annante baru saja duduk di kursi penumpang bagian depan. “Tentu saja aku diterima dengan senang hati.”


“Good job,” puji laki-laki yang mengenakan kemeja berwarna hitam dari merk ternama itu.


Annante tersenyum puas seraya mengubah posisinya, menjadi menyerong ke samping. “Sekarang beri aku imbalan.”


“Imbalan?”

__ADS_1


Annante mengangguk. “Kiss me, now.”


“Here?”


“Yes, my Lord!” seru Annante seraya menyentuh bisep laki-laki tampan bermarga Kim tersebut.


Sepersekian detik berikutnya, ciuman yang ia inginkan didapatkan. Ciuman yang menggebu-gebu diselimuti nafsu. Tak peduli jika saat ini mereka masih berada di bahu jalan dengan lalu lintas yang cukup ramai.


✈️✈️


“Apa ini?”


Alea yang baru saja kembali ke ruangannya pasca bertemu Annante langsung dibuat bingung dengan kehadiran terrarium mini berisi kaktus yang tampak menggemaskan di atas meja kerjanya.



“Pagi ini ada kurir yang datang mengantarkan kaktus itu untuk nona.”


“Untuk saya?”


Perempuan yang berstatus sebagai sekretaris sementara Alea itu mengangguk. “Dari noted yang ditinggalkan, si pengirim memang memberikan kaktus ini untuk nona. Lengkap dengan sebuah surat.”


“Surat?” bingung Alea.


“Suratnya ada di samping kaktus nya, nona.”


Alea menoleh, benar saja kata Ismi. Surat dengan amplop berwarna sage green itu tergeletak di samping terrarium mini berisi kaktus itu. “Sekarang kamu boleh pergi dan melanjutkan tugasmu, Ismi.”


“Baik, nona. Kalau begitu saya permisi.”


Alea mengangguk, membiarkan Ismi pergi tanpa halangan yang berarti. Setelah Ismi pergi, Alea lantas mengambil surat itu untuk dibuka. Saat berhasil mengeluarkan kertas berwarna sage green dengan biasan gambar kaktus di pojok kertas bagian bawah sebelah kanan, Alea juga bisa menghirup aroma harum dari kertas tersebut.


Harum sejenis bunga-bunga liar yang pernah Alea hirup saat mendatangi pekarangan belakang rumah musim panas keluarga Radityan yang ada di LA. Pekarangan yang ditumbuhi bunga-bunga liar yang hidup subur dan beraroma khas.


Alea pun beralih, mulai membaca untaian kalimat yang tertulis dengan rapih di atas kertas tersebut.


As’salamulaikum, calon istriku.


Surat ini mungkin baru sampai ke tanganmu saat aku masih berada di negeri orang. Padahal aku menulisnya sebelum pergi. Aku sengaja baru mengirimkannya saat kita terpisahkan oleh jarak. Ini semata-mata sebagai bentuk hiburan dariku, supaya rindu kamu sedikit terobati.


Kamu pasti terkejut saat menemukan terrarium berisi kaktus itu. Iya, kaktus. Kamu tidak salah menerima. Jika kamu tanya kenapa harus kaktus?


Merawat kaktus sama seperti dengan menjalin sebuah hubungan. Gampang-gampang susah, susah-susah gampang. Kaktus akan mati tanpa perhatian. Kaktus memang bisa hidup dengan sedikit air, tetapi bukan berarti bisa hidup tanpa air. Sama seperti sebuah hubungan. Hubungan bisa saja terjalin dengan sedikit perhatian, tetapi bukan berarti sebuah hubungan bisa tahan tanpa adanya perhatian.


Jadi tolong jaga kaktus itu seperti kamu mempercayai aku untuk menjaga hubungan kita. Aku harap, setiap kamu melihat kaktus itu, kamu akan mengingat hubungan kita yang dibangun dengan perhatian dan cinta yang tidak berlebihan.


^^^Tertanda, calon imammu 🖤^^^


✈️✈️


TBC


ADA YANG SEMAKIN MENJADI-JADI NIH 🤬


LANJUT GAK? KALAU LANJUT, RAMAIKAN KOLOM KOMENTAR & SPAM KAKTUS 🌵🌵🌵🌵🌵🌵🌵


SPOILER PART BERIKUT NYA 👇



Sukabumi 01-07-22

__ADS_1


__ADS_2