Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 93 : KUTEMUKAN WANITAKU


__ADS_3

°BDJ 93 : KUTEMUKAN WANITAKU


*Part Pendek*


Mobil Civic type R warna putih itu melaju pesat membelah jalanan dari arah Jakarta ke kota Bandung. Di dalamnya, terdapat dua orang yang terdiri dari satu driver, serta satu penumpang. Tidak jauh dari posisi mobil Civic type R itu melaju, ada satu mobil BMW hitam yang tampak mengikuti. Satu mobil BMW lagi bertugas untuk melaju cepat di depan sana. Semua pengendara serta penumpang mobil BMW tersebut adalah orang-orang Louis Gallion Anderson Kim.


Saat ini mereka sedang berburu dengan waktu. Bagaimana pun caranya, mereka harus tiba di kota Kembang sebelum target menghilang dari pantauan.


Tiga jam sebelumnya, tiba-tiba salah seorang fans Leasya Annabeth Carrienella Kim asal Indonesia membagikan beberapa foto candid yang berlatar belakang salah satu tempat ikonik di kota Kembang. Dalam foto candid yang dibagikan di twitter itu, tertangkap kamera sosok perempuan yang menggunakan vintage dress yang jatuh di pertengahan betis dari salah satu brand pakaian dunia yang hanya ada beberapa biji di dunia. Walaupun menggunakan sweater dan bisbol hat yang menutupi sebagian wajah, fans tersebut mengatakan bahwa itu adalah Leasya Annabeth Carrienella Kim atau Leasya Kim yang belakangan sudah tidak update soal kesehariannya di berbagai akun media sosial miliknya.


Foto-foto yang dibagikan oleh fans tanpa nama tersebut langsung tranding topik karena hangat diperbincangkan di mana-mana. Para fans sebagai besar merasa senang melihat role model mereka ada di tanah air. Sebagian lagi bertanya-tanya soal alasan apa yang membawa model papan atas itu singgah ke tanah air.


Salah satu tangan kanan Louis juga tidak ketinggalan mendapatkan informasi tersebut. Setelah di-cek lebih teliti, kemungkinan besar sosok yang tertangkap kamera fans tersebut adalah Lea. Mengingat postur tubuh, hingga outfit yang dikenakan—terutama vintage dress—sangat mencerminkan sosok Lea.


Kabar gembira tersebut langsung dilaporkan, kemudian sampai ke telinga Jack. Barulah ia yang menyampaikan pada Louis soal hasil penyelidikan yang terbaru. Oleh karena itu, sekarang mereka sedang berburu dengan waktu. Telat sedikit saja, mereka pasti akan kehilangan jejak.


Sebenarnya bisa saja Louis pergi menggunakan pesawat pribadi miliknya yang ada di hangar bandara internasional terdekat. Hanya saja banyak dokumen yang harus diurus, sehingga cara tersebut sangat tidak memungkinkan untuk digunakan pada kesempatan ini.


“Ini benar-benar wanitaku, Jack.” Seringai kecil muncul di sudut-sudut bibir Louis saat berkata demikian.


Semenjak duduk di kursi penumpang depan, kerjaan Louis hanya menatap ipad iPhone yang tengah menampilkan potret terbaru Lea. Ya, potret hasil jepretan fans yang sebenarnya tidak terlalu bagus, alias tidak memiliki kualitas gambar yang high. Namun, karena di sana mencetak potret sang wanita, Louis betah-betah saja menatapnya lama-lama.


Padahal dalam gambar tersebut Lea hanya terlihat dari samping. Itu pun posisi kamera berada agak jauh, sedangkan Lea sedang jalan kaki di trotoar seberang. Ia tampak berjalan sambil mengobrol dengan seorang perempuan. Perempuan yang Louis yakini sebagai manager Lea.


“Ada satu informasi lagi yang baru masuk, Tuan.”


“Apa?” tanya Louis to the point. Sedangkan matanya masih sibuk menatap layar iPad iPhone.


“Nona Alea Radityan dan suaminya saat ini juga tengah berada di kota yang sama. Apa Tuan berniat untuk menyapa?”


“Di kota yang sama?”


“Iya, Tuan. Kebetulan kota tersebut adalah kota kelahiran suami Nona ALea.”

__ADS_1


“Hm.” Louis merespon dengan singkat. Ia kemudian mematikan iPad iPhone yang sejak tadi dipergunakan. “Masalah ku dengan mereka memang belum selesai, masih butuh kejelasan. Tapi, untuk saat ini fokus ke pencarian wanita ku dulu, Jack.”


