Bukan Dijodohkan (R4)

Bukan Dijodohkan (R4)
°BDJ 26 : CAPT, ARE YOU OKAY?!


__ADS_3

...BDJ 26 : CAPT, ARE YOU OKAY?!...


...“Terkadang kita tidak tahu apa yang akan terjadi nanti, walaupun sudah ada yang memperingati.”—Bukan Dijodohkan...


...**...


Bandara Bangkok Suvarnabhumi yang megah menjadi penyambut utama bagi para pelancong yang datang ke Negeri Seribu Pagoda tersebut. Bandara yang resmi dibuka pada 2006 menggantikan bandara internasional Don Mueang itu memang memiliki arsitektur yang mewah, megah lagi unik.


Seorang pria rupawan berseragam pilot lengkap dengan topi kebanggaan terlihat baru saja keluar dari pesawat yang berhasil dia landaskan dengan mulus. Dia tidak datang seorang diri, tetapi bersama rekan-rekan sejawatnya. Para penumpang yang tadinya mengisi kursi-kursi di kabin pesawat juga sudah berhamburan secara teratur.


Mereka telah tiba di destinasi yang mereka inginkan. Keindahan bandara Bangkok Suvarnabhumi memang tidak diragukan lagi. Bekerja sebagai pilot atau kru di sebuah maskapai penerbangan pasti tidak akan asing lagi dengan tempat yang bernama bandara. Saat take off, transit hingga landing, semua akan di lakukan di tempat tersebut. Bagi mereka yang bekerja di bidang penerbangan, bandara adalah tempat yang paling sering disinggahi. Karena di sanalah mereka memulai pekerjaan.


Begitu juga dengan Nathan yang berprofesi sebagai pilot. Dari bandara satu ke bandara lainnya dia menginjakkan kaki. Dari negeri satu, terbang ke negeri lainnya dia singgahi. Begitu seterusnya.


Dari ketinggian di atas 1000 kaki, dia melewati lautan gumpalan mega putih yang menghiasi kanvas biru bernama langit. Terkadang, ada saja yang tidak dapat diprediksi saat pesawat sudah mengudara. Namun, sejauh ini dia tidak pernah mengalami insiden yang fatal. Itu semua tidak lepas dari control rutin yang dilakukan sesuai SOP atau standar operasional prosedur yang dijalankan.


Sebelum mengudara, burung besi itu dicek secara keseluruhan. Mulai dari kondisi mesin, body luar, hingga bagian dalam. Semua harus berada dalam kondisi yang stabil, terawat dan tidak mengalami kerusakan ataupun kecacatan sedikitpun.


Semua pihak yang berada di balik menara control juga berperan besar guna memberikan informasi yang valid. Memberikan instruksi hingga peringatan jika terjadi kendala seperti cuaca yang kurang mendukung. Biasanya, jika ada kendala maka jam penerbangan akan ditunda atau sering disebut juga dengan delay.


“Room capt Nathan ternyata ada di sebelah room Nia, ya.”


Nathan menoleh ke arah datangnya suara tersebut. Di samping kirinya, ada seorang wanita cantik berseragam pramugari yang membalut tubuh semampainya.


“Ini kamar kamu?”


Wanita cantik ber-name tag Nathania itu mengangguk sembari mengulas senyum ramah.


“Nia kira cuma Nia yang ada di lantai ini. Yang lain ada di lantai atas.”


Nathan mengangguk meng-iyakan. Rombongan pilot, co-pilot dan para staf penerbangan yang dia pimpin memang baru saja tiba di hotel yang diperuntukan untuk mereka tinggal selama tiga hari ke depan.


“Habis ini yang lain mau main sambil mencari makan. Capt Nathan mau ikut?”


“Ah, tidak.” Nathan menjawab cepat. Dia memiliki jadwal tersendiri setelah ini.


Rencananya setelah membersihkan diri, lalu beristirahat sejenak. Nathan akan menghubungi sang calon istri. Dia ingin melepas penat sambil mendengar suara bidadari hati yang selalu berkunjung dalam mimpi.


“Begitukah? Sayang sekali.”


