
BDJ 38 : KEDATANGAN CALON MENANTU
“Flight attendant safety demo position please. Thank you.”
Nathania kembali meletakkan gagang PA ke tempatnya setelah selesai memberikan announcement kepada awak kabin agar bersiap ke posisi safety demonstration. Pintu pesawat pabrikan Airbus itu juga baru saja ditutup. Sebentar lagi mereka akan segera taxiing dan take-off.
“Mbak Nia, tidak apa-apa saya tinggal?”
“Iya, kenapa Liv?” Nathania bertanya seraya menatap juniornya yang baru saja bertanya.
“Mbak Nia kelihatan lagi banyak pikiran. Saya jadi tidak enak mau meninggalkan mbak Nia.”
“Kamu punya tanggung jawab yang harus kamu emban. Tidak perlu mengurusi saya, Liv. Lagipula saya bisa mengurus diri saya sendiri.”
“Ya sudah kalau begitu,” ujar juniornya itu sebelum pamit undur diri.
Sepeninggalan juniornya itu, Nathania kembali berdiam diri di kursinya. Dia sudah menjalankan tanggung jawabnya untuk memberikan laporan data penumpang kepada Captain yang berada di ruang cockpit. Total ada 142 penumpang yang hari ini hadir, minus 12 penumpang. Setelah memberikan laporan data penumpang dan mendapatkan tanda tangan pada buku laporan terbang pesawat yang ia bawa, Nathania langsung izin keluar dari cockpit. Rasanya pembicaraan di bandara Bangkok Suvarnabhumi (BKK) beberapa saat lalu membuat Nathania tidak dapat berlama-lama berada di ruangan yang sama dengan laki-laki yang kali ini masih menjadi Captain.
Walaupun penasaran dengan sosok calon istri laki-laki rupawan itu, sebisa mungkin Nathania memendam rasa ingin tahunya. Toh, ia juga tidak memiliki hak untuk mencari tahu lebih jauh. Buang-buang waktu dan tenaga saja. Namun, ada rasa tidak nyaman tiap kali bersinggungan dengan laki-laki tampan itu. Mungkin perasaan ini hanya dirasakan oleh Nathania, tidak berlaku bagi rekan-rekannya yang lain. Toh, mereka tidak tahu saja jika pujaan hati mereka sudah memiliki calon istri. Boleh Nathania akui jika penerbangan kali ini adalah penerbangan paling tidak mood baginya. Namun, Nathania harus tetap bekerja dengan profesional.
Selama melakukan penerbangan Nathania memilih lebih banyak puasa bicara. Sekalipun beberapa rekannya sesekali masih terdengar membicarakan Captain Nathan. Pesawat yang mereka tumpangi baru mendarat dengan selamat di bandara New York, John F Kennedy (JFK) kurang lebih 23 jam 40 menit.
“Captain Nathan kenapa kelihatan buru-buru sekali?” tanya salah satu rekan Nathania saat rombongan mereka baru saja tiba di bandara John F Kennedy atau JFK.
Laki-laki tampan yang memasang wajah datar seperti biasa itu memang terlihat ingin buru-buru meninggalkan Area bandara. Entah alasan apa yang membuatnya sangat tergesa-gesa ingin meninggalkan bandara.
“Saya harus segera pergi ke suatu tempat,” kata Nathan seraya menyangga telepon di telinga. Ia memang sedang berusaha menghubungi seseorang.
“Apa ada sesuatu yang terjadi Capt? Captain terlihat sangat cemas.”
Kini giliran seorang laki-laki yang berprofesi sebagai FO atau First Officer.
“Saya harus segera pergi ke rumah sakit, tetapi jemputan saya belum datang.”
“Kalau begitu Anda bisa pergi bersama saya, Capt?”
“Tidak perlu repot-repot,” tolak Nathan secara halus. “Lagipula saya juga sudah memesan taxi online,” tambahnya seraya menatap laki-laki yang berprofesi sebagai FO.
“Memangnya siapa yang sakit Capt? Sampai-sampai Captain terlihat sangat cemas,” celetuk salah satu pramugari junior yang berdiri di samping Nathania.
Pertanyaan yang sebenarnya cukup privasi itu terdengar riskan di telinga, namun kalimat itu sudah terlanjur dilontarkan. Mau tidak mau Nathan juga harus menjawab pertanyaan tersebut.
“Orang tua calon istri saya,” katanya singkat, padat, nan jelas. Namun efek kalimat singkat itu, para rombongan yang tadi berjalan bersamanya langsung terhenyak kaget.
“Saya harus pergi terlebih dahulu, calon istri saya sudah menelpon,” katanya kemudian, tak membiarkan mereka semua menghirup jeda barang sejenak saja.