Permintaan Louis adalah perintah. Bagi Jack, apa yang diminta sang tuan, maka itu seperti misi yang harus dihadapi sekali pun harus bertaruh hidup dan mati.


“Baik, Tuan.”


“Temukan wanita ku, baru aku akan menyelesaikan urusan dengan mereka.”


✈️✈️


Ringtone telepon Nathan terdengar bersamaan dengan si pemilik yang baru saja keluar dari kamar mandi. Karena tidak mau menganggu sang istri yang baru saja terlelap di atas tempat tidur, Nathan memilih keluar dari kamar dengan nuansa pastel tersebut (kamar bunda Aurra di rumah lama). Sebelum pergi, Nathan menyempatkan diri untuk menaikkan selimut yang digunakan sang istri hingga sebatas bahu. Tak lupa pula satu kecupan Nathan berikan di kening istrinya.


Meninggalkan rungan bernuansa pastel dengan sang istri yang tengah lelap di atas pembaringan, Nathan memilih menerima telepon di depan pintu kamar. Supaya jika sang istri terbangun, ia bisa cepat-cepat kembali. Takutnya sang istri malah mencari-cari.


Malam sudah kian larut, entah apa yang membuat salah satu keturunan Radityan menghubungi.


Davian Radityan.


“As’salamualaikum, Bang.”


Nathan tersenyum tipis. Ini lah salah satu adab yang Nathan sukai dari para keturunan Radityan. Mereka dibekali dengan tatakrama serta adab yang seharusnya. Contoh kecilnya saja seperti barusan, mengucapkan salam sebelum membuka percakapan.


“Wa’alaikum salam. Ada apa, Dav? Semua baik-baik saja?”


Keheningan cukup lama mengambil alih atmosfir di antara mereka. Kira-kira pada detik ke tiga puluh, Nathan baru bisa mendengar suara Davian lagi. Backsound suara di seberang sana adalah suara kendaraan, jadi Nathan harus menggunakan pendengaran ekstra supaya dapat menangkap ucapan yang Davian lontarkan.


“Urgen.”


“Urgen?” ulang Nathan kebingungan. “Ada apa? tolong jelaskan lebih rinci.”


“Pertama-tama, maaf karena sudah menganggu waktu istirahat Abang sama Teh Alea.”


Nathan mengangguk, walaupun lawan bicara di seberang sana tidak dapat melihat. “Sebenarnya ada apa?”

__ADS_1


“Besok sebelum fajar menyingsing, Abang bawa Mbak Alea pulang ke Jakarta. Bisa?”


“Memangnya ada apa? bukannya kita sudah sepakat jika schedule di Bandung tetap berjalan sesuai rencana?”


“Sekarang nggak bisa, Bang. Si asuu Louis udah otw Bandung.”


Nathan terdiam mendengar informasi tersebut.


“Dia kayaknya nyari seseorang.”


“Mencari istriku?”


“Entahlah,” ujar suara di seberang sana. “Dia bawa beberapa antek-antek ke sana. Demi keselamatan teh Alea dan Abang sendiri, setelah subuh cepat pulang ke Jakarta. Aku kawal dari belakang.”


“Hm.”


“Gean juga standby di bandara Husain Sastranegara. Kalian pulang jalur udara, biar aku yang pantau lewat darat.”


“Kamu yakin bisa handle semua seorang diri?” tanya Nathan, risau. Para Radityan sepertinya memang hobby bermain-main dengan marabahaya.


Alih-alih menjawab, laki-laki di seberang sana malah tertawa renyah. “Gue bisa bunuh mereka tanpa menyentuh. Plus, ini tanah air gue, Bang. Mereka cuma pendatang. Abang tenang, nggak usah worry.”


Tuh, ‘kan. Yang dikhawatirkan saja biasa-biasa saja. Para Radityan memang dilahirkan dengan mental baja.


“Kalau begitu hati-hati, Dav. Kita tidak tahu apa yang sebenarnya orang itu cari di sini.”


Nathan sampai detik ini tidak tahu apa tujuan Louis. Jadi, ia hanya bisa berdo’a dan berusaha supaya memiliki dapat menjaga istrinya dengan sekuat tenaga, agar terhindar dari jangkauan laki-laki bajing*n seperti Louis.


✈️✈️


TBC


Tanggerang 12-10-22

__ADS_1


__ADS_2