Wanita cantik itu tampak terlihat tidak bersemangat. Sudah bukan rahasia umum lagi jika Nathan memang jarang ikut bersenang-senang. Pria rupawan itu akan lebih memilih jalan-jalan sendiri jika ingin. Dia akan hunting foto di tempat-tempat yang dia sukai untuk koleksi pribadi, atau sekedar mengisi perut sembari membeli oleh-oleh bagi keluarga.


Nathan juga menguasai bahasa Inggris dengan fasih. Selain itu, dia juga membekali diri dengan kemampuan lain dengan kemahirannya menggunakan bahasa Perancis, Mandarin, Jepang hingga Jerman. Tinggal lama di Aachen, Jerman, saat mengenyam pendidikan, membuat Nathan sudah fasih menggunakan bahasa Negara tersebut.


“Kalau begitu selamat beristirahat. Kalau capt Nathan butuh sesuatu, bisa panggil saya.” Nathania tersenyum tipis sembari menempekan key card miliknya.


Tidak ada yang tidak mengenal Nathania Sanjaya. Putri seorang Pilot senior dan mantan pramugari senior yang namanya sangat dihormati di maskapai tempat Nathan bernaung. Wanita cantik berusia 26 tahun tersebut juga memiliki prestasi yang cukup gemilang semenjak bergabung di dunia penerbangan.


Parasnya yang goodlooking dan enak dipandang, pembawaanya yang hangat dan bersahabat. Membuatnya disegani banyak orang. Relasi pertemanannya bahkan sampai ke orang-orang penting di tanah air. Salah satunya adalah putri menteri dalam negeri hingga putra wakil presiden.


“Hm.”


“Kalau begitu saya duluan, Capt Nathan.”


Nathan mengangguk tanpa suara. Dia bukan tidak mau berbasa-basi lebih banyak lagi dengan wanita cantik tersenbut. Hanya saja, dia tidak tertarik untuk melakukan itu. Ketertarikannya hanya terpatri pada planning-nya untuk menghubungi sang calon istri.

__ADS_1


Tiba di ruangan yang akan menjadi tempat singgahnya untuk tiga hari ke depan, Nathan memutuskan untuk menyegarkan diri. Room yang disediakan untuknya maupun rekan-rekan sejawatnya adalah suite yang cukup komplit fasilitanya. Dilengkapi dengan ranjang king size yang mengarah langsung ke pemandangan kota Bangkok yang tergambar jelas dari balik transparent glass, televisi layar datar di tengah ruangan, kamar mandi luas dengan shower berdinding kaca dan bathtub yang yang dalam. Dilengkapi pula dengan dapur dan mini bar yang full stok.


Selesai dengan urusan kamar mandi, pria rupawan yang sudah mengenakan outfit santai yang nyaman itu kemudian beralih mengambil smartphone miliknya. Membuka kontak, kemudian menelepon nomer sang pujaan hati. Untuk beberapa saat, hanya suara operator jaringan yang terdengar.


Kemana sang bidadari hati?


Nathan melirik jam tangan yang melingkar di tangan kiri. Ah, jam berapa di New York sekarang?


Mungkin Alea sedang menunaikan ibadah wajib, atau mungkin sedang bekerja. Nathan mencoba positif thingking saja. Toh, perbedaan ruang dan waktu yang ada di antara mereka terkadang menjadi penghalau saat hendak mengurai rindu.


Namun, baru saja hendak meletakkan smartphone miliknya. Benda itu terdengar berdering. Layarnya berkedip, memunculkan kontak sang kekasih hati di sana. Dengan segera, Nathan mengangkat panggilan tersebut. Akhirnya, dia bisa mendengar suara sang pujaan hati yang begitu dirindukan.


Tidak butuh waktu lama untuk membuat hatinya berbunga-bunga. Senyum lebar terpatri di bibirnya, tiap kali mendengar sura lembut dari seberang. Dia tak kuasa untuk tidak menerbitkan senyum. Namun, suara interkom yang menandakan ada orang berkunjung di luar pintu, membuatnya mau tidak mau harus menyelesaikan panggilan.


Padahal masih rindu, tapi mau bagaimana lagi. Jika ditanya kesal atau tidak? Nathan akan menjawab dengan lantang jika dia kesal sekali!