Setelah menggeser icon telepon berwarna hijau, Captain Nathan memberikan isyarat jika ia pamit pergi terlebih dahulu. Punggung tegap laki-laki tampan itu masih jadi pusat perhatian, sekali pun sudah berjalan kian menjauh seraya membawa koper miliknya. Para kaum Hawa yang biasanya bersemangat membicarakan laki-laki tampan itu, sekarang merasa lesu. Di punggung kokoh yang mereka idam-idamkan itu, seolah-olah ada tulis tak kasat mata yang berbunyi ‘SUDAH TAKEN’ dicetak dengan tinta hitam tebal.
✈️✈️
“Kakak sudah tiba di bandara JFK?”
“Hm.”
“Alhamdulillah kalau begitu. Alea ikut senang mendengar kabar jika perjalanan kakak kali ini berjalan dengan lancar,” kata perempuan berhijab syar’’I yang tampak tengah duduk di sebuah kursi panjang di area lobby.
“Bagaimana dengan kondisi Om Anzar?”
__ADS_1
“Papa? Alhamdulillah sudah lebih baik. Hanya saja papa belum mendapatkan ruang rawat inap pribadi.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Karena ruangan rawat inap VIP yang ada di sini sudah penuh,” ujar Alea menjelaskan. Senang sekali ia bisa kembali mendengar suara sang pujaan hati. Puji dan syukur tak lupa Alea panjatkan pada Allah Azza wajalla yang telah memberikan keselamatan dan kesehatan pada laki-laki itu.
“Sebentar lagi aku akan sampai.”
“Sampai? Kakak chek in di hotel dulu hari ini? bukannya jarak dari bandara JFK ke unit kakak cukup memakan waktu?”
“Sampai ke sana.”
“Ke rumah sakit?” bingung Alea.
“Hm.”
Alea terkejut bukan main mendengarnya. “Bukannya kakak baru pulang? Memangnya kakak tidak capek?”
“Tidak,” jawab suara di seberang sana enteng. “Lagipula aku juga ingin segera bertemu kamu.”
“….”
“Aku rindu,” ungkap Nathan dari seberang telepon. “Rindu dengan sosok yang namanya selalu aku langitkan di sepertiga malam.”
Alea tidak tahu harus menjawab apa. Sekarang hatinya jadi berbunga-bunga tanpa alasan. Entah efek sihir apa yang dilakukan laki-laki di seberang sana, tetapi setiap kata yang terucap dari bibirnya selalu berhasil menggetarkan jiwa dan raga.
“Kalau begitu Alea tunggu kakak di sini. Hati-hati di jalan, as’salamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Tapi, tolong jangan ditutup dulu.”
“Kenapa memangnya? Katanya kakak sebentar lagi sampai?” tautan tercipta di kening Alea, saat mendengar suara laki-laki di seberang sana terdengar tengah berbicara pada orang lain. Alhasil Alea diam untuk beberapa saat.
“Hm.”
“Kakak sekarang ada di mana?”
“Di dekat kamu.”
Alea terlonjak mendengarnya. “Memangnya kakak sudah sampai?” ia dengan segera beranjak, lantas menolehkan kepala kesana-kemari.
“Berbalik lah ke arah jam tiga, arah di mana seorang laki-laki dengan hoodie hitam tengah berdiri.”
“Arah jam tiga?” Alea bergumam kecil seraya menoleh ke arah jam tiga. Netra bening miliknya langsung menyisir seluruh area yang tampak di mata guna mencari laki-laki ber-hoodie.
Ketemu.
Alea menemukan laki-laki dengan hoodie hitam tengah berdiri. Tersenyum ke arahnya dengan tangan menyangga telepon di telinga.
“Hai, aku kembali.”
Suara laki-laki tampan itu kembali terdengar menyapa indra pendengaran. Suara laki-laki yang namanya belakangan sering terselip dalam do’a yang Alea langitkan di sepertiga malam. Seketika itu pula, Alea ingat kata-kata sayyidina Ali bin Abi Thalib, “jika kamu mencintai seseorang, biarkanlah dia pergi. Jika dia kembali, berarti dia milikmu. Namun, jika dia tidak kembali berarti dia bukan milikmu.”
✈️✈️
“Ini Alea kok lama banget terima telponnya ya, mas?”
__ADS_1
Airra berkata guna mencairkan suasana yang hening semenjak sang suami mengutarakan ultimatum panjang yang jika diketik bisa mencapai dua sampai tiga paragraf.
Sampai-sampai tidak ada yang berani buka suara di ruangan tersebut. Airra jadi tidak enak sendiri. Tadi sang suami ditempeli jin iprit di rumah sakit ini kali, sampai-sampai mengatakan kalimat-kalimat out of the box. Intinya sih, Anzar hanya ingin memperingati Louis agar tidak mendekati putri mereka.
“Kamu telepon Alea aja. Jangan balik lagi ke sini sekalian,” sahut sang suami yang sedang manja. Minta kepalanya dipijit oleh Airra, padahal Anzar luka di perut, tapi tiba-tiba laki-laki itu mengeluh sakit kenapa.
“Maksud kamu?”
“Suruh Alea pulang aja. Kalau mau, boleh menginap di rumah Galaksi dan Gemintang. Jangan ke sini lagi, karena masih ada mereka,” kata Anzar dengan melirik ke arah samping dengan ekor matanya. Ia juga sengaja menggunakan suara lirih saat mengucapkan kata ‘mereka’.
“Tapi, mas, tadi Alea tidak mau pulang kalau kamu belum …..”
“As’salamualiakum.”
Kalimat Airra terpotong oleh ucapan salam yang terdengar dengan terbukanya pintu ruangan tersebut.
“Waalaikumsalam, nak. Sini masuk, mama sudah menunggu kamu dari tadi,” kata Airra seraya tersenyum lembut guna menyambut sang putri.
Kehadiran Alea juga nyatanya diam-diam telah ditunggu oleh Nata, Louis, Lucas juga ayah Lucas. Laki-laki itu penasaran dengan sosok perempuan muda yang kerap istri dan putranya bicarakan.
“Alea tidak datang sendiri,” kata Alea memberitahu. Ia kemudian melangkah maju, diikuti seorang laki-laki tampan yang menggunakan hoodie hitam guna menutupi seragam kerjanya. Ia tak sempat singgah untuk berganti baju, jadi memilih menutupinya.
“Alea datang sama ….”
“Eh, ada calon menantu papa. Sini, sini, masuk,” panggil Anzar, heboh sendiri.
Nathan dan Alea sampai-sampai terdiam untuk beberapa saat. Begitu pula dengan Louis yang tampak terkejut bukan main saat melihat rekan bisnisnya itu ada di sini.
“Kalian ….” Louis menatap sang pujaan hati dan rival abadinya itu bergantian. “….memiliki hubungan spesial?”
“Bukan hubungan seperti yang kamu pikirkan,” sahut Anzar mewakili. Laki-laki paruh baya yang kini berganti posisi jadi duduk itu lantas menoleh ke samping, sampai sebagian tubuhnya ikut menghadap ke samping. “Mereka tidak menjalin hubungan spesial, namun akan segera melangsungkan pernikahan dalam waktu dekat.”
✈️✈️
TBC
WAH, AKHIRNYA LOUIS BERTEMU NATHAN JUGA 😍 LANJUT?
JANGAN LUPA LIKE, VOTE, KOMENTAR, FOLLOW AUTHOR & SHARE ❤️
Sukabumi 09-07-22
REKOMENDASI NOVEL KEREN!
Ilona Delvisa Anumarta adalah Wanita berusia 25 tahun yang sudah bisa mendirikan sebuah perusahaan bernama "Delvisa Company" yang bergerak di bidang tambang. Wanita yang mandiri, cantik, perfect, dan idaman semua pria. Selain menjadi CEO di perusahaan "Delvisa Company", ia juga seorang ketua Klan Mafia "Devil Dark" Klan Mafia yang paling di takuti dan terkuat Di Eropa. Jika berada di dunia Mafia Ilona bernama Queen Isabell. Tujuan Ilona menjadi Mafia adalah untuk membalaskan dendam kematian Keluarga Besar Ilona 15 tahun silam.
Teka - teki siapa yang membunuh semua keluarga besar Ilona belum di ketahui, bahkan, penyelidik, Polisi, Hacker, semua sudah di kerahkan tapi hasilnya tetap nihil.
Nyawa di bayar dengan nyawa ~ Ilona Delvisa Anumarta.
.
Belmond Azbara Turgana adalah seorang pria CEO di perusahaan "Azbara Corp" yang bergerak di bidang Pembangunan, parasnya yang tampan serta rupawan membuat kaum hawa ingin menjadikan Belmond pacar meskipun sudah berumur 35 tahun. Bahkan ada suatu hari di mana ada seorang wanita secara terang - terangan ingin One Nigt Stan dengan Belmond secara percuma dan menawarkannya kepa Belmond. Tapi Belmond tidak pernah menerima tawaran wanita itu.
Siapakah orang yang sudah membunuh semua keluarga besar Ilona?
__ADS_1
Penasaran?
Cus langsung baca 🙌