Mendapati ada tamu di depan pintu kamarnya, Nathan segera beranjak untuk membuka pintu. Namun, saat pintu itu terbuka bukannya tamu yang dia dapati, melainkan sekuntum bunga Anyelir putih yang tergeletak di lantai.


“Bunga Anyelir?” bingung Nathan saat mengambil bunga tersebut.


Tidak ada siapapun di sana. Tidak ada petunjuk pengiriman ataupun tujuan untuk siapa buanga itu dikirimkan?


Akan tetapi, bunga itu berada tepat di depan pintu kamarnya. Secara tidak langsung, ada yang sengaja menyimpan bunga tersebut di sana. Logikanya begitu.


“Capt Nathan?”


Bersamaan dengan itu, pintu di samping kamarnya terbuka. Menampilkan silut cantik dengan balutan cut off shoulder dress warna hitam motif bunga-bunga kecil atau yang lebih dikenal dengan dress model Sabrina. Kontras dengan warna kuning langsat besih miliknya. Dress tersebut juga menambah kesan manis sekaligus feminim.


“Bunga Anyelir?” tanyanya, sembari menatap bunga yang ada di tangan Nathan.


“Bunganya cantik sekali. Ini bunga kesukaan Nia,” ujarnya sembari tersenyum senang.


Nathania memang suka menyebut dirinya sendiri dengan panggilan Nia. Di mansion besar milik keluarga Sanjaya, dia memang putri satu-satunya sekaligus cucu kesayangan Yusuf Sanjaya, kakeknya.


“Apa itu untuk Nia, Capt?”


“Bukan, ini—“


“Terimakasih.” Nathania mengambil bunga Anyelir itu cepat sembari mengucapkan terimakasih.


Ah, sepertinya wanita cantik itu salah paham di waktu yang tidak tepat. Sekarang, bunga yang digunakan sebagai simbol duka cita, salah satunya Korea itu sudah berpindah tangan. Nathania tampak senang sekali saat mendapati bunga kesukaannya tersebut.


“Capt Nathan juga mau ikut makan di luar?”


“Tidak. Saya—“


“Capt Nathan, Nia?” panggil suara dari arah berlawanan.


Nathania dan Nathan kompak menoleh. Dari arah berlawanan tampak dua orang pria dan dua orang wanita yang familiar bagi keduanya.


“Kalian di sini?” Tanya Nathan pada rekan-rekan sejawatnya.


“Hm. Soalnya Nia enggak turun-turun. Mau kita tinggal, tapi kasian,” jawab salah satu pria tersebut.


“Iya. Eh, taunya ada yang lagi pacaran,” imbuh yang lain. “Pakai dikasih bunga segala lagi. Ouch, so sweeth.”

__ADS_1


“Siapa?” Tanya Nathan dengan raut datarnya.


“Sudahlah, capt. Kita juga setuju jika kalian memiliki something.” Godaan itu gencar lancarkan. Membuat Nathania memarh karena malu. Mereka yang melihat itu kontan setuju jika ada something diantara keduanya.


Kendati sudah menyangkal, argument Nathan tetap dibantah oleh rekan-rekannya. Dia yang tadinya tidak berniat ikut jalan-jalan atau makan diluar pun, akhirnya ikut karena paksaan rekan-rekannya. Mereka berenam berburu kuliner di sekitar hotel tempat mereka menginap. Ada beberapa tempat makan yang menjajahkan amkanan halal juga di sana, berhubung empat orang di antara mereka adalah umat muslim.


Sebelum memutuskan untuk makan, mereka memang sempat jalan-jalan sebentar. Kemudian memutuskan untuk mengisi perut saat hari semakin gelap. Beraneka ragam menu mereka pesan, mulai dari menu otentik khas Thailand klasik seperti sup tom yum seafood, salad papaya, telur dadar, hingga kari hijau. Banyak makanan halal yang bisa dipilih, mulai dari makanan penutup, hidangan pusion dan sebagainya.



Selesai mengisi perut, mereka berenam berpencar. Ada yang ingin kembali berburu jajanan kaki lima di Thailand, ada pula yang mau shopping, atau sekedar pacaran sambil hunting foto di keindahan malam kota Bangkok. Sedangkan Nathan sendiri memilih pulang ke hotel, karena dia memiliki agenda sendiri.


Pagi tadi Ibu-nya sudah mewanti-wanti untuk menelepon jika sudah mendarat di Thailand. Tapi, hingga saat ini dia belum sempat menelepon sang ibu. Ketika dalam perjalanan pulang, dia tidak sengaja melihat Nathania yang baru saja tiba di hotel. Ternyata wanita itu juga kembali ke hotel, padahal tadi dia bersemangat sekali untuk ikut berburu jajanan kaki lima.


“Kupikir dia ikut dengan yang lain.”


Nathan memilih abai. Pria rupawan itu kemudian memasuki lift untuk membawanya ke lantai atas. Di dalam lift, ada seorang lelaki berpakaian serba hitam. Masker hitam dan topi hitam juga menyempurnakan outfit-nya. Nathan melirik sejenak ke arah pria tersebut sebelum kembali mengalihkan pandangannya.


Aneh sih. Tapi, mungkin saja itu adalah seorang idol atau publik figure yang sedang menyamar. Namun, rasa abai Nathan terhadap lelaki misterius tersebut berubah menjadi waspada saat lift mulai bergerak. Dari dinding lift yang bening, dia bisa melihat pria tersebut mengeluarkan pisau lipat dari saku celananya.


Dengan sigap Nathan mengelak saat lelaki misterius itu mengarahkan serangan ke arahnya. Saat pukulan berikutnya kembali dilayangkan ke arahnya, Nathan memasang kuda-kuda untuk menangkis dan melawan balik. Kegaduhan terjadi di dalam kotak besi tersebut. Baik Nathan dan lelaki tersebut sama-sama mempertahankan keadaan mereka. Sekalipun posisi Nathan yang paling banyak menerima serangan di sini, tetapi dia dapat dengan mudah menangkisnya.


Ketika lift terbuka, dengan sekuat tenaga Nathan melancarkan serangan di perut lelaki misterius tersebut. Membuat lelaki tersebut terpelanting keluar lift hingga menabrak dinding. Di susul oleh Nathan yang dengan sigap menghampiri. Namun, belum sempat Nathan mendekat, lelaki itu sudah terlebih dahulu beranjak dan melancarkan pukulan telak ke perut. Nathan yang tidak siap akan hal itu tentu tersungkur dibuatnya.


Lelaki misterius berpakaian serba hitam tersebut memanfaatkan keadaan Nathan untuk melarikan diri.


“Sialan!” umpat Nathan jengkel, karena tidak bisa mengejar lelaki tersebut yang sudah melarikan diri melalui tangga darurat.


Lelaki misterius itu memiliki kemampuan yang cukup mumpuni dalam beladiri dan pandai berlari. Kendati tubuhnya terbilang ideal, tidak kurus atau gemuk. Nathan yakini dia bukanlah orang biasa.


“Capt, are you okay?” Tanya Nathania khawatir.


Dia baru saja tiba. Namun, pandangannya langsung disuguhkan dengan kondisi Nathan yang cukup mengkhawatirkan. Wajah pria rupawan itu terluka di sudut bibir kiri, dan kentara menahan ringisan sakit. Pukulan yang mengenai bagian perutnya tadi sepertinya akan menimbulkan lebam.


“Capt, ayo saya bantu?” Nathania mengulurkan tangannya guna membantu Nathan.


Namun, pria rupawan itu menepisnya dengan respek. Dia tidak mau disentuh oleh wanita yang bukan mahramnya.


“Saya bisa sendiri.”


“Tapi, capt, anda terluka. Biar Nia bantu—“


“Saya bisa mengobatinya sendiri.” Nathan menyela cepat. “Kalau begitu saya permisi.”


Setelah berkata demikian, pria rupawan itu undur diri. Dia tidak mau ada kesalahpahaman terjadi lagi. Selain itu, sekarang pikirannya hanya bertumpu pada kejadian tadi. Jadi, siapa yang telah mencoba mencelakainya?


...**...


...TBC...


...Jangan lupa like, vote, komentar, share, dan follow username Author....


...Jadi, siapa dalangnya?...


...Sukabumi 22 Agustus 2021...

__ADS_1


__ADS